[One Year With…] Ciao, Ragazza

2. Ciao, Ragazza

-One Year With Hyungwon-

Ciao, Ragazza

story by ayshry

[MonstaXs] Chae Hyungwon, [OCs] Clay Lee

Romance, Hurt, Angst/Vignette/PG-15

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

“Hai, Clay.”

***

Musim semi telah menyapa kota Seoul; mewarnai alamnya dengan segala keindahan khasnya. Sore itu bersama embusan angin sepoi-sepoi, Hyungwon menyusuri jalanan yang dikelilingi indahnya bunga sakura. Meskipun ada sesuatu yang berbeda dengan musim semi tahun ini, tapi senyuman masih terpatri di wajah tampan si pemuda.

Tungkai jenjangnya menapaki jalanan nan panjang; membawanya menuju sebuah tempat di mana ia akan merayakan hari jadinya bersama sang kekasih yang ke 365 hari. Tak lupa, sebuket bunga aster telah berada di genggaman sejak ia meninggalkan kediamannya. Kemeja hitam dengan kedua ujung lengan yang sengaja digulung hingga sebatas siku membalut tubuhnya dengan sempurna; menambah aura ketampanan hingga siapa pun yang melihat pasti akan terpana pada sosok menawannya.

Clay Lee, nama dari gadis yang amat beruntung lantaran bisa memenangkan hati si pemuda. Kebersamaan mereka selama setahun menjadi kenangan indah yang akan selalu membekas di pikiran sang pemuda pun si gadis sendiri.

Percaya atau tidak, Hyungwon telah menghitung langkahnya sejak awal ia menapaki jalanan. Katanya, itu dilakukan untuk menghindari rasa cemas dan gugupnya lantaran akan bertemu sang pujaan hati. Ya, meskipun keduanya sudah menjalin hubungan yang terbilang cukup lama, tapi Hyungwon masih merasakan debaran-debaran hebat ketika akan bertatap muka dengan Clay, terlebih ketika sudut bibir si gadis tertarik keatas, sungguh, Hyungwon akan dibuat gila olehnya.

Karena ketika Clay tersenyum, maka jutaan kupu-kupu diperutku akan berterbangan bak hilang kendali.

Rasanya hanya tinggal beberapa langkah saja Hyungwon akan tiba di tempat tujuannya, namun si pemuda memilih untuk menghentikan gerak tungkainya sembari menatap lurus; menerawang. Sekelebat bayangan yang memaksanya untuk berhenti; bayangan akan kenangan manis yang pernah tercipta bersama kekasihnya.

Satu tahun yang lalu, Clay pernah datang menghampirnya dengan dua buah permen kapas ketika Hyungwon tengah asyik mengalunkan musik dari gitar kesayangannya. Semula, si pemuda sempat mengabaikan eksistensi gadis bersurai hitam kecoklatan itu dan memilih untuk tetap bersenandung mengikuti irama tatkala sudut matanya menangkap sosok si gadis yang tengah mengerucutkan bibirnya kesal. Dan pada akhirnya si pemuda tak bisa menahan diri untuk tak tertawa gemas melihat kelakuan sang kekasih.

Seingat Hyungwon, kala itu Clay bercerita panjang lebar tentang rencananya yang ingin selalu bersama dengannya tanpa terpisahkan barang sedetik pun dan tak lupa celotehan tentang membangun rumah impian dengan pemandangan pesisir pantai menguar bersama tawa kecil kegemaran Hyungwon. Meski pada kenyataannya, Hyungwon dan Clay memiliki cita-cita yang bertolak belakang dalam menyambut masa depan, namun si gadis tetap teguh pada pendiriannya—melancarkan berbagai cara agar Hyungwon merelakan karir musiknya dan mengiyakan ajakan Clay untuk membuka usaha restoran bersama.

Tanpa disadari, kekehan kecil lolos dari bibir Hyungwon ketika memoar tersebut menganggu pikirannya. Masa bodoh dengan tatapan aneh orang-orang, kekehannya kini telah berubah menjadi tawa lepas namun terdengar mengerikan. Hyungwon sudah seperti orang tak waras.

Sebenarnya Hyungwon masih tak percaya jika gadisnya masih saja memikirkan hal yang nyatanya akan ditolak mentah-mentah olehnya. Mengingat kembali hal tersebut, membuat tawa Hyungwon mereda hingga terhenti sempurna dan berganti dengan raut wajah kalut. Bayangan lainnya kembali hinggap dipikirannya, kembali membuka ingatan-ingatan yang sempat pudar; ingatan saat ia kerap kali mengabaikan perkataan Clay.

