[MONSTAX FF FREELANCE] Shadow – Oneshot

ShadowShadow (Oneshoot)

Author : Raehywh14 || Title : Shadow
Cast : OC’s Rae, Monsta X’s Chae Hyungwon, OC’s Sejin, Monsta X’s Shin Wonho
Genre : Au , Romance || Cr : Here || Rated : PG-15 || Length : Oneshoot

HAPPY READING

“Aku tidak lebih dari sekedar bayangan”

“Rae! Cepat!”

Dua orang gadis memasuki sebuah gedung megah yang sangat ramai di datangi oleh masyarakat luas. Gadis yang mengenakan dress selutut merajut langkah secepat mungkin, bahkan hampir berlari kecil. Sedangkan gadis yang satu lagi berada di belakang dengan menenteng kantung plastik berisi beberapa makanan.

Mereka bergegas pergi ke backstage dimana para artis yang akan tampil di televisi tengah menunggu dan mempersiapkan semuanya. Dua orang bertubuh kekar menghentikkan langkah keduanya. Keduanya saling bertatapan dan tidak tahu harus melakukan apa. Gadis yang membawa kantung plastik tersebut mendekat ke arah salah satu penjaga dengan beberapa argumen yang telah dipersiapkan.

Ya! Kami membawa makanan bagi anggota Mon-”

Eonnie!

Rae menghentikkan kalimatnya ketika Sejin berseru kepadanya. Rae menggigit bibir bawahnya, ia hampir mengatakan hal tersebut di saat banyak sekali orang yang berlalu lalang. Dan seorang pemuda datang menyelamatkan keduanya.

“Mereka asisten pribadi kami, tolong ijinkan mereka masuk” mendengar perkataan pemuda tersebut, salah satu penjaga menganggukan kepalanya dan memberi jalan bagi keduanya.

Rae melangkah dengan senang, diikuti Sejin di belakangnya dengan tersenyum manis. “Wonho? Aku membawakan makanan kesukaanmu”

Shin Wonho menoleh dengan seutas senyuman. “Baiklah, kau yang memasak?”

Rae menggeleng pelan, “Tidak, aku membelinya”

“Kau tidak ingin apartemen Rae eonnie hancur ‘kan, Wonho oppa?” Wonho menatap gadis feminim di belakannya dengan seutas senyum simpul. Sedang yang dimaksud terlihat kesal dengan menggerutu kesal.

“Aku bisa memasak Sejin, hanya saja aku tidak ingin menunjukkan bakat terpendamku begitu saja. Aku takut akan ada banyak lelaki yang semakin menyukaiku” Sejin dan Wonho yang mendengarnya hanya mampu terkekeh dan tidak ingin menanggapi perkataan Rae yang selalu bersikap sedemikian.

“Tapi, ada banyak lelaki yang menyukaimu eonnie…” ucap Sejin melirik ke arah permuda yang berada di samping Rae.

“Jangan bercanda Sejin, aku ini tidak anggun sepertimu dan sama sekali tidak cantik. Mana mungkin ada banyak lelaki yang menyukaiku. Ada-ada saja…” lantas langkah Rae semakin tercipta serta meninggalkan kedua orang yang tengah terkekeh pelan.

 

Pandangan Rae meneroka untuk mencari sebuah ruangan yang bertuliskan boygroup kesayangan. Maniknya berbinar ketika ia mendapati nama boygroup tersebut dan mengetuknya pelan. “Siapa?” seseorang berseru dari dalam. Dan Rae mengetahui dengan baik suara siapa itu. Rae tersenyum hanya dengan mendengar suara orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Rae membuka pintu tersebut dengan kepala yang menyembul dari balik pintu terlebih dahulu.

“Hai?”

Mendengar suara gadis itu, beberapa orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu. Rae menampilkan senyum manisnya ketika para lelaki yang berada di ruangan itu menyambut Rae dengan baik.

Oh! Rae? Masuklah!” dengan ramah, Rae menerima ajakan seorang Yoo Kihyun.

“Sendiri?” Rae menggeleng ketika seorang Lee Minhyuk bertanya. Rae meletakkan kantung plastiknya di meja tengah. “Tidak, Sejin bersamaku. Dia sedang bersama Wonho saat ini. Dan aku membawakan makanan untuk kalian”

Mendengar kata makanan, kelima lelaki tersebut lantas merapat. Tidak dengan seorang pemuda yang berada di pojok dan memilih untuk berhadapan dengan cermin.

