[One Year With…] A Boy in The Train

3. mintulli - A boy in the train

[One Year With…. Mr. JU]

A boy in the train

Author : mintulli

Cast : Lee Jooheon (MONSTA X), Jihyo (OC)

Genre : AU, friendship, slice of life

Rating : G

Length : Vignette (2400+ words)

Note : this fic based on 30% true story and 70% imagination’s author

Happy reading J

Malam ini aku kembali duduk di dekat perapian dengan satu buku usang yang halamannya terbuka tepat di tengah di atas meja. Kali ini, selalu sama seperti waktu itu. Persis. Termenung dengan perasaan hampa karena menunggu, lalu berandai jika hari ini dia kembali.

Setelahnya aku tersadar. Bahwa mungkin angan anganku tak bisa terwujud dengan cara yang mudah. Lantas aku kembali menggoreskan tinta hitam pada se lembar kertas tepat di halaman tengah dan mulai menuliskan kalimat yang selalu sama.

Aku rindu dengan kereta api itu.

 

Saat itu, aku genap berusia 8 tahun. Aku sedang menunggu kedatangan kereta api bawah tanah. Sebenarnya aku hampir saja terlambat dengan keberangkatan kereta –jika bukan karena mobil butut pamanku yang dengan kecepatan maksimum mengantarkanku ke stasiun.

Sejenak, aku duduk di deretan kursi tunggu yang tersedia, bersamaan dengan para penumpang lain yang sepertinya memiliki tiket dengan nomor kereta yang sama denganku. Sorot mataku sama seperti yang lain. Menunggu datangnya si kereta dengan suara yang cukup berisik itu.

Fokus mataku mendadak dibuyarkan oleh sebuah suara berat yang tertangkap indra pendengaranku.

“Permisi, apa kereta ini menuju kearah Dongdaegu?”

Aku hanya mengangguk. Lelaki yang mungkin tiga tahun lebih tua dariku itu terlihat sibuk dengan barang bawaannya. Terlihat layaknya seorang anak laki-laki yang kabur dari dumah dengan segudang barang miliknya yang lengkap dibawa.

“Bisakah nanti kau menunjukkan padaku dimana pemberhentian di Dongdaegu?”

Aku mengangguk lagi, menyanggupi. Terus terang, aku tipikal orang yang sangat berhati-hati terhadap orang baru. Jadi, tak apa untuk tak bersikap terlalu ramah pada mereka, demi kemanan pribadi.

Tak lama setelah itu, suara gemuruh gesekan roda kereta dengan rel nya membuat para penunggu berdiri dari tempat duduk dan mendekati kereta. Beberapa penumpang turun, bergantian dengan penumpang lain yang masuk ke dalam kereta. Aku tentu ikut terburu-buru bersama yang lain. Sampai ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejenak.

Sekilas aku menoleh ke belakang sambil masih berjalan. Anak laki-laki itu dengan cukup kesusahan membawa barang-barangnya sambil berusaha mengikuti arah jalanku. Mungkin aku bisa saja kembali untuk menolongnya membawakan barang. Tapi, kakiku seperti sudah di aktifkan untuk terus berjalan tanpa berbalik.

Beruntung laki-laki dengan mata kecilnya itu berhasil masuk ke dalam kereta yang selama beberapa menit aku hanya bisa melihatnya dari kursi penumpang bahwa dia sedang berjuang melawan arus manusia yang padat karena berebut jalan.

Selama perjalanan biasanya aku akan pulas tertidur atau memakan camilan kesukaan. Tapi untuk pertama kalinya, aku tak melakukan itu. Perasaanku sedikit tak enak dengan laki-laki tadi. Dia memintaku dengan cukup sopan untuk menunjukkan dimana pemberhentian yang ia mau, tapi aku justru meninggalkannya begitu saja. Turun dari kereta dengan suasana hati yang kalut.

Aku sempat mencari eksistensi laki-laki dengan mata kecilnya itu. Yang ku tangkap, ia tak ada diantara deretan kursi penumpang kereta. Sudah turun lebih dulu, kurasa. Perkiraanku tak salah. Aku melihat laki-laki itu  berjalan ke arah kanan dengan barang bawaannya yang penuh. Sedikit lega karena dia turun di tempat yang tepat. Tapi juga masih merasa tak enak.

