[One Year With…] One Love

29. Zen ah - ONE LOVE

One Year with Your Love, One Year without Your Heart

 

Title                  : One Love

Pen name         : zen ah

ID LINE          : zen_purwaningtyas

Cast                 : Kihyun as Nathan

Zen

Farel

And yourself (Amore)

Genre               : Comedy-romance

Lenght              : Oneshot

Rating               : Decided by your own

Author note      : Mungkin isinya gila dan tak masuk akal tapi boleh jadi kamu mungkin melakukan hal semacam ini jika bertemu dengan bias wkwkwk

 

 

 

“KIHYUN oppa!” panggilku dengan keras. Kihyun segera menoleh dan mengangkat kedua alisnya pertanda mengajukan pertanyaan ‘ada apa?’ kepadaku. Aku berlari cepat-cepat ke arahnya. Cup. Sebuah ciuman kilat mendarat tanpa sengaja di bibirnya. Dari bibirku.

 

————————————————————————————————————–

 

“Eomma, masih berapa lama lagi kita harus berjalan memutari pasar ini?” gerutuku sedikit manja. Sudah satu jam aku menemani eommaku berbelanja di pasar. Sebuah pasar tradisional di pinggir keramaian kota tempat tinggalku. Sungguh! Aku benar-benar tak mengerti kota ini. Menghafal namanya saja sulit. Belum lagi kota ini berada di negeri orang. Sungguh menyebalkan! Aku sulit memahami bagaimana orang-orang disini berbicara.

 

“Tunggu sampai kita menemukan sawi putih!” kata eomma ke arahku. Dia menoleh dengan sangat cepat, namun aku dapat merekam raut muka pantang menyerahnya. Aku hanya bisa memutar bola mata dan mendesah keras, berharap eommaku mendengar ungkapan rasa lelahku.

 

Mataku berbinar ketika eomma tiba-tiba berhenti disebuah stand dan memegang beberapa buah sawi. Ia mengamati, menimbang, dan memperkirakan keadaan sawi yang dibawa dikedua tangannya dengan sangat cermat. “Berapa sawi yang ini?” tanyanya dalam bahasa asing yang tak dapat aku mengerti. Aku hanya dapat mengacuhkan kegiatan eomma. Mengerti bahasanya saja aku tak bisa. Tunggu saja setelah eomma selesai berurusan dengan penjual sawi itu baru aku akan bertanya kepadanya, “Tadi bilang apa aja mah?”

 

Aku bosan menunggu eomma menimbang-nimbang hanya untuk memutuskan sebuah sawi. Setengah mati aku menyapukan pandanganku ke seluruh pasar dan mendapati sebuah stand dilengkapi dengan fasilitas televisi. Seridaknya menonton tayangan TV bisa membunuh rasa bosanku. Walaupun hanya dari kejauhan dengan ekspresi muka merana dan sangat butuh hiburan.

 

“Terlalu banyak grup rookies ya zaman sekarang. Tak habis pikir grup idolku yang sudah lama aku dukung jadi kuduakan gara-gara ada hati yang lain” pikirku sok puitis kala itu. Tayangan yang aku tonton memang sedang menampilkan showcase idol grup rookie baru yang sedang hot saat ini.

 

“Amore!”

“Ne eomma?!” jawabku cepat. Aku segera menoleh ke belakang, namun apalah daya pandanganku segera terpaku.

Eommaku mengatakan sesuatu “hasiahblah blah blah blah blah blah”

“Ki- Ki- Kihyun oppa?!” teriakku sangat keras. “Jinjja?!!”

Seorang pria di depanku menoleh dengan pandangan aneh. Aku mendekatinya dengan cepat. Melihatnya dari atas sampai ke bawah. “It’s you? Really? Kihyun oppa?” Mata coklatku berbinar cerah.

“Nuguseyo?” jawabnya bingung.

“I’m your fans.. YOUR FANS.” tegasku.

“Ah..” dia menganggukkan kepala tanda mengerti.

 

Mataku semakin berbinar. Aku melihatnya mengangguk dan tersenyum sebelum ia kembali mengobrol dengan penjual ikan di depannya. Wajahnya itu begitu dekat. Omo! Aku melihat hidungnya.. Pipinya… Matanya… Bibirnya yang seksi itu..

