[One Year With…] Bald?

5. bald

Bald?

Author: deerochan | Casts: Wonho (Monsta X), Yu Ra (OC) | Support Casts: Hye Ri (OC) & others| Genre: romance, family, comedy?, slice of life | Rating: PG-13 | Length: Vignette, 2000+ words

Summary:

Tolong, kakakku yang tampan berubah jadi botak!

 

 

            “Hahaha! Botak, botak!”

            Aku memejamkan mataku rapat-rapat seraya menulikan telingaku mendengar ejekan yang ditujukan untukku itu. Sudah belasan kali aku mendengar kata-kata itu hari ini, dan belasan kali pula aku menahan diriku untuk tidak memberi pelajaran mulut-mulut tidak berperasaan itu.

            “Hei, memangnya beneran botak?”

            “Iya. Hee Kyung dari kelas tiga melihatnya sendiri kemarin, Yu Ra berjalan dengan si botak.”

            Kurang ajar! Umpatku dalam hati mendengar bisikan perempuan-perempuan genit yang dikeras-keraskan ketika aku lewat itu. Bagaimana aku tidak kesal? Sepekan lalu saja mereka masih memanggilnya dengan sebutan ‘si ganteng’ atau ‘pangeran’.

            “Pfft, hebat banget. Bakalan jadi idol terkenal, tuh.”

            “Botak begitu aja dipamerin!”

            Aku merasakan kemarahanku sudah mencapai ubun-ubun. Tanpa ragu, aku melempar pandangan tajam kepada mereka sesaat sebelum aku meninggalkan koridor sekolah cepat-cepat untuk kembali ke kelas.

            Sesampainya di kelas, aku menuju bangkuku dan menelungkupkan kepalaku di meja. Kurasakan setitik air mata kemarahan keluar di mata kiriku. Aduh… Aku ingin hilang saja rasanya.

            Ini semua gara-gara si Wonho bego! Umpatku dalam hati. Ya, ini semua gara-gara kakakku.

            Sebenarnya, boleh dibilang, aku terkenal sebagai cewek brother complex di kalangan teman-teman sekolahku. Bukan dalam arti harfiah, sih—tapi tidak bisa dibilang salah juga. Aku tidak marah, kok, mereka pun tidak memaksudkannya dalam artian negatif.

            Shin Hoseok—atau bisa dipanggil Wonho, kakak yang berada dua tahun di atasku, adalah sosok yang nyaris sempurna. Aku selalu saja membanggakannya di hadapan teman-temanku. Bagaimana tidak? Dia mempunyai fisik yang sempurna; mulai dari matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, badannya yang tegap dan berisi, kulit dan rambutnya yang indah.

Sayangnya, Wonho memang tipikal orang yang sedikit congkak dan terkenal sebagai laki-laki tak berperasaan. Pasalnya, dari semua gadis yang menyatakan perasaan padanya itu, tak satupun yang ia terima. Daripada penolakan halus dengan permintaan maaf, justru kata-kata pedas akan keluar dari mulutnya. Seperti, “Aku tidak suka kau, gendut!” atau, “Berkaca dan sisir rambutmu dulu, sana!”

            Karena itulah, sekarang para penggemarnya hanya bisa memandang pangeran yang sulit didekati itu dari jauh tanpa berani mengungkapkan perasaannya langsung. Sebaliknya, sikap Wonho berbeda seratus delapan puluh derajat di hadapanku.

            Sejak kecil, Wonho amat sayang padaku. Kami hanya dua bersaudara. Wonho selalu menggendongku di punggungnya kemanapun ia pergi saat kami kecil. Ia juga selalu menjadi kakak yang protektif. Wonho akan mengantarku kemanapun aku pergi dan tidak membiarkan aku tidur larut malam. Dia bahkan lebih perhatian ketimbang Ibu.