Oh, Hyungwon? Kau tidak ingin makan? Ada baiknya kau mengisi perutmu dengan makanan sebelum tampil. Kudengar kalian belum makan sedikitpun dari tadi pagi” ujar Rae pada seorang Chae Hyungwon yang tetap memandang cermin dan memilih untuk menatap Rae beserta anggota lain dari pantulan cermin di hadapan-nya.

Saat itu, Sejin dan Wonho datang. Wonho segera bergabung dengan anggota lain untuk makan. Sejin duduk di samping Rae yang tengah memandang Hyungwon. Sejin mengikuti arah pandang Rae dan tanpa disengaja, tatapannya terkunci oleh tatapan Hyungwon.

“Aku akan memakannya nanti Rae” kata Hyungwon beranjak dari duduknya, meletakkan ponsel pada saku pakaian yang dikenakannya. “Sejin, ada sesuatu yang harus kau jawab. Ikut aku!”

Mendengar hal tersebut, Sejin lantas berdiri serta mengikuti Hyungwon yang pergi entah kemana. Rae terdiam, tertunduk dengan perasaan aneh. Tanpa gadis itu sadari, seorang Shin Wonho mengurungkan niat untuk memasukkan sesuap nasi ke mulut sembari memandangnya. Timbul perasaan ragu ketika Wonho hendak menghampiri Rae dan bertanya mengenai sesuatu.

Alhasil, Rae beranjak pergi keluar dari ruangan tersebut tanpa bersuara.

Dalam semilir angin malam di atap gedung membuat kedua insan yang saling berdiam diri tersebut mulai goyah. Suasana yang sebelumnya benar-benar hening kini sedikit teratasi dengan adanya dehaman singkat dari seorang Chae Hyungwon. Serta pendukung atas gangguan tenggorokan yang tengah dialami Sejin.

“Ada apa, Hyungwon oppa?”

Hyungwon menoleh diiringi guratan-guratan halus pada keningnya. Suara serak Sejin membuat ekspresi Hyungwon sedikit berbeda dari sebelumnya.

“Apa kau sakit?” Hyungwon berbalik tanya dengan raut wajah kekhawatiran yang cukup terlihat meski tidak sepenuhnya. Sejin tertunduk pelan, tatapan mata Hyungwon benar-benar menghipnotis. Sejin menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Hyungwon.

Hyungwon mendegus pelan setelah Sejin menggeleng. Entah mengapa, Hyungwon benar-benar merindukan gadis yang merupakan teman dari sahabatnya itu. Dan Sejin hanya mampu memandang Hyungwon dengan tatapan bingung.

“Ada yang ingin ku tanyakan padamu” Hyungwon menatap Sejin begitu lamat. Hati Sejin bergetar ketika tatapan itu menerkamnya lagi.

“A-Apa?” gadis itu hanya mampu tertunduk. Ia tidak ingin menatap Hyungwon. Menatap Hyungwon sama dengan mengijinkan dinding di hatinya runtuh.

“Kenapa kau menolakku? Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku? Meski hanya sedikit?” Sejin telah menduga jika pertanyaan seperti itu akan terlontar dari mulut Hyungwon. Gadis itu sedikit mendongak, mengingat tinggi Hyungwon yang melampaui dirinya.

“Maaf oppa, tapi aku tidak memiliki perasaan seperti itu padamu. Lagipula masih ada banyak gadis yang menyukai Hyungwon oppa dengan segenap hati. Jika oppa ingin bertanya mengenai hal itu, kumohon jangan panggil aku hanya untuk pertanyaan semacam itu oppa” Sejin hendak berbalik dan meninggalkan Hyungwon. Namun dengan sigap Hyungwon membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Sejin terkejut, namun ia tidak mampu berbuat apapun karena Hyungwon memeluknya sangat erat. Sehingga Sejin membiarkan Hyungwon memeluknya dalam terpaan angin malam yang cukup dingin. Bahkan Sejin akui, pelukan Hyungwon benar-benar menghangatkan.

