[One Year With…] Yoo

8. YooAi - Yoo

[One Year With….] Yoo

Tittle         : Yoo

Cast          : Yoo Ki Hyun (Kihyun Monsta X), Jung Hyerim (Eunji Apink).

Genre       : Romance, Angst

Author      : YooAi

Summary  : Meski kau dan aku hanya bersama dalam empat musim, namun aku tahu cinta kita dan kenangan indah kita akan bertahan selamanya. Saranghae Kihyun-ah. Aku merindukanmu, lagi.

—-

Jung Hyerim

Aku melangkahkan kakiku ke sini lagi, ku tatap langit Jeju siang ini. Sinar matahari menerpa kulitku lembut seakan ingin memeluk hatiku dengan sinarnya. Ah, hatiku yang gelap ini akankah bersinar lagi? Musim semi datang lagi sayang. Apa kabarmu disana? Sungguh aku merindukanmu Kihyun-ah. Aku masih mengingat dengan jelas pertemuan kita, pertengkaran-pertengkaran kita, bahkan aku juga masih mengingat pelukanmu saat itu dan janjimu bahwa kita akan terus bersama. Pandangan ku menyapu lautan Gypsophila yang seakan mengatakan padaku bahwa kau sudah disini, bersembunyi dariku untuk mengejutkanku lagi.

—-

Jeju-do,  years ago.

Hyerim menjejakkan kakinya di sebuah stasiun kecil di akhir perjalanan panjangnya. Melarikan diri ternyata melelahkan. Hyerim menghembuskan nafas keras-keras, dia sungguh lelah dan benar-benar membutuhkan ketenangan.

“Hai, boleh saya duduk disini?”

“Ha..hai, tentu.” Gadis itu menggeser tubuhnya mempersilahkan, dia tampan. Hatinya berdesir mendapati sesosok pria tampan bersyal hitam menyapanya di tempat asing ini.

Jawaban kikuk Hyerim perlahan berubah menjadi tanggapan-tanggapan penuh antusias atas lelucon yang di lontarkan pemuda itu. Suaranya terdengar merdu menyapa telinga Hyerim, membantunya melupakan alasan-alasan yang mengantarkannya melarikan diri ke tempat ini. Tak terasa hari mulai menggelap, mereka menghabiskan begitu banyak waktu tanpa mereka sadari. Hyerim bangkit undur diri, ia harus menuju rumah singgahnya sebelum hari benar-benar gelap.

“Setidaknya kau beritahu namamu, bukankah ganjil kita sudah berbicara sekian lama namun tak saling tahu nama masing-masing” Pemuda itu tersenyum menampilkan dimple di pipinya, Hyerim menggeleng.

“Jika kita bertemu kembali” Ucapnya pelan dan berlalu dari hadapan pria manis berdimple itu.

Sudah seminggu ini Kihyun tak bertemu gadis dengan senyum matahari itu, dan seminggu ini pula ia selalu menyempatkan diri duduk di bangku yang sama dimana ia dan gadis yang senyumnya memberikan kehangatan itu duduk hingga hari gelap. Sungguh dia pun tak mengerti apa yang sedang ia rasakan, hatinya terasa kosong, hampa. Setiap hari ia selalu membayangkan senyum hangat gadis itu, ia merindukannya. Kihyun menggelengkan kepalanya frustasi, ia bisa gila jika seperti ini terus.

Hari ini Kihyun memutuskan tak lagi menungu gadis itu di stasiun, ia melangkahkan kakinya menyusuri rel yang sepi dan kosong menuju jalan setapak yang terletak di kanan rel, yang pemuda itu tahu jalan setapak ini adalah jalan pintas menuju bukit kecil di belakang villa-nya tempat ribuan baby’s breath tumbuh.

If I call, would it be you? If somebody looks back, I wonder whether it’s you. I call you every day because everything in the world looks like you….”

