[One Year With…] Point Out

4. point out

Title : Point Out | Cast : Chae Hyungwon and others | Rate : T | Genre : Mystery | Lenght : Oneshoot | Author : fortytwoyellow @davi_and09

A/N : Some typo. The storyline is mine. Do not copy. Photo by @DoubleH_9311. Hope you enjoy it J

Summary :

Pada kenyataannya hidupku tidaklah semanis puding-puding dingin. Coklat, vanila, strowberi, leci, tidak juga selalu berwarna. 14 Desember 2015 tenggelam di laut saat mencoba mengejar syal milik si kembar yang hanyut terbawa ombak. Aku selamat. Seseorang menarikku keluar air. Lalu, muncul sosok gadis berambut kepang menjuntai hingga balik punggung.

‘Bertahanlah. Kau harus hidup. Aku akan ada di dekatmu. My precious thing’

 Semuapun menjadi gelap

 

Dengan malu-malu bulan akhirnya muncul dari balik awan, sejenak cahaya memancar menerangi bumi. Aku berjalan menghampiri jendela yang terbuka. Angin sejuk menerpa wajahku sebelum kuputuskan untuk menutupnya. Dua tempat tidur saling berdampingan dengan dua tubuh masing-masing berada diatasnya, dibalik selimut tebal.

“Selamat malam Jolie”

“Selamat malam juga Joe”

***

Mengacak-acak rambut seperti orang gila. Tidak banyak yang aku lakukan diakhir pekan ini. Berbaring di sofa sambil menekan tombol remote terus menerus. Memainkan channel televisi. Bosan, acaranya tidak satupun menarik. Semua temanku pergi berlibur dengan keluarga mereka. Sementara aku harus mengawasi kedua adikku. Chae Eunyoung dan Chae Ahyoung, tapi aku lebih senang menyapa Jolie dan Joe. Keduanya lahir dibulan Juli. Mereka kembar identik. Dua gadis tomboi berusia enam tahun dibawahku. Jolie lebih pendek dari Joe, satu-satunya cara membedakan si kembar. Bulan lalu aku hampir gila karena mereka memangkas rambutnya hampir menyentuh telinga.

“Hyung” Jolie berteriak dari dapur. Oh ataukah Joe yang berteriak?

“Ck, sudah kukatakan panggil aku Oppa”  sahutku ringan

“Baiklah. Hari apa sekarang?”

“Sabtu. Wae? Kalian boleh tidur larut karena besok libur”

“Dia datang lagi”

“Siapa?” aku menegakkan punggungku. Mematikan televisi kemudian berjalan ke dapur.

“Eonnie yang suka berada di bawah pohon”

Aku berdiri di belakang si kembar sambil melihat keluar jendela. Benar saja, ada gadis sedang menyandarkan sepeda tuanya di dahan pohon besar. Dia memakai rok selutut dengan kaos kerah berwarna kuning pucat. Rambutnya diikat membentuk kepang rapat.

“Joe ambilah kalender di kamar kita” Jolie memerintahkan adik 6 menitnya itu. Setelah Joe kembali kami bertiga duduk melingkari meja makan. Jolie memegang kalender meja di tangan. Wajahnya serius. Ada tanda merah aneh tergores pada beberapa tanggal.

“Apa ada acara spesial?” aku bertanya. Tidak ada yang mendengarku. Memutar bola mata kesal. Jolie berjalan menjauh untuk mengambil pena merah dalam laci dekat tempat pencucian piring.

“Ssssttt” Joe memperingatkan, melihat sejenak ke luar jendela “kami juga penasaran”

“Agaknya dia sedikit sinting” Jolie menyimpulkan

“Kenapa begitu?” aku menyelidik

“Eonnie tidak pernah mengganti pakaiannya. Ketika aku hendak menunjukkan pada Mom, dia tidak menampakkan diri sama sekali…”

“Karena itulah Mom tidak pernah percaya pada kami…”

***

“Hei Won, cepatlah kemari” teriak Daniel

“Benar, jangan hanya duduk saja di situ” Hoseok menambahkan. Tendangannya melesat cepat, menerobos gawang yang telah dijaga Minhyuk. “Yes gooolll” Daniel dan Hoseok tertawa bersama sedangkan Minhyuk mengerang kesal.