Hanya untuk menyenangkanmu, apa aku harus menghentikan apa yang kusukai? Musik dan kau adalah dua hal yang tak bisa kutinggalkan. Jadi, tolong jangan lagi menyuruhku memilih salah satu dari kedua hal yang amat penting tersebut. Tak bisakah aku memiliki keduanya sekaligus? Aku lebih baik mengakhiri hidupku daripada harus berhadapan dengan pilihan sulit tersebut; antara dirimu yang kucintai dan musik yang sudah mendarah daging, maka pilihanku tetap keduanya, sampai kapan pun.

Itulah kalimat yang berkali-kali Hyungwon ucapkan ketika Clay menagih jawaban. Dan berkali-kali pula si gadis tak mampu memahami kalimat tersebut dan berakhir dengan menanyakan pertanyaan yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama pula. Clay terlalu keras kepala rupanya.

Hyungwon yang sekarang menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan; seolah-olah mencoba mengumpulkan keberaniannya yang sempat lenyap untuk menemui sang kekasih. Buket bunga di genggamannya ia tilik untuk beberapa waktu lantas memasang senyuman, meski ada raut aneh yang sulit untuk dijelaskan di wajah tampannya.

Kembali, Hyungwon menyeret tungkainya. Kali ini butuh sedikit paksaan lantaran langkahnya semakin memberat seiring jarak yang mendekat. Seharusnya hanya butuh waktu kurang dari tiga menit dan sang pemuda akan tiba di tempat tujuannya, namun ia kembali menunda-nunda. Berkali-kali menghentikan pergerakan, membuang napas kasar, lalu mulai menyeret tungkainya lagi. Seperti ada sesuatu yang membuatnya enggan terburu-buru.

Dari kejauhan, Hyungwon bisa melihat beberapa orang yang keluar dari tempat itu. Sepasang lanjut usia, seorang gadis kecil yang memegangi tangan besar milik ayahnya, serta beberapa orang lainnya yang terlihat bergerombolan. Hyungwon melempar senyum ketika berpapasan dengan orang-orang tersebut, tak lupa sebuah sapaan ia lontarkan demi sedikit berbasa-basi sebelum kembali melanjutkan petualangan kecil milik tungkai jenjangnya.

Tanpa disadari, akhirnya ia berhasil menjejakkan kaki pada tujuannya. Kedatangannya tersebut mendapat sambutan dari seorang gadis cantik jelita dengan senyuman manis serta tatapan hangat yang dihadiahkannya kepada si pemuda.

“Akhirnya kau datang juga.”

Kalimat pemecah keheningan itu dilontarkan pertama kali oleh si gadis. Membuat Hyungwon mengelus tengkuknya canggung lalu balas tersenyum—masih dengan kecanggungan pula.

“Apa kau ingin kutinggalkan berdua saja dengannya? Aku sudah mau pulang, omong-omong.”

Hyungwon mengangguk patuh kemudian si gadis menghampirinya lantas meletakkan tangannya barang sejenak di pundak lebar si pemuda dan membisikkan sebuah kalimat;

“Kukira kau takkan pernah menemuinya lagi, Hyungwon-ah. Kau pasti sudah sangat merindukannya, bukan? Hingga pada akhirnya kau tak bisa menahan diri untuk tak mengunjunginya. Aku tahu kau pemuda yang amat baik.”

Usai melontarkan kalimat tersebut, si gadis yang Hyungwon ketahui sebagai kakak dari kekasihnya segera melenggang pergi; menepati perkataannya yang akan meninggalkan Hyungwon berdua dengan sang kekasih demi melepas rindu lantaran sudah terlalu lama tak saling menyapa.

“Hai, Clay. Sudah lama ya? Selamat hari jadi yang ke satu tahun ya, Sayang.” Hyungwon memulai percakapan dengan sapaan canggung—efek gugup sepertinya. “Maaf karena terlalu lama menghilang dan tak segera menemuimu.” Si pemuda melengos, menarik napas panjang lantas membuangnya kasar. “Butuh waktu agar aku bisa menjernihkan pikiran, omong-omong. Semoga kau tak marah karena kedatanganku yang sangat terlambat, hehe.”

“Oh iya, ini kubawakan bunga untukmu. Meski pun bukan bunga lily kesukaanmu tapi aku yakin kau akan menyukai bunga ester ini kelak.” Hyungwon berjongkok, meletakkan buket bunga itu di atas batu nisan yang mengukir indah nama sang kekasih; Clay Lee.

Ya, tepat sebulan yang lalu Clay mengalami kecelakaan ketika hendak bertemu dengan kekasihnya; Hyungwon. Kecelakaan tragis itu pada akhirnya merenggut nyawa sang gadis setelah ia bertarung dengan takdir selama kurang lebih enam hari. Dan setelah kepergian gadisnya, sungguh, Hyungwon tak pernah sekali pun menjejakkan kakinya di luar rumah, bahkan ketika pemakaman sang kekasih ia tak menampakkan batang hidungnya sama sekali dan memilih untuk mengurung diri di kamar. Hyungwon kerap kali menyalahkan dirinya sebagai penyebab kematian sang kekasih.