Dalam kurun waktu beberapa menit, aku mencoba membuat keputusan. Membantunya, atau justru pergi meninggalkannya.

“Jihyo!” sebuah suara membuatku terperanjat. Aku melihat saudara perempuanku melambai kan tangannya padaku. Segera, dengan mengabaikan laki-laki itu aku berjalan melewatinya sembari berucap maaf dalam hati. Kupikir, semuanya baik-baik saja kala itu. namun rupanya laki-laki ini ingin meminta pertanggung jawab an mungkin?

Ia menghalangi langkahku dengan menjatuhkan beberapa barangya di hadapanku.

“Kebetulan sekali jika kau turun disini.”

“Aku memang turun disini.”

“Harusnya kau menepati janjimu untuk menunjukkan jalan. Atau paling tidak membantuku membawakan ini?”

Ia menendang beberapa barangnya. Membuat kode seperti jika kau merasa bersalah, maka aku akan memaafkanmu dengan membawakan barang bawaanku ini.

Tapi sekali lagi aku tersenyum lalu berkata, “Maaf. Tapi aku sedang buru-buru. Mungkin lain kali saja.”

Paling tidak, aku sudah berkata ‘maaf’ dengan segenap hatiku. Jadi, tak apa pergi meninggalkannya.

Esoknya, aku kembali naik kereta api. Dari Dongdaegu menuju ke Suwon tempatku bersekolah. Jauh memang, tapi justru yang ingin kucari. Bersekolah di tempat yang jauh tentu sangat menarik menurutku. Juga, aku lebih suka menikmati pemandangan lewat kaca kereta daripada berjalan kaki. Aku merasa ada sensasi menyenangkan yang berbeda.

Seperti biasa, aku mengambil tempat duduk dekat jendela kereta. Lantas mulai menikmati ciptaan Tuhan yang memanjakan mata. Sampai pekerjaanku terhenti tepat ketika seseorang yang tanpa sengaja duduk berdampingan denganku. Lalu kami saling menatap, dan dia terkejut dengan keberadaanku.

“Hei! Kau yang kemarin ‘kan?”

Jangan bertanya seputar bagaimana perasaan atau ekspresi ku sekalipun. Aku sungguh merasa tidak enak dengannya.

“Selamat pagi.” Sapaku dengan senyum memaksa. Berusaha santai, tapi rasanya susah.

“Jooheon.”

Laki-laki itu menaikkan kedua sudut bibirnya sampai lesung di pipinya terlihat.

“Itu namaku. Kau?”

Benar atau tidak, tapi sepertinya laki-laki ini –Jooheon , menerima permintaan maaf ku yang terbilang sangat singkat. Kurasa, kedengarannya melegakan jika memang iya.

“Apa aku harus mengatakan siapa namaku?”

“Sepertinya itu akan berguna jika kau meninggalkanku lagi.”

Dugaanku ternyata salah. Dia masih mengingat kelakuan burukku dengan baik. Aku mendesis pelan karena semakin merasa bersalah. Dia sungguh sengaja, aku tahu.

“Nama hanyalah masalah huruf. Itu tidak begitu penting.”

“Satu huruf pun sangat berarti bagiku, bahkan jika itu huruf vocal.”

Jooheon terkesan mengancam. Bahkan sepertinya mulai membuat perhitungan.

“Kukira kau sudah memaafkan ku kemarin.”

“Wah! kau sepertinya salah sangka, Jihyo.”

Manikku membulat. Sesegera mungkin ku alihkan atensi ku padanya. Lantas dia tersenyum lebar, hingga kedua matanya seperti tenggelam lalu menunjuk name tag di seragamku.

Setelahnya, kami sering bertemu di kereta. Dari tempat duduk yang dekat dengan jendela itu, dia bercerita bahwa dia baru saja pindah dan tinggal di rumah barunya tak terlalu menyenangkan. Banyak penduduk sekitar yang tak terlalu suka dengan kedatangannya. Jooheon juga bercerita jika dia hanya punya beberapa teman baik disana.

“Jika kau mau berkunjung, aku bisa mengenalkan mereka padamu.”

“Kurasa mereka bukan teman yang menyenangkan.”

“Ya… sedikit. Tapi mereka lebih peduli padaku.”

