[MONSTAX FF FREELANCE] My Best (Boy)Friend – Oneshot

1468478218698

  • Tittle/judul fanfic: My Best(Boy)Friend
  • Author: hanhyera
  • Length: 3000++ words
  • Genre: Romance, School Life, a bit Fluff
  • Rating: General
  • Main cast & Additional Cast: Yoo Kihyun, Lee Sowon (OC), Lee Minhyuk

 

 

“Itