[One Year With…] Unpredictable Things

27. Ullzsura - Unpredictable things

One Year with Unpredictable Things

Author  : Ullzsura

Cast     :           –      Lee Minhyuk as Lee Minhyuk

  • Kang Sura as Kang Sura
  • Kim Himchan as Lee Himchan

Genre   : Romance, Slice of Life

Length  : One Shot

Rating   : PG-13

 

Minhyuk POV

Kau tahu aku memang mudah jatuh hati pada wanita cantik yang keluar masuk di café bacaan tempatku bekerja, tapi melihatnya tak pernah membuatku bosan. Selagi melayani pengunjung yang membutuhkan minuman, mataku sering kali terpancing ke arahnya lagi, kadang mengambil kesempatan dengan membantunya mencarikan buku yang menarik untuk dibaca.

Seperti biasa, dia datang Selasa sore untuk mengembalikan buku, juga pasti meminjamnya lagi. Sudah pasti ia menggandeng tangan mungil yang selalu membuatku ingin menuntunnya juga. Tapi tentu kini aku dapat melakukannya, berbeda dengan tahun lalu.

“Sera sudah selesai membacanya.” Ucapnya sembari meletakkan 2 buah buku di mejaku.          “Ah, ne.” Jawabku, lalu mengambil buku itu dan menaruhnya di tumpukan buku di belakangku. Mataku teralih pada gadis kecil yang baru saja ia sebut namanya. “Annyeong.” Sapaku pada Sera dengan wajah sumringah. Anak kecil senang disapa seperti itu dan tentu saja ia menyambut sapaanku dengan hangat. “Kemarin datang buku baru.” Kataku. Wanita itu menaikkan kedua alisnya ketika mendengarnya. “U-uh, kutunjukkan.” Lalu aku pun keluar dari belakang mejaku dan berjalan menuju rak dengan deretan buku anak. Tak sengaja aku berpas-pasan dengan Joohoen, rekan kerjaku. Ya, dia pasti akan mengataiku lagi setelah ini. Dia akan menyebutku seorang kriminal. Jelasnya, Joohoen akan berkata “Menyukai istri orang lain itu sebuah kejahatan.”

Ah, Masa bodoh pada orang yang tak tahu apa-apa. Lagipula, wanita itu tak pernah menikah.

Joohoen hanya mendelikku lalu menertawakanku dari belakang. Kuabaikan saja, lalu fokus mencari buku yang kumaksud dan menunjukkannya padanya. Ah, Sura namanya. Kang Sura.

“Kau datang terlambat hari ini.” Kataku setelah memberikan buku yang kumaksud pada Sera, tinggal menunggu responnya terhadap buku itu.

“Mm.” Dia mengiyakan. Kepalaku menoleh padanya, tepat saat ia baru saja tersenyum dan membungkuk, membenarkan rambut berantakan Sera yang menghalangi mata gadis mungil itu. “Tadi ramai, jadi tidak enak kalau cepat pulang.” Jelasnya.

“Ah, sayang sekali…” Gumamku.

“Sayang sekali apanya?”

“Sayang sekali karena sebentar lagi waktuku selesai.” Jawabku seadanya. “Sera, mau mampir ke tempatku bekerja sebentar? Kubelikan mie.” Ajakku pada Sera tanpa meminta persetujuan ibunya terlebih dahulu. Tentu Sera menyetujuinya karena ia menyukaiku. Sura hanya geleng kepala dan tanpa merasa berdosa aku tersenyum senang.

Ya, tak perlu lagi aku merasa canggung atau semacamnya, karena wanita yang menurut Joohoen sudah kucuri itu sudah lama adalah kekasihku.

***

Tubuhnya tinggi, tapi terlihat mungil dan aku suka itu. Terkadang di mataku ia tidak tampak seperti wanita berumur 26 tahun, tapi semua berubah ketika ia berinteraksi dengan Sera. Tingkahnya yang terkadang terlihat kekanak-kanakkan selalu membuatku ingin memeluknya dan sifatnya yang terkadang keibuan pun membuatku ingin memeluknya. Ah, bagaimanapun dia, aku selalu ingin memeluknya.

