[One Year With…] After 1 Year, Hiden My Feel

7. DEDES - AFTER ONE YEARS

[ONE YEAR WITH] AFTER 1 YEAR, HIDEN MY FEEL

A Fanfiction by DEDES

With MonstaX’s I.M as Changkyun – [OC] Shin Minji – MonstaX’s Wonho

MonstaX’s all member, and mention OMG’s Arin name

OneShoot – Family, Romance,Friendship – PG 13

STORY IS MINE

“Aku menyimpan perasaan ini sudah setahunan…”

̶

 

Sore hari, mentari siap mendelik dan mempersilahkan bulan menampakan eksistensi. Tapi Minji masih saja disibukan oleh segudang tugas kuliah yang entah kapan akan berakhir. Gadis berponi itu masih harus mengerjakan lima makalah yang belum juga selesai sejak dua minggu lalu. Masih ada lagi tugas-tugas lain yang malas untuk Minji sebut namanya. Maklum, ini sudah akhir semester dua, jadi wajar jika gadis itu disibukan dengan se gudang tugas oleh dosen-dosen di kampusnya. Toh, bukan hanya dia yang sibuk mengerjakan tugas, teman-temannya pun pasti sekarang juga tak ada waktu untuk sekedar Hang Out di malam minggu. Minji yakin sekali itu, mereka pasti akan lebih memilih menghabiskan malam minggu dengan laptop dan setumpuk buku. Bahkan Kakak Minji pun sekarang juga seperti itu, lelaki berwajah tampan (kata orang-orang, bukan kata Minji) itu tak ada lagi waktu untuk sekedar mengirimi pesan untuk gadis pujaannya. Untuk berkumpul bersama ke-enam temannya saja ia sudah tak ada waktu, maklum dia sudah semester 6 sudah sangat sibuk sekarang. Namun meski sibuk mengerjakan tugas dan hal lain dikampus bahkan juga tak ada waktu untuk sekedar mengirim pesan pada gadis yang ia taksir, Kakak Minji si Shin Wonho itu masih saja ada waktu untuk menjaili Minji.

Seperti sekarang, lelaki berhidung mancug itu sedang bersender di pintu kamar Minji, memperhatikan adik semata wayangnya yang sama sekali tak menggubris kehadirannya. Maklum, Minji kan sedang serius dengan laptopnya. Tapi bukan Wonho namanya jika tak punya segudang akal cerdik untuk mengerjai Minji.

Wonho sudah memulai kejailannya. Berjalan menuju kasur empuk Minji, kemudian berkata “Minji ? Minji ? A’ak butuh bantuan nih”

“Bantuan apa? A’ak gak lihat Minji sedang mengerjakan tugas.”

Gadis itu menjawab tanpa menoleh sedikitpun, netra nya tak bisa lepas dari laptop di depannnya.

“Iya, A’ak lihat kok. Tapi cuma Minji yang tahu jawabannya.”

Sedikit heran, Minji mengerutkan dahi. Lalu menoleh kearah sang Kakak yang kini sudah duduk santai di kasur empuknya.

“Memangnya apa pertanyaannya ?” Minji ikut bergabung bersama sang Kakak di kasur empuk miliknya. Mengambil boneka Rillakuma favoritnya untuk ia dekap.

“Tapi jangan bohong soal jawabannya ya?”

Minji mengangguk.

“Kamu …… suka sama Changkyun ya ?”

Ehh,

Minji kaget mendengarnya. Dia tak pernah cerita pada siapapun soal ini, lalu bagaimana Kakaknya bisa tahu?

“Ihh, A’ak apaan sih? Enggak lah”

“Ngaku aja, A’ak sering kok mergokin kamu lagi nge-lihat Changkyun terus senyum-senyum sendiri.”

“A’ak ngarang banget deh, ya masa aku gak boleh lihat Kak Changkyun?”

“issh, pakai ngelak segala lagi, trus kenapa walpapper ponsel kamu fotonya Changkyun?”

Sial, aduh Minji tak bisa mengelak sekarang. Rutuknya dalam hati, betapa bodohnya ia tak pernah memberikan sandi untuk ponselnya. Bagaiamana, tak mungkin kan menunjukan ponselnya sekarang? walpapper ponsel nya masih terpasang cantik Foto Changkyun sekarang. Tak mungkin kan walpapper ponsel Minji bisa diganti dengan telepati?

“A’ak apaan sih? Ya gak mungkin lah. Kak Changkyun kan sudah punya pacar.”

Masih bertahan untuk mengelak, Minji tak mungkin mengakui perasaannya terhadap Changkyun mengingat mulut Wonho itu sangat-sangat lah ember. Bisa-bisa Wonho cerita ke yang lain.

“ooh, jadi kamu sekarang ceritanya lagi patah hati gara-gara Changkyun sudah punya pacar hahahhhha.”

“Tidak, siapa bilang aku menyukai Kak Changkyun?”

Wonho berdiri, masih dengan kekehan kecilnya.

“Sudah mengaku saja, pipi kamu merah tuhh. Changkyun pasti kaget kalau mendengar hal ini wkwkkk.”

BUG, boneka Rillakuma sudah mengenai kepala Wonho sekarang.

“A’ak !!! Awas yaaa, jangan berani-berani bilang ke Kak Changkyun atau aku panggang tubuh A’ak sampai gosong!!!”

“Ohh, jadi beneran? Wkwkwkk”

Wonho sudah berlari meninggalkan Minji sebelum bantal atau boneka lainnya melayang kearahnya, atau mungkin lebih parah lagi seperti kursi.

“ A’AK AWAS YAA, AKU BUNUH NANTI.”

Minji merutuki kebodohannya, sudah setahun sejak masuk kuliah ia memendam perasaan pada Changkyun dan sekarang malah ketahuan oleh Kakaknya. Bagaimana pula kalau Changkyun tahu perasaanya? Bisa jadi kepiting rebus dia kalau di kampus bertemu lelaki itu, apalagi kalau teman-teman Kakaknya yang riyuh itu tahu? Apalagi kalau Kak Minhyuk yang tahu, pasti sudah menyebar ke seluruh antero jagat tentang perasaan terpendamnya selama setahun ini. ‘Bodoh, kenapa sampi bisa ketahuan sama A’ak sih?’.

 

̶

 

Pagi ini, sebenarnya Minji malas sekali ke kampus. Malas bertemu Changkyun tepatnya, Ia takut kalau sampai Kakaknya membeberkan perasaannya di depan Changkyun. AAAAh membayangkan bagaimana nya saja sudah tidak bisa, bagaimana kalau sampai benar-benar terjadi? Bisa mati Minji nanti, apalagi pacar Changkyun itu teman satu jurusan dan satu angkatan dengan Minji, hanya saja mereka beda kelas. Tapi tetap saja, Minji mengenal gadis itu. Namanya Arin, anak Fakultas Bahasa, Progdi Sastra Inggris sama dengan Minji. Dia itu cantik, anggun, baik, menurut Minji gadis itu sangat cocok bersanding dengan Changkyun. Harapan Minji pagi ini hanyalah, semoga saja kegiatan Kakanya hari ini penuh jadi dia tidak bisa bermain-main ke Fakultas bahasa tempat Ia, Changkyun dan Arin berada selama di Kampus. Semoga lelaki menyebalkan itu tetap disibukkan dengan tugasnya di area Fakultas Ekonomi. Semoga saja.

“Pagi sayang”

“Pagi Bunda”

Arin sudah siap sarapan sekarang, tapi anehnya ia tak melihat Wonho di meja makan.

“Bunda, A’ak mana?”

“Masih dikamarnya”

Minji mengangguk, selang lima menit yang dibicarakan datang dengan wajah sumingrah (berbeda dengan wajah Minji sekarang) membawa ransel dan jacket kulit. Itu jacket kesukaan Wonho yang menurut Minji seperti Jacket tukang ojek.

“Pagi Bunda, Pagi Minji.”

“Bunda, Minji berangkat ya?”

“Gak berangkat bareng A’ak ?”

“Males”

“hahhaha mau bareng Cha ̶  “

Belum sempat menyelesaikan ledekannya, bibir Wonho sudah sumpal Minji dengan Roti tawar dari meja.

 

̶

 

Entah hari ini keberuntungan bagi Minji atau apa, tapi hari ini sepertinya Tuhan mendengar doa nya siang tadi. Ia tak bertemu dengan Changkyun juga tak melihat Kakaknya berkeliaran di area Fakultas Bahasa. Syukurlah, sekarang ia bisa pulang dengan tenang.

Namun sayang, sesampai di rumah. Minji menemukan tujuh motor terparkir rapi di halaman rumahnya. Ia tahu betul siapa pemilik ke tujuh motor tersebut. Dan sialnya lagi tak ada jalan lain selain pintu depan untuk masuk rumah, karena pintu bagasi di kunci. Apa boleh buat Minji harus kuat. Masa iya dia harus pergi lagi, itu tak mungkin.

Ceklek, selangkah setelah masuk rumah tak ada yang istmimewa. Masih sama saja, yang berbeda hanya tingkat kedaimaian di rumah sudah berkurang hingga 95% mengingat ketujuh manusia riyuh itu berada di rumahnya. Satu yang seperti Wonho dirumahnya saja sudah membuat Minji pusing apalagi kalau tujuh? Bisa-bisa Minji masuk UGD.

“ MINJI ???”

Itu teriakan khas dari Kak Minhyuk, teman sekampus Kak Wonho juga. Dia yang paling riyuh, paling cerewet, paling nggak bisa diem. Tapi Dia itu yang paling baik menurut versi Minji, bahkan Minji sering bertukar pesan dengan Minhyuk, meminta bantuan Kak Minhyuk, bercerita tentang apapun hanya saja tidak sesering ia bertukar pesan, meminta bantuan dan bercerita kepada Wonho. Meskipun sudah menganggap Minhyuk seperti kakak keduanya, tapi tetap saja Wonho adalah kakak kandungnya.

“ Minji baru pulang ya?”

Minji hanya mengangguk, kemudian melanjutkan jalannya tanpa melihat ke arah Changkyun juga Wonho kakaknya.

“Dek, bikinin es sirup dong.” Sambil merangkul pundak Minji dan tak lupa wajah memelas Wonho.

“Punya tangan kan? Bikin sendiri.”

Itu bukan kata-kata yang biasa keluar dari mulut Minji.

Tanpa melanjutkan ucapannya juga tanpa peduli dengan tatapan heran teman-teman Wonho, Minji melanjutkan langkahnya menuju kamar.

“ Kalian sedang marahan?”

“ Dia yang marah, sejak tadi pagi sudah cemberut seperti itu.”

“ Kok bisa marah ?”

“Semalam aku menanyakan hal yang tak ingin dia bagi dengan orang lain. Sepertinya aku benar dengan prediksi dan pertanyaanku, lalu dia marah.”

“Kamu sebagai Kakak harusnya tidak seperti itu Won, jangan suka jail sama Adek sendiri. Nati kalau dia beneran marah sampai gak mau maafin kamu baru tahu rasa.”

“Nanti tidak ada yang mebuatkan es sirup untuk kita.”

Wonho disalahkan sekarang, Ya dia memang patut disalahkan. Menurut Minji tentunya.

“Biar aku Chat Minji, coba dibalas atau tidak.”

Minhyuk sudah memegang ponsel siap mengetik,

 

“Minji? Kok jutek gitu sihh?”

Tiga menit kemudian.

“Siapa? Ini Kak Minhyuk atau A’ak?”

“ Dibalas “ Teriak Minhyuk, diikuti oleh gerakan badan ke enam temannya yang mendekat kearahnya. Apalagi kalau bukan ingin melihat isi pesan Minji.

“Sampai segitu nya? Minji marah banget sama Kak Wonho deh kayaknya” Changkyun menarik kesimpulan begitu saja, diikuti anggukan oleh yang lain.

“cepat dibalas Hyuk”

“ Kak Minhyuk lah, ini kan LINE nya Kak Minhyuk Minjiiiiiiii”

“Siapa tahu A’ak Wonho pinjam  Ponsel Kak Minhyuk”

“Kamu kenapa sih jutek banget”

“Lagi sebel sama A’ak .. Dia nyebelin pokoknya”

“Nyebelin kenapa?”

“Pokonya nyebelin Kak, Minji males ketemu A’ak pokoknya titik. Bilang ke A’ak jangan ganggu Minji. Minji mau ngerjain tugas. Bye”

̶

“ Kamu apain Adek kamu sih? Sampe marah gak mau ketemu kamu?”

“Gak aku apa-apain kok Hyun, semalem aku Cuma nanya….”

“Nanya Apa?” serentak ke enam pria itu berseru ingin tahu.

“Aku nanya ke Minji, Kalau Dia suka sama Changkyun  gi  ̶  “

“ Hahh ? Aku ? “ Yang merasa memiliki nama panik sekarang.

Tuh, Apa yang Minji takutkan benar-benar kejadian. Wonho benar-benar tidak bisa tutup mulut, lelaki itu memang ember, benar-benar ember.

“ Soalnya Minji masang foto Changkyun jadi wallpaper ponselnya, tapi dia gak mau ngaku, trus aku bilang aja mau bilang ke Changkyun gitu”

“ Ya Tuhan Shin Wonho… jelaslah Minji marah. Kamu pasti juga marah kalau aku bilang ke Soyou kalau kamu suka sama dia sudah lama sejak pertama kali ketemu waktu OSPEK, dasar”

“Kok bisa suka sama Changkyun sih, banyak cowok lain yang lebih ganteng dari dia, Oh Tuhan Minji”

“Maksud Kak Hyungwon? Aku kurang tampan?”

“ Jangan iri karna tidak ada yang naksir kamu Hyung, meskipun kamu paling tampan tapi pesona mu kalah wakakkkkaa”

Pembicaraan tiada ujung, akhirnya juga berakhir dengan candaan.

 

̶

 

Dua hari berlalu setelahnya, Minji masih tak mau bertemu dengan Wonho. Ia lebih memilih menghindar bahkan yang biasanya ia berangkat ke kampus di bonceng naik motor Wonho kini lebih memilih naik bus umum. Ia juga menghindar jika sesekali berpapasan dengan Changkyun, bahkan Arin yang tak tahu masalahnya juga ikut kena imbas.

Hari ini Minji masih tidak mau diantar Wonho, gadis itu lebih memilih naik bus, menunggu di halte. Tapi ini sudah hampir dua jam dan bus yang harusnya ia tumpangi sudah lewat beberapa kali, namun Minji tetap saja diam tak berniat naik bus untuk pulang.

Gadis itu melamun, memikirkan banyak hal. Tentang tugas kuliah yang belum selesai, tentang Ujian Akhir Semester yang sebentar lagi datang, dan tentang perasaannya terhadap Changkyun yang sudah setahun ini ia sembunyikan. Dia sudah menyimpan rahasia ini rapat-rapat tapi malah bocor begitu saja ke Kakaknya. Itu yang paling menyebalkan. Sebenarnya bukan itu saja yang membuat Minji melamun, tapi juga tentang sikap kekanakannya yang mudah marah seperti ini. Bagaimana mungkin ia terus-terusan mendiamkan Kakak Kandungnya sendiri. Dua hari ini Minji terus berpikir, maka Dia lebih banyak diam dan melamun. Bahkan semalaman ia tak bisa tidur hanya memikirkan tentang Bagaiamana kelanjutan perasaannya terhadap Changkyun.

Kembali memperbaiki keadaan dengan Kakaknya itu mudah, tapi melupakan perasaan nya kepada Changkyun yang sudah tumbuh setahun ini, apa mungkin?

Bus yang seharusnya Minji naikki lewat lagi, namun gadis itu sama sekali tak bergerak tak berniat untuk naik. Bahkan mungkin Minji tak tahu kehadiran Bus tersebut.

“ Ya, Shin Minji? Kenapa tak naik tadi? Bukankah itu Bus mu”

Minji mendongak, tatapannya mengarah ke sumber suara. Benar dugaannya saat mendengar suara bariton itu. Itu memang suara Changkyun. Sedikit aneh memang perasan Minji melihat Changkyun sekarang, ditambah lelaki itu malah duduk disampingnya.

“kamu kenapa sih ?”

“aku ?? kenapa, memangnya aku kenapa kak?”

Changkyun menghela napas, “Masih marah ya sama Kakak kamu?”

Minji tak menjawab, masih bungkam tutup mulut.

“ Kak Wonho sudah cerita semuanya ke aku “

Pernyataan Changkyun itu berhasil membuat Minji menoleh, Membuat mata gadis itu melebar. Tak percaya akan pernyataan yang baru saja Changkyun utarakan. Bagaimana mungkin Kakaknya membeberkan hal itu, memang dasar Kakaknya itu ember se ember-embernya.

“ Aku gak tahu harus ngomong apalagi tapi, kamu jangan marah lagi ya sama Kakak kamu. Kasihan dia.”

Minji mengangguk, kemudian Bus tujuan rumahnya datang lagi membuat kecanggungan ini sedikit mereda karna kehadiran Bus tersebut.

“Yuk naik, aku juga naik Bus kok. Kita barengan.”

Minji menggeleng, “Kak Changkyun duluan aja, aku masih pengen disini.”

Changkyun diam, tak ada pergerakan. Minji pun begitu, tapi tidak untuk bus yang baru saja tiba di halte tersebut, merasa tak di gubris oleh dua anak ini, sopir pun tancap gas meninggalkan halte yang masih di huni Minji dan Changkyun.

“aku temenin deh kalau gitu”

“ Kakak pulang aja kalau emang pengen pulang, aku gak apa-apa kok disini sendirian.”

Kini Changkyun yang diam, tak menjawab Minji.

Hening sesaat, hingga Changkyun mulai buka suara lagi.

“ Kamu benci Arin ya ?”

Eh,

Enggak, siapa bilang begitu ?”

“ Kata Arin kamu sekarang sering menghindar dari dia “

Enggak, bukan begitu.”

“ Lalu ?”

Minji kembali Diam.

 

“ Kak, aku sudah memikirkannya dua hari ini. Bahkan semalam aku tidak bisa tidur.”

Changkyun tetap diam, tetap menyimak setiap perkataan yang terlontar dari bibir Minji.

“ Aku menyimpan perasaan ini sudah setahunan, dan aku tak tahu bagaimana harus mengungkapkannya ke Kakak. Apalagi sekarang Kak Changkyun sudah punya Arin. Awalnya aku tetap bersikeras menyimpan perasaan ini sedirian, tapi malah dibeberkan sama A’ak. Harusnya aku berterimakasih sama A’ak Wonho, karna dia aku tak harus mengungkapkan perasaanku ke Kakak ”

Minji mengehela napas,

“Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk melupakan Kakak, meskipun sulit tapi akan aku coba. Toh, aku bukan gadis perusak hubungan orang demi kebahagiannya sendiri, aku juga bukan gadis yang suka memaksakan kehendak. Jadi, karna Kak Changkyun sama sekali tak menaruh hati denganku, aku akan melupakan Kak Changkyun pelan-pelan.”

