[One Year With…] The Message of You

13. VenoxiaN - The message of you

Theme              : One Year With MINHYUK

Judul                 : THE MESSAGE OF YOU

Pen name         : VenoxiaN

Cast                 : Minhyuk (MONSTA X), Kihyun (MONSTA X), & Hyomin (OC)

Genre               : Romance, sad, confuse, friendship

Length              : Oneshot

Rating               : PG-17

Author note       : hasil karya sendiri, ada beberapa tempat atau hal-hal yang saya ciptakan sendiri.


Jika kau ingin tahu, seribu hari bersamamu adalah angkasa yang menakjubkan

Bahkan berhari-hari adalah evolusi bumi yang tak pernah berakhir

Bahkan lagi, setiap waktu yang tak terhitung ini kau bagai angin yang selalu berhembus

Bahkan setiap aku mengatakan segalanya, hanya ada kau di hatiku

 

Lentera tanpa lampu bohlam di ujung jalan tersebut mati padam. Jam raksasa yang terpajang di pertengahan taman itu menunjukkan angka dua lewat enam belas siang. Detik tiap detik berbunyi mengelabuhi lelaki tampan yang nampak berdiri menanti seseorang. Ia terpaut sepi dan merasa kesal lantaran orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Satu per satu pengunjung taman mulai berdatangan bak semut yang hendak memakan segulung roti amsan. Terkadang ia mondar-mandir seperti merpati yang kehilangan butir makanannya. Bahkan ia sempat berdecak dan mengerang tertahan.

 

Plak pluk plak pluk.

Suara sepatu itu terdengar di telinganya setelah waktu habis dalam sepuluh menit. Ia berbalik badan dan mendapati seorang lelaki tersenyum tanpa dosa.

 

Ya ! Yoo Kihyun ! Kau membuat janji, tapi kau yang mengingkari. Ck ! Seharusnya aku bisa makan dulu sebelum kemari, arra ?”

 

Lelaki bernama Yoo Kihyun tersebut hanya menampakkan deretan gigi putih bersihnya. Dan membalas seadanya, “Mianhae, Minhyuk-ah. Jalanan terlalu macet,”

 

“Aku bahkan tak mendengar Seoul macet hari ini,” si lelaki penunggu Kihyun bernama Minhyuk itu lantas meninggalkannya berjalan.

 

Ya ! Kenapa kau mudah marah begini, kemana Minhyuk sang lelaki matahari yang dulu. Eiii, semenjak lulus kuliah kau jadi berubah Minhyuk-ah,” Kihyun menyeruput kopi yang sempat ia beli untuknya dan Minhyuk.

 

“Bukankah itu kopi untukku ?” Minhyuk berhenti berjalan dan menatap Kihyun.

 

A~keurae ? Aku kira kau tak mau,”

 

Minhyuk dan Kihyun menjalin persahabatan sejak sekolah dasar kelas lima. Keduanya sama-sama merupakan siswa pindahan kala itu. Mereka bertemu seperti adegan film Amerika yang tak disangka-sangka. Melalui perkelahian, haha. Apalagi jika bukan karena sebuah perlombaan sepak bola yang pada kenyataannya Kihyun kalah dari tim Minhyuk. Namun, perkara tersebut yang sepertinya membuat kedua lelaki tampan itu bersatu. Apalagi, sejak perkelahian tersebut mereka dihadapkan dengan tanggung jawab yang besar dari sekolah mereka. Ya, masa depan tidak ada yang tahu. Mereka pun tak akan pernah tahu seperti apa mereka saat ini, itulah yang mereka pikirkan.

 

Keduanya berhenti di depan bangunan tua bernama Aires. Gedung ini adalah peninggalan sejarah dari bangsa Yunani yang sengaja dibiarkan terawat oleh pengelola taman kota tersebut walaupun beberapa kali pernah untuk diruntuhkan. Taman ini memang merupakan taman yang didesain sebagai taman kota dan taman yang menyimpan sejuta peninggalan sejarah.

 

Karena letih berjalan dengan berbagai topik pembicaraan, akhirnya mereka memilih duduk di sebuah kursi di samping danau yang terletak di depan Aires. Kihyun mencari sela untuk memulai pertanyaan lagi. Pandangannya tertuju pada sekitar taman yang mulai ramai. Sekelibat ia hanya mendapati Minhyuk sedang meneguk kopinya yang akan habis. Kali ini ia ingin bertanya tentang masa lalu sahabatnya tersebut.

