[One Year With…] I’m Grateful

28. Angelina Park - I’m Grateful

Angelina Park ©2016 Present

[One Year with Wonho] I’m Grateful

Im Changkyun/I.M & Shin Hoseok/Wonho (Monsta X) | Family | G | Vignette

0o0

 

Menulis di atas putih saat bulan mengintip di balik jendela. Meski yang aku rasakan hanyalah perih, tetap saja senyum syukur selalu kuperlihatkan walaupun tak ada orang lain yang melihat. Ruangan hening yang cukup sesuai denganku, karena aku memang tak terlalu menyukai riuh.

Goresan tinta hitam di atas kertas, aku menerawang masa lalu dengan berbagai rasa yang singgah di dada. Menjejaki benak ketika masa silam, entah senang atau sedih bahkan frustrasi sekalipun, aku patut bersyukur lantaran bumi masih menahanku dalam pelukan hangatnya.

Menceritakan segala apa yang mungkin tak bisa kukatakan hanya dengan gerak tangan yang bermain dalam pola tulisan. Betapa bahagia aku sekarang ini padahal kematian bisa saja datang saat itu. Ketika aku terlampau bodoh untuk menyadari situasi dan lebih mementingkan ego pribadi. Ketika aku lupa akan bagaimana bisa aku lahir di dunia ini.

Saat salju pertama turun memantul dalam bulatan netraku. Kuingat Ibu datang dengan dua kantung belanjaan dan senyum merekah di bibir ranumnya. Tampaknya ada yang membuatnya merasakan kebahagiaan, membuatku merasakan perasaan hangat karenanya.

            “Changkyun-ah, hari ini Ibu akan memasak makanan kesukaanmu.”

Masih terbayang jelas wajah bahagianya, tangan lembutnya yang mengusap kepalaku walau tingginya hanya kisaran bahuku. Gadis kecil yang beruntung karena telah menjadi ibu dari seorang malaikat, itulah yang selalu ia katakan padaku.

Duduk di hadapannya yang tengah memasak menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Senandung yang ia nyanyikan dengan suara merdu warisan dari Kakek membuatku hanyut dalam tenang. Selalu seperti itu, ia adalah wanita terhebat yang kumiliki.

Oh, bisakah kau tolong bukakan pintunya?”

            “Memangnya siapa yang datang, Bu?”

Entah bagaimana bisa terjadi, tapi aku menemukannya berdiri di depan rumah kami begitu aku membuka pintu. Agak aneh, memang. Tapi aku tetap tersenyum seperti teman yang merindukan kawan lama.

“Oh, Wonho Hyung?”

            “Changkyun?”

Sungguh lucu, memang. Aku membiarkannya masuk saat itu, bertemu wajah dengan ibuku dan mereka bercakap-cakap seru walau aku tak tahu apa topik yang sedang dibicarakan. Yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana bisa Wonho Hyung datang ke rumahku dan dekat dengan ibuku. Ia hanyalah seniorku saat kuliah, lalu bagaimana bisa?

“Wonho adalah rekan bisnis Ibu.”

Ada sebuah perasaan aneh yang kurasa. Tak lantas begitu saja aku percaya entah mengapa. Aku yakin ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dariku. Aku tak tahu, tapi pastinya aku akan mencari tahu nanti. Cepat atau lambat aku akan mengetahui segalanya, aku yakin itu.

Karena Tuhan tidak pernah tidur, begitu pula aku yang terus menjadi tak tenang sehingga berbuat nekat dengan sendirinya. Sampai pernah suatu hari di bulan Januari. Aku mendengar semuanya, bahkan aku melihat semuanya. Ketika Wonho Hyung melamar ibuku, dengan cinta yang tersirat dalam tiap perkataannya, menciumnya dengan wajah yang menggambarkan cinta.

Aku tak tahu lagi. Benar-benar tak tahu lagi bagaimana menanggapi itu semua. Kalut, tentu saja. Anak mana yang bisa percaya bahwa ibunya menyukai seorang pria yang jauh lebih muda darinya? Aku menggelapkan hatiku sendiri. Sungguh, bukan maksudku namun memang begitulah adanya.

Changkyun-ah, Ibu bisa jelaskan―”

            “Aku tak pernah meminta untuk dilahirkan oleh wanita murahan sepertimu!”

Iya, aku tahu bahwa aku lahir bukan atas dasar cinta. Aku hanya anak malang yang beruntung memilikinya sebagai sosok Ibu. Tapi aku tak perlu memikirkan itu di saat marah, tentu saja. Hakku untuk marah padanya, karena aku tak ingin masa lalu mengerikan itu terulang lagi pada ibuku.

“Changkyun, dengarkan aku dulu―”

            “Apa? Aku tak peduli dengan apa yang ibuku berikan padamu sampai kau tergila-gila padanya!”

