[Shownu’s Birthday] Shocked


Shocked
A fiction by bebhmuach (@bebh_muach)

 

[MONSTA X] Son Hyunwoo || [Acu’s OC] Lee Jooyeon || Ficlet (1500+ words) || Friendship, little bit Romance, Angst (maybe) || PG

 

Maaf untuk typo, HAPPY READING^^

 

 Meski terdengar gila, tetapi Jooyeon akhirnya mengerti siapa gadis yang ditaksir Hyunwoo.

 

©2016 bebhmuach

 

Sial sekali hidup Jooyeon.

 

Sudah dua jam membuang waktu sia-sia hanya demi menunggu kemunculan Hyunwoo—yang sampai detik ini ponselnya malah sulit dihubungi. Jooyeon duduk bertopang dagu, ketukan jemarinya masih mengirama konsisten.

Mencipta gemeletuk rendah akibat gesekan kuku bercat merah dengan meja dekat jendela kedai kopi The Latté—tempat favoritnya sekedar nongkrong bersama Hyunwoo.

Omong-omong tentang kopi sebenarnya Jooyeon bukan penyuka minuman berkafein, tetapi tak menolak jika Hyunwoo mengajaknya ke sini. Lagipula di sini menawarkan pisang goreng berbalut tepung crispy dengan lelehan cokelat menggiurkan diatasnya dan itu sangat enak, sungguh. Tapi jika dipikir-pikir pisang goreng crispy, kopi dan Hyunwoo adalah kolaborasi yang sempurna—bagi Jooyeon.

 

Jooyeon terlampau bosan. Kentara dari kelopak matanya yang berkedip tak beraturan, serta kuapan lebar akibat kantuk yang mulai menggodanya, entah sudah berapa kali matanya menilik ke arah Alexandre Christie miliknya—pemberian Hyunwoo saat ulang tahunnya sebulan lalu—dan lagi-lagi Jooyeon hanya bisa meretaskan karbondioksida kasar. Jelas-jelas menunggu bukan salah satu dari deretan daftar keahliannya.

Yang lebih menyebalkan dari semua ketidaknyamanan itu, kini kopi dan camilan favoritnya sudah dingin.

 

“Sial! Kau mengerjaiku, huh? Lihat saja nanti, brengsek!”

 

Abaikan saja sebaris desisan tajam yang keluar dari bibir tipis Jooyeon. Sejujurnya, gadis itu bahkan telah mengumpat dengan serapah yang lebih mengerikan di dalam hatinya. Yah, hanya dalam hati, sih. Lagipula Lee Jooyeon tidak berniat membuat harga dirinya runtuh dan tercecer di sini, mengingat kondisi kedai yang lumayan didatangi para pelanggan.

 

“Tidak baik jika seorang gadis berbicara kasar.”

 

Sepasang matanya sontak melirik ke arah samping, di mana pemuda tegap itu muncul secara tiba-tiba. Wajahnya tenang dan santai, tak tertinggal cengiran lebar juga satu kerlingan menggoda yang bersembunyi di balik kaca mata hitamnya itu. Sikap tubuhnya tak menunjukkan penyesalan atau apapun yang bisa membuat sang gadis sedikit lebih tenang.

 

Lihat, kan? Lelaki ini memang benar-benar sudah bosan hidup rupanya.

 

Pemuda itu menghempaskan diri pada bangku kosong berhadapan dengan Jooyeon. Melepaskan kacamata dan lantas menyambar kopi milik gadis itu.

 

Ah, dingin.”

 

“Kopi itu kupesan dua jam lalu. Tentu saja sudah dingin. Kemana ponselmu? Dua jamku habis menunggumu. Pantatku menipis, tahu!”

 

“Ya ampun, Joo. Kautahu aku biasanya tepat waktu. Hanya sekali terlambat mengapa responmu berlebihan? Oh ya, omong-omong ponselku mati.” Tanpa ingin menjelaskan lebih, Hyunwoo langsung melahap camilan yang terhidang di atas meja bundar berpelitur cokelat itu.

 

Melihat Hyunwoo yang sudah asyik dengan kegiatannya, Jooyeon memilih diam. Kini kedua matanya serta merta bergulir ke sembarang arah, kemana pun asal tidak beradu pandang dengan Hyunwoo-yang-tak-pernah-kalah-debat-itu.