“Won-aa tidak bisakah kau berdiri menggantikanku” akhirnya dia bersuara setelah sekian lama hanya mampu menendang tanah kering karena kesal gawangnya selalu kebobolan.

“Kau payah Monsieur Lee.” Daniel mencemooh. Hoseok tertawa keras sampai terbungkuk-bungkuk

Aku menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Mereka bertiga adalah teman-temanku. Daniel Kim, Shin Hoseok juga Lee Minhyuk. Kami selalu bermain bola bersama hampir setiap sore, tapi kali ini aku memutuskan untuk menjadi penonton, hanya merasa sedikit tidak berselera.

Aku duduk di tepi lapangan dengan satu kaki kutekuk ke atas. Langitnya mendung, beberapa daun beterbangan hingga mengenai wajahku. “oh sial” aku mengumpat pelan. Kini aku melihat Minhyuk tengah mengambil bola yang terakhir Hoseok masukkan ke gawangnya. Dia berjalan menuju depan gawang. Meletakkan bola usang itu di atas rumput. Dia mundur beberapa langkah ke belakang. Raut mukanya berubah merah padam. Sepertinya dia tidak akan tinggal diam.

“Daniel, Hoseok sebaiknya kalian berhati-hati” aku berteriak

Kedua bocah tolol itu berhenti tertawa, mereka menoleh kearah Minhyuk “Woah, srigala penjaga kita mulai menunjukkan taringnya”

Nafas Minhyuk memburu, dia bersiap untuk berlari. Beberapa detik kemudian sebuah bola mengarah ke Daniel juga Hoseok. Hanya melewati keduanya. Bola itu melayang jauh keluar lapangan. Aku bersorak.

“Kalian lihat, itu adalah tendangan terbaikku”

Minhyuk sangat puas dengan tendangannya. Akui saja bahwa dia tidaklah pandai bermain bola. Daniel sampai melongo. Bukan, bukan karena aksi Minhyuk tapi lebih tepatnya ada sebuah bunyi braakkkk yang terdengar dari balik semak. Aku sendiri mendengarnya cukup jelas. Kami bergegas melihat apa yang terjadi. Aku mengekor dengan lamban. Semua telah sampai di balik semak. Aku datang terakhir. Minhyuk, Daniel, Hoseok berjejer tanpa mengeluarkan suara.

“Hei, apa yang ter-“ kalimatku menggantung tepat ketika aku mendapati seorang gadis terjatuh dari sepedanya. Ada banyak kotak-kotak puding berserakan di jalan juga bola yang Minhyuk tendang berada tak jauh dari situ.

“Kau akan mendapat masalah Monsieur” aku berbisik

“Matilah kita” Daniel ikut berkoar pelan

“Game over” Hoseok tak tinggal diam

“Aku tahu. Diamlah kalian” Minhyuk menjerit

Kami semua memelototi Minhyuk. Kulirik gadis itu berusaha bangun. Ditepisnya debu yang menempel, setelah itu dia bertolak pinggang. Salah satu sepatunya mengetuk-ketuk tanah.

“Jadi-?” Kami berempat tidak berkutik. Menunduk dalam, menyembunyikan wajah. “Siapa yang menendang bolanya huh?”

Sekali lagi aku menghela nafas panjang. Saat aku mengangkat kepalaku, gadis itu malah menatapku tajam. Kutolehkan kepala ke samping, Daniel, Minhyuk, Hoseok semua juga menatapku.

“Ha-ha ada apa dengan kalian?“ aku mencoba untuk mencairkan suasana tapi senyumanku lenyap dalam seketika.