Begini aku sejak awal mengenal Sura dan juga Sera. Aku bertemu dengan Sura ketika Sera masih berumur 3 tahun. Aku tidak terlalu menyukai anak kecil, tapi aku menyukai Sera. Apa karena ibunya? Entahlah, aku hanya tidak pernah merasa terganggu dengan kehadirannya. Berbeda dengan Sura yang awalnya menjadikan Sera seolah halangannya untuk memulai hidup yang baru. Terbukti dengan sulitnya ia membuka jalan untukku menunjukkan bahwa aku berbeda.

Sura tidak pernah menceritakan seperti apa Ayah dari anak yang kusayangi itu dan aku pun kini tak mau tau lagi. Lelaki itu sudah meninggalkan wanita berharga ini ketika ia masih mengandung, jadi jika sampah itu kembali, tentu akan kubuat ia menyesal seumur hidup.

“Seharusnya kau tidak perlu mengambil pekerjaan lagi.” Ujar Sura. Kuanggap itu adalah sebuah keluhan yang menyenangkan.

“Satu, aku masih punya waktu untuk kalian setidaknya jika kalian datang membaca buku lebih siang dari biasanya. Dua, Satu dan Minggu aku punya waktu dari siang sampai malam. Tiga, ini proses latihanku untuk bisa membelikan Sera jajanan dan mencukupi kebutuhanmu.” Jelasku.

“Pft.” Wanita itu malah menahan tawanya padaku. “Ya! Jaga bicaramu. Proses apanya? Begini caramu mempermainkan wanita, huh?” Lalu ia menuduhku yang tidak-tidak.

“Aku serius.” Kataku membela diri. “Ketika Lee Minhyuk bicara seperti itu, ia sudah memikirkannya berkali-kali sebelumnya dan kau bisa tagih omonganku itu.”

Tangan mungilnya meraih sumpit dan tatapannya pada mie instan berubah menjadi sendu. Ia tertawa kecil. “Tetap saja jangan bicara seperti itu.” Ujarnya pelan. Nampaknya aku mengerti hanya dengan melihat ekspresinya. Lelaki itu pun pasti telah menjanjikannya ini-itu, tapi kenyataannya ia ditinggalkan.

“Aku sudah membayar kuliah.” Kataku dengan maksud bahwa aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi karena aku serius tentangnya. “September nanti aku akan menyelesaikan tahun keempatku.”

“Benarkah?” Syukurlah wajahnya kembali berubah ketika mendengar hal itu. Aku mengangguk mengiyakan. “Jangan sampai cuti lagi, mengerti?”

Yes, ma’am.” Dan pada akhirnya ia tersenyum lega. Aku pun merasakan hal yang sama ketika ia kembali tersenyum tanpa memikirkan masa lalunya. “Besok satu tahun kita bersama. Kutraktir kalian di makan.” Kataku. “Sera, besok kubelikan ice cream yang banyak, ok?”

Drrrt…..

Berpas-pas-an dengan Sera yang mengangguk senang, ponselku bergetar. Kuambil ponselku yang bergetar di dalam saku jaketku dan kulihat nama Hyung di sana. “Ah, Hyung yang kuceritakan, seminggu yang lalu ia pulang.” Jelasku yang lupa menceritakannya padanya.

“Benarkah?” Tanyanya dengan wajah terkejut. Aku mengangguk. “Apa itu dia? Cepat angkat!”

Aku pun mengangkat telpon dari Hyung.

“Yoboseyo?” Sahutku.

“Kau di mana?” Tanyanya dari sebrang.

“Minimarket. Kenapa?”

“Tetangga sebelah ribut karena kunci yang ia sembunyikan di rak sepatu hilang dan isi rumahnya dicuri habis-habisan. Haruskah kuberikan kunci padamu saja? Aku akan pergi dan sepertinya pulang pagi.”

“Ah, ya, kau bisa kemari.”

“Baiklah, tunggu.”

Dan aku pun mematikan ponselnya.

“Dia akan kemari.” Laporku pada Sura. Ia mengangguk.

“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Ujarnya member peringatan.

“Ini kenyataan dan bukan kejahatan, jadi tidak-tidak apanya?” Kataku, tapi ia malah meninju lenganku. Aku tertawa. Ya, aku mengerti maksudnya. Ia hanya terlalu takut bahwa orang lain di sekitarku tidak akan menerima tentang statusnya.