 

“Gamsahamnida” ia mengangguk dengan hikmat kepada penjual ikan dan beranjak pergi.

“Kihyun oppa” panggilku dengan keras. Pria itu menoleh ke arahku dan mengangkat kedua alisnya seolah menanyakan “ada apa?” kepadaku. Aku berlari cepat ke arahnya dan CUP. Bibirku menyentuh bibirnya?

 

*ttak* “Yak pabo”

Puncak kepalaku terasa sakit, seperti ada yang mumukulku tiba-tiba. Punggungku terasa terdorong dengan tiba-tiba, seperti ada yang mendorongku dari belakang hingga aku membungkuk. “Mianhae jeongmal mianhae.. Maafkan anakku yang tak punya sopan santun ini. Maaf” kata seorang wanita dewasa dalam bahasa asing. Aku menoleh cepat, kemudian melotot tiba-tiba. EOMMA?!!!

 

“Apa yang aku lakukan?!” desahku. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Eomma berhasil memilih sebuah sawi putih segar yang kini tengah kubawa.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan itu bodoh dan memalukan!” eomma berbicara seperti kereta -_- “Sudah dicium, bukan idol pula. Rugi tau!” tambahnya.

“Yak eomma! Pria itu mirip idol favoritku. Mana aku tahu jika ternyata dia orang asing.” Aku mendesah dengan sangat berat. “Bisa-bisanya eomma bilang rugi,” keluhku. “Kenapa anakmu ini kau ajari bertindak hal bodoh yang tak patut dipertontonkan. Hah~” Aku memutar bola mata.

 

“Amore ya!!!”

Aku mendengar suara seseorang memanggilku. Segera aku menyapukan pandanganku ke seluruh penjuru pasar hingga akhirnya kudapati sesosok pria yang tak asing dibenakku. Kihyun oppa? Bernarkah? Jangan-jangan dia orang yang sama masih mempermasalahkan hal yang tadi. Oh tidak! Jangan-jangan aku dianggap cabul, lalu dia akan menuntuku ke pengadilan! Tidaaakkk!!!

Mataku melotot. Mungkin dia melihatnya. Aku sedikit takut, namun kuberanikan diri dan mencoba menjawab panggilannya “Nn-nde?”

“Kau masih ingat aku?” tanyanya sambil terengah.

“Bukankah kau orang yang tadi?” jawabku ragu. Dia begitu mirip dengan Kihyun. Bagaimana bisa dia bukan Kihyun?!

“Iya benar. Tapi apakah kau tak ingat siapa aku sebelumnya?” tanyanya meyakinkanku kembali. Aku tak ingat pernah memiliki teman yang mirip dengan idol favoriteku, kecuali Nam Woohyun. Salah satu teman dekatku mirip dengannya. Aku hanya bisa menggeleng.

“Aku Nathan” jelasnya.

“Na-than?” aku terbata bagaimana bisa?

Bagaimana bisa aku tiba-tiba lupa dengannya?!

 

——————————————————————————————————————–

 

Setahun yang lalu kami berpisah. Sangat memilukan kala itu. Aku dan Nathan sempat mengalami percekcokan hebat. Kami telah saling mengenal semenjak SMA dan kami terlibat hubungan yang amat sangat dekat hingga akhirnya kami berpisah.

 

Perpisahan kami bermula ketika kami merayakan first anniversary kami di rumahku. Malam itu Nathan datang ke rumahku dan aku mengajaknya mengobrol di taman belakang rumah. Aku telah menyiapkan banyak hal termasuk semua perlengkapan pesta Barbeque. Tak lupa aku mengundang adikku Zen dan kekasihnya, Farel. Hanya kita berempat memang, namun suasana yang tercipta sangat lebih dari seru dan menyenangkan hingga membuat kami tertawa dan saling memukul manja.

 

Aku membakar daging bersama Zen kala itu. Nathan mendekati kami dan berkata dengan cerianya, “Zen pasti capek dan kepanasan, bagaimana kalau kakak gantiin bakar dagingnya?” Zen melihatnya dan tetawa geli. “Huu… Modusmu saja kak!” Kemudian ia menjulurkan pencupit dagingnya kepada Nathan, “Nih” katanya sebelum pergi membantu Farel menyiapkan piring dan segala macamnya.