Sampai sekarang, ia selalu suka menyisir rambutku dan menciumnya. Wonho bilang aku adalah putri cantiknya dan ia juga bilang ia tidak pernah jatuh cinta pada gadis lain selain aku. Itulah sebabnya semua orang selalu iri padaku, dan itu juga sebabnya aku selalu membangga-banggakannya.

Puncaknya adalah ketika Wonho terdaftar sebagai trainee di sebuah agensi ternama di Seoul. Semua orang di sekolah membicarakannya, mereka mulai menyapaku untuk menitip salam padanya. Mereka bilang aku adalah adik yang paling beruntung di dunia ini mempunyai kakak yang tampan dan berbakat sepertinya.

            Namun, semua itu berubah hanya dalam satu malam.

            Pada minggu sore yang cerah, kakakku pulang dengan penampilan yang sama sekali berbeda dan membuat aku dan keluargaku gempar.

Coba tebak? Wonho pulang tanpa seutas rambut pun di kepalanya.

            Ya. Dia botak.

            Sekali lagi. BO-TAK.

            Sementara orang tuaku menangis karena terlalu banyak tertawa melihat kekonyolan wajahnya yang tanpa rambut itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Wonho membuka tudung jumper-nya sambil cengengesan, menunjukkan kepalanya tak merasa berdosa. Aku yang hanya melongo sebenarnya kecewa setengah mati dalam lubuk hatiku.

            Wonho yang amat tampan dengan rambutnya yang naik dan indah. Wonho yang menghabiskan waktu setengah jam setiap hari di depan cermin hanya untuk mengatur rambutnya dengan gel. Wonho yang selalu peduli terhadap penampilan di atas perilakunya. Wonho yang kubangga-banggakan karena wajahnya.

            Kakakku berubah dalam semalam tanpa ada yang tahu alasannya.

            Bukan hanya itu hal buruk yang menimpaku. Belakangan ini, aku memergoki Wonho tersenyum-senyum sendiri di kamarnya sambil menatap layar ponsel. Apa-apaan itu? Aku merasa marah sekali. Aku bersumpah, aku tak pernah memandangnya tersenyum seperti itu selain padaku. Masa ia sedang jatuh cinta? HAH! Yang benar saja!

            Bagaimanapun kerasnya aku berpikir, kurasa bahkan aku sekalipun takkan mampu mengubahnya menjadi botak. Orang bilang, cinta bisa mengubah seseorang. Apakah seseorang yang membuatnya tersenyum sendiri dengan ponsel di tangannya itu adalah orang yang sama yang membuat ia mencukur habis rambutnya?

            “Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku bisa melakukan apapun untukmu, bahkan mencukur habis rambutku saja aku bisa!”

            “Ah, gombal, kamu…”

            Beberapa saat kemudian Wonho pun kembali dengan kepala botak. “Lihat, demi kamu aku mencukur habis rambutku. Sekarang kamu sudah percaya, ‘kan, honey?”

            UUUGH! Aku menjambak rambutku mengusir khayalan-khayalan menjijikkan yang berputar dalam kepalaku. Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak mauuu!

            Aku benci kakakku. Aku benci si botak payah itu. Aku benci Wonho. Benci, benci, benci!

  • ••

            Tok tok! Suara ketukan halus itu terdengar lagi di pintu kamarku. Aku masih saja mengacuhkannya.

            “Yu Ra, buka pintunya, ya…”

            Terdengar suara Wonho memelas. Aku tak bergeming di kasurku, menyelimuti seluruh tubuh hingga wajahku.

            “Yu Ra… Ayolah, aku membelikanmu susu kotak kesukaanmu.”

            Aku tetap tak merespon.

            “Yu Ra, ini sudah dua hari. Sampai kapan kamu mau mengacuhkanku? Setidaknya kita perlu mencoba saling bicara, bukan?”

            “Tunggu sampai rambutmu tumbuh kembali seperti semula dan aku akan bicara!” balasku setengah berteriak.

            “SHIN YU RA!”