Alunan merdu menyapa pendengaran Kihyun, matanya berkeliling mencari dari mana suara surga itu berasal. Kihyun menyunggingkan senyum begitu dilihatnya si gadis matahari yang dicarinya selama ini ada dihadapannya. Gadis itu begitu cantik dengan dress abu-abu dihiasi brokat pada kerahnya.

“Hai, kita bertemu lagi. Aku Kihyun.”

“Aku Hyerim, Jung Hyerim.”

Dan disinilah Hyerim, duduk di samping Kihyun, setelah menikmati makan malam dengan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Kegigihan Kihyun untuk berusaha mengenalnya meluluhkan hati Hyerim dan mengiyakan saja saat pemuda itu mengajaknya makan malam di villa-nya, yang ternyata hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah singgahnya.

Hyerim menatap  pemuda yang tengah bersenandung dengan gitarnya itu penuh kekaguman. Hatinya terasa tentram begitu mendengar alunan merdu Kihyun. Tiba-tiba pemuda itu berlutut di hadapannya dengan segenggam baby’s breath di tangannya.

“Seperti kemurnian dan keabadian cinta yang ada bersamanya begitu pula aku, meski aku tahu mungkin semuanya terlalu cepat. Tapi, aku jatuh cinta padamu Hyerim-ah.” Hyerim terdiam sejenak mencoba mencari kebohongan yang tak juga ia temukan di mata bening Kihyun.

“Aku tak menyangka bisa dengan mudahnya mengatakan iya pada orang yang baru ku kenal.” Ungkap Hyerim membuat Kihyun melonjak bahagia dan memeluknya erat.

“Aku akan mencintaimu Hyerim-ah, sungguh.”

Jung Hyerim.

“Hyerim-ah.” Lelaki dengan senyum menawan itu memanggil namaku, ia melambaikan tangannya penuh semangat. Ah, aku begitu mencintai laki-laki ini yang tak terasa telah menemaniku sejak musim semi lalu. Aku membalas lambaian tangannya, berlari ke pelukan lelaki yang selalu ku rindukan ini. Akhir-akhir ini ia lebih sering keluar kota, membuatku selalu dirundung rindu.

“Untukmu.” Ia mengeluarkan sebuah liontin cantik berbandul bunga mungil bening. Aku menyibakkan rambutku, mempersilahkannya untuk  mengalungkan liontin itu di leherku.

“Kau tahu bunga apa ini?” Ia bertanya, aku menggeleng membuatnya mencubit hidungku gemas. “Ini Gypsophila atau kau biasa menyebutnya baby’s breath.” Aku membelalakkan mataku, ia ingat aku begitu menyukai bunga yang melambangkan kepolosan dan kesucian ini.

“Kau tahu arti bunga ini?”

“Tentu, kepolosan, kesucian juga melambangkan kemurnian.” Aku tersenyum menatap matanya yang entah mengapa terlihat berbeda di mataku, ada kehampaan dan ke-putus asa-an di sana.

“Kau tahu ada kisah lain mengenai bunga ini.” Matanya menerawang “Dulu, ada seorang wanita yang kekasihnya tewas di medan perang, waktupun berlalu dan wanita itu mendapatkan penggantinya. Namun ternyata kekasih yang ia anggap mati, datang kembali. Oleh karena itu makna lain dari bunga ini adalah kesedihan abadi.” Ia menarikku dalam pelukannya. “Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu bahagia, biarkan makna bunga ini menjadi kebahagiaan abadi, bukan kesedihan abadi untukmu.” Lanjutnya mengecup keningku, aku hanya mengangguk. Selama ia di sisiku tak akan ada kesedihan menghampiriku.

Yoo Kihyun.

Aku sungguh-sungguh mencintai gadis ini, benar-benar mencintainya hingga ingin mati saja rasanya bila aku tak bisa terus bersamanya. Kebahagiaan Hyerim adalah tujuan hidupku, menua bersama dengannya adalah mimpiku, dan senyum mataharinya adalah kebutuhanku. Tapi, Tuhan sedang ingin bermain-main denganku. Entah takdir gila macam apa yang sedang Dia rencanakan.