 

“Kenapa Zen yang digantiin? Harusnya aku dong,” protesku. Nathan tertawa. “Kalau aku gantiin kamu berarti aku PDKT-in Zen nih. Kamu ngga protes kalau aku nikung Farel?” jelasnya.

“Paling cuman aku serang pakai chidori kamu,” jawabku sembari memiringkan bibir.

Nathan tiba-tiba memelukku dari belakang. “Amore ya~” katanya dengan logat Korea. “Yak pabo!” Kataku sambil memukulnya. “Dasar mesum!!!” kataku sambil memukulnya lebih keras.

 

Nathan memang keturunan asli dari ayah dan ibu berkebangsaan Korea. Namun ketika ayahnya harus merintis bisnisnya di Indonesia, ia pun menjalani kehidupannya di Indonesia sejak ia berumur 7 tahun. Kini ia telah fasih berbahasa Indonesia tanpa melupakan bahasa ibunya. Jika kau ingin mengerti seperti apa wajahnya, ia terlihat ‘sedikit’ mirip dengan Nam Woohyun INFINITE, tapi mungkin suatu saat akan ada idol yang sangat mirip dengannya atau bahkan mungkin dia yang akan menjadi idol suatu saat nanti?

 

Nathan masih belum melepas pelukannya untuk beberapa menit. Aku menggertakan pencupitku di depan matanya. “Amore ya~” ulanginya lagi. Aku masih menatapnya saat itu. “Enng?” jawabku ke arahnya. “Apa yang akan kau lakukan setelah lulus SMA?” tanyanya. Aku melepas pelukannya dengan tanganku sendiri. Namun ikatan tangannya terlalu kuat. Aku memutar kedua bola mataku. “Apa kau akan tetap kuliah di Indonesia?” sambungnya. Aku menatap langit. Hitam, indah dan berkilau. Namun aku membayangkan masa depanku. Aku tidak benar-benar berharap akan terus bersama Nathan. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain. Kita tidak boleh terlalu berharap kepada manusia, bukan. “Aku ingin ke Jepang. Tapi ngga harus juga sih. Kita lihat aja dulu kedua jalur yang aku lalui bisa membawaku masuk ke universitas negeri harapanku atau tidak,” jawabku. “Aku tak masalah jika harus berhenti satu tahun atau terjadi kendala lain untuk tahun ini. Aku akan mencari jalan keluarnya.”

 

Nathan melepas pelukannya. “Kendala seperti apa yang kau maksud?” Ia menatapku. Aku memandang ke arahnya. “Entahlah. Mungkin sesuatu yang belum aku pikirkan.” Nathan mencupit sebuah daging dan menaruhnya di atas panggangan, membalik daging di sebelahnya, kemudian menatapku kembali. “Bagaimana jika aku meneruskan kuliah ke Korea? Apakah itu termasuk kendala?” Aku memandangnya, sontak aku berniat bercanda dan memukulnya. “Hei ayolah. Kita berhak memilih jalan kita masing-masing.” Aku tertawa. “Kau anggap ini lucu?” Nathan memandangku tajam.

 

Aku tak habis pikir dia akan memasukkannya ke dalam hati. Aku hanya berniat bercanda, tapi apa reaksi yang ia tunjukkan sekarang?

 

Aku memiringkan muka dan memandangnya bingung. “Kau? Marah?” Aku menaikkan rautan kulit di atas dahiku. “Apa yang salah denganku?” Nathan memandangku serius. “Dengar Amore! Aku tak ingin jauh darimu. Aku ingin kita tetap bersama seperti ini. Bagaimana bisa kau memberikan jawaban seolah kau tak masalah jauh dariku? Apakah kita ini bukan sepasang kekasih selama ini?” Aku menghela napas. “Bukan begitu.. aku tidak masalah kita berpacaran. Namun bukan berarti kita harus selalu menghabiskan waktu bersama.” Nathan mengerutkan dahinya.