 

“Minhyuk-ah,” ucapnya mengawali.

 

“Umm, ada apa?” jawab Minhyuk langsung.

 

“Apa kau masih mengingat masa lalumu?” seketika pertanyaan itu muncul, Minhyuk berhenti beraktivitas. Gerakan tangannya terdiam dan pikirannya mulai bercampur. Ia mencoba mengingatnya kembali. Setelah satu tahun berlalu.

 

Angin berhembus sejuk, gemercik embun yang jatuh dari dedaunan di samping Minhyuk yang hanya terdengar olehnya. Tampaknya Minhyuk mengingat semua yang terjadi di masa lalunya. “Aku hanya tak ingin kau melupakannya, karena ia hanya memilikimu. Kau telah berjanji padanya untuk selalu ada kapanpun, dan sekarang ia mulai mencarimu lagi,”

 

“Tidak. Dia bahkan tidak menghubungiku,” sergah Minhyuk meninggalkan Kihyun untuk membuang cup kopinya sejenak. “Setahun lalu ia pergi begitu saja. Aku tidak ingin memperdulikannya lagi. Jadi untuk apa aku kembali menemuinya, Kihyun-ah,” lanjutnya.

 

Kihyun berdecak

 

“Aku tahu kau ini berbohong. Kau bahkan sangat mengerti kondisinya kala itu. Dan sekarang ia lebih parah, aku rasa,”

 

Minhyuk terdiam kembali, lalu memandang Kihyun yang baru saja berdiri. “Maksudmu ? Apakah dia belum sembuh ?”

 

“Kau pikirkan saja. Obat yang kau kirimkan padanya tak pernah ia terima semenjak kau meninggalkannya. Kau ini mencintainya. Setidaknya kau menemuinya sebulan sekali. Kau meninggalkannya selama satu tahun dan sekarang sudah memasuki beberapa hari di tahun yang baru. Selesaikanlah masalahmu itu,”

 

“Kau tidak tahu kondisiku,”

 

“Bagaimana aku tahu jika kau saja untuk dihubungi sangat susah. Aku harus bersusah payah dulu mendata perusahaan yang mempekerjakanmu di kota yang sebesar ini. Apa kau pernah memikirkannya ?”

 

“Kihyun-ah­, apa kau melakukan ini hanya untuk Hyomin ?”

 

“Tentu saja. Aku melakukan ini untuk membantu ia keluar dari masa sulitnya karena menunggumu,”

 

“Apa kau menyukainya ?”

 

YA ! Omong kosong apa itu. Kita kan bersahabat,”

 

“Sudahlah katakan saja jika kau memang menyukainya atau bahkan mencintainya,” Kihyun terkejut. Bagaimana bisa ia mencintai wanita yang jelas-jelas tak pernah ia cintai.

 

YA ! Aku rasa otakmu sedang tidak waras saat ini, Lee Minhyuk. Aku mencintainya ? Hah, yang benar saja,”

 

“Akan kuberikan Hyomin untukmu, jika kau memang memiliki perasaan padanya. Karena aku rasa hanya kau yang mengerti dia,”

 

Kihyun tak habis pikir. Nampaknya memang Minhyuk sedang bermasalah saat ini, menurutnya.

 

Aish, jeongmal ! Kukatakan padamu, demensia yang ia derita saat ini sudah semakin parah dan aku pastikan dapat membuatnya lupa padamu seumur hidupnya. Jika kau terus seperti ini, ketika ia telah benar-benar lupa akan hal apapun, aku akan menikahinya. Ingatlah itu Lee Minhyuk. Aku pergi,”

 

Kadang aku ingin berjalan meninggalkanmu

Menapaki setiap jalanan terjalku sendiri

Namun aku selalu merintih

“Sampai kapan aku harus seperti ini?”

“Sampai kapan aku harus membuatmu sulit?”

Hidupmu yang penuh kilau perlahan redup sedih

Aku mencoba bersimpuh dimanapun aku berpijak

Tapi… tetap saja…

Aku menginginkanmu

Maafkan aku…

 

1 tahun yang lalu…

 

Gedung putih bersih berbau obat-obatan itu berdiri kokoh di arah Barat Daya Pantai Oido, Seoul. Seorang lelaki tampan dengan rambut blonde dan setelan t-shirt serta jeans hitam berjalan lesu ke arah rumah sakit di depannya. Ia baru saja memarkirkan mobilnya dan saat ini ia berjalan membawa map cokelat berisi hasil diagnosa dari pemeriksaan kesehatan dua hari yang lewat.

