[One Year With…] One Year With Wonho

20. choco98 - One Year With Wonho

One Year With Wonho

Scripwriter: choco98 |Main Cast: Berry(OC) and Wonho (Monsta X)|Support Cast: Hyungwon & Jooheon (Monsta X) |Genre: hurt(?), romance| Duration: Oneshot|Rating: PG-16 |

.
.
.
Summary:
Wonho pikir satu tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan seorang Kang Berry.

.

.

.

‘Sebenarnya aku masih mencintaimu…’

Wonho menatap  isi pesan yang baru saja diketiknya tadi sambil menghembuskan nafas. Jarinya kembali menghapus isi pesan tersebut, mematikan ponselnya saat melihat pesan bodoh tadi akan ia kirim ke nomor mantan pacarnya.

Ia meletakan ponselnya diatas nakas, memutuskan untuk menenangkan isi kepalanya yang berkecamuk. Wonho menyandarkan kepalanya diatas lengan sofa lekas berpikir apa yang sedang dilakukan Kang Berry ditengah malam seperti ini.

Tidurkah?
Atau mungkin melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat ini?

Padahal sudah 11 bulan berlalu semenjak ia dan Berry memutuskan hubungan mereka dikarenakan insiden sang gadis melihat aksinya menari bersama dua wanita berpakaian minim diatas panggung klub, tempat ia bekerja. Padahal ia hanya menunjukan bakatnya seperti biasa—bernyanyi dan sedikit menari bersama kawan-kawan bboy-nya—tetapi Berry sudah terlanjur salah paham dan sama sekali tidak ingin mendengar penjelasannya.
Andai saja waktu itu Berry tidak marah-marah dan menangis dihadapannya, mungkin ia masih berani berkata jujur mengenai keadaan sebenarnya, namun melihat gadis polos seperti itu menangis hanya karena dirinya, maka ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Berry.

Ia ingat kala itu Berry masih berumur kurang dari 18 tahun sedangkan dirinya telah beranjak usia 22 tahun. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh, namun Wonho benar-benar menikmati masa pacarannya dnegan gadis remaja seperti Berry.

Gadis itu tidak marah ketika tahu bahwa ia bekerja di sebuah klub malam sebagai penyanyi bersama teman-temannya, bahkan gadis itu sering datang ke tempatnya hanya untuk mengantarkan makan malam buatannya sendiri dan Wonho akui bahwa masakan gadis itu memang lezat.
Gizinya selalu tercukupi kala itu karena Berry selalu datang ke flatnya tanpa tangan kosong. Belum lagi apabila ia sakit, gadis itu akan datang ke tempat tinggalnya dengan membawa obat serta makanan hangat, menyuapi dirinya layaknya bocah berumur satu tahun dan menjaganya sampai ia tertidur.

Perhatian kecil Berry membawa dampak besar bagi hidupnya.
Rasa sayang dari gadis polos seperti itu mampu membuat hatinya luluh.

Wonho benar-benar jatuh kedalam  pesona seorang Kang Berry. Ia benar-benar mencintai gadis itu, bahkan ketika tepat satu bulan mereka berpacaran, Wonho menciptakan sebuah lagu untuk Berry, dan itu pertama kalinya Wonho menulis lirik lagu untuk seorang perempuan.

Berry juga telah membuat suatu perubahan besar dalam kehidupannya. Gadis itu memiliki penyakit asma sehingga Wonho memutuskan untuk tidak merokok di dalam flatnya dan hal tersebut membuat dirinya terbiasa untuk tidak menghisap benda nikotin itu. Ia berhenti mengonsumsi rokok juga alkohol.

Semua itu ia lakukan demi Berry.

Pepatah mengatakan bahwa ketika kau berada di suatu jalan yang lurus maka kau akan segera menemui jalan yang terjal.

Hal itu yang ia alami setelah ia putus dengan Berry.

Wonho kehilangan kontak dengan gadis itu, bahkan ketika ia memberanikan diri menunggu Berry didepan sekolahnya, gadis itu ternyata sudah menjadi milik orang lain.
Seorang pria yang jauh lebih baik dari dirinya, seusia, dan pasti memiliki otak sehat ketimbang dirinya. Sejak saat itu, Wonho memutuskan untuk melupakan Berry dan membiarkan gadis itu menjalani hidup lebih baik bersama pria barunya.

Ia pikir ia bisa menjalani hari-harinya seperti biasa, namun justru kehidupannya semakin kacau tanpa seorang Kang Berry disisinya. Wonho kembali merokok dan mengonsumsi alkohol, bahkan ia menambah tato di tubuhnya. Ketika ia sakit, ia malah menghabiskan satu kaleng bir dan membuat dirinya hampir mati mengenaskan di flat, tempat tinggalnya—dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja datang Hyungwon, pria itu membawa dirinya ke rumah sakit.

Lupakan kejadian saat itu.