“Aku merindukanmu, Clay, sangat-sangat merindukanmu,” lirihan penuh emosi tersebut lolos dari mulut sang pemuda. Perlahan tangannya terangkat; mengelus lembut nisan sang kekasih yang terasa kasar dan dingin di tangan lembutnya.

Hyungwon tertunduk, berusaha menyembunyikan raut sedihnya dari si gadis. Mengigit kuat bibir bawahnya demi menahan isakan yang mendesak untuk segera dikeluarkan. Pun maniknya mulai dibanjiri cairan bening yang siap terjun kapan saja, tetapi Hyungwon memilih untuk bertahan; enggan terlihat rapuh terlebih di hadapan sang kekasih.

“Kau … kau pasti merindukanku juga, ‘kan, Clay?” Susah payah Hyungwon mencoba berbicara dengan nada seperti biasa. “Tapi … kau, kenapa kau tega sekali padaku? Apa karena aku tak bisa memilih antara kau dan musik makanya kau … meninggalkanku?”

Dan pada akhirnya bulir-bulir bening tersebut mulai berlabuh di pipi tirus sang pemuda. Tergesa-gesa, tangan besar miliknya menyeka buliran bening tersebut lantas membekap bibirnya agar tak terisak semakin kuat.

“Kau tahu? Kenangan-kenangan bersamamu selalu membayangiku, di mana pun, kapan pun dan apa pun yang kulakukan, kenangan-kenangan tersebut akan selalu mengusikku … merusak hidupku, membuatku merasa amat frustasi!”

Memejamkan matanya erat-erat, Hyungwon mencoba untuk bernapas lega guna menghilangkan rasa sesak yang kian menghimpit dada. Namun apa daya, sekujur tubuhnya semakin gemetar; mengigil bak kulit telanjangnya disambangi udara bertemperatur rendah. Dipegangnya batu nisan itu—lebih kuat hingga jari jemarinya memutih—guna menopang tubuhnya yang bisa saja ambruk sebentar lagi.

Pada dasarnya, Hyungwon memang belum mampu menembus kabut tebal nan dingin yang menyelimutinya selama ini. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Clay tidak akan pernah kembali kepadanya pun kepada keluarganya, meski ia memohon kepada langit dan bumi agar si gadis lekas dikembalikan. Sejatinya, ia tidak akan bisa menjadi Chae Hyungwon sebelum mengenal Clay. Kepergian gadisnya, membuatnya kehilangan sebagian hati serta jiwanya; membawa serta separuh kehidupannya bersama hari di mana Clay menghembuskan napas terakhirnya.

Tak ada keyakinan lain di dunia ini yang bisa kembali dipercayai oleh Hyungwon. Tapi, ia masih bisa bergantung pada satu keyakinan bahwa seorang Clay Lee mencintainya. Itu adalah sebuah keyakinan yang setidaknya mampu membuatnya menjalani kehidupan sebaik-baiknya, bahkan tanpa kehadiran Clay.

Bersumpah di dalam hati dan atas nama cinta, Hyungwon pun melontarkan permintaan terakhirnya di depan nisan itu.

“Izinkan aku menangis untuk kali ini saja dan setelah hari ini berlalu maka kau akan melihatku kembali seperti dulu lagi; seperti saat di mana aku belum mengenalmu. Dan satu janjiku padamu yang akan kupegang hingga akhir hayatku; kapan pun itu dan siapa pun gadis yang kelak akan menggantikan posisimu di hatiku, maka aku akan tetap menyisakan ruangan kecil untuk mengukir nama indahmu. Sungguh, aku akan selalu mengenangmu sebagai salah satu hadiah terbaik dari Tuhan yang sempat Dia percayakan kepadaku. Aku mencintaimu, Clay Lee.”

-Fin.

SELAMAT SATU TAHUN MONSTAXFFI, I ❤ U

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

7 thoughts on “[One Year With…] Ciao, Ragazza”

  1. HAI HELLO ANNYEONG KAK YAY KUDSINI LALALAL

    WATDEEEE . ini kukira si cew nya lagi di panti ato gak rumah sakot ternyataa….
    LEBIH NYESEKKKK. KENAPA HARUS SEPERTI INI HUHUUUUU :”((

    BAPER SEKALIH BACA INI. Kasian mas hyungwon :”))))

    KEEP WRITING WITH YOUR OWN STYLE CHUUU MANGAATSSSSS 😘😘😘😘😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s