Disinilah aku, berdua dengan gadis aneh yang terus saja mengomel. Mendengarkan suara cemprengnya membuatku ingin mutah. Dia tak henti-hentinya mengatakan hal yang sama berulang-ulang.

“Ohh apa yang harus aku lakukan? Pudingku hancur. Ini semua gara-gara kau”

Lebih tepatnya gara-gara Minhyuk. Sialan kenapa teman-temanku tega menjadikanku umpan. Aku benar-benar sudah tidak tahan.

“Sebaiknya kau pulang lalu buatlah puding baru”

“Apa kau bilang? Kau ingin ibuku membunuhku?” Dia mulai mengoceh lagi. Seperti seorang frustasi

“Bagaimana aku akan mengatakan ini padanya, aku tidak punya banyak waktu”

“Huh, sebenarnya kemana kau akan mengantarkan pudingmu?” aku berusaha mencari jalan terbaik

Dia mengangkat secarik kertas di depan wajahku, aku membaca sambil menyipitkan mata.

“Nah, bisakah kau antarkan aku ke sana sekarang juga. Aku akan melepaskanmu jika kau mau mengakui kesalahanmu. Mudahkan?”

“Apa kau tahu kemana sebenarnya kau pergi?” aku tertegun

“Wae? Jangan-jangan kau juga tidak tahu” dia mendesah pelan

“Bagaimana bisa kau mendapat telepon dari rumah yang sudah dirobohkan dan berubah menjadi perkebunan?”

***

Mom dan Dad baru kembali dari perjalanan bisnisnya. Mereka biasa pulang setiap tiga bulan sekali. Malam ini ada perayaan kecil-kecilan di rumah. Semua keluarga berkumpul untuk makan malam.

“Hyungwon-aa, apa adik-adikmu mengganggumu?” aku mengangguk malas

“Bohong” jawab si kembar serentak

“Mom, kami mengurus diri kami sendiri” Jolie berpendapat

“Hyung selalu bermain bola di lapangan dan tidak pernah mengerjakan PRnya” Joe menambahi

“Dasar tukang ngadu” aku mencibir sambil memasukkan daging kalkun ke dalam mulut. Mom hanya tersenyum simpul.

“Habiskan makanan kalian, sebagai hukuman Hyungwon akan membantu Mom membereskan meja makan”

Sial, si kembar berhigh five tinggi. Aku mengepalkan tangan ketika ketika melihat si kembar menjulurkan lidah kearahku. Acara makan malam selesai. Dad, Jolie juga Joe pergi ke ruang tamu untuk mendengarkan pengalaman Dad. Sementara aku membantu Mom membereskan dapur. “Mom, ada yang ingin aku tanyakan”

“Hmm, katakan”

“Soal rumah di ujung kota. Setahuku sudah lama rumah itu berubah fungsi menjadi perkebunan.”

“Dulunya milik seorang nenek tua yang tinggal dengan cucu perempuannya. Nenek Ming. Dia keturunan china. Karena sakit keras, beliau meninggal. Kemudian cucunya menjual rumah tersebut untuk biaya pernikahannya.”

“Hoseok juga berkata sama. Aneh, beberapa hari lalu ada gadis yang mengaku mendapat pesanan puding untuk diantarkan ke alamat di mana rumah Nenek Ming pernah berdiri”

“Kau yakin?”

“Ne, aku sendiri mengantar gadis itu Mom. Sudah kuperingatkan tapi dia bersikeras”

“Apa kau mengenalnya?”

“Tidak. Hanya saja, aku sangat yakin jika gadis itu merupakan orang yang sama dengan yang sering datang ke tepi danau”

Mom dan Dad hanya tinggal selama empat hari. Mereka harus kembali melakukan perjalanan bisnis lagi. “Tidak bisakah kalian tinggal lebih lama?” Joe merengek dilengan Dad. “Ayolah aku masih merindukan kalian” Jolie melakukan hal yang sama. “Yaampun” aku bergumam sambil memasukkan koper ke bagasi. Adegan dramatis itu berlangsung dengan memuakkan.