 

“Terlalu banyak marah-marah bisa membuat wajahmu dipenuhi keriput, tahu! Santailah, toh aku sudah datang, kan?” oceh Hyunwoo di sela kegiatan mengunyah pisang gorengnya.

 

Jooyeon mendengus, tak ingin menjawab. Detik berikutnya, terbesit pemikiran untuk menanyakan sesuatu yang sudah bersemayam di dalam kepalanya beberapa waktu belakangan. Bicara pertemuan mereka kali ini, didasari permintaan Hyunwoo yang menelpon bahwasanya ada yang perlu mereka bicarakan empat mata dan tidak bisa ditunda. Selama dua tahun mengenal pemuda yang berlabel Son Hyunwoo itu, kuriositas Jooyeon tak pernah sekali pun muncul ke permukaan.

Well, he always told everything to her. Tetapi lucunya, kala Hyunwoo memasang embel-embel ‘aku naksir seorang gadis’, entah kenapa rasa keingintahuan Jooyeon tergelitik.

 

“Jadi, siapa gadis malang yang kautaksir itu?”

 

Tuk!

 

Tanpa kata, Hyunwoo langsung memukulkan kepala sendoknya ke dahi si gadis. Jooyeon meringis seraya memegangi keningnya.

 

Ah, kau jorok!” Jooyeon mengumpat lantaran tahu beberapa saat sebelum digunakan untuk memukul dahinya sempat terkulum sempurna di dalam mulut Hyunwoo (ew).

 

“Bagaimana ada lelaki yang bisa menyukaimu kalau sikapmu selalu seperti ini, eoh?”

 

“Jangan pikirkan urusan orang lain. Lebih baik kau urusi gadis yang bernasib malang itu.”

 

“Setidaknya gadis malang itu disukai oleh seorang pemuda. Daripada gadis dihadapanku yang kerjanya hanya menggerutu tapi belum pernah sama sekali menyukai apalagi disukai pemuda.”

 

Seharusnya Jooyeon datang ke sini untuk mendengarkan curhatan sang karib, tetapi yang ia dapat malah kalimat sarkasme dan membuatnya ingin sekali menghantamkan bola kepala pemuda bermata sipit itu ke dinding. Namun Minggu Jooyeon setidaknya terisi kegiatan yang lebih menyenangkan, daripada memilih untuk menghabiskannya di rumah bersama si sulung Lee. Jooheon hanya akan membuat hari-harinya semakin rusak dengan melontarkan berbagai perintah; dari mulai mencarikan handuknya yang padahal tertata rapi di dalam lemari, mengambilkan sepatu, membuatkan ramyun, atau yang lebih menyebalkan pemuda dengan lesung pipi itu meminta Jooyeon menggaruk punggungnya yang gatal.

Pokoknya, Jooheon itu menyebalkan. Tapi saat ini, Hyunwoo lebih menyebalkan.

 

“Siapa bilang? Aku pernah menyukai seseorang. Hei, aku ini gadis normal, Son Hyunwoo.”

 

“Benarkah?” Tubuh Hyunwoo bergerak mendekat, membuat pandangan mereka sejajar. Menggunakan tangannya sebagai pilar untuk menopang dagu. “Siapa?” tanyanya dengan senyum lebar dan disusul gerakan alisnya yang menjungkit-jungkit mencoba menggoda si gadis.

 

Mendapat respon seperti itu Jooyeon langsung mengerucutkan bibir. Tanpa harus diceritakan lagi, Hyunwoo sudah tahu tentang siapa yang dimaksud Jooyeon. Bagaimana saat itu Hyunwoo yang datang ke rumah Jooheon (sedikit info, kalau pemuda jangkung itu sebenarnya adalah satu kawan dari kakak Jooyeon). Membawa Yoo Kihyun untuk menjenguk Jooheon yang saat itu sedang sakit. Tidak, Jooheon bukan terkena penyakit mematikan atau kadar ekstrem yang tinggi. Hanya terkena flu.

Saat itulah kali pertama Jooyeon menatap lawan jenis dengan binar mata yang berbeda. Hm, seperti melihat batu permata yang berkilauan. Baginya, ada banyak kilauan cahaya yang berpendar di sekitar tubuh Kihyun. Sayangnya semua keindahan itu terpatahkan kala Jooyeon mendengar Kihyun menyapa seseorang di seberang telepon dengan sebutan ‘Sayang’. Oke, dua puluh menit itu mampu membuat hati Jooyeon hancur berkeping-keping.