 

Sesampainya di dalam gedung rumah sakit, lelaki itu terpaku di depan ruangan berpintu coklat dengan name tag yang tertera bertuliskan Dokter Song Jeon Mi. Ya, hari ini ia akan kembali menemui dokter berkecamata tersebut sendirian.

 

Tok Tok Tok

 

“Masuk” terdengar balasan dari dalam ruangan. Lelaki tersebut memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Tampak sosok dokter yang ia maksud sedang bergulat dengan beberapa tumpukan kertas yang ia rasa adalah hasil semua diagnosa pasien pada hari ini.

 

Dokter Jeon Mi melihat lelaki itu lantas menganggukkkan kepalanya mengisyaratkan agar lelaki itu masuk.

 

“Apa kabar Minhyuk­-ssi ? Kau datang sendiri saja hari ini ?” tanya Dokter Jeon Mi tampak tersenyum sekilas. Ia mengasingkan berkas-berkasnya di atas meja kecil di sebelahnya. Dan lelaki yang ternyata bernama Minhyuk itupun duduk.

 

Minhyuk menghela nafasnya yang panjang,”Aku tidak ingin mengajaknya. Ia pasti tidak akan mau,”

 

“Kau memilih keputusan yang benar,” sambung Dokter tersebut.

 

“Dokter, sebenarnya apa yang membuat gejala itu datang padanya ?” pertanyaan itu muncul begitu saja darinya tatkala ia membaca nama pasien yang tertulis pada map cokelat yang ia bawa. Ia menatap sang Dokter penuh harap.

 

Dokter Jeon Mi meminta map tersebut dan membukanya.

 

Minhyuk hanya memperhatikan aktivitas Dokter Jeon Mi tanpa berkata-kata lagi. Namun tiba-tiba Dokter tersebut mulai menyampaikan sesuatu.

 

“Sebenarnya gejala ini sudah ia rasakan ketika tiga bulan yang lalu. Aku rasa selama ini ia kekurangan vitamin B12 yang banyak. Dan dua hari lalu, diagnosanya menyatakan bahwa ia mengalami hematoma subdural,”

 

Minhyuk terlihat bingung, ia bahkan tak mengerti tentang itu. Bagaimana ia harus mengerti sedangkan ia mengambil kuliah jurusan Astronomi, “hematoma subdural?” jawabnya pelan.

 

“Ya, hematoma subdural merupakan kondisi pendarahan di kepala yang terjadi pada rongga subdural. Demensia yang ia derita saat ini masih dapat disembuhkan apabila penyebabnya dapat disembuhkan,” terang sang Dokter menutup kalimatnya.

 

“Lalu apakah yang Anda sebutkan tadi masih dapat disembuhkan ?” lanjut Minhyuk.

 

“Ya, masih,” jawabnya yakin. “Namun, ia harus mengonsumsi obat dan melakukan penanganan dengan baik dan teratur,”

 

“Apa yang terjadi jika ia tidak mau Dok ? Ia adalah gadis pintar yang terkadang selalu tahu lebih dulu daripada aku, dan ia sangat keras kepala,”

 

Dokter Jeon Mi tersenyum renyah.

 

“Ya, aku akui dia pintar, bahkan aku kira dia lebih tahu dariku. Dan aku rasa ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi gejala ini. Namun, jika ia tetap ingin keras kepala, maka demensia yang ia derita akan terus memburuk tanpa bisa dicegah atau disembuhkan. Jadi aku harap kau bisa membuatnya menuruti perintah Dokter untuk meminum obat yang telah aku berikan waktu itu. Pastikan ia meminumnya hingga habis,”

 

“Apakah…. Jika semakin memburuk, itu artinya… ia akan lupa pada…ku dan…segalanya?” tanya Minhyuk terbata. Pikirannya saat ini sudah tidak menentu apalagi hal seperti ini membuatnya ingin meledak.

 

“Jika penyebabnya tak dapat disembuhkan, maka hal tersebut dapat terjadi. Namun untuk saat ini, hal tersebut probabilitasnya masih dibawah 50%. Selain itu, ia akan lebih kesulitan untuk berkomunikasi ataupun mengingat segala hal. Hal tersebut tentu akan lebih parah dari yang kau bayangkan,”

 

Minhyuk tertunduk dalam diam. Ia mencoba menahan genangan air matanya untuk tumpah, tapi apa daya. Ia hanya lelaki yang juga dapat rapuh kapanpun. Bagaimana bisa gadis yang ia cintai ternyata~

 

Mendengar penuturan Dokter Jeon Mi, ia memikirkan apapun itu yang harus ia lakukan nanti. Semua yang diucapkan Dokter Jeon Mi ia cerna dengan baik di kepalanya. Apapun itu, pasti akan ia lakukan untuk mencegah hal buruk terjadi lebih jauh. Karena ia tentu saja tak ingin kekasihnya yang menderita demensia tersebut lupa akan dirinya seumur hidupnya.