“Mom, apa ada yang perlu kukemas lagi?” melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air putih, meminumnya dalam sekali tegak.

“Hyungwon-aa, kalau kau ada waktu berkunjunglah.” Mom menyerahkan secarik kertas berwarna biru. “Apa ini Mom?” mengamati dengan seksama.

“Kau akan tahu sendiri nanti.” Mom memelukku. “Jaga adikmu dengan baik ya. Mom menyayangi kalian”

***

Disamping perkantoran nampak sebuah rumah dengan halaman cukup luas berdiri kokoh. Aku berhenti di depan pagar sambari mengamati keadaan sekeliling. Sepi dan kering. Seorang pria paruh baya tengah memotong rumput di halaman depan.

“Permisi” sapaku. Pria itu berhenti kemudian menoleh. Meletakkan gunting taman, berjalan menghampiriku. Wajahnya dipenuhi jengkot tebal. Matanya bersinar-sinar di balik lensa bening, bertengger di hidung mancungnya. Dia tinggi kurus.

“Kau mencariku anak muda?” cukup ramah kelihatannya “Kemarilah, aku sudah menunggumu.”

“Ne?” aku sedikit terkejut. Dia membuka pagar supaya aku dapat masuk. Kami duduk di beranda depan.

“Kau pasti ingin mendengar suatu kisah bukan?…”

***

3 bulan kemudian, Februari 2017

“Ahjussi? Tidak maksudku kau harusnya menemui Bibi Yoo” Mom membentakku

“Bibi Yoo? Ah,  dia pasti pemilik rumah dengan pekarangan luas itu kan? Saat aku kesana Bibi Yoo sedang pergi. Aku bertemu tukang kebun yang kebetulan sedang merapikan halaman Bibi Yoo. Dia menceritakan semuanya Mom.”

“Hyungwon-aa kau baik-baik saja?”

“Tentu”

“Tiga bulan lalu ketika Mom dan Dad keluar dari bandara, Minhyuk menghadang kami di depan kantor pos. Dia berkata bahwa kau sedikit aneh”

“Tunggu, aku tidak mengerti sama sekali apa yang Mom bicarakan”

“Kalian bermain bersama kan?”

“Ya. Hanya Daniel, Minhyuk dan Hoseok. Aku terlalu lelah selepas ulangan harian jadi aku duduk saja di pinggir lapangan”

“Mengenai bola yang merusak tanaman Tuan Jongsuk, kenapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku?”

“Tuan Jongsuk? Apa hubungannya dengan lelaki pemarah itu?”

“Bola yang Minhyuk tendang keluar lapangan dan mengenai salah satu pot tanaman milik Tuan Jongsuk, kau sudah lupa?”

“Mom, bukan pot tapi seorang gadis. Kita sudah membicarakan ini. Mom lupa?”

“Benar, kau bilang seorang gadis, lalu Minhyuk berkata lain. Kau tidak sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku bukan?”

“Mom” suaraku meninggi

“Minhyuk merasa menyesal telah menyeretmu dalam masalah. Kenapa kau membiarkan ketiga temanmu pergi? Kalian kan bisa bekerja sama menentukan jalan keluar terbaik”

“Apa? Mana mungkin. Justru mereka meninggalkanku Mom. Semua menuduhku dihadapan gadis itu.”

“Cukup! Berhenti bicara soal gadis itu. Kau sebaiknya menghaargai niat baik Minhyuk”

“Terserah Mom saja” aku melenggang pergi

Dadaku dipenuhi luapan emosi. Aku sangat marah. Apa salah ku pada Minhyuk hingga dia tega membuat cerita bohong. Aku tidak menyangka jika Minhyuk tega mengkhianatiku. Juga Mom lebih mempercayai orang lain daripada anaknya sendiri. Aku menendang kerikil di jalanan sambil mengucapkan kalimat-kalimat umpatan. Aku pasti segera menemukan Minhyuk. Akan aku hajar dia habis-habisan. Berbelok satu blok melewati lapangan tempat biasa kami bermain. Aku juga melintasi rumah Tuan Jongsuk. Aku memandang sengit bangunan oranye dengan banyak bunga di pagar depan.

