[One Year With…] Broken Heart(s)

Young couple holding hands with sun-flare.
Young couple holding hands with sun-flare.

Broken Heart(s)

By Anindyarrr

Cast : Monsta X Wonho (Shin Hoseok) ; AOA Hyejeong

Genre : Romance

Length : Oneshot ; 1500 words

Rating : PG-15

Author’s Note : Based on Monsta X’s song, Broken Heart. Sebelumnya sudah pernah dipublish di akun Wattpad author, dan untuk menyesuaikan dengan tema, dibuat revisi disana-sini. Oh ya, disini Wonho namanya aku pake nama asli dia, Hoseok. Terus panggilan Hyejeong buat Wonho itu Hotteok soalnya dia ‘hot’ dan panggilan Wonho buat Hyejeong itu Hyebbang soalnya Hyejeong tembem dan manis kayak roti –iyain aja-

O O O

Hal yang menyedihkan dari sebuah perpisahan bukanlah kehilangan orang yang kau sayang. Yah, itu juga menyedihkan. Sedikit. Yang lebih menyedihkan dari itu adalah ketika kau harus menghilangkan semua kebiasaanmu yang sudah berjalan satu bulan, tiga bulan, lima bulan, satu tahun…

Biasanya ada yang menemanimu sarapan, berangkat ke kampus denganmu, makan siang bersama, makan malam yang sederhana namun selalu romantis, dan kau akan menutup harimu dengan saling berpelukan, memejamkan mata untuk meninggalkan dunia fana ini sejenak. Bermimpi. Hanya mimpilah tempat dimana kau tidak perlu berbohong, tidak perlu menghadapi masalah, karena semua berjalan begitu saja, tidak perlu dipikir, tidak usah dihentikan.

Dan saat itulah, mimpiku terhenti.

Belakangan ini sangat sulit untuk tertidur, bahkan untuk memejamkan mata saja rasanya sakit. Saat kau berada di antara dunia nyata dan alam mimpimu. Dan disanalah aku. Terombang-ambing antara kenyataan dan khayalan. Sebagian diriku percaya semua ini nyata, namun sebagian lainnya mati-matian menyangkal, berulang kali berkata padaku bahwa semua ini hanya mimpi.

Bahwa Hyejeong tidak meninggalkanku. Hyejeong masih denganku.

Semua itu masih terasa. Setahun sudah aku bersamanya. Berada di sampingnya, hidup dengannya, mendengar tawanya, seakan-akan sudah mendarah daging, menjadi suatu kebiasaan yang tidak bisa kutinggalkan. Ratusan hari, puluhan minggu, belasan bulan, semua itu terasa hanya sebentar. Hatiku menginginkan selamanya, namun kenyataan berkata tidak.

O O O

Hari ini aku berpapasan dengannya lagi. Hari ini pun, wajahnya yang tampan terlihat lelah lagi. Kantung matanya menghitam.

Sudah berapa hari kau tidak tidur?

Kutepis pikiran itu jauh-jauh. Sekali lagi kuyakinkan diriku bahwa Hoseok baik-baik saja. Dia masih tersenyum, walaupun aku tahu senyuman itu bukan senyuman tulus yang biasa kulihat saat pagi hari aku terbangun di sisinya. Dia terlihat sedikit lebih kurus, walaupun badannya tetap terlihat kekar. Dia pasti sering melewatkan jadwal makannya.

Yang aku tahu pasti, entah sudah berapa lama, ia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Tidak lagi, setelah berpisah denganku.

Sedikit, aku merasa bersalah. Tapi, bukankah perpisahan adalah suatu hal yang wajar dialami oleh pasangan, yang tidak bisa saling mengerti?

O O O

Aku berjalan mendekati grand piano milikku yang sudah berminggu-minggu tidak kusentuh, menekan tuts-tutsnya yang berdebu. Aku memainkan lagu yang pernah kubuat dengan Hyejeong. Hingga sekarang aku masih dapat mengingat melodinya dengan jelas. Sekeras apapun aku mencoba melupakannya, lagu itu berputar semakin keras di otakku, berdengung di telingaku.

Dan sekali lagi aku menangis. Aku tidak bisa melakukan ini lagi.

Dia melupakanku. Sudah melupakanku. Dan semua ini tidak berarti lagi.

O O O

Dengan malas aku membuka lemari makanan di dapur. Tidak banyak yang kutemukan. Hanya sebungkus roti yang sudah mau habis, mentega dan selai hazelnut favoritku. Kuletakkan bahan-bahan makanan itu di meja, lalu beranjak menuju lemari pendingin.

Disanalah aku menemukannya, menempel di pintu alat pendingin itu. Aku termenung. Sudah berapa lama berada di sana? Mengapa belum juga kulepaskan?