Dengan sebuah kesadaran yang utuh, Rae melihat sebuah peristiwa yang seharusnya tidak ia lihat. Hal tersebut membuat hati Rae bergetar, bahkan gadis itu bisa saja menangis jika ia tidak mengatur emosinya sebaik mungkin. Rae tidak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi. Jika saja ia tidak mengkuti Sejin saat keluar, mungkin ia akan berada dalam situasi yang tidak baik selamanya.

Hyungwon mencintai Sejin.

Namun pada hal ini Sejin tidak dapat mencerna perasaannya dengan baik. Tidak seperti Rae yang telah mengerti kemana arah hatinya tertuju. Hatinya tertuju pada seorang Chae Hyungwon. Namun pemilik hati yang sebenarnya dari seorang Chae Hyungwon hanyalah Sejin semata.

Selama menjalin hubungan sebagai sahabat bersama dengan Hyungwon empat tahun belakangan ini, Hyungwon tidak pernah menyukai seorang gadis. Meski gadis itu sangat cantik dan berbakat. Akan tetapi, sekali pemuda itu mencintai seorang gadis, maka pemuda itu akan mengukir dengan baik nama gadis itu di hati serta jiwanya.

Ini yang paling Rae takuti. Hyungwon mencintai Sejin. Dan nama gadis itu telah terukir dengan baik di hati serta jiwa Hyungwon. Tidak mungkin bagi Hyungwon untuk melepas gadis itu semudah yang ia pikirkan. Terlebih, tidak mungkin bagi Rae untuk memasuki hati Hyungwon melalui celah sekecil apapun. Hati Hyungwon telah tertutup bagi siapapun dan hanya terbuka lebar bagi Sejin.

Lalu, apakah Rae harus melupakan Hyungwon semudah yang dibayangkan?

Tidak melihat seorang Chae Hyungwon dalam beberapa menit sudah membuat gadis itu gila. Bagaimana mungkin jika gadis itu harus melupakan nama Chae Hyungwon dalam hati dan pikirannya, sementara ia tidak bisa hidup tanpa pemilik nama tersebut.

Haruskah Rae jatuh ke tangan seorang Shin Wonho?

Pemuda yang baru-baru ini telah mengutarakan perasaannya kepada Rae tanpa ragu. Meski gadis itu telah menolak dan mengatakan secara langsung jika ia menyukai Hyungwon. Wonho bukan tipe lelaki yang sering berputus-asa. Ia akan melakukan segalanya demi apa yang diinginkannya. Hingga sampai saat ini hanya sebuah pertemanan yang mendominasi keduanya.

Tanpa terasa air mata Rae telah terjatuh dengan sendiri. Sesak di dadanya semakin terasa ketika pelukan keduanya kian mengerat. Sejin yang kini tidak memberontak dan Hyungwon yang memberikan kehangatan dari pelukannya. Ingin sekali, sangat ingin bagi Rae untuk menggantikan posisi Sejin saat ini dan menghentikan waktu.

Akan tetapi ekspetasinya terlalu tinggi, juga hal tersebut tidak akan terjadi. Rae tidak sanggup untuk menahan isakannya, maka ia hendak pergi dari tempat tersebut. Kendati justru seorang menarik Rae ke dalam sebuah pelukan. Tanpa berpikir panjang, Rae segera menumpahkan segala kesedihannya pada seorang pemuda yang kini tengah memeluknya.

Shin Wonho dengan senang hati menawarkan dirinya untuk menjadi tempat bersedihnya gadis itu.

Kini Rae dan Sejin telah berada pada barisan penonton yang melihat tampilan memukau dari boygroup bernama Monsta X. Setelah Rae berhasil menumpahkan segala keluh kesahnya pada Wonho, gadis itu bergegas kembali agar tidak menimbulkan kecurigaan apapun. Selang beberapa menit, Sejin datang dengan Hyungwon yang diiringi seutas senyuman. Maka saat itu Rae berpikir jika keduanya telah menjalin sebuah hubungan. Ekspresi wajah keduanya benar-benar menunjukkan hal tersebut.

Rae tidak melepaskan pandangannya dari seorang Chae Hyungwon ketika tampil di stage. Hyungwon benar-benar tampan dan memiliki kharisma tersendiri yang mampu menghipnotis para gadis. Tidak heran jika kebanyakan penonton menyerukan nama Hyungwon berulang kali. Serta gadis itu menilik ke arah Wonho ketika beberapa penonton di belakangnya menyerukan nama Wonho.