Jooheon rupanya kembali menyinggung masalah yang lalu. Dari situ, dia menjadikan kejadian itu sebagai senjata nya, agar aku kalah dalam berdebat.

“Sudah kubilang jangan diungkit lagi.”

“Aku hanya bicara soal fakta.”

Tapi yah, selalu seperti itu. meski aku kalah karena merasa malu, perdebatan kami akan terus berlanjut sampai di pemberhentian di Stasiun Daejoon. Jooheon bersekolah disana, sejak ia pindah. Jadi dia selalu yang pertama kali turun, lalu kami saling melambaikan tangan lewat jendela kereta dari tempat dudukku.

Bertemu dengan Jooheon rupanya sedikit merubah pandanganku tentang hidup. Seputar kepindahannya, aku belajar padanya bagaimana kita harus bisa beradaptasi. Meski awalnya dia sedikit diasingkan, tapi lama-lama banyak yang mau berteman dengannya juga.

“Dari mereka ber-enam, aku paling dekat dengan Minhyuk. Dia sama sepertiku, lucu dan menyenangkan. Ah tidak tidak… kurasa aku yang paling ceria diantara yang lain. Lalu Hyungwon! Dia memiliki mata yang besar dan bagus sepertimu! Juga aku kenal dengan Changkyun, Kihyun, Wonho dan.. ah! Shownu. Dia suka sekali berolahraga, sepertiku”

“Tapi perutmu masih buncit.”

“ini.. keturunan ayahku.”

Aku terkekeh mendengar alasannya. Jooheon memang laki-laki yang lucu. Aku tak bisa berbohong jika aku tak pernah untuk tidak tersenyum dengan segala cerita bahkan gaya bicaranya.

Aku selalu mendengarkan cerita tentang teman-temannya setiap kami bertemu. Percaya atau tidak, bahkan setiap hari ketika aku bangun, aku selalu tak sabar bertemu dengannya. Dalam otakku aku sering menanyakan, apa yang akan diceritakannya besok? Lusa? Dan seterusnya?.

“Hari ini aku membantu Shownu berkelahi. Aku tahu itu tidak baik, tapi… itu demi kebaikan. Bagaimana menurutmu?”

“Kau tentu saja tak boleh berkelakuan seperti itu.”

“Tapi Shownu sangat butuh bantuan tadi. Jadi aku tak bisa tinggal diam.”

Mendengar Jooheon bercerita tentang kisah heroiknya, bulu kudukku jadi berdiri. Setengah iri, tapi setengahnya juga takut. Jika bicara tentang bagaimana saat aku di sekolah, dan bertemu dengan teman-temanku, aku bukan termasuk anak yang mudah bergaul. Kelihatannya saja aku bisa berteman dengan si dia atau si dia yang lain. Nyatanya kewaspadaanku terhadap orang lain terbilang cukup tinggi.

Yang aku mau adalah aku dalam posisi aman. Dimana orang lain tak akan mungkin mengganggu atau membuatku celaka. Juga, aku bukan orang yang suka ikut campur. Jadi aku selalu diam jika melihat temanku direndahkan. Aku kesal, tentu saja. Tapi tak bisa berbuat banyak. Lalu dari situ, aku kembali belajar pada Jooheon.

Bahwa demi teman dalam kebenaran, selayaknya manusia, mereka harus saling membantu.

Lalu hari-hari ku selalu diisi dengan cerita yang menyenangkan dari Jooheon. Dibandingkan di sekolah, pelajaran tentang hidup lebih banyak kudapatkan kala berdampingan dengan Joohoen Seharipun tak ada yang tak mungkin ku pelajari darinya. Karena di mulai dari situ, aku mulai terbiasa untuk mengenal banyak orang lebih dekat. Bahkan saat itu aku akhirya punya tiga orang teman yang bisa kubalas bercerita pada Jooheon.

“Apa aku boleh ikut ke Suwon?”

“Untuk apa?”

“Aku ingin berkenalan dengan ketiga temanmu! Sepertinya mereka lebih cantik daripada dirimu.”

“Kau harus tahu bahwa tak selamanya orang yang terlihat cantik juga memiliki hati sama.”

Jooheon mengerutkan keningnya. Selama beberapa detik, ia terlihat seperti tidak setuju dengan pernytaan itu sebelum akhirnya dia tertawa keras dengan bisikanku

“Mereka jauh lebih jahat daripada aku.”