Ku lipat surat keterangan dokter yang ku dapat hari ini. Tanganku bergetar meremasnya, tak bisa ku bayangkan bagaimana sedihnya wanitaku bila ia tahu aku tak bisa lebih lama lagi menyentuhnya, melihatnya, ataupun hanya sekedar mendengar suaranya.

Kanker otak stadium akhir.

Deretan kata itu yang tercetak rapi dengan huruf bold. Duniaku runtuh. Bukan, bukan karena sakit ini yang membuatku merasa Tuhan mempermainkanku. Tapi apa yang akan terjadi pada senyum gadis matahariku jika aku tak lagi bisa berada disekitarnya, menemani harinya, mendengarkan keluh kesahnya? Tuhan, aku tak meminta agar Kau panjangkan umurku. Aku hanya inginkan satu hal, agar Hyerimku tetap bahagia tanpaku di sisinya, dan berikan aku sedikit waktu untuk meyakinkan diriku bahwa ia bisa bahagia tanpaku.

Musim panas segera berlalu, Hyerim melangkahkan kaki menuju villa yang Kihyun tempati. Beberapa minggu ini kekasihnya tampak aneh, sering melamun dan tampak murung. Kihyun juga tampak makin pucat, beberapa kali ia mendapati kekasihnya itu mengeluh sakit kepala yang berujung dengan pingsannya lelaki itu. Kihyun bilang ia hanya terlalu lelah, begitupun Dr. Shin yang menanganinya yang selalu berpesan agar Hyerim mengingatkan Kihyun untuk meminum vitaminnya.

Hyerim berjingkat mengintip lelaki yang tampak tertidur pulas di kamarnya yang di dominasi warna putih. Perlahan dibukanya pintu kamar. Hyerim tersenyum, lelaki ini tampak begitu tampan ketika tidur. Hyerim mengecup kening lelaki itu pelan dan beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, rutinitas yang selalu ia lakukan sejak Kihyun pingsan karena kelelahan di hadapannya.

“Kihyun-ah….” Panggil Hyerim pelan, tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi kening lelaki itu dengan lembut. “Hey.” Hyerim mengguncang tubuh lelaki yang ia cintai itu pelan, biasanya lelaki itu akan tersenyum lalu memeluknya sebelum mengecup keningnya dan bangun dari tidurnya.

“Kihyun-ah….” Ulang Hyerim, kali ini mengguncang tubuh lelakinya lebih kencang. Namun lelaki itu tetap bergeming. Resah segera melingkupi hati gadis itu, berkali-kali diguncangnya tubuh Kihyun namun lelaki itu tetap diam.

Tuhan, ada apa ini? Jerit hatinya.

Dan di sinilah Hyerim, di depan pintu UGD menunggu dengan gelisah. Dokter tadi bertanya kepadanya mengapa ia baru membawa kekasihnya ke rumah sakit sekarang, seharusnya Kihyun di rawat berbulan-bulan lalu. Gadis itu tak bisa menyembunyikan kekalutannya.

Kanker otak stadium akhir.

Begitu yang mereka katakan. Kekasihnya hanya memiliki waktu tak sampai hingga 24 jam jika kondisi kritisnya tak teratasi. Hyerim menangis, memukul dadanya yang terasa sesak berulang-ulang. Ia marah pada Tuhan, pada Dr. Shin, pada kekasihnya dan terlebih pada dirinya sendiri. Mengapa ia tak sedikitpun curiga akan perubahan yang terjadi pada kekasihnya itu? Mengapa ia bisa dengan begitu bodohnya percaya setiap perkataan Kihyun? Hyerim terduduk di lantai rumah sakit yang dingin, sendirian. Berharap kekasihnya akan keluar dari ruangan yang dimasukinya berjam-jam tadi.

Hyerim menuangkan bubur ke dalam  mangkuk Kihyun, setelah dua minggu di rumah sakit dengan dua hari masa kritis lelaki itu pulang kembali ke villa-nya. Ia ingin pulang, tak suka dengan rumah sakit. Hyerim memutuskan untuk tinggal bersama Kihyun, merawat lelaki yang ia cintai sepenuh hatinya.

Kihyun tersenyum menatap gadis mataharinya yang sedari tadi sibuk menyiapkan sarapan dan obatnya. Hyerim yang menyadari tengah ditatap balik menatap lelaki yang ada di hadapannya ini.

“Hyerim-ah, maukah kau berjanji padaku?” Kihyun meraih tangan Hyerim ke dalam genggamannya.

“Apa?”

“Berjanjilah padaku untuk menjadikan arti bunga di liontinmu itu sebagai kebahagiaan abadi, meski mungkin aku tak bisa lebih lama lagi di sisimu.” Tangan Kihyun mengusap pelan pipi gadis dihadapannya, menghapus airmatanya.

“Aku berjanji Kihyun-ah.” Kihyun tersenyum. “Tapi, aku akan bahagia bila memiliki kenangan abadi darimu.” Kihyun menatap gadisnya heran.

“Biarkan aku memiliki sebagian darimu Kihyun-ah.” Mata gadis itu berkaca-kaca, Kihyun tak memahami. “Aku ingin memiliki anak darimu Kihyun-ah, tak peduli jika ternyata nantinya aku harus membesarkannya sendirian, yang penting ada jejakmu dihidupku.” Hyerim menatap lurus mata Kihyun.

“Kau gila? Bagaimana bisa aku membiarkanmu menanggung semuanya sendirian?” Kihyun bangkit dari kursinya, Hyerim menahan tangannya menggeleng.

“Aku tak bisa menjanjikan apapun jika kau tak menuruti pintaku kali ini Kihyun-ah. Biarkan aku memiliki sebagian darimu, dan menjadikannya kenangan abadi kita. Aku mohon.” Kihyun menatap gadis itu lekat, ia tak ingin Hyerim membesarkan anak mereka sendirian, dan ia juga tak ingin anak itu hidup tanpa ayahnya.

Kihyun bangkit dari kursinya hendak menghindar gadis gila yang ia cintai ini. Hyerim memeluk lelaki itu erat. Ia benar-benar tak bisa membayangkan hidupnya jika ia hanya memiliki ingatan tentang Kihyun yang nantinya akan pudar seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usianya.

“Kau yakin Hyerim-ah? Apakah kau benar-benar akan bahagia?” Kihyun menatap cintanya dalam. Hyerim mengangguk yakin. Kihyun mendekap gadisnya, menyampaikan cintanya yang menjanjikan kebahagiaan bagi gadisnya. Hari itu, rangkaian Gypsophila yang terangkai indah di tepian jendela menjadi saksi pemenuhan janji akan kebahagiaan yang Kihyun harapkan untuk Hyerimnya.

Hyerim meletakkan rangkaian Gypsophila di atas nakas kamar rawat Kihyun. Pria yang tengah terbaring di sampingnya itu tersenyum lemah. Matanya menyiratkan harapan untuk dapat melihat buah hatinya yang kini bersemayam di perut Hyerim itu lahir.

Tak ada yang lebih membahagiakan Hyerim saat ini, meski ia harus menemani Kihyun di rumah sakit setiap hari sembari menyelesaikan novelnya. Si kecil yang kini sudah 6 bulan berada di dalam dirinya dan Kihyun yang bertahan hingga lebih dari perkiraan dokternya, membuat wanita itu tak berhenti tersenyum dan bersyukur setiap hari.

Bulan ke tujuh, Kihyun berkali-kali tertawa bahagia begitu merasakan bayi yang ada dikandungan Hyerim menendang-nendang. Ia sungguh ingin melihat putera-nya tumbuh, mendampinginya di saat putranya sedang patah hati, menemani puteranya saat ia meminum soju pertamanya dan memarahinya saat puteranya melanggar perintahnya. Kihyun tersenyum pilu, tubuh kurus dan wajah pucatnya menegaskan bahwa ia tak bisa bertahan selama itu.