Berlebihan memang, namun untuk ukuran seseorang yang belum pernah mengenal suka pada lawan jenis, yah, bisa dibilang wajar.

 

“Hentikan. Dasar menyebalkan.”

 

Hyunwoo terkikik geli, sementara Jooyeon makin memasang ekspresi ngambek andalannya.

 

“Lebih baik, kau cepat katakan siapa gadis itu.”

 

“Kau sangat ingin tahu, ya?”

 

Haruskah Jooyeon memukulkan asbak kaca di dekat tangannya ke atas kepala pemuda itu sekarang?

 

“Kan, kaubilang ingin bertemu untuk curhat karena ada gadis yang kautaksir. Kau ingin mati, ya?”

 

Hyunwoo kembali tertawa, namun kali ini tawanya terdengar lebih renyah dan semakin membuat Jooyeon meradang.

 

“Itu tidak lucu, tahu!”

 

“Lucu. Mukamu lucu, Joo.” Hyunwoo masih tertawa.

 

Ah, sialan!

 

“Baiklah.” Hyunwoo mencoba menghentikan tawanya. “Aku akan mengenalkannya padamu. Tapi ini rahasia, ya?” ujarnya dengan raut muka yang mendadak menjadi serius.

 

“Kenapa harus rahasia?”

 

“Tentu saja harus rahasia. Terutama dari Jooheon.”

 

Mendengar kalimat itu meluncur dari Hyunwoo, Jooyeon lantas sedikit terhenyak. Mengapa harus dirahasiakan dari kakaknya? Apa jangan-jangan ….

 

“Kau harus berjanji untuk merahasiakannya.” Hyunwoo kembali berujar menyela pemikiran Jooyeon yang sudah meracau kemana-mana.

 

Si gadis Lee mengangguk kecil sebagai jawaban.

 

-o0o-

 

Hyunwoo pun mengajak Jooyeon meninggalkan kedai untuk menuju suatu tempat. Di sepanjang perjalanan, entah kenapa Jooyeon tidak bisa melenyapkan kata-kata tadi dari benaknya. Belum terbukti kalau itu benar, memang. Tapi mengapa pernyataan Hyunwoo menjurus kepada satu titik kesimpulan. Jooyeon menggeleng-gelengkan kepalanya berharap pemikiran gilanya bisa lenyap.

 

Hyunwoo yang memerhatikan polah si gadis jadi terdorong untuk bertanya. “Kau kenapa?”

 

Ah—aku—itu dingin.”

 

Gadis itu mengerjap sebentar, membiarkan otaknya memproses aksi tiba-tiba dari Hyunwoo. Pemuda itu dengan cepat meraih tangan kanan Jooyeon dan menggenggamnya erat. Keterkejutannya semakin menjadi ketika Hyunwoo memasukkan tangan—yang masih saling bertautan—ke dalam saku jaket tebalnya. Sontak Jooyeon menahan napas sejenak dan mau tak mau membuatnya menempel pada Hyunwoo.

Degup jantungnya semakin bertalu, seolah mendobrak-dobrak dari dalam. Untung saja, jantungnya bisa dipastikan melekat kuat pada tulang rusuknya. Hyunwoo melayangkan pandangan pada Jooyeon. Alih-alih, si gadis langsung memajang mimik kesal.

 

“Kenapa jalan kaki, sih? Aku ‘kan, sudah bilang kalau cuacanya dingin.”

 

Hyunwoo tak berniat merespons nyinyir si gadis, ia hanya menarik kecil sudut-sudut bibirnya dan kembali menatap lurus ke depan. Sementara itu, Jooyeon sedang berusaha mati-matian menghilangkan kupu-kupu yang bertebangan di dalam perutnya. Seharusnya bukan seperti ini.

Dua tahun mengenal Hyunwoo semua terproses normal. Jooyeon tidak pernah menempatkan Hyunwoo di kata ‘spesial’. Tapi sekarang, Jooyeon nyaris melabeli Hyunwoo dengan kata ‘menarik’ (mungkin Jooyeon seharusnya menghabiskan camilan di kedai tadi supaya perutnya tidak kosong. Lalu apa hubungannya? Setidaknya otaknya tidak mengalami disfungsi karena perut kosong!).