Wonho memiliki pesona yang tidak kalah baiknya dengan Hyungwon. Memiliki tubuh kekar serta wajah tampan yang sangat menarik, membuat pamuda itu cukup disegani. Namun, hanya Hyungwon yang sangat Rae segani keberadaan namanya dalam hatinya.

Eonnie? Kenapa diam?” tanya Sejin merasa cukup asing dengan tingkah Rae yang tidak seperti biasanya. Rae menatap Sejin lamat, kemudian ia tersenyum dan menggeleng pelan. Kebimbangan selalu melanda hati Rae kala ia menatap wajah cantik nan polos milik Sejin. Teman yang satu tahun lebih muda darinya itu selalu membantunya dalam keadaan apapun. Baik sedih maupun senang, dengan senang hati Sejin selalu membantu. Namun untuk permasalahan hati, Rae tidak ingin Sejin membantu seperti biasanya. Karena hal tersebut akan sangat tidak berguna bila dilakukan.

Rae kembali menatap ke arah stage, penampilan ketujuh pemuda tampan itupun akan berakhir setidaknya beberapa detik lagi. “Eonnie, mendengar suara Kihyun oppa aku merinding”, suara lembut Sejin kembali menusuk indera pendengarannya.

“Iya, Kihyun memiliki suara yang begitu indah. Berbeda dengan si dungu Hyungwon yang bermodalkan tampang itu” gumam Rae sekaligus meluapkan rasa kesalnya. Sejin menoleh ke arah Rae dengan menautkan kedua alis.

Eonnie, apa kalian bertengkar? Tidak seperti biasanya kau menjelek-jelekkan sahabatmu sendiri seperti itu” Sejin tersenyum simpul. Rae mengulum senyum dengan mata terpejam.

“Tidak, kami baik-baik saja” balas Rae berbohong.

Sahabat?

Benar. Tidak ada dedikat lebih mengenai hubungannya dengan seorang Chae Hyungwon selain sahabat. Setidaknya ia harus bersyukur karena ia telah menjadi sahabat seorang Chae Hyungwon selama empat tahun belakangan ini. Daripada ia harus berkumpul dengan para penggemar dan mengandaikan hal yang tidak masuk akal.

Bertengkar?

Bukan fisik maupun persahabatan mereka. Namun batin mereka –lebih tepatnya batin Rae bertengkar atas perasaannya kepada Hyungwon. Bahkan Rae tidak tahu harus bagaimana setelah tangisnya mereda karena keberadaan Wonho.

Melupakan Hyungwon?

Tidak.

Menerima Wonho?

Tidak.

Menjauhi Sejin?

Tidak.

Meninggalkan mereka semua?

Emm-entahlah…

Rae akan menjadi gadis muda gila baru jika ia terus-menerus memikirkan hal tersebut tanpa henti. Terkadang ada saat dimana ia harus serius dan tidak. Rae cukup disiplin akal hal itu. Sekalipun gadis itu terkenal dengan perangai yang tidak pantas disebut sebagai peragai seorang perempuan. Kelakuan gadis itu terkadang di luar dugaan. Dan itu cukup masuk akal mengapa Hyungwon tidak menyukainya. Tapi tidak mungkin bagi Rae untuk mengubah perangai yang telah melekat dengan jiwanya. Merubah sikap tidak semudah membalikkan telapak tangan. Merubah sikap juga tidak semudah membedakan air dengan sirup yang telah tercampur.

Gadis itu bisa memaklumi Sejin jika pada akhirnya Sejin akan terus menyembunyikan kenyataan tentang dirinya dan Hyungwon pada Rae. Bahkan sepertinya Sejin telah mengetahui perasaan terpendam Rae kepada Hyungwon.

Eonnie, ayo kita pergi. Mereka akan kembali” dan Rae hanya mampu menuruti perkataan Sejin tanpa penambahan kata-kata lain darinya.

Sejin membuka pintu ketika ketujuh pemuda itu terlihat lelah dan berkeringat. Sejin duduk di kursi rias yang mengarah ke sofa utama. Begitu juga dengan Rae yang berada di kursi rias sebelah kanan. Mereka meneguk air mineral yang diberikan oleh pihak penyelenggara dengan cepat. Cukup banyak tenaga yang terkuras serta lelah hari ini kian bertambah.