 

“Baiklah Dokter, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk membantunya mencegah gejala ini semakin parah. Terima kasih atas bantuan Anda,” Minhyuk lantas berdiri dan berpamitan dengan Dokter Jeon Mi.

 

“Jika ada kesulitan, kembalilah lagi Minhyuk-ssi,”

 

“Baik, Dok,”

 

Minhyuk berbalik dan melangkah dengan lamban. Ia hanya terpaku pada kekasihnya saat ini.

 

“Minhyuk-ssi !” panggil sang Dokter tiba-tiba membuat Minhyuk secara spontan berbalik badan.

 

“Jangan pernah meninggalkannya. Karena ia selalu membutuhkanmu,” ucapnya serius.

 

Minhyuk hanya menanggapinya dengan tersenyum, ia berlalu dari ruangan itu dan berjalan keluar gedung rumah sakit. “Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkannya,” jawabnya dalam hati. Walau ucapan Dokter Jeon Mi telah berlalu beberapa menit yang lalu.

 

***

Minhyuk berjalan dengan riang sepanjang koridor kampus. Deretan giginya yang rapi terkadang terlihat jelas saat ia melewati teman-temannya. Ia menyapa siapapun yang ada di sana. Hari ini ia bahagia, tentu saja. Karena hari ini sahabat karibnya baru saja masuk sekolah setelah satu minggu absen.

 

Ia meneriaki nama Kihyun setelah berada di ambang pintu kelas III-3. “YOO KIHYUN !”

Teriakan itu sontak membuatnya mendapat pukulan keras di kepalanya. Ia berbalik dan mendapati seorang lelaki yang lebih pendek darinya berdiri dengan gaya tak biasa. Dan ternyata dia adalah Kihyun.

 

YA !” teriak Minhyuk sembari mengelus lembut bagian atas kepalanya. Wajahnya terlihat sangat jelek kala itu.

 

Kihyun berjalan masuk melewatinya dan segera duduk di kursi paling belakang, tempat miliknya dan Lee Jeongmin, teman sebangkunya.

 

“Ada apa kau mencariku?” tanya Kihyun tanpa dosa.

 

Minhyuk sabar, ia menahan emosi.”Jika dia bukan sahabatku, aku tak akan mau kemari,” bisiknya pada sirinya sendiri. “Apa katamu ?” sergah Kihyun.

 

Aniyaaaaaa~,” jawab Minhyuk dengan nada panjang. Ia mulai meneliti tiap sudut ruangan. Tentu saja mencari kekasihnya juga.

 

“Berhenti mencariku jika kau kemari untuk Hyomin. Oh ya, apa kau tahu jika Hyomin akan dibawa ke Jeju?” Minhyuk menarik kursi di sampingnya dan duduk di hadapan Kihyun.

 

“Jeju? Untuk apa ? Apakah ada hal serius?” Minhyuk menyeruput minuman kaleng Kihyun yang terletak di atas meja tepat di depan matanya.

 

“Kau tidak tahu ?” Minhyuk menggeleng.

 

Sejenak, suasana menjadi hening. Kihyun malah terdiam sambil sesekali menatap Minhyuk. Alhasil membuat Minhyuk bingung sendiri. Bahkan ia sempat memaksa Kihyun untuk cepat bercerita karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.

 

Kriiiiing~

 

“Lebih baik kau kembali ke kelas, aku akan mengirimimu pesan,”

 

Minhyuk acuh. Ia segera meninggalkan Kihyun dari ruangan kelas itu. Namun, tanpa sadar ia tak sengaja menabrak Hyomin – kekasihnya – ketika di ambang pintu. Sehingga membuatnya spontan memeluk Hyomin di sana.

 

Bukannya melepaskan pelukan Minhyuk, Hyomin malah mempereratnya. Samar-samar terdengar suara tangisan kecil di telinga Minhyuk. Ia baru sadar ternyata Hyomin menangis dalam pelukannya.

