[One Year With…] Diambang batas kehidupan

diambang batas kehidupan

Di Ambang Batas Kehidupan

By’Chokoby

Starring by: Yoo Kihyun [MONSTA X‘s] and Yoo Shirin [OC‘s]

And other Cast:)

What the Genre?: AU!, Brothership, Familly

Rating?: General

Durration: Vignette (1k word+)

I just own the plot and OC!

Typo? Yess!

Note!  ide cerita, alur, konflik, penokohan, latar dan waktu murni muncul dari khayalan saya, jadi mohon saling menghargai:)))

Chokoby Present

Menempatkan seluruh hak dirinya diambang batas kehidupan

©2016

 

Awan gelap bertabur bintang, luasnya jagat terlalu pekat untuk sekedar dilihat. Menjadi saksi bagaimana mereka terikat. Senyuman ringan tanpa beban. Mereka kehausan akan kasih sayang.

Berbagai liku menantang langkah kaki mereka. Terkadang mereka membuang nafas kala keringat dingin mengucur di sekujur tubuh. Mereka masih ingat bagaimana kehidupan sebelumnya, mereka bersama, tertawa ceria, juga tanpa air mata.

Cerita dulu biarlah berlalu, anggap semua bagai hembusan angin belaka. Seperti daun di musim gugur, bagai perumpamaan Shirin, wanita yang  berusia enam belas tahun. Ia menatap laun adiknya yang meringkuk diatas lantai dingin. Ia bersyukur, tak terjadi apa apa dengan adik kesayanganya, “kau tak apa, Kihyun?” sangat kentara terbesit dalam ekspresinya jika ia mengkhawatirkan adiknya.

Di– dia … tadi  dia mengambil uang jajanku kak… ju– juga… dia memarahiku kak… aku sangat takut… ada monster dalam diri ayah kak…” ucap Kihyun terbata dengan ekspresi ketakutan yang mendominasi seluruh obsidian Shirin.

Eh? Adiku bukan penakut. Kihyunku ‘kan pemberani,  lagi pula monster itu sudah lenyap jadi tidak ada yang perlu ditakuti lagi.” Shirin berusaha terlihat tegar di hadapan adiknya, walau sebenarnya ia juga rapuh tak berdaya. Setelah ia dipaksa menjadi seorang  pelacur oleh sang ayah, namun pada akhirnya kehidupan sang ayah berakhir sejak ayahnya mengejar dirinya yang kabur berlari ke tengah jalan raya. Iya,hidup ayah mereka berakhir setelah .

.

Foto keluarga yang diambil enam bulan lalu, selalu menjadi kenangan kelabu. Saat itu, mereka masih bersama keluarga yang utuh. Sampai suatu saat waktu itu datang membawa badai. Menghantam semua kebahagiaan yang ada. Selalu tersaji derita setelah kepergian orang yang dikasihinya meninggalkan mereka dengan takdir yang tak pantas mereka terima.

Gelak tawa yang tercipta ingin sekali mereka rasakan kembali seperti dulu. Kihyun yang selalu tersenyum kala dirinya menunggu sang kakak pulang bekerja. Ia selalu mengoceh tentang suatu harapan yang tak akan menjadi kenyataan, “kak. Kapan ibu pulang?” pertanyaan yang tak pernah bisa Shirin jawab.

Hatinya selalu sakit dan tenggorokannya selalu tercekat kala Kihyun menanyakan hal itu. Ia harus berkata apa pada adiknya? Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya jika ibunya sudah tertelan luasnya bumi, tak akan pernah kembali walau hanya untuk sekedar menyunggingkan sebuah senyuman. Haruskah Shirin mengatakan itu? Percuma, Kihyun tidak akan mengerti.

I– ibu?  Ibu sedang istirahat di tempat yang sangat indah. Nanti kalau Kihyun sudah besar, Kihyun akan mengerti kenapa ibu tak pernah kembali” berbohong lagi. Tak bisa ia katakan apa yang sebenarnya terjadi, karena Kihyun pasti tak akan mengerti. Sebuah kenyataan yang menjadi tabu bagi hati Shirin yang kosong akan kebahagiaan.

Jemarinya mengelus pelan rambut sang adik, seolah meluapkan kasih sayang yang tak bisa di ucapkan. Rintik hujan  diluar tak mampu membuat perasaannya tenang barang sekejap. Luasnya laut tak mampu menyandingi betapa besarnya Shirin menyayangi Kihyun. Bahkan matahari sekalipun tak pernah mengalahkan  terang cintanya pada Kihyun.