Karena ‘jangan melihat seseorang dari penampilannya’ memang terbukti benar adanya ‘kan?

Kemarin malam, aku sempat membaca sebuah buku yang di dalamnya dikatakan bahwa,

terkadang disaat seseorang menangis, untuk membuatnya tenang, kita bisa memeluknya.

Selama delapan tahun aku hidup, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya menangis. Jika aku sedih maka aku lebih memilih untuk diam sepanjang hari. Tidak makan, tidak minum, dan suka menggambarkannya lewat tulisan-tulisan singkat di buku harianku. Setahu yang kulihat, menangis itu pasti rasanya sakit, dan aku tidak bisa menahan rasa sakit. Aku takut dengan rasa sakit, meski tidak yakin benar sakit yang seperti apa.

Lantas paginya, disaat aku sudah tidak sabar bertemu dengan Jooheon dengan segudang cerita yang menginspirasi, aku justru tak melihatnya. Dia tak ada di dalam kereta. Aku sempat bertanya, kemana anak laki-laki itu pergi? Ini seperti tak biasanya. Sampai keberangkatan kereta pun, dia tak kunjung datang lalu duduk berdampingan denganku.

Aku mungkin bukan seorang peramal yang bisa memprediksi sesuatu, tapi aku yakin Joohoen ada disini. Dia pasti naik kereta ini untuk berangkat ke sekolah, karena selalu seperti itu selama beberapa bulan ini. Keadaan di dalam kereta begitu lenggang. Entah kebetulan atau bagaimana, akhirnya aku membuat keputusan untuk menelusuri setiap gerbong. Mencari dimana Jooheon.

Dari gerbong di kursi penumpangku, dia tak ada. aku lalu berjalan ke gerbong selanjutnya, dan masih tak menemukan Jooheon. Sampai aku hampir saja menyerah, jika hati kecilku tidak memaksaku untuk memasuki gerbong paling akhir.

Disanalah aku akhirnya bertemu Jooheon.

Dia duduk sendirian. Kepalanya menunduk, dan sangat lesu. Melihatnya seperti itu, sedikit ragu untukku berdekatan dengannya dan menanyakan ada apa. Mengingat bahwa itu adalah Jooheon – laki-laki yang sedikit membantuku agar menjadikan hidup ini bermakna, ku beranikan duduk disampingnya dan bertanya “ada apa?”

Jooheon awalnya diam saja. Kepalanya makin ditundukkan. Agak ragu, ku layangkan tanganku dan menepuk pundaknya perlahan sampai dia berujar

“ Ayahku telah dibunuh. Aku tak bisa menyelamatkannya.”

Jooheon menangis. Ia terisak dengan suara yang terdengar dalam satu gerbong. Aku tentu diam saja. Tidak tahu harus berkata apa untuk membuatnya berhenti menangis. Mendengar cerita tentang teman, dan keluarganya setiap hari, aku tahu rasa sakit Jooheon menjalar juga pada batinku. Jooheon sangat sedih. Begitupula aku, yang sedih melihat Jooheon menangis.

Apalagi tentang ayah. Sepintas, aku jadi merindukan ayahku kala itu. Sejak aku kecil, aku tidak pernah bertemu dengan ayah. Ibu selalu bilang bahwa ayahku bekerja di tempat yang jauh. Tapi ya, aku tidak pernah melihat bahkan bersua dengannya. Saat itu, aku hanya membayagkan saja bagaimana aku jika ayahku pada akhirnya tiada. Meski aku belum pernah melihatmya, aku tetap tidak sanggup jika itu terjadi.

Jadi dengan hati-hati, kuraih badan besar Jooheon, dan kudekap dia di pelukanku. Lantas membiarkannya makin terisak disana. Hingga membuat mataku terasa panas lalu meluncurkan satu bulir air bening tepat dari pelupuk. Jooheon membuatku merasakan apa rasa sakit dan sedih yang sesungguhnya.

Kisah pertemanan kami saat itu terus berlanjut. Akhirnya aku selalu menguatkan Jooheon dengan kata-kata ku atas kepergian teman baiknya..

“Percaya saja, bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan hambaNya bersedih. Tuhan akan berbaik hati membawakan sesuatu yang mengejutkan dan membuatmu merasa senang.”