Aku sudah membelikanmu beberapa bahan makanan. Aku membuka kulkasmu dan mendapatinya kosong. Sudah berapa lama kau membiarkan tempat ini hampa, huh? Kkk~ Jangan lupa makan. Aku akan pergi sedikit lama. Kuharap kau tidak kesepian. Aku mencintaimu, Bbang. –Hotteok

Aku tersenyum tipis. Tanganku bergerak mengambil note itu, menggenggamnya rapat-rapat dan kurasakan jantungku berdenyut hebat hingga membuatnya terasa sakit. Tubuhku merosot, seakan ditarik kuat-kuat oleh gravitasi. Dengan masih menggenggam catatan itu erat, aku memeluk kedua lututku yang tertekuk dan mulai menangis.

“Hoseok-ah…”

O O O

Aku berpapasan dengannya di koridor kampus siang ini. Mata kami sempat bertemu, namun dia buru-buru mengalihkan pandangan. Bisa kulihat matanya yang sembab, hidung memerah, serta wajah yang biasanya merona berubah pucat. Bibirnya yang biasanya merah merekah telah kehilangan warnanya. Hyejeongku berubah. Dia tidak lagi mengurus dirinya sendiri. Dan semua ini gara-gara aku…

O O O

Hatiku menjerit saat aku melihat wajahnya. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan lelaki itu jika kami terus bertemu? Bisakah aku mengubur rasaku saat aku menatap ke dalam bola matanya yang jernih dan jujur itu? Mampukah aku menghapus ukiran wajahnya yang tanpa cela dari kanvas jiwaku?

Aku tidak ingin Hoseok melihatku seperti ini. Lemah. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku tidak ingin ia mengingatku..

O O O

Dan saat itulah, aku sadar aku tidak bisa jauh darinya. Aku masih mencintainya.

O O O

Dan aku masih membutuhkannya untuk selalu ada di sisiku.

O O O

Hujan sore itu tak kunjung reda. Berulang kali Hyejeong melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia terlihat panik. 15 menit lagi pukul tujuh malam, dan ia harus segera pergi menuju kursus musik tempat ia mengajar.

“Ck!” Gadis itu berdecak keras lalu memutuskan untuk menerobos hujan lebat itu, berlari menuju halte bus terdekat.

Di sebuah halte, Hoseok sedang berteduh sambil mendengarkan lagu-lagu hip hop favoritnya. Sesekali tangannya bergerak mengikuti irama di earphonenya, lalu ia akan menengok jam di samping halte dan kembali mengecek ke arah persimpangan, kalau-kalau bus yang akan ia naiki datang. Bukannya kendaraan besar itu yang ia lihat, justru Hyejeong yang sedang berlari sambil menutupi kepalanya dengan biola yang ia bawa.

“Hye-bbang…” gumamnya pelan, pandangannya mengikuti Hyejeong yang semakin dekat dengan halte yang ia tempati. Untuk sedetik, ia termenung. Jantungnya masih dalam tahap menerima dan mencerna situasi setelah terkena serangan ringan. Ia segera memasang topi dan menyibukkan diri dengan ponsel di genggamannya.

Hyejeong yang akhirnya tiba di halte buru-buru meletakkan biolanya dan melepas jaketnya yang sudah basah kuyup. Ia memeluk tubuhnya erat-erat dan mulai menggigil. Berulang kali ia meniup kedua telapak tangannya dan menggosokkannya satu sama lain.

Hoseok meliriknya sekilas, mendapati gadis itu memucat dan bibirnya membiru. Melihat itu, tentu hatinya tidak tega. Ingin sekali ia memeluk gadis itu dan mengusap lengannya, memberinya kehangatan dan ketenangan. Namun sekarang ini…

Tidak, lupakan egomu dan jadilah seorang lelaki!

Hoseok pun melepas jaketnya dan memasangkan benda hangat itu pada tubuh Hyejeong. Gadis itu melirik, lalu sedetik kemudian ia buru-buru menjauh dan membereskan barang-barangnya.

Hoseok menahannya, menggenggam tangan halus yang dirindukannya itu erat-erat. “Sudah,” ucapnya lembut. Perlahan, ia membantu Hyejeong kembali duduk di bangku halte. Sementara yang ditolong sibuk memalingkan wajah, menghindari kontak mata dengan si penolong.

Hoseok tersenyum. “Bagaimana bisa aku kuat melihatmu seperti ini? Aku seperti zombie, kau tahu? Nyawaku sudah hilang entah kemana berbulan-bulan lalu. Kau yakin kau tidak membawa apapun dari apartemenku malam itu?”