“Rae? Saat tampil, aku tidak mendengar sorakanmu” Kihyun berujar seraya meletakkan botol air mineral-nya. Rae menatap Kihyun aneh.

Changkyun pun turut berujar, “Iya noona, aku juga melihat noona tidak bergerak sama sekali. Aku melihat noona enggan untuk berkata dan menyahuti nama kami seperti dulu”. Kini seluruh pasang mata mengarah pada Rae. Rae meringis kecil sembari mencari alasan.

Ya! Kihyun! Mana mungkin kau bisa mengenali suaraku. Penggemar kalian memiliki pasokan suara yang lebih nyaring daripada aku. Dan Changkyun! Apa selama ini kau mengangumiku? Kau memperhatikan gerak-gerikku, pasti kau penggemar rahasia-ku ya?” dengan ekspresi yang mendukung serta perangai yang telah melekat, perkataan Rae sukses membuat kedua orang yang bertanya beralih pandang dengan cibiran pelan dari mulut masing-masing.

Dan yang lain terkekeh ketika mendengar argumen tersebut. Batin Rae bergetar, bahkan Hyungwon tidak menatapnya sama sekali. Hyungwon berada pada meja rias paling pojok yang selalu menjadi tempat kesukaannya. Setidaknya ia mampu menutupi suasana hatinya yang menangis daripada ia mengumbarnya dan membuat susah orang lain. Meski seorang Shin Wonho tahu benar mengenai tingkah Rae yang berubah saat ini.

“Oia, setelah ini kalian dapat kembali dorm dan tertidur nyenyak. Tidak ada jadwal yang cukup penting di hari selanjutnya. Kalian hanya akan mengunjungi sebuah acara amal bersama dengan Sistar sunbae”  ujar Sejin dengan polosnya.

Mendengar perkataan Sejin, ketujuh anggota mendegus lega. Jadwal mereka akan sedikit berkurang meski dalam keadaan comeback mini album terbaru. Rae melirik ke arah Hyungwon. Pemuda itu tengah memejamkan mata. Meski terlihat lelah, ketampanan Hyungwom seakan tidak pernah lelah untuk tampak dalam pandangan Rae. Demi apapun, Rae tidak bisa melepaskan pandangnya dari sosok Chae Hyungwon. Hyungwon benar-benar memikatnya, hingga ia tidak mampu membuka hati kepada pemuda lain.

Sekitar dua puluh  menit setelah mereka beristirahat dan berganti pakaian, mereka akan kembali ke dorm dan beristirahat. Sejin dan Rae menunggu di luar ruangan dengan sebuah masker yang siap digunakan ketika meninggalkan gedung dan bertemu dengan paparazzi. Sedangkan yang lain tengah mengemasi barang-barangnya.

Hyunwoo keluar terlebih dahulu, diikuti Changkyun dan Jooheon dengan topi hitam kebanggaan. Kihyun, dengan sebuah earphone dan kacamata hitam berada di belakang keduanya. Minhyuk, dengan masker bergambar memperlihatkan dirinya seperti salah satu tokoh dalam anime Tokyo Ghoul. Di susul dengan Wonho yang setia pada earphone dan ponsel-nya. Saat itulah Sejin berdampingan dengan Wonho yang telah ia anggap sebagai kakak sendiri. Dan terakhir, yang membuat Rae menunggu ialah Hyungwon. Tanpa menggunakan pelindung apapun, pemuda itu merajut langkah serta melupakan kehadiran Rae yang berada di belakangnya.

Rae mendegus pelan, pada akhirnya ia akan berjalan sendiri dan mengikuti yang lain seperti anak ayam dengan induknya. Rae menundukkan kepalanya, ia berjalan sembari menatap sepatu kets ungu kesukaan. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja pikirannya melayang entah kemana. Hingga ia tidak memperhatikan jalan dan ia tidak menyadari jika beberapa orang yang kesusahan membawa sebuah properti panggung berjalan ke arahnya.

Grep~

Saat itulah genggaman Hyungwon terasa. Rae menatap Hyungwon lamat, sedang Hyungwon menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Perhatikan saja jalanmu, jangan perhatikan yang lain”. Hyungwon berujar pelan dan kini mensejajarkan dirinya dengan langkah kecil Rae.