Kalau boleh berkata jujur, aku sendiri tidak terlalu yakin apa sesuatu yang membuat Jooheon merasa senang nantinya akan cepat datang. Tapi jauh dari bayanganku, itu terjadi dengan sangat cepat. Beberapa hari setelahnya, kami bertemu lagi di kereta dan tempat duduk yang sama. Jooheon bilang, dia mendapat beasiswa untuk masuk di sekolah ke-militer an di luar negeri.

“Aku akan segera berangkat ke China. Besok, aku sudah harus pergi ke Seoul untuk bersiap-siap.”

Mendengar itu, ada perasaan yang mengganjal. Serupa tidak rela?

“Apa itu artinya kita jadi jarang bertemu? Atau tidak akan bertemu lagi?”

Jooheon diam sejenak. Dia lalu menatapku, cukup lama. Lalu berakhir dengan senyuman kecil yang akan selalu kurindukan nantinya.

“Kita pasti akan bertemu lagi. Aku janji.”

Mendengar Jooheon berkata seperti itu, aku mengurungkan niatku untuk mencoba menangis. Ucapannya seperti sebuah janji yang pasti akan ditepati. Perkataan itu membawa energi agar membuatku untuk tetap bersabar dan menunggu kembalinya Jooheon.

“Di kereta ini?”

Jooheon menggeleng, “Di Stasiun Dongdaegu.

Selama satu tahun penuh aku bertemu dan mengenalnya kala itu. Sebentar sekali, dan rasanya sangat buruk ketika melihatnya turun di pemberhentian Daejoon lalu melambaikan tangan ke arahku sebelum akhirnya kami tak bertemu lagi di kereta, esok paginya.

Setiap bulannya, aku selalu mengirimkan surat pada Jooheon. Terdengar kuno memang, tapi hanya itu yang bisa ku lakukan selagi dia sempat mengirimiku surat tentang keadaannya di China. Setidaknya, dia masih bercerita tentang banyak hal tentang kehidupannya di China. Dengan itu, membuatku merasa Jooheon masih selalu mengisi setiap detik kehidupanku dengan beragam pembelajaran yang baru.

Sekarang ini, aku berusia genap 20 tahun. Setiap malam, setiap akhir bulan, aku tidak pernah lupa untuk menulis surat untuknya dengan kalimat awalan

Aku rindu dengan kereta api itu.

Lalu setelahnya aku membuat sebuah jurnal tentang apa yang sudah kulakukan selama menunggu kepulangan Jooheon. Ya, selama dua belas tahun aku tak pernah lupa melakukan ini, dan berbalas surat dengannya. Berbeda denganku, di setiap surat Jooheon, dia selalu menulis

Aku akan pulang, jadi bisakah kita bertemu?

 

Setiap dua belas bulan sekali di suratnya dia menulis seperti itu. membaca itu, aku langsung pergi ke Stasiun Dongdaegu. Menunggu nya disana sesuai janji. Tapi aku selalu tak bertemu dengannya. Justru ada seorang tentara yang mungkin rekannya disana yang selalu datang padaku seraya membawa surat dari Jooheon, untuk bulan berikutnya. Lantas mengatakan bahwa dia tak bisa pulang tahun ini.

Lalu aku akan kembali kerumah, duduk di dekat perapian, dan membalas surat permohonan maafnya dengan menuliskan awalan surat yang sama seperti biasa, bahwa aku rindu dengan kereta api itu.

Ini sudah tahun ketiga aku tak mendapat balasan. Lantas aku hendak memulai menulis surat baru untuk bulan ini. Tapi tiba-tiba saudara perempuanku bilang bahwa dia baru saja bertemu dengan seorang tentara di Stasiun Dongdaegu.

Jantungku berdebar cepat sekali. Di kepala ku, aku bertanya ‘apa kali ini dia benar telah kembali?’ . setelah itu, aku bergegas. Berlari menyusuri dinginnya angin malam, berlari menuju Stasiun tempat janji kami bertemu.

Tapi nyatanya, yang kulihat justru bukan Jooheon. Melainkan seorang teman, yang mengantarkan surat permintaan maaf tiga tahun yang lalu. Ia lantas tersenyum, lalu menyodorkanku satu amplop warna putih bersih yang disana ditujukan untukku.