Aku terlonjak dari kasurku, terkejut akan respon Wonho. Ini pertama kalinya ia membentakku setelah sekian lama… aku tidak ingat kapan terakhir kali. Aku menggertakkan gigiku kesal. Dadaku menjadi panas.

Terdengar helaan napas berat di balik pintu kamarku setelah beberapa saat. “Baiklah… Aku akan menyerah. Maafkan aku karena telah membentakmu. Aku letakkan susu kotak ini di depan pintu kamarmu, ya.”

Aku menurunkan kakiku dari atas kasur untuk membuka pintu dan mengambil susu kotak yang ditinggalkannya. Berusaha melangkah pelan tanpa suara.

“I LOVE YOU! YU RA!tiba-tiba Wonho berteriak keras saat aku sudah berada selangkah di belakang pintu, membuatku berjingkat kaget. Hhh… Kurang ajar, aku mengelus dadaku. Si botak itu kalau teriak nggak kira-kira.

Aku mendengar langkah Wonho menjauh. Bisa kubayangkan ia menuruni tangga dengan wajah gontai. Bagaimana aku bisa tega? Sejujurnya, ini semua membuatku pusing. Aku rindu padanya, tapi aku juga kesal. Membayangkan wajah tampannya yang dulu selalu kukagumi membuatku kesal dengannya.

Aku membuka pintu kamar dan mengulurkan tangan untuk mengambil susu kotak kesukaanku. Setelah menusuk sedotan dan meminumnya seteguk, aku menyadari Wonho menempelkan secarik kertas di sana. Aku menyipitkan mata membaca tulisannya yang kecil-kecil.

To: Yu Ra ❤

Maafkan aku.

Saranghaesaranghaesaranghaesaranghaesaranghaesaranghaesaranghae

UHUK!” Ya ampun! Apa-apaan ini? Aku tersedak kaget. Wonho-ku yang norak, bisakah kau tidak membuatku kangen padamu? Sebal sekali rasanya. Aku mengambil kertas itu, meremasnya dan membuangnya ke tempat sampah kecil di kamarku.

Jika dia semenyesal ini, kenapa juga ia membotaki rambutnya? Rasa penasaranku muncul. Aku ingin mencari jawabannya, tapi bagaimana caranya…?

Masa bodoh. Besok saat pagi datang, aku akan mengikutinya, memeriksa ponselnya—apapun itu selama aku bisa mendapatkan petunjuk akan apa atau siapa yang merebut Wonho-ku. Lihat saja, jangan harap Shin Yu Ra ini akan tinggal diam!

  • ••

Aku sedang menyantap semangkuk sereal pagi itu saat merasakan dekapan seseorang dari belakang punggungku. Aku membeku sementara seorang pemuda botak menyebalkan yang tak lain adalah kakakku itu menggumam, “Yu Ra sayang… Berangkat bareng, yuk…”

Kontan aku berdiri dan pucuk kepalaku menghantam dagunya. “ADUH!” tak peduli Wonho mengaduh keras, aku merapikan rok lipat seragamku, mengambil ransel dan berpamitan. “Ibu, aku berangkat dulu.”

“Iya, Sayang…” Ibu menjawab sambil cekikikan. Sebelum aku pergi sekolah, bisa kudengar Ibu berkata, “Tenang, dia masih lima belas tahun. Pakai topimu ke sekolah! Jangan membuat Yu Ra membencimu lebih dari ini.”

“Tenang bagaimana? Yu Ra sudah mendiamkanku selama tiga hari, Bu!”

“Jangan cerewet dan pakai topimu, Shin Hoseok!”

  • ••

Hari ini sekolah juga masih saja terasa menyebalkan. Aku heran, gara-gara Wonho, apapun jadi terasa menyebalkan. Aspal yang tidak rata, bangku yang berdecit, bel yang berdering keras di sekolah, semuanya! Dasar perusak mood orang!