“Terima kasih…” Rae bergumam pelan, hampir tidak terdengar. Namun Hyungwon dapat mendengarnya dengan baik sehingga pemuda itu menoleh ke arah Rae dan tersenyum tipis.

“Tidak perlu mengucapkan terima kasih jika kau tidak ingin. Jangan memaksa, memaksa itu tidak baik” timpal Hyungwon seraya menenggelamkan tangan di kedua saku jaketnya. Rae tersenyum simpul ketika Hyungwon berbicara padanya. Setidaknya hatinya sedikit terobati di saat seperti ini.

“Kau memang mengerti, Chae Hyungwon…” Rae memperhatikan langkahnya dengan baik. Di samping-nya, Hyungwon tersenyum tipis.

“Kau sahabatku selama empat tahun, tidak mungkin aku tidak mengerti bagaimana sifatmu selama ini” pada kalimat tersebut, Rae harus menahan perihnya lagi. Bahkan seorang Chae Hyungwon tanpa ragu memberikan sebuah dedikat sahabat bagi Rae.

“Ya, benar Hyungwon… Empat tahun, tidak mungkin kau tidak mengerti bagaimana sifatku” gumam Rae dengan nada aneh. Hyungwon menatap sepatunya, kegiatan yang sebelumnya Rae lakukan. Hanya saja pikiran Hyungwon sangat baik, tidak seperti Rae.

“Berbicara tentang kebersamaan kita selama empat tahun, bagiku kau terlihat seperti Kim Myungsoo dari Infinite. Tapi tentu saja lebih tampan Kim Myungsoo” Hyungwon menoleh dengan sedikit antusias. Sedang Rae tengah membandingkan wajah Hyungwon yang sekarang dengan seorang Kim Myungsoo dari boygroup Infinite.

“Benarkah?” seru Hyungwon dengan ekspresi yang lebih baik dari sebelumnya.

Rae mengangguk mantap, “Dengan rambut hitam-mu ini, kau terlihat seperti Kim Myungsoo. Dibandingkan dengan rambut kecoklatanmu yang sangat ku benci itu”. Hyungwon menaikkan satu alisnya kala Rae berkata seperti itu.

“Mengapa?” tanya Hyungwon menghentikkan langkahnya. Rae ikut berhenti dan menatap Hyungwon sedikit bingung.

“Entahlah, hanya saja aku tidak menyukainya. Tidak sesuai dengan kepribadianmu, aku menyukai rambut hitam-mu ini. Aku tidak berbohong Hyungwon” Hyungwon kembali merajut langkah, begitu juga dengan Rae yang begitu senang berbicara dengan Hyungwon.

“Bagiku Rae, selama empat tahun ini aku tidak pernah melihatmu berkencan. Apa kau tidak merasa kesepian? Sendiri dan hanya bisa menyimpan rasa iri ataupun cemburu ketika melihat pasangan lain. Apa kau tidak ingin berkencan dengan salah satu orang di universitas atau, di sekitar rumah-mu?” pertanyaan seorang Chae Hyungwon tidak pernah Rae bayangkan. Seorang Chae Hyungwon bertanya hal seperti itu kepada Rae. Apa yang gadis itu dengarkan benar-benar dari mulut seorang Chae Hyungwon?

“Hyungwon, kenapa kau bertanya seperti itu?” Rae berujar pelan. Ia menatap wajah tampan Hyungwon yang telah dihiasi oleh kacamata hitam.

“Menurutmu? Mengapa aku bertanya seperti itu?” rasanya Rae ingin melemparkan sesuatu ke kepala Hyungwon. Seharusnya ia mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan, namun yang ia dapat ialah pertanyaan atas pertanyaan. Hyungwon memang cukup pandai untuk membuat Rae kesal dalam sekejap.

“Hyungwon, aku serius…” nada bicara Rae naik satu oktaf dari sebelumnya. Hyungwon menoleh ke arah Rae dengan tatapan menghunus di balik kacamata hitamnya.

“Aku juga serius Rae…” Hyungwon mengenakan masker dan memasangkan earphone-nya. Rae yang tidak mengerti ikut mengenakan masker dan penutup kepala-nya. Gadis itu harus bergumul dengan para penggemar dan paparazzi, setidaknya hanya cara itu yang bisa ia lakukan agar pulang dengan selamat.