 

Yaaaa~waegurae ? wae uro, Hyomin-ah ?” tanya Minhyuk cemas dan ia melepaskan pelukannya lalu membawa Hyomin ke arah taman study di samping kelas.

 

Mereka berdua duduk di atas rerumputan di taman study tersebut. Terlihat hanya ada beberapa anak lain masih belajar di sekitarnya. Biasanya jika tidak ada kelas lagi, para mahasiswa/i akan menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas dan diskusi di taman study ini.

 

Minhyuk menatap kekasihnya yang sedang tertunduk pilu. Gadis itu duduk sangat dekat di sampingnya saat ini. Minhyuk berusaha menutupi hasil diagnosa yang kemarin ia klarifikasi dengan Dokter Jeon Mi padahal sebenarnya ia ingin sekali mengatakannya. Tapi, saat ini ia harus fokus pada keadaan Hyomin. Alasan apa yang membuat gadis itu menangis.

 

“Kenapa kau menangis ? Apa ada yang mengganggumu ?” tanya Minhyuk lagi. Garis matanya menggambarkan kekhawatiran pada gadis itu. Hyomin hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Minhyuk dengan suara.

 

Minhyuk menepuk-nepuk pundak Hyomin mencoba menenangkannya,”Katakan padaku siapa yang menganggumu. Aku akan membuatnya jera,”

 

“Minhyuk-ah,” ucapnya getir. Gadis itu masih terus menangis tanpa Minhyuk tahu sebabnya dengan pasti. Hyomin menatap Minhyuk penuh arti membuat Minhyuk semakin iba melihatnya.

 

Ingin sekali lelaki itu menangis pula. Tapi Minhyuk tak akan pernah tega membuat kekasihnya ikut sedih melihatnya menangis. “Wae, Hyomin-ah, uljima,” Hyomin malah memeluk Minhyuk kembali tanpa berkata-kata.

 

“Jangan menangis. Kau tahu kan kau sangat jelek jika menangis,” Minhyuk mencoba menenangkan Hyomin. Ia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Hyomin. Hyomin tau, ketika Minhyuk melakukan hal itu, lelaki itu sedang gelisah juga.

 

Dalam pelukan itu, Hyomin akhirnya berbicara.

 

“Aku tahu kau mengetahuinya, ini benar-benar menggangguku Minhyuk-ah. Kau tidak harus menutupinya lagi. Kenapa kau melakukan ini padaku ? Aku ini tak akan sembuh, aku tidak ingin minum obat apapun. Tolong jangan memaksakanku. Jika memang aku akan lupa hal apapun nantinya, aku tak pernah berhenti mencintaimu, arrayo?”

 

Minhyuk tak terima,”Kenapa ? Kau tak menyukaiku jika aku memperdulikanmu, hah? Apa kau tidak memikirkanku juga ? Apa kau hanya memikirkan dirimu sendiri ?”

 

“Bukan seperti itu maksudku, tapi aku tidak ingin kau sedih dan susah karena merawatku,”

 

“Aku itu menyayangimu. Aku tidak ingin kau sampai melupakan segala tentang hidupmu. Apa kau mengerti?”

 

Tiba-tiba Hyomin melepaskan Minhyuk dengan cepat.

 

Ia berteriak, “TIDAK ! AKU INGIN PUTUS SAJA !” ia lantas pergi meninggalkan Minhyuk yang terkejut hebat dengan pernyataan itu.

 

“HYOMIN APA MAKSUDMU ? SALAH KU APA?”

 

Teriakan Minhyuk tak didengarkan oleh Hyomin. Gadis itu berlari jauh hingga tak bayangannya tak berbekas.

 

1 tahun yang lalu berakhir

 

***

Setahun yang lalu Minhyuk selalu mengirim obat untuk Hyomin. Dan Kihyun-lah yang menerimanya. Namun, Hyomin tetap tak ingin menerima apapun dari Minhyuk. Hyomin hanya ingin Minhyuk kembali. Ia menyesal meninggalkan Minhyuk kala itu. Sekarang setelah satu tahun berlalu, mereka masih tak bertemu.

 

Ponsel Minhyuk berbunyi, menandakan ada pesan masuk.

 

1 pesan diterima

 

Minhyuk membuka pesan dari nomor tak dikenal. Ia masih berdiri di taman Aires di bawah hujan deras lantaran mengingat masa lalunya setahun tahun yang lalu.

 

KLIK !

From : xxx110393

Kembalilah aku mohon. Aku mencintaimu, Minhyuk J

-Song Hyomin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE END

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s