Hari ini aku sengaja pulang terlambat supaya tidak berpapasan dengannya. Kadang-kadang, beberapa kali dalam seminggu, Wonho sengaja menungguku di halte bus agar kami pulang bersama.

Sesampainya di rumah, aku mengendap-endap masuk untuk mencari tahu apakah Wonho sudah pulang ataukah belum. Aku menuju ke tangga dengan pura-pura santai, melewati kamarnya yang pintunya terbuka sedikit. Tak ada reaksi apapun setelah aku lewat.

Aku menghentikan langkahku penasaran. Kedua kakiku membawaku bergeser perlahan menempel dinding sebelah pintu kamarnya. Aku mendengar ia sedang bercakap-cakap pada seseorang. Siapa? Batinku. Butuh waktu beberapa detik untukku menyadari ia sedang berbicara lewat telepon.

“Hm. Oke. Apa yang lain sudah makan siang?”

Aku menajamkan pendengaranku. Yang lain? Siapa? Apa mungkin teman-temannya?

“Hahaha. Oke, oke. Kupikir aku akan membawakan sejumlah sushi cepat saji jika yang lain belum makan.”

Jantungku berdegup kencang. Demi Tuhan, apa ini? Apa Wonho… di-bully?! Tidak, tidak. Tampang sangar sepertinya tentu tidak mudah ditindas.

“Apa? Oh, tidak… Tidak merepotkan sama sekali. Kalian adalah keluarga kedua bagiku.”

Keluarga? Apa maksudnya? Apa ia mengikuti sebuah komunitas?

Tunggu, tunggu. Jangan-jangan ia mengikuti semacam bela diri China yang mengharuskan ia dibotaki? Atau… Wonho mengikuti aliran-aliran sesat?!

“Baiklah. Aku akan ke sana sekarang. Oke, tunggu aku, ya!”

Aku segera berlari tanpa suara dan menyembunyikan diriku di dapur saat kudengar langkah Wonho berderap cepat. Aku mengintip hati-hati. Mataku mengejar sosok Wonho yang keluar rumah dengan setelan jeans, hoodie dan snapback hitam-putihnya.

Tentu saja, Yu Ra yang jago ini tak akan melepaskan kesempatan emas itu. Aku melempar tasku ke meja makan dan tanpa mengganti seragam mengikutinya keluar dan takkan membiarkan dia menyadarinya.

Langkah Wonho cepat menyusuri trotoar jalan. Sudah sekitar ratusan meter aku mengikuti kakakku, tapi kami belum sampai juga di tempat yang sedang-dituju-Wonho-entah-apa-namanya. Wonho juga tidak naik bus, jadi aku yakin sebentar lagi kami akan sampai. Sebaiknya itu bukan tempat tongkrongan dengan alkohol dan rokok karena aku akan sungguhan membunuhnya jika itu benar.

Di saat tumitku mulai pegal karena kami tak kunjung sampai, Wonho tiba-tiba berbelok di sebuah bangunan dengan halaman yang cukup besar. Aku menajamkan mataku dan mencari tahu dari seberang jalan.

Bangunan besar itu tampak tua, namun terawat. Halamannya yang besar diatur seapik mungkin hingga tampak seperti sebuah taman di villa-villa mahal; dengan rumput yang panjangnya rata dan tanaman-tanaman segar. Wonho melangkah masuk ke pintu depan yang terbuka. Beberapa anak laki-laki berhamburan dan memeluknya erat, membuatku melongo. Apa yang mereka lakukan?

Tanpa ragu, aku berlari menyeberangi jalan menuju rumah besar itu. Aku melangkah masuk ke dalam tanpa permisi. Wonho sudah masuk ke ruang yang berada di tengah, sementara aku pun buru-buru mengikutinya.

Sesampainya di sana, aku mendapati sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang kubayangkan. Pemandangan di hadapanku membuatku sempurna terhenyak.