Keesokan harinya, Rae membiarkan ponselnya berdering selama beberapa kali. Dengan nama seorang ‘Chae Hyungwon’ yang mendominasi, setelah panggilan Sejin sebanyak tiga kali. Rae memandang keluar dari balkon kamarnya. Seharusnya ia ikut bersama Sejin untuk menemani anggota Monsta X dalam menghadiri acara amal. Namun ia mengurungkan niatnya. Setelah percakapannya dengan Hyungwon semalam, gadis itu benar-benar enggan untuk sekedar melirik Hyungwon kali ini.

Rae mengerti mengapa Hyungwon bertanya padanya tentang berkencan dengan seseorang. Terdapat sebuah pesan dalam perkataan Hyungwon serta mimik wajahnya telah menunjukkan semuanya.

Hyungwon mengetahui perihal Rae menyukainya.

Hal tersebut yang mendorong seorang Chae Hyungwon utnuk berkata sedemikian. Rae tidak tahu harus berkata apa. Bahkan setelah menyadari perkataan Hyungwon dalam kamarnya selamam, hati Rae serasa sakit dan kecewa. Entah mengapa, ingin rasanya Rae membunuh Hyungwon saat ini juga dan membiarkan mayatnya berada di jalanan. Rasa benci menggelayuti benak Rae sejak ia menyadari arti dari perkataan Hyungwon.

Meski terjadi sebuah perang batin.

Tidak mungkin bagi Rae untuk mencari pengganti seorang Chae Hyungwon. Tidak mungkin juga bagi Rae untuk menerima Wonho ke dalam hatinya. Hatinya telah tertutup rapat bagi Wonho, dan hanya terbuka lebar bagi Hyungwon.

Memikirkan hal tersebut semalaman membuat Rae tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan rasanya gadis itu ingin mengakiri hidupnya dan berdelusi jika Hyungwon akan datang kemudian menyelamatnya serta menyatakan cinta kepadanya. Di saat putus asa seperti itu, Rae masih saja berdelusi aneh mengenai Hyungwon.

Lantaran membuktikan jika gadis itu tidak bisa hidup tanpa Hyungwon, pikirannya telah terpenuhi dengan adanya kehadiran Chae Hyungwon.

“Rae! Cepat bawa barang-barangmu ke bawah, pesawat akan lepas landas dua puluh menit lagi. Kita harus pergi ke bandara!” suara sang ibu memecah lamunannya. Gadis itu menghembuskan napas pelan seraya berjalan ke arah koper bawaannya.

Sebelumnya, gadis itu meletakkan sebuah kertas pada meja rias-nya. Dan tidak lupa, Rae mengabadikan suasana kamar kesayangannya tersebut melalui kamera ponselnya. Sebuah ruangan yang telah menjadi tempat berlabuhnya dalam suasana apapun, Rae tidak akan melupakan kamar kesayangannya ini.

Setelah merasa cukup puas, gadis itu membawa kopernya dan bersiap untuk pergi ke bandara. Hari ini, ia akan pindah ke Paris dan merajut profesi baru sebagai seorang model. Keinginannya sejak kecil, menjadi seorang model yang akan dikenal di seluruh dunia. Ponselnya berdering kembali, nama Hyungwon tidak bosan-bosannya tertera di layar persegi panjang itu. Lagi-lagi, Rae tidak menjawab dan enggan untuk menyentuh ponselnya setelah menenggelamkannya pada tas ransel.

Gadis itu memasang earphone-nya dengan volume keras setelah memasuki mobil. Dengan mata terpejam gadis itu menggumamkan nama Hyungwon dalam hatinya. Berharap Hyungwon akan datang dan mencegah kepindahannya ini. Namun lagi-lagi, Rae harus menepis hal tersebut dari pikirannya karena tidak akan terjadi.

“Chae Hyungwon… Rasanya aku tidak lebih dari sekedar bayangan…”

“Aku hanya mampu mengikutimu tanpa berani melakukan apapun, dan kau tidak menyadari keberadaanku selama ini. Begitu juga dengan perasaanku yang kau anggap sebagai bayang-bayang kesedihan atas diriku…”

END

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

4 thoughts on “[MONSTAX FF FREELANCE] Shadow – Oneshot”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s