“Haah, jadi.., aku masih tidak boleh mengatakan bagaimana sukanya aku padamu dan rencanaku untuk terus bersamamu?” Kataku ketika menidurkan kepalaku di lenganku sendiri sembari memperhatikan Sera yang sedang makan di pangkuanku, sesekali kembali menatap pada Sura. Ia menggelengkan kepala.

“Itu larangan untuk bersamaku.” Katanya.

“Terkadang wanita butuh mendengarkan hal seperti itu.”

“Perlakukan aku dengan baik dan aku akan mengerti.”

“Bagaimana kalau aku sangat ingin melakukannya?”

“Aku tidak suka.”

Aku menghela nafas. Sebegitunya ia takut mendengar hal-hal seperti itu. Ia hanya tertawa kecil melihatku yang merasa kecewa.

“Baiklah, aku tahu kau ingin aku mengatakannya lewat pelukan.” Kataku pada akhirnya. Begitulah caraku berpikir. “Aku akan sering memelukmu, jadi bersiaplah.” Ia pun tertawa, aku tahu dia tak akan menolak lagi.

“Eh?” Menyenangkan, sampai tawanya terhenti dan aku melihat tatapannya terhenti pada satu titik, membuat kepalaku memutar untuk memuaskan keingin-tahuanku. “Him…chan?” Ucapnya sangat pelan, terlihat ragu.

“Hyung?”

***

Sura POV

Ada satu-satunya pria yang membuatku selalu ingin menatap matanya dalam-dalam. Ada satu-satunya pria yang membuatku selalu ingin menunjukkan keluh kesahku. Ada satu-satunya pria yang membuatku selalu ingin terlihat lemah karena aku ingin dia memelukku. Ya, memelukku sekali lagi. Tatapannya membuatku lupa dengan amarahku sebelumnya. Ya, aku tau aku tak dapat begitu. Kuhirup udara sedalam-dalamnya, mencoba melakukan sesuatu. Mataku teralihkan pada suara kecil Sera. Ia masih dalam dekapan Minhyuk dan segera kurebut Sera darinya.

“Kau mau apa?” Tanya Minhyuk padaku. Suaranya terdengar panik, tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku tak menjawabnya, hanya membawa Sera pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Ya, ini adalah sikapku yang tepat setelah melihat lelaki itu hanya terdiam saat melihatku. Bahkan ia tidak mengejarku untuk meminta maaf atau setidaknya memberiku alasan mengapa ia pergi. Baguslah, ini membuatku yakin bahwa yang terbaik adalah ia yang tak ada di hidupku. Tapi, kenapa ia harus kembali?

Memutuskan untuk berhenti mengejarnya tentu membuat dadaku sesak sekali. Ada perasaan tidak rela untuk menyerah dan pergi. Ada bagian dari diriku yang masih ingin meminta pertanggung-jawabannya, tapi mendengar alasannya hanya akan membuatku terlena dan bodoh.

“Tunggu sebentar!” Seperti ada pukulan pada jantungku ketika Minhyuk menarik lenganku, membuatku berhenti melangkahkan kakiku. Hyung, katanya? Menatap mata yang sama itu tak lagi membuatku melepaskan kerinduan, tapi kini berubah menakutkan.

***

Minhyuk POV

Entah, saat itu aku tak ingin bertanya apapun pada lelaki itu. Dia masih terlihat arogan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku dan ia membuang wajahnya ketika aku menatapnya. Sampah. Tanpa bertanya pun aku mengerti dengan keadaan sekarang ini. Perlahan kakiku mundur dan aku pun membalikkan badanku, lalu berlari menyusul Sura.

Aku berhasil menghentikannya. Takut, itu yang kurasakan. Aku mengerti ketika pertama kali kami bertemu, ia bicara kalau mataku mirip dengan seseorang yang ia kenal. Aku mengerti alasan kakakku pergi dari rumah dan menghilang begitu saja lima tahun yang lalu. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Dia menatapku takut, membuatku merasa mengerikan. Peganganku pada lengannya pun turun dan kugenggam tangan kanannya itu.

“Apa itu dia?” Tanyaku memastikan. Tentu ada harapan jawaban ‘tidak’ di dalamnya. Tapi ia hanya diam tanpa memandangku. “Aku tidak sepertinya.” Itu yang keluar dari mulutku setelah aku mengerti dari diamnya. Kutelan ludahku ketika Sura berusaha melepaskan genggamanku.