Aku melihat banyak orang dari segala usia di sana—utamanya anak-anak. Usia dan jenis kelamin mereka tidak sama, namun ada yang menyamakan mereka semua.

Satu, hampir semua tak mempunyai rambut atau menutupnya dengan topi rajut. Dua, sisanya, antara berjalan dengan kursi roda atau membawa tiang infus di tangannya.

Aku tertegun menyadari sesuatu.

Ini adalah sebuah love house. Rumah singgah sentra kanker. Panti rehabilitasi. Atau apapun kau menyebutnya—aku tak terlalu tahu. Ya, tak salah lagi.

Kakakku pergi ke organisasi sosial seperti ini?

Aku terkaget-kaget terlampau lama, sampai suasana yang gaduh dikarenakan Wonho datang itu pun akhirnya mereda. Beberapa dari mereka menyadari keberadaanku, dan tak butuh waktu lama sampai anak-anak dan beberapa  pengurus serta relawan pusat rehabilitasi itu memandangiku. Termasuk Wonho.

“Yu Ra?!” Wonho tersentak kaget mendapatiku berada di sana. Beberapa saling berbisik bertanya, “Siapa?” saat Wonho mendatangiku dan memegang lenganku.

“Bagaimana kamu bisa di sini? Yu Ra, ini, ‘kan lumayan jauh… Apa kamu berjalan kemari? Tidakkah tumitmu sakit, huh?

Aku masih diam saat Wonho menunduk untuk memijat tumitku. Seorang gadis cantik berkulit pucat dengan topi rajut merah jambu lembut mendatangi kami dengan kursi rodanya. “Wonho, ini…?”

Wonho berdiri menyadari suara gadis itu. Ia lalu memandangnya sambil tersenyum. “Iya, ini adikku Yu Ra. Cantik, bukan?” Wonho berganti fokus padaku. “Kenapa kamu bisa sampai di sini?”

“Aku mengikutimu, tentu saja,” sambarku cepat, berusaha tak menghiraukan gadis cantik di samping Wonho. Dia bisa dibilang berkali lipat lebih cantik dariku. Gadis itu mempunyai mata yang bening seperti bayi, membuatku cemburu.

“Kak, kau pergi kemari? Kenapa tak memberitahuku?” tanyaku sebal.

“Hehehe. Sesungguhnya sudah sejak lama. Aku telah mengikuti pelatihan relawan dalam beberapa bulan, dan ini bulan kedua semenjak aku menjadi relawan.” Jelasnya.

“Kenapa tak memberitahuku? Aku benar-benar tidak tahu kau pergi ke organisasi sosial!” ulangku dengan nada makin sebal.

“Maaf, Yu Ra. Ini tak cocok dengan image-ku, bukan?” Wonho tersenyum memandangku.

“Jadi, ini juga yang menjadikanmu…” aku menghentikan ucapanku, alih-alih menunjuk kepala Wonho. “Apa karena gadis ini?”

Gadis cantik tanpa rambut yang kutunjuk dengan dagu itu sontak gelagapan. “Eh, apa maksudmu? Tidak, kok…” Gadis itu tersipu malu. Sama halnya dengan Wonho, pipinya memerah mendengar pertanyaanku, membuat kepalaku berasap makin kesal.

“Tidak, Yu Ra,” sebuah suara muncul dari balik punggung Wonho. Seorang wanita paruh baya mendekati kami berdua, diikuti beberapa anak lelaki dan perempuan yang penasaran. “Wonho itu relawan untuk rumah rehabilitasi kami. Dua hari yang lalu, kami diundang dalam sebuah charity event untuk penderita kanker. Di sana, beberapa relawan dari banyak rumah singgah mencukur habis rambutnya untuk menunjukkan empati pada pasien yang sedang berjuang melawan kanker sedunia. Dan, Wonho kita, mewakili untuk melakukannya juga.”