Hyejeong menggigit bibirnya menahan buliran air mata yang sudah menunggu di sudut matanya untuk merebak. Mengapa harus begini di saat seperti ini?

“Saat kau bilang ‘lebih baik kita berteman saja’, aku mengira kau akan tetap bersamaku walaupun hanya sebagai seorang teman. Namun nyatanya kau benar-benar menjauhiku.”

Baiklah, kali ini gadis itu tidak bisa menolong dirinya lagi. Air matanya jatuh, mengalir pelan di pipinya.

“Aku tidak bisa jauh darimu, Hye-bbang. Apapun yang membuatmu membenciku, tolong, maafkan aku atas semua itu. Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu. Dan belum juga kah waktu beberapa bulan ini membuktikan bahwa aku membutuhkanmu? Setahun denganmu sudah membuatku lupa rasanya sendiri. Bagaimana bisa aku hidup tanpa sesuatu yang membuatku sangat bahagia selama beratus-ratus hari?” Tangan Hoseok bergerak menggenggam erat tangan Hyejeong. “Kembalilah, aku sangat membutuhkanmu. Amat. Sangat. Kalau begini terus, jiwaku suatu saat akan benar-benar mati.”

Oh, andai kau tahu aku juga sangat membutuhkanmu. Aku pun sudah mati, Hoseok. Dan ya, aku membawa nyawamu bersamaku, namun meninggalkan milikku bersamamu.

“Kembalilah,”

Sambil menunduk, sebuah senyum akhirnya terukir di wajahnya. Gadis itu lalu tertawa pelan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tawa khas Shin Hyejeong yang tidak pernah dibuat-buat. Tawa yang menjadi penyemangat Shin Hoseok di saat-saat tergelapnya.

Hyejeong mengangguk. Saat ini hatinya bahagia. Jika saja ada kata yang dapat mengungkapkan lebih dari sekedar bahagia…..

O O O

Marry me?” bisik Hoseok di telinga Hyejeong, saat gadis itu sedang sibuk mengerjakan tugas akhir kuliahnya.

Yang diajak bicara menoleh, menatap tak percaya lalu tertawa. “Jangan bercanda. Apa yang membuatmu berpikir untuk menikahiku?” Konsentrasi gadis itu terganggu. Ditutupnya layar laptop dan disingkirkan semua literaturnya.

“Aku tidak bercanda,” Hosek tersenyum, tangannya bergerak menyelipkan rambut Hyejeong ke belakang telinga gadis itu. “Marry me,”

“Pernikahan bukan sesuatu yang mudah, Hotteok. Lagipula, hubungan kita baru setahun, kan?”

“Apa setahun belum cukup untukmu? Hanya setahun, tapi aku siap menjadi milikmu selamanya, Hyebbang,”

“Baiklah, jika aku mengatakan iya, aku ingin membuat satu perjanjian,” Hyejeong mengubah posisinya, dari tengkurap menjadi duduk menghadap Hoseok. “Satu, tidak boleh meninggalkanku,”

“Baik. Dua?” tanya Hoseok sambil mengangkat sebelah alisnya.

Hyejeong terlihat menerawang. “Hmm… Tidak boleh meninggalkanku,”

Mendengar itu Hoseok tertawa. Perjanjian ini akan menjadi sangat konyol. “Tiga?”

“Dengar. Perjanjiannya ada enam. Nomor satu sampai lima, isinya kau tidak boleh meninggalkanku,”

“Dan untuk nomor enam?”

“Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.”

Tawa Hoseok semakin nyaring, yang membuat Hyejeong menatapnya dengan wajah cemberut.

“Sayangku,” Hoseok menggenggam tangan Hyejeong erat. “Tanpa kau memintanya, aku akan selalu melakukannya. Kau tidak perlu membuatku berjanji, karena hal yang kau sebutkan itu sudah seperti bernapas. Tanpa kau suruh pun aku sudah melakukannya,”

“Tapi…”

Hoseok menaruh telunjuknya di bibir Hyejeong. “Yang harus kau lakukan hanya percaya padaku. Oke?”

Laki-laki itu mengambil sesuatu di celananya. Sebuah cincin emas bermata berlian warna putih. Ia langsung menyematkannya pada jari manis Hyejeong. “Nah,”

“Tapi… ini…” Hyejeong terbata, masih belum percaya dengan semua ini. Semua kata yang akan diucapkannya menghilang begitu saja dari otak. Matanya terus berpindah, dari cincin ke Hoseok, dari Hoseok ke cincin.

“Ah, diamlah!”

Gemas, Hoseok mengunci bibir gadis yang segera menjadi istrinya itu dengan bibirnya.

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s