“Hyungwon-aa” seseorang berteriak, aku mencari sumber suara. Tuan Jongsuk menampakkan diri dari balik tembok rumahnya. Dia menghampiriku.

“Ada apa Tuan?” kataku ketus. Aku sebenarnya malas meladeni pria ini. Tetapi mumpung bertemu, sekalian saja aku meluruskan kesalahpahaman kami.

“Apa beberapa bulan lalu pot anda ada yang pecah?”

“Ya, pot kesayanganku. Seorang anak berambut pirang datang. Dia membawa pot baru dan mengaku tidak sengaja menendang bola terlalu keras.”

Mengabaikan Tuan Jongsuk, aku cepat-cepat lari ke arah berlawanan. Sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku berencana menemui Daniel, dia pasti bisa membantuku.

Kepulan asap hitam membumbung di udara. Aku bisa langsung melihat Daniel sedang membakar sampah dalam tong tak jauh dari rumahnya.

“Daniel Kim…”

Dia memutar punggung, melambai padaku. “Aku jarang melihatmu di lapangan. Kupikir kau mulai jenuh bermain dengan kami” dia sekonyong-konyong memukul perutku dengan tinjunya.

“Sial kau.” aku terbungkuk sembari memegang perutku yang kena tonjok “Aku kemari untuk menanyakan sesuatu”

“Soal apa?”

“Terakhir kali kita bermain bola-“

“Dasar tidak tahu malu. Kemana saja kau setelah insiden itu, baru muncul sekarang? Apa kau bersembunyi dari kejaran Tuan Jongsuk?”

Kenapa semua orang berbicara tentang Tuan Jongsuk.

“Kau tahu Won-aa, aku ketakutan setengah mati. Kukira kita sudah tamat, haha syukurlah Minhyuk berbuat sesuatu” Daniel menepuk pundakku keras

“Apa maksudmu?” aku menyrengit

“Tuan Jongsuk sangat menakutkan. Terlebih apabila ada orang berani merusak tanaman-tanaman miliknya. Tiba-tiba suatu malam Minhyuk datang, mengakui segalanya. Dia mengikuti saranmu”

“Bukankah bola Minhyuk mengenai  gadis sampai terjatuh dari sepedanya? Iya, bola itu mengenai seorang gadis”

Seketika wajah jenaka Daniel berubah serius. “Aku tidak melihat ada orang lain selain kita berempat” ungkapnya

“Benarkah?” keluhku kecewa

“Hmmm. Aku sungguh penasaran kenapa kau berlagak seperti pengecut saat itu.”

“Pengecut bagaimana? Kalian yang pengecut” aku sedikit tersinggung

“Jangan konyol. Jelas-jelas kau bilang ‘sudahlah teman-teman, kita mengaku saja, supaya masalahnya cepat selesai dan aku bisa segera pulang kerumah’ “ Daniel menirukan gaya bicaraku

“Aku berkata seperti itu?”

“Lihatlah anak ini, baru 18 tahun tapi sudah mulai pikun. Yaakkk” Daniel menjentikkan jarinya di dahiku.

“Aduh” aku memekik “lalu kenapa kalian lari meninggalkan aku sendiri?”

“Kau memang aneh. Saat itu apa kau sadar sedang berbicara dengan seseorang, tapi bukan pada kami bertiga. Hoseok bilang kau mungkin kerasukan atau semacamnya. Makanya kami berusaha mencari pertolongan. Ketika kami kembali kau sudah hilang.”