Rasanya aku seperti ditonjok-tonjok oleh kata demi kata penjelasan yang keluar dari mulut Bibi itu. Banyak sekali hal mengagetkan yang aku sama sekali tak tahu menahu tentang Wonho. “Wonho…? Kakakku melakukan itu…?”

“Sudah kubilang, Yu Ra tidak akan percaya,” Wonho mencibir pada Bibi pengurus.

“Tapi, mungkin soal Hye Ri itu memang benar adanya. Lihat, pandangan mereka terhadap satu sama lain memang berbeda, bukan?” muncul seorang remaja lagi yang tampaknya juga pengurus rumah rehabilitasi ini atau salah satu relawannya pula. Aku mengernyitkan dahi, menerka siapa Hye Ri itu. Lalu aku melihat Wonho dan gadis dengan topi rajut pink itu saling memalingkan wajah karena malu.

“Apa?!” bentakku tak terima. “Apa-apaan ini? Hye Ri-sshi, maaf saja, tapi kakakku hanya milikku.” Aku menggamit lengan Wonho mendekat, membuat Wonho cengengesan.

“Kenapa kau jatuh cinta tanpa izinku, sih?” tanyaku padanya. Wonho mengerjap-ngerjapkan matanya melihat lengannya digenggam makin erat olehku.

“Jadi… Yu Ra sudah tidak marah padaku, nih?”

Aku mendengus sebal mendengar sindirannya. “Aku hampir menangis saat kulihat kau botak, tahu! Kalau kau beritahu alasannya sebelumnya, aku ‘kan tidak akan mendiamkanmu seperti ini…”

Wonho tersenyum, memegang kedua pipiku. “Maafkan Oppa-mu yang payah ini, ya. Aku janji tidak akan berbuat nekad lagi. Aku akan meminta izinmu dulu lain kali, oke?”

Err, lupakan soal itu. Kalau soal jatuh cinta, kau tidak usah meminta izinku, sih.” Aku bergumam pelan, menarik ucapanku tadi.

“Apa?” Wonho membelalakkan matanya, bergantian menatap Hye Ri yang salah tingkah, dan menatapku lagi. “Benarkah itu?”

Aku mengangguk pelan, namun tetap mempertahankan wajah cemberutku. Wonho mencubit hidungku gemas dan tertawa lebar. “Putri Yu Ra memang yang terbaik!”

“Hey! Sebaiknya, Hye Ri bisa membuatku menyukainya, ya! Awas kalau tidak.”

“Tenang saja, kau cepat atau lambat akan menyukainya.”

Aku melempar pandangan menusuk ke arah Wonho yang terkekeh, mampu membuatnya bungkam. “Ups, tapi Yu Ra-ku tetap yang nomor satu di dunia, kok.”

Aku tersenyum lebar mendengarnya, lega. Memeluknya senang karena akhirnya kami berbaikan.

Kau juga, si botak payah! Sampai kapanpun, kau akan selalu menjadi laki-laki nomor satu di hidupku, bisikku dalam hati.

Fin.

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

4 thoughts on “[One Year With…] Bald?”

  1. HAI HELO ANNYEONG!!!! DEROCHANKUUU WKKWKW KU MEMBACA INI SUDAH DUA KALI TAPI TETAP SAJA FEELNYA NGGAK MATI SMAA SEKAI LHOOO SYUKAAA :33
    SUMPAH SEEPRTI BIASA AKU SELALU SUKA SAMA GAYA NULISMU YANG SEBENRNYA LEBIH SENPAI DARIPADA AKU :””””))))

    BTW AKU NGAKAK KEJER BAYANGIN INI WONHO YANG BOTAK SERIUSSS. MASI GANTENG PASTIIIII. TAPI KALO NANGIS MAKIN LOL MUNGKIN WKWKWKWKWKWK
    SEMANGATT TERUSSSS KAMU TETEP MENJADI PEMENANG DI HATI KIHYUNI KOKW KWWK 😘😘😘😘💘💘💘💘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s