 

Tatapan mata Nathan semakin tajam. “Apa maksud kalimatmu tadi?” katanya sembari tersenyum pahit. “Kau benar-benar cuek ya… sampai kapan kau tidak akan merubah sifatmu itu?” Aku melotot ke arahnya. “Yak! Kenapa kau bawa-bawa sifatku hah?” kataku menyolot dengan spontan. Oh ya ampun! Aku tak bermaksud~ aarrgghh. “Dengar Amore… Aku mengerti maksudmu tapi aku dalam keadaan kalut sekarang. Aku harus berangkat ke Korea besok. Aku sudah merayu ayahku untuk mengulur waktu keberangkatannya, tapi dia tak memberikan respon lain selain ‘kita tetap harus berangkat besok’! Bahkan aku sudah berencana untuk kabur dari rumah bersamamu tapi setelah kupikir hal itu pasti sangat konyol. Aku memutuskan untuk tetap ikut dengannya karena aku mengerti kau pasti akan merasa tak masalah kalau harus jauh dariku. Tapi apa kau siap jika suatu saat nanti kita lost contact? Semuanya tidak akan menjadi masalah jika pada akhirnya kita akan dipertemukan lagi. Namun bagaimana jika ternyata kita berpisah dalam waktu yang lama. Aku sudah mencium kemungkinan lost contact. Aku tak mau semuanya menjadi rumit dengan kau berpindah rumah atau yang lainnya. Aku ingin kita tetap bersama. Bertunangan denganmu mungkin lebih baik. Aku merasa kita bisa saling melengkapi. Tapi apakah mungkin kita bertunangan malam ini? Aku tak ingin memberikan hal yang semu tapi aku juga tak ingin kehilangan kamu. Jadi aku berharap kamu bersedia menungguku seperti halnya aku mencari jalan untuk bertemu denganmu.”

 

Nathan berasal dari keluarga kaya. Ayahnya seorang pengusaha hebat, namun beliau sangat tegas. Tak ada seorang pun yang berani menentangnya, termasuk Nathan. Karena ayahnya akan melakuakan segala hal untuk mencegahnya berbuat hal diluar rencana.

 

Aku tak mengerti mengapa aku meneteskan air mata. Memang tak masalah bagiku. Tapi sangat sulit bagiku berpisah dengannya terlalu lama tanpa kejelasan kabar. Aku memeluknya erat dengan spontan. “Jangan tersakiti dengan jawabannya. Sekalipun aku tak masalah, namun aku tetap merasa sedih. Bukannya aku tak mau bertunangan denganmu sekarang, namun aku tak mau berhadapan dengan hal yang semu dan tak tahu seperti apa kejelasannya.” Aku menatapnya dan memeluknya lebih erat. Nathan mengelus kepalaku. “Maafkan aku Amore.” Aku terisak, “Tidak… akulah yang harus minta maaf. Seharusnya aku tahu lebih awal jika kau mungkin akan kembali ke negeri asalmu.” Nathan mendesah, “Sudahlah… Kau yang biasanya kasar ternyata bisa menangis ya.”

 

——————————————————————————————————————-

 

Aku tak menyangka akan bertemu dengannya seperti ini. Sangat konyol. Sangat memalukan. Dan sangat tidak romantis. Air mataku tiba-tiba saja menetes. Aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat. “Yak pabo! Yak kemana saja kau selama ini hah! Kenapa kau tak menghubungiku hah! Pabo!” Aku memukulnya berulang kali. Dia tertawa. “Sudah satu tahun ya semenjak first anniv. Bagaimana kabarmu Amore? Bagaimana kau bisa disini? Apa kau senang mencium idol favoritemu? Apa kau belum punya pacar? Atau malah sudah? Bagaimana jika pacarmu marah hah?” godanya. Aku menatapnya dan tertawa. Dia tersenyum. “Kau dan ibumu pasti lapar. Ayo kutraktir. Kau harus menceritakan semuanya padaku.” Dia menarik lenganku dan mengajakku ke arah ibuku yang sudah terpaku sedari tadi. “Jadi kau memutuskan untuk berkuliah disini?” Aku mengikuti langkahnya “Enng. Aku akan cerita semuanya saat di cafe. Ibuku pasti akan membantuku cerita.” Ia menatapku dan tertawa. “Dasar kau!” Dan kami tertawa bersama.

 

THE END

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s