Yang bisa kulakukan hanya berlari dalam hening. Tak memedulikan bintang yang membisikkan berapa banyak tetes air mata ibuku yang jatuh memijak bumi, juga tak menghiraukan sinar bulan yang membujukku untuk pulang ke rumah dan memeluknya seperti anak kecil tak berdosa.

Wanita itu sungguh keterlaluan, memang sangat keterlaluan.

“Changkyun!”

Menoleh ke belakang adalah hal nomor satu yang kuhindari. Aku tak pernah sudi mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Aku tak pernah mau memiliki seorang ayah. Berdua saja lebih baik bagiku, karena akulah yang akan menjaga Ibu.

“Aku akan menikah dengan ibumu!”

            BRAK!

“Hei, kau sudah sadar?”

Oh, rupanya aku melamun sedari tadi. Ah, sampai mana aku menulis? Sepertinya aku harus melanjutkannya nanti. Kini kualihkan pandanganku padanya yang masih tampak mengantuk. Kutebak bahwa ia tidak tidur semalaman karena menungguiku setelah operasi pemulihan tulang keempatku. Operasi yang terakhir, kuharap.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?”

Baru kusadari senyumannya sangat manis saat ini. Mungkin inilah yang membuat Ibu selalu nyaman bersamanya, menatap wajahnya dengan cinta.

“Ah, tadinya aku ingin membangunkanmu, tapi rasanya tidak enak.”

Ia berdiri lalu mengambil meja kecil yang telah terdapat makanan di atasnya. Makanan untukku, sepertinya. Mungkin karena aku tertidur jadinya aku melewatkan jam makan malamku. “Ini, tak ada kata terlambat untuk makan malam, kan?” katanya sembari menata mejanya di hadapanku.

Aku hanya mengangguk lalu mulai menyendoki bubur itu ke dalam mulutku. Rasanya memang tidak enak, tapi aku tetap harus meminum obatku. Berharap agar makanan ini cepat habis, aku hanya terdiam sembari terus menyendokkan buburnya tanpa repot-repot mengunyah dan merasakan rasanya.

“Kemarin ibumu datang, ia yang menungguimu semalaman sampai proyek mendadak itu mengharuskannya pergi lagi paginya.”

Wonho Hyung terus berbicara, sementara aku hanya terdiam mendengarkannya. Aku tahu Ibu adalah wanita yang sibuk, dan aku selalu memaklumi hal itu.

“Aku senang keadaanmu sudah membaik,” ucapnya lalu memegang lenganku, membuatku urung untuk kembali memasukkan makanan ke dalam mulutku. Kami bertatapan secara tak sengaja, dan aku tahu bahwa matanya memancarkan ketulusan.

Tak lama ponselnya berdering, dan kami menjadi aneh satu sama lain. “Ibumu, sebentar kuangkat dulu―”

Kugenggam tangannya, menghentikannya untuk bangkit dari duduknya. Benar, sudah kubulatkan tekadku kali ini. Aku ingin agar ibuku bahagia, karena ia telah membuatku bahagia di sepanjang hidupku. Maka kuambil buku diariku―dokter yang menyarankan agar aku memiliki buku diari―dan menulis sebuah kalimat di sana lantas kuberikan padanya.

 

Menikahlah dengan ibuku.

 

Sepertinya ia tak percaya denganku, buktinya ia hanya menatapku dan terdiam cukup lama. Harus kuakui wajahnya memang tampan jika sedang diam seperti itu.

“Kau yakin tidak salah tulis?”

Hanya satu gelengan sebagai jawabanku, hingga selanjutnya ia memelukku dengan erat, mengucapkan terima kasih berkali-kali dan berjanji akan selalu menyayangi Ibu juga menjagaku seperti anaknya sendiri.

Hehe, agak menggelikan memang, tapi perasaanku kembali hangat seperti beberapa bulan sebelumnya.

Ya, hanya perlu menjalani satu terapi syok dengan rajin untuk memulihkan pita suaraku pasca kecelakaan, dan aku akan bisa tersenyum lebih cerah lagi di hadapannya sembari mengatakan hal yang paling kuinginkan agar ia mendengarnya.

Terima kasih telah berniat untuk membahagiakan ibuku, dan terima kasih telah menungguku sampai turunnya lagi salju pertama seperti saat pertama kita bertemu.

 

FIN

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

1 thought on “[One Year With…] I’m Grateful”

  1. HWALOOO KU NADA/MINS #98
    NICE TO KNOW YOUU

    baguuuuuussss buangeeettt. Bhasanya master sekaliiii…. Bkin addict :”””)))
    Ceritanya jg unexpected tapi menakjubkannn :”””)))

    SEMNGAT NULIS TERUUUSSSS sampa spicles ini :””)))))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s