Kihyun terduduk cemas di kursi rodanya, ia gelisah menunggu Hyerim yang sedang berjuang di dalam sana. Hyerim-nya tengah bertaruh nyawa untuk menghadirkan sumber kebahagiaan mereka dan juga sumber kekuatannya untuk bertahan melawan sakitnya selama ini ke dunia.

Kihyun menangis bahagia begitu mendengar tangis bayi memecah keheningan dini hari. Puteranya, yang menjadi salah satu alasannya bertahan selama ini telah lahir. Kihyun mengisyaratkan perawat yang mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam ruang bersalin, tempat kedua permata hatinya berada. Kihyun menatap Hyerim yang tengah tersenyum bahagia dengan bayi laki-laki di gendongannya. Kihyun mencoba bangun meski tertatih, menghampiri Hyerim dan buah hati mereka. Si kecil yang mereka tunggu-tunggu ternyata tak sabar menemui appanya, ia lahir sebulan lebih cepat.

“Yoo Ahn Yeong. Namamu Yoo Ahn Yeong.” Bisik Kihyun di telinga buah hatinya. “Agar kau tahu betapa kau menjadi rahmat bagi appa dan semoga menjadi seorang pemberani yang bisa menggantikan appa untuk melindungi eommamu kelak.” Kihyun mengecup kening Yoo Ahn sayang. Hidupnya lengkap sudah.

Jung Hyerim

Sudah tiga musim semi ku lalui tanpamu Kihyun-ah, apa kabar kau disana? Yoo Ahn sudah bisa berlari sekarang, dia amat mirip denganmu Kihyun-ah. Dia memiliki dimple yang sama denganmu, bibir yang sama, dan mata yang sama yang selalu menatapku penuh bahagia. Yoo Ahn appa, sekarang putera kita sibuk bertanya padaku seperti apa rupa appanya dan bisakah ia bertemu denganmu. Karena itu, hari ini aku membawanya menemui mu.

“Yoo Ahn-ah, sapa appamu.” Aku membelai lembut rambut Kihyun kecilku, ia bergegas bersujud memberi penghormatan pada appa yang mungkin tak bisa ia ingat. Terima kasih Kihyun-ah, aku tetap bisa bahagia dengan Yoo Ahn disisiku. Suatu saat nanti bila tiba saatnya, kita akan berkumpul bersama. Tunggu kami Kihyun-ah, tunggu kami hingga saatnya telah tiba nanti. Aku berjanji akan mencintai putera kita sepenuh hati dan akan selalu memenuhi hidup kami dengan kebahagiaan seperti yang ku janjikan.

“Appa….” Bocah kecil berumur 3 tahun itu bergumam sembari melambaikan tangannya, tersenyum senang tanpa Hyerim sadari.

Yoo Kihyun.

Sudahkah aku mengatakan bahwa aku mencintai gadis ini? Bukan, sangat mencintai. Hingga ingin mati rasanya jika melihat dia meneteskan air mata. Haruskah aku katakan bahwa aku sangat merindukannya, sungguh sangat merindukannya. Ah, gadisku menepati janjinya, dia cantik sekali hari ini. Jung Hyerim namanya, aku melihat gadis itu untuk pertama kalinya di sebuah stasiun kecil dalam perjalananku  menuju rumah peristirahatan keluargaku. Gadis itu begitu cantik, dengan rambut panjangnya dan wajah polosnya, tak lupa tawa yang selalu menghiasi wajahnya kala aku mencoba membuat lelucon yang bahkan menurutku tak lucu. Hyerim, gadis itu sungguh membuatku jatuh cinta.

Hyerim-ah, saranghae. Terima kasih sudah memenuhi janjimu untuk selalu berbahagia bersama putera kita.

—-

Kihyun meninggal di pertengahan musim semi, tepat setahun setelah pertemuannya dengan Jung Hyerim dan nyaris sebulan setelah lahirnya Yoo Ahn Yeong.

 

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s