 

Tak ada yang mengubah posisi mereka bahkan hingga ada sesosok gadis bersurai sepunggung yang melambaikan tangan dan dibalas Hyunwoo dengan gerakan yang sama. Gadis itu bergerak mendekati keduanya. Kedua pupilnya melebar ketika menangkap sosok familier itu sedang menyunggingkan senyuman. Detik berikutnya, Hyunwoo melepaskan tautan mereka dan membawa tubuh gadis itu ke dalam rengkuhannya.

 

Oh Hani. Gadis itu adalah kekasih Kihyun. Jooyeon yakin seratus persen kalau ingatannya masih sangat baik. Ia ingat betul tak lama setelah Kihyun mengangkat telepon, pemuda itu lantas menjemput gadisnya untuk turut datang ke rumah menjenguk Jooheon.

 

Jooyeon masih membeku di tempatnya dengan kedua mata yang masih menatap Hyunwoo dan Hani saling memberikan senyum. Hingga gadis itu menatap ke arah Jooyeon dan membagi senyumnya.

 

“Kau tidak bilang akan membawa teman?”

 

“Dia adik temanku. Aku akan mengantarnya pulang lebih dulu, baru kita bisa ke apartemenmu.”

 

“Baiklah.”

 

Jooyeon bisa merasakan jika ia kehilangan kemampuan bicaranya. Atensinya lantas beralih, menyesar ke seluruh sudut—asalkan bukan ke arah mereka. Hyunwoo menghampirinya dan tahu-tahu merangkulkan lengan di atas pundaknya.

 

“Janji rahasiakan, ya. Sekarang kau bisa mendekati Kihyun.”

 

Jooyeon lantas memaku tatap ke arah Hyunwoo. Ini gila!

 

“Aku ingin kau mendapatkan apa yang kauinginkan, Joo. Bagaimanapun itu, akan kulakukan untukmu.”

 

 

Meski terdengar gila, tetapi Jooyeon akhirnya mengerti siapa gadis yang ditaksir Hyunwoo.

End.

 

Hepi besdey buat abang leader tercinta.. horrreeeeeee!! Meski ff abal ini sebenarnya gak layk tayang. entahlah, aneh bin ajaib. Ngebut biar tetep bisa bikin something buat ultahnya bang Shownu, hiks… Semoga yg baca bisa tahu dan nangkep maksud cerita ini. Kalau gak ngerti ya dingertiin aja yak plis, menghargai yg begadang ngerjainnya. wkwkkwk..

Advertisements

Author: bebhmuach

Let's make our imajination!^^

9 thoughts on “[Shownu’s Birthday] Shocked”

  1. Seketika malem malem baper ketika terdampar baca ini ff T____T
    Aa shownu kok bikin ada suara kretek di hati adek, seketika pengen ketemu shownu yg begitu di dunia nyata aweu T___T

    Liked by 1 person

  2. HAI HELLO ANNYEONG KU MERUSUH DISINI LHOOOO

    uwaaaa demi apa baper sama pisang coklatnya /sesat
    Seriusss ino feelnya kerasa lho. Apalagi pas adegan nggandeng di jaket ituu wuhuuyuu sudah kebyang bkal ada adegan soswit lain stelah ini tapi kok…..
    Lhooo lhoo jadi ini mas shonu suka mbak jooyeon tapi ngrelain dia sama kihyun gitukah?? Adu maafkan dedek masss, mbak cuntik jg buat fic ini fufufu

    Btw salama buat mas juhoni yaa, bilangin jangan sakit sakit :”))) /apaini

    KEEP WRITING KAKCUNTIKKK 😍😍👍👍👍

    Liked by 1 person

  3. Demi bulu ketek Jooheon, bibir seksih Shownu….

    GUE PENGEN NGEMISUH LU DI PAGI BUTA INI KAK!!!!!

    YA AMPUN MAS HYUNWOO, BEGITU SAYANGNYA AMA JOOYEON, AMPE RELA BERKORBAN GITU…
    MAAFIN DEDEK YG GAK PEKA BANG…. DUH SEDIH…

    ANJIR, BAPER BENERAN, SI ALAN AUTHORNYA.. HFFTT

    /bhay/

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s