Kihyun terkadang sedikit kesal akan jawaban yang ia dapat. Berbagai pertanyaan ingin ia lontarkan, namun sepertinya ia akan kembali memperoleh jawaban yang sama.

Lama kak. lalu, kapan kita akan tinggal dirumah besar lagi? Aku ingin makan daging sapi yang lezat  nanti” Kihyun masih kecil, ia tak merasakan apa yang dirasakan Shirin saat ini. Yang harus banting tulang demi menghidupi dirinya. Terkadang jika seperti ini, selalu terbesit dalam pikirnya bagaimana jika… lupakan. Enam bulan terakhir ini hanya itu yang kihyun inginkan darinya, sebuah rumah dan sepotong daging sapi, dan sekarang Shirin harus mendapatkan itu, ya dia harus karena itu sangat mudah.

Mengingat keadaan sekarang, masa sulit seperti ini  kapan akan berakhir? Cukup mereka yang menderita, tapi kenapa tuhan juga harus merampas ibunya dari mereka? Apa salah mereka? Shirin ingin bahagia bebas tanpa  tali yang mengikat dan menanggung beban hidup sebesar ini. Bumi yang dipijak tak mampu menolongnya, hanya mampu menyaksikan bagaima dirinya menderita. Semua tumbuhan seakan menyindirnya menjadi orang yang di campakan takdirnya.

Namun Kihyun si pria kecil yang genap berusia sepuluh tahun dan mengidap penyakit autis. Dengan berbagai kekurungan fisik, serta berbagai penyakit yang menemani, tetap Shirin sayangi tanpa batas, ruang dan waktu.

Obsidiannya menatap kearah jendela rumah sempit itu, dilihatnya  matahari semakin terang menyinari peradaban juga hujan sudah mulai mereda. Ia segera beranjak pergi tuk mencari uang  barang selembar sebelum siang dan sore merampas semangatnya. Ia pergi untuk Kihyun, juga meninggalkan Kihyun dengan harapan Shirin pulang membawa kejutan.

.

Perlahan sore pun datang, menemani Kihyun yang sendirian. Sampai akhirnya malam mengalihkan pancaran sinar matahari. Kihyun menunggu kakanya yang tak kunjung pulang membawa daging sapi untuknya. Tak lupa dengan janji sebuah rumah besar yang ingin mereka tempati kelak.

Queen adalah Ratu, satu kata yang Kihyun tau dari bahasa inggris, ia tujukan pada Shirin. Shirin adalah ratu sumber dari kebahagiaan. Kihyun menungguya pulang namun belum datang juga –Shirin–. Sampai sore  –kedua  setelah kepregian Shirin kemarin– kembali menyapa. Ini hari ulang tahunya, serasa takdir mempermaikanya, ia menunggu sang kakak dengan gelisah bercampur sedih akan keberadaan Shirin.

Rasa cemas dan penantianya pun lenyap kala netranya melihat Shirin datang.  Tetapi dua orang mengikutinya dari belakang dan kenapa tangan Shirin di borgol? Juga ia turun dari mobil berisik itu, seperti ambulance tatapi bukan. Baiklah ia tak mau perduli.

Sudah terlalu lama menunggu ya? kau pasti belum makan ‘kan? Maafkan kakak ya sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Tapi kakak membawa kejutan untuk hari ulang tahunmu sekarang. Ini daging sapi, dan mulai sekarang Kihyun akan tinggal dirumah yang besar seperti yang Kihyun inginkan. Ayo ikut dengan kakak hiks…” Kihyun menuruti Shirin dan berjalan menggandeng tangan Shirin menaiki sebuah mobil. Shirin ingin sekali memeluk erat adiknya namun ikatan di tangan ini menghalanginya. Serta sekarang ia tak mampu menyembunyikan kesedihan ini, ia sudah tak bisa lagi bersikap sok tegar dihadapan adiknya. Ia menangis.

.

Tak lama mereka tiba sampai tujuan. Dan jangan katakan apapun jika gara–gara kejutan ini yang membuatnya menjadi seperti ini.

Untuk masuk ke dalam bangunan itupun Shirin harus mengeluarkan liquid bening itu kembali. Sungguh ia tak kuat sekarang jika harus memberikan adiknya pada orang lain. Pun dengan semua haknya.