Faktanya, sekeras apapun Wonho mencoba, sekuat apapun Wonho melawan.
Pada kenyataannya ia tidak bisa melupakan sosok Kang Berry dalam hidupnya.

.

.

.

“One vodka, please.”
“Hey bro, kau yakin tidak mau menjalin hubungan asmara kembali dengan gadis SMA itu?”

Wonho melirik teman satu panggungnya—Jooheon, yang kini telah duduk disampingnya. Pria itu mengambil gelas vodkanya dan meminumnya tanpa izin, Wonho memaklumi hal tersebut, namun ia tidak paham mengapa laki-laki bermata sipit itu kembali mengangkat topik yang benar-benar sedang dihindarinya saat ini?

“Aku berkata seperti ini bukan karena aku peduli dengan gadis itu. Tetapi, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan dirinya disekitar daerah tempat tinggalmu, sepertinya dia sama kacaunya seperti dirimu,”jelas Jooheon sambil meletakan gelas tersebut diatas meja.
Wonho mengambilnya dan meminum cairan itu sekali tenggak.

“Mungkin kau salah lihat,”timpal Wonho, tidak ingin hatinya terangkat menuju langit ketujuh.
“Kau bisa berkata seperti itu kepada Hyungwon Hyung, tapi tidak kepadaku. Mataku ini benar-benar sehat, bodoh.”balas Jooheon cepat.

Wonho menghembuskan nafas, berdebat dengan Jooheon sama saja seperti menukar barang yang telah dibeli dan ternyata tidak dapat diganti, sekali menimpali Jooheon, maka sahabatnya itu akan membalasnya dengan 1000 alasan yang cukup masuk akal.

“Aku akan melupakannya.”ucap Wonho sambil berdiri, ia membutuhkan udara segar.
Pikirannya kembali dihantu gadis itu. Lagi.
“Kau akan menyesal karena tidak mempercayai kata-kataku.”balas Jooheon.
Wonho tidak menghiraukan kata-kata temannya itu dan segera melangkahkan kakinya keluar dari club.

Kepalanya mulai pusing.

.

.

.

Bulan Desember telah menduduki Kota Seoul. Musim dingin datang kembali seperti biasa, membuat separuh jalan beserta pepohonan berubah warna menjadi putih karena tertumpuk salju.

Wonho membenci bulan terakhir dalam satu tahun ini karena mengingatkan dirinya tentang gadis itu kembali. Berry suka sekali musim dingin karena dengan begitu ia akan sering datang ke flat Wonho sekedar untuk menghangatkan dirinya. Jarak antara tempat les Berry dengan flatnya sangatlah dekat, maka tak heran gadis itu rajin sekali pergi ke tempat lesnya sekaligus datang ke flat Wonho untuk sekedar mengecek dirinya ataupun membuat sesuatu di dapur kecilnya.
Hebatnya, ia bahkan memberikan password flatnya kepada gadis itu apabila Berry tiba-tiba datang ke tempat tinggalnya ketika ia sedang tidak ada dirumah.

Sebegitu percayakah dirinya kepada Berry?

“DOR!! Kau melamun lagi, kan?!!”
Wonho tidak sempat terkejut karena teriakan Jooheon yang tiba-tiba, begitu ia melihat tanggal diponselnya.

15-12-16

Ternyata hari ini telah tepat satu tahun ia berdiri sendiri tanpa Berry disisinya. 12 bulan telah berlalu dan kini telah bulat menjadi satu tahun.
Bahkan satu tahun pun tidak sanggup menghapus memori beserta kenangan akan gadis itu.

Wonho benar-benar tidak mengerti mengenai perasaanya saat ini.

.

.

.

Waktu telah menunjukan pukul 10 malam, angin berhembus perlahan membawa dingin bergelemutukan tulang beserta rasa mencekam, namun Wonho tetap melangkahkan kedua sepatu conversenya, menginjaki salju-salju tersebut, membuat sela-sela dijari kakinya terasa dingin karena air dari salju merembes masuk kedalam sepatunya.
Biasanya ia tidak pulang sepagi ini, namun kondisi dan mentalnya hari ini benar-benar terkuras habis hanya karena mengetahui bahwa kini ia tetap tidak bisa bertahan selama satu tahun tanpa gadis itu.

Ia harus bagaimana?
Apakah kembali bertemu dengan gadis itu dan menjelaskan insiden beberapa bulan yang lalu dapat membuat dirinya jauh merasa lebih baik? Atau kembali menjalin hubungan dengan Berry?

Tapi, apakah Berry masih mencintainya?
Apakah gadis itu masih mengingat sosok pengecut seperti dirinya?
Apakah…

 

 

 

 

Wonho terdiam beberapa saat. Ia membeku seketika saking tidak percayanya begitu melihat sosok kenangan indahnya terngah berjongkok didepan pintu flatnya.