“Kau tahu bukan di situ permasalahannya.” Ucapnya sedikit menyentak.

“Biarkan aku yang marah dan kau, diamlah.” Ujarku, berusaha memendam emosiku.

Ani. Kau seharusnya tahu alasanku jika aku memintamu pergi.” Balasnya dengan suara yang lemah dan sedikit bergetar.

“Tapi tidak apa.” Sura diam menatapku nanar. Ya, memang tidak apa. Sejak awal aku tidak peduli seperti apa dia dan kini aku tak peduli Sera anak siapa.

“Tidak bisa.”

“Sudah kubilang tidak apa. Kau tidak dengar?!”

“Sera, anak dari kakakmu. Kau ini bodoh atau apa?”

“Aku bodoh dan kubilang tidak apa, kau tidak dengar?!” Emosiku memuncak dan aku membuat Sura menangis saat itu juga. Sungguh,  aku tidak bisa melepaskan Sura dengan alasan terberat apapun. Kakiku melangkah mendekatinya, mirisnya ia mundur menjauh.  Kulangkahkan lagi kakiku lebih cepat dan langsung menggenggam tangannya. “Kita sudah berjanji tidak akan mempermasalahkan lagi masalah Sera, bukan?”

“Bukankah sakit, saat tau ini semua?” Tanyanya tiba-tiba. “Lalu suatu hari kau akan lebih sakit lagi.”

“Apa? Tidak akan lebih sakit lagi kecuali kau masih menyukainya.”

“……….”

“Apa?” Dia diam. Aku tertawa dengan kejadian saat ini. “Hatimu kembali goyah setelah ia kembali? Berharap ia kembali dan memilikimu sekali lagi?” Dia diam kembali. Aku tak pernah sepesimis ini sebelumnya.

“Kita harus selesai sekarang.” Ucapnya lirih. Apa yang bisa kulakukan jika keadaannya seperti ini? “Kembalilah.”

“Tidak.”

“Kembali, kubilang.”

Aku tidak mau menjawab sedangkan Sura semakin banyak mengeluarkan airmatanya. Perlahan Sera ikut menangis, membuatku semakin kacau.

“Baiklah, aku yang pergi.” Ucapnya, lalu berbalik. Ia berjalan cepat sembari menepuk punggung Sera. Kakiku melangkah sekali, tapi tak dapat kuteruskan. Entahlah, aku tak bisa melakukan apa-apa selain menatap punggungnya yang menjauh.

Bagaimana aku mencintainya, berbeda dengan aku mencintai wanita yang kutemui sebelumnya. Bahkan sepahit-pahitnya kenyataan darinya pun aku terima. Tapi, haruskah kuterima perihal ia yang hanya memberiku kesempatan satu tahun untuk memilikinya? Sesingkat itu untuk satu-satunya wanita yang pernah membuatku berpikir bahwa aku akan berakhir dengannya. Ya, semudah itu ia meninggalkanku tanpa pertimbangan.

 

-end-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

3 thoughts on “[One Year With…] Unpredictable Things”

  1. Bapeeeeeer…. T.T
    Udah nebak bkal ada hubungannya sama kknya minhyuk, tapi ttep aja sesek dada dedeq qaqa T.T

    Baguuuuuuus ffnya baguuuuuuus…. :*
    Mangats thor

    Like

  2. HWALO KU NADA/MINS #98 NICE TO KNOW YOUUU…..

    HEEYY YOU ARE SO MEAN TO ME!!!! FIC NYA BKIN BAPER PAGI2 GINI YA ALLOHH….. dapet inspo dari manaaa? Bagus bangettt :”””)))) sumpah ya ku dari awal baca uda salah tingkah sendiri sama minhyuk ini lha kok endingnya nyesek pangkat tiga :”””)))

    Bahasa dan alur nya lembut selembut cinta minhyuk pada gadi itu /aw wkwk baper serius sampe sekarang T,T jujur ini fic romance terbaper kedua yang pernah kubaca. NICE JOB!!!

    KEEP WRITING YAAA KEEP SPIRIT!!!! 😭😭😭😭😭😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s