Vita suara nya semakin mengecil dan tercekat kala dirinya mengatakan sesuatu pada ahjuma pemilik bangunan ini “aku menitipkan adiku Yoo Kihyun. Kumohon jaga dia dengan kasih sayang sampai aku kembali suatu hari nanti” hanya sebuah anggukan dan senyuman tulus yang ia dapatkan. Ia memberikan jari Kihyun yang digenggamanya pada ahjuma ini. Ia tahu jika Kihyun kebingungan dengan apa yang Shirin lakukan, “Mulai sekarang Kihyun akan tinggal disini dengan ahjuma baik ini. Kihyun juga akan makan setiap hari. Jika kakak selalu tinggal denganmu, kakak tidak bisa menjamin jika kita akan makan setiap hari Happy Birthday Yoo Kihyun ‘ini ‘kan yang kau inginkan?’” anggukan dan sebuah senyuman yang terpancar dalam ekspresi Kihyun sedikit melegakan Shirin, sang kakak yang rela berkorban demi adiknya.

Walaupun Kihyun tak mengerti apa yang diucapkan sang kakak padanya, tetapi ia mencoba mencerna kembali semua perkataan Shirin. Yang dari awal ia pulang kerumah dengan memakai baju tetapi lebih mirip dengan seragam warna biru tua tak lupa dengan nomer seratus delapan belas terpampang jelas di depannya, dan juga ia diajak naik mobil berisik karena suara sirine bersama Shirin. Kemudian Shirin bilang jika ia akan pergi lama karena suatu perbuatan tercela, yang Shirin lakukan demi Kihyun, sampai – sampai ia dipisahkan dengan kakaknya, tapi ia akan rela menunggu waktu itu. Waktu yang akan menyatukan mereka kembali. “Kihyun sayang kakak. Cepat kembali dan bawa ibu juga ayah jika kembali, walau ayah sering memukuli kita dan ibu yang tidak pernah datang menjenguk kita, aku tetap sayang kalian” tangisan kembali membuncah menjadi akhir dari Shirin yang kini meninggalkan Kihyun sendirian di tempat ini bersama dengan anak yatim piatu lainya.

*

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W  dan tiga huruf terakhir 1X 2Y 3Z tak mampu di deskripsikan. Setiap kalimat yang terpapar menjadi diksi, diawali  dari abjad  A tersusun rapi sampai akhirnya berakhir dengan huruf Z  mewakili seluruh kenyataan murni tanpa dusta atau muluk belaka, dua orang saudara yang harus terpisah oleh kejerumusan sang kakak karena terlalu sayang pada adiknya, yang mengakibatkan mereka terpisah pada akhirnya.

Kala itu sang adik belum sadar akan kenyataan, ia tak mampu memahami arti mendalam secepat yang ia pikirkan. Enam bulan sudah berlalu semejak kepergian Shirin.

“Aku sekarang mengerti kak, karena aku sudah dewasa, kau jahat memberi sebuah kejutan untukku, yang kumaksud bukan ini dan aku tahu alasan kenapa kau harus pergi meninggalkanku di tempat itu, panti. Karena kau rela demi aku yang menginginkan sebuah kejutan kala itu. Dan kau meninggalkanku selama enam bulan, lalu kau tinggal dibalik jeruji. Selama enam bulan itu yang terjadi hanya waktu merenggut  semua  hidupku juga kestabilan tubuh yang aku miliki, penyakit ini semakin bandel kak dan tuhan dengan mudah merampas semuanya. Bukankah satu tahun terakhir ini sangat indah ‘kan? Sekarang aku yang akan pergi karena aku malu menahan kesalahanku padamu, juga kanker ini semakin menjadi. Lagipula jika aku hidup itu akan menjadi beban bagimu. Kapan pun kau kembali kumohon maafkan aku. Selamat tinggal kak~ YOO KIHYUN LOVE YOO SHIRIN”

Shirin mendapatkan kembali kebebasan, namun juga harus melepas satu kebebasan lain dari tempatnya –Kihyun– setelah  membaca surat singkat dari adiknya di hari ulang tahun Kihyun yang ke sebelas saat ini, Shirin merasa jika kali ini takdir tak lagi mempermainkanya, namun juga takdir pada akhirnya menempatkan seluruh hak dirinya diambang batas kehidupan. Apakah secepat itu Kihyun-nya diambil tuhan? Setelah Kihyun tinggal di panti dan ia bebas kembali. Selamat ulang tahun Yoo Kihyun.

[end]

a/n:

 Hai! Terima kasih sudah mau baca><

Lafflaff<3

‘chokoby’©2016

chu~

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

1 thought on “[One Year With…] Diambang batas kehidupan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s