Changkyun tersenyum, mengangguk, ia menyandari betapa baik hati Minji. Hatinya bersih tanpa keserakahan.

“Lalu ?”

“ Lalu aku juga akan bicara pada A’ak , bilang makasih dan minta maaf.”

“ Nah, gitu dong. Itu baru Minji yang Kakak kenal.”

“Maaf ya Kak, pasti Kak Changkyun jadi merasa bersalah gara-gara aku.”

Enggak kok, sudah lupakan. Ayo pulang. Ini sudah sore, Aku yakin kamu pasti sudah duduk disini lebih dari 2 jam.”

“Emm, aku nggak ngitung sih, tapi sepertinya iya hehhe.”

Tiga menit setelahnya, Bus datang. Tak seperti tadi, kali ini Minji menaiki bus, malahan buru-buru naik agar dapat tempat dekat jendela.

 

̶

 

Diruangan empat kali empat bernuansa serba putih, Minji masuk tanpa mengetok pintu. Sedikit mengendap-endap tak ingin kehadirannya diketahui oleh Sang Kakak.

“ DDOORRR “

“ UUUWWWAA “

Yes ! Dia berhasil mengagetkan Kakaknya.

“ Minji!!! Ya ampun, kalau A’ak jantungan bagaimana ?”

Minji nyengir, “Ya tinggal dibawa ke dokter.”

“Ngapain kamu kesini? Udah gak marah sama A’ak ?”

Wonho berdiri, Maju mendahap sang adik yang lebih pendek darinya.

Minji menyipitkan matanya, melihat Kakaknya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Kemudian menghambur memeluk Wonho erat,s eperti sudah lama tak bertemu. Ada kerinduan disana, kerinduan akan kehangatan keluarga.

“Maafin Adek ya A’, maf Minji udah seperti anak kecil marah sama A’ak.”

Yang dipeluk malah tersenyum, terkekeh dengan kelakuan Adiknya.

“Makasih juga karna sudah membeberkan tentang perasaan Minji ke Kak Changkyun yang sudah Minji simpan selama setahun ini. Berkat A’ak , Minji tidak perlu lagi susah-susah mengungkapkannya.”

“Terus? Kamu sama Changkyun bagaimana?”

Minji melepas pelukannya, seolah berpikir keras kemudian buka suara lagi.

“Sudah saatnya melupakan Kak Changkyun, Dia kan sudah punya pacar. Sekarang saatnya berfikir bagaimana cara agar tugas ku cepat selesai, sudah tidak ada lagi waktu buat mikirin Kak Changkyun juga mikirin cinta-cintaan.”

“Waahh, Adek siapa nihh bisa ngomong kayak gitu ???”

“ SSIIIPP “ tak lupa jmepol tangan Wonho yang ia acungkan tepat di depan wajah Minji.

“ Adeknya A’ak lah, Memang aku Adek nya siapa lagi kalau bukan Adek A’ak ?”

 

FIN

 

 

.

.

.

.

.

Hai ??? Salam Kenal, ini pertama kalinya aku ngirim FF untuk Event.

Jadi kalau masih banyak kekurangan, mohon dimaafkan.

Ohh Ya, mungkin kalian sedikit tidak nyaman dengan penggunaan bahasa non-formal diatas, maaf ya buat yang gak suka. Aku lagi mencoba hal baru dengan menulis secara casual (?)

Jadi kalau gak suka gapapa Kok, Ikhlas.

Amanat dari ff ini adalah : “Belajar Ikhlas, Memaafkan, Merelakan.”

Nah, siapa tahu setelah Iklhas, merelakan, dan melupakan. Minji malah dapet yang lebih dari Changkyun.

Oke, jadi recehanku terlalu panjang memenuhi postingan ini dan semakin membuat kalian malas, makasih untuk yang udah mau baca. Aku sayang kalian.

Salam Sayang

DEDES

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s