Berry…gadis itu Kang Berry, kan?
Gadis dengan rambut panjang berwarna cokelat dan bibir mengerecut itu.

Tidak mungkin…

Wonho berjalan perlahan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Bahkan ketika ia telah berdiri disamping gadis itu, ia pun masih membisu, tidak mempercayai penglihatannya.
Namun, anehnya, seperti telepati, gadis itu melirik sepatu conversenya, mendongak untuk melihat siapa pemilik sepasang sepatu tersebut.

Dan Wonho tidak percaya saat melihat senyum manis Berry kembali terukir diwajah gadis itu.

.

.

.

“Kenapa kau disini?”

Bodoh! Kenapa kau berkata ketus seperti itu?
Ia meruntuki dirinya karena telah mengeluarkan nada sekasar itu kepada Berry. Wonho sedang berusaha menenangkan degup jantungnya. Bertemu untuk pertama kali setelah satu tahun ternyata tidak benar-benar merubah penampilan Kang Berry.

Gadis itu masih polos seperti biasa, dengan rambut panjang cokelat serta mata bulat indahnya, dan ketika gadis itu berdiri, Jaewon pun sadar bahwa gadis itu masih memakai seragam sekolahnya dan lebih parahnya lagi, gadis itu sedang memakai mantel pemberian darinya.

Mantel bercorak tartan merah hijau yang sama seperti dipakainya saat ini.
Mantel yang ia beli dari hasil kerja kerasnya sebagai penyanyi sekaligus kado ulang tahun untuk Berry.

Gadis itu masih menyimpannya…

Tiba-tiba saja Berry melangkah maju mendekati Wonho. Tangan Berry terangkat dan Wonho pun mengerti maksud gadis itu. ia tahu bahwa Berry ingin menamparnya, maka dengan sukarela, ia mendekatkan wajahnya kearah Berry sehingga gadis itu akan dengan mudah melakukan sesuatu dengan wajahnya.
Berry memang tidak terlalu tinggi sehingga terkadang saat melihat dirinya pun gadis itu harus mendongak.

Wonho menunggu rasa sakit dipipinya, namun yang ia terima justru diluar ekspektasinya. Berry menyentuh pipinya perlahan, tangan yang dahulu sering ia genggam kini tengah mengusap pipinya, memberikan rasa hangat dihatinya sekaligus debaran jantung yang bertambah menjadi dua kali lipat.

Kedua tangan Berry menyentuh wajahnya, mengusap kedua pipinya dengan jari ibu besar gadis itu.
“Be-Berry…”
“Oppa, kenapa kau kurus seperti ini? Oppa tidak lupa makan, kan?”

Wonho menatap kedua mata gadis itu.
Mata itu menatapnya dengan perasaan sedih.
Pikiran Wonho kosong, tidak mempercayai bahwa kedua mata itu kembali seperti dahulu.

“Be-Berry, aku..”
Wonho menyentuh kedua tangan Berry yang masih berada di wajahnya, tetapi gadis itu malah berjinjit, kemudian memeluknya perlahan.

“Aku merindukanmu.”bisik Berry tepat ditelinga kanannya.

 

&&

 

 

 

 

A/N:
Hai semua! Semoga kalian suka dengan fanfic dari aku ya. Sebenarnya aku mengangkat tema ‘readers mind’ jadi ya kalian bisa bikin imajinasi sendiri kira-kira gimana sih akhir hubungan dari Wonho-Berry.  Thanks untuk monstaxfanficindo for make this special event!!
Comment atau advicenya aku terima dengan lapang dada heheh.

Thank you

 

Sincere
choco98

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

4 thoughts on “[One Year With…] One Year With Wonho”

  1. HWALOOOO KU NADA/MINS #98 NICE TO KNOW YOUUUU

    heeeyy ini baverrrr sekali demi apaaahh :(( serasa baca masalalu nya wonho yang ke lam. Selera wonho lucu jg ya suka sama yh cimit2 hehehhe. Pembawaanny pelan dan ngena. Bwagusssssss 👍👍👍

    Tetep semangat nulis yaaaaa 😊😊😊😊💘

    Like

    1. Hai Mins!!
      Serius bikin baper ya? Wah aku senang banget deh kalau misalkan kamu baper, soalnya emang aku pengen banget cerita aku bisa ngena ke para readers yang baca. Makasih ya udah comment ^^ makasih juga semangatnya

      Like

  2. Aku baper tau bacanya, andai kang berrynya itu dirikuu haha ngayal aku terlalu tinggi

    Di tunggu ya postingan berikutnya, maff juga klo aku baru baca ff ini
    FIGHTING AUTHORR

    Like

    1. Hai!! Makasih ya udah baca. Tenang aja Kang Berry ini kan OC, kamu bisa anggep jadi diri kamu kok ^^ wah aku senang banget deh kalau kamu baper hehehe. Makasih untuk semangatnya!! ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s