Dengan cepat aku membukanya. Tak ada tulisan panjang atau cerita dari Jooheon. Hanya ada beberapa kata yang tertulis.

’14 Mei 2017, pukul 4 sore di Stasiun Dongdaegu.

Tunggu aku disana’

-end-

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

11 thoughts on “[One Year With…] A Boy in The Train”

  1. Anjir gila nad heuheu ini pen nangis bacanya huhu demi apa seriyusan aaaaaaaaaaaa
    Aku berasa kena electric shock loh baca juhon cetakan/? begini :’) pan biasanya dia slengean mulu but HUHU NADA SUKSES BIKIN AKU TERENYUH YA HUHU KEEP WRITING DEDEK TERSAYANG💜

    Like

  2. KAK MIN KUBARU MENEMUKAN INI…

    LAGI BACA E TIBA-TIBA SADAR KALO TERNYATA WRITERNYA KAK NADA :’v /maapkan diri ini/

    LULZ ZY TERHANYUT BACANYA/? /ujung-ujungnya ntar minta sequel/

    keep writing kak mint ❤

    Like

    1. Halooooo dekzy kesayangaannn
      hehehehe no prob :”) aku terharu malah nemu kamu komen disini :””))
      kuusahakan yaaa doanya saja otak ini lancaarrr :””)))
      samaaa kamu jg semangat nulissss
      makasi yaaaaa :*

      Liked by 1 person

  3. wait a moment….

    Mintulli? is that you? NADA OWL IS THAT YOU? NADA KESAYANGAN NYA JI IS THAT YOUUU? EH KAMU MENANG NAD, KAMUH… KAMOEH………. YAKKKKK CHUKKHAE NADA MINTUL OWL JI SAYANG KAMOEH (CAPSLOCK GANYANTE BIAR ALAY)

    Nad, ini boleh kali di lanjutin? c: kamu jangan gantung gitu kali buat ficnya, aku jadi keinget nih hubunganku yang lagi di gantungin sama seokjin juga c:

    Ah kamu udah menang gini aku bisa komen cem apa pula, ceritanya bagus dan yah jangan lupakan perihal ending yang gantung (kode minta sequel) tapi ya aku nemu typo mungkin kamu keseruan ngetik Nad XD

    Overall, Inget-Sequelnya-Ji-Tunggu-Banget-Loh. Jangan-Gantungin-Ji-Persis-Seperti-Seokjin. Sekian,

    Sekali lagi selamat Nadaaaa ❤

    (TBH, aku berkali-kali cek penname buat mastiin ini teh kamu nad)

    Liked by 1 person

    1. HWALOOO IYA JII SWIT JII IYA INI AKU. KESAYANGANMUUU MWAAHHH :”)) MINTULOWL LUCU BANGET AKU SENYUM2 KAMU BILANG GITUUU :”””) MAKASI SAYANG BERKAT DOAMU :””)))

      lanjut yaa? kuusahakan yaa krna sesungguhnyaa aku tak menyangka akan bisa lolos dan ada g minta lanjut sedangkan aku sendiri masi belum tau gmana ini nanti ceritanyaaa :””) kalo typo sih tau sendiri lah aku RATU nya :””)))

      kuusahakan yaa ditungguuu :*
      MAKASIII SEMANGAT NULIS JG KAMUUU :***

      Liked by 1 person

    1. HWALO DEROSCUUUU DIBACA TERNYATA SAMA KAMU :””””)))
      subhanalloh berkat kecintaan kepada oppa /? wkwkw kamus semangat jg nggambar dan nulisnyaa yaaa :”) terimaksih beybiii :””)) msih terharu rasanyaaa

      Liked by 1 person

  4. Jadi … jadi … Jooheonnya kemana……………… :””””
    Sumpah aku nangis kak baca ini. Huhuhu /_\ sungguh membuatku terenyuh. Semangat! Keep writing! 🙂

    Like

    1. haiiiiiii!!!!! sebelumnya trimakasih sudah membaca ini yaaaa :”)

      jadii jooheonnya masih di china dan ‘berjanji’ akan kembali pada tanggal itu :”) eh iya nangis? aduu maaf sudah bkin nangiss :”)
      iyaaa trimakasih semangatnyaa 😀

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s