***

Aku berjalan gontai. Seluruh tenagaku telah terkuras habis padahal belum sempat satu pukulan pun melayang ke wajah Minhyuk. Semua mengatakan kisah yang sama. Tapi kenapa kisahku lah paling berbeda? Kupejamkan mata sembari menikmati belaian angin merangsang tubuhku. Sejuk dan damai. Kepalaku mendadak pusing memikirkan semua kejadian ini. Samar-samar terdengar suara orang berdebat dari kejauhan. Aku mencoba mengacuhkannya. Semakin dibiarkan, semakin keras pula orang-orang itu berteriak mempertahankan pendapat mereka tanpa mau mengalah. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati sumber gaduh tersebut.

“Ada apa ini?”

“Hyung” Jolie dan Joe nyaris berkata dalam satu waktu

“Apa yang kalian debatkan?” Aku menengahi

“Bibi Yoo, dia mengatakan kami berdua gila” lapor Joe

“Bukan seperti itu Hyungwon-aa” suaranya mengalun lebut. Jadi ini Bibi Yoo, Mom bilang dia orang baik. Aku malu ketika si kembar berteriak padanya.

“Hyung, kau juga lihat sendiri kan?”

“Lihat apa?”

“Eonni yang di bawah pohon dekat danau itu.  Bibi Yoo tidak percaya”

Menatap Bibi Yoo dan Jolie bergantian, lalu tersenyum. “Jolie pulanglah. Mom membuat es krim lezat di rumah”

“Jinjja?” mata Jolie berbinar-binar. Tentu saja tidak. “Hmm, sekarang sebelum esnya menjadi air. Kau pun Joe” aku berbohong. Mereka kegirangan sampai melupakan perdebatan kecil yang terjadi.

“Maafkan tingkah adik-adik ku bibi” sesalku

“Gwaenchana. Mereka sebenarnya anak-anak manis” Bibi Yoo merekahkan senyumnya.  “Mengenai yang Jolie katakan barusan, apa itu benar?”

“Kurasa begitu. Hanya saja tidak ada satupun percaya bahwa gadis itu nyata, kecuali aku juga si kembar.”

“Kau benar-benar melihatnya?”

“Iya Bibi. Kami menandai hampir satu kalender penuh, hari dimana gadis itu datang ke tepi danau. Kebetulan jendela di dapur kami menghadap ke sana. Tidak hanya melihatnya, aku juga sempat bertemu dia sekali.”

“Apa dia mengkepang rambutnya?”

“Bagaimana Bibi tahu? Aku bahkan belum bercerita apa-apa” aku cukup tercengang

“Aku pernah melihat tubuh seorang gadis mengapung di laut”

“Ne?” nyaris terlonjak ke samping.

“15 Desember 2015, tubuh itu sudah menjadi mayat. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, dia diduga bunuh diri akibat depresi berat.”

Aku rasa kedua mataku nyaris keluar “Maksud Bibi?”

“Ayahnya hanya seorang tukang kebun sedangkan ibunya membuat pesanan puding dingin. Keduanya tewas dalam suatu kecelakaan. Gadis malang, dia pasti kesepian dan tertekan.” Bibi Yoo kembali tersenyum kali ini terkesan dipaksakan. “Kudengar kau sempat mampir ke rumahku?”

“Ooh? Ah ne…”

“Aku baru saja bertemu Mom mu. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi aku tidak pernah mempekerjakan tukang kebun manapun.”

Tubuhku benar-benar lemas sekarang. Aku jatuh terduduk di tanah. Nafasku terengah-engah seperti habis lari bermil-mil.

“Neo gwaenchana Hyungwon-aa?” Bibi Yoo nampak khawatir

“Bibi” aku menggenggam tangannya, dia menatapku bingung “satu hari sebelum kau menemukan mayat gadis itu, aku hampir kehilangan nyawaku.” peluhku menetes deras

“Dia sempat menyelamatkanku sebelum akhirnya bunuh diri. Apakah selama ini aku melihat hantu?”

-Fin-

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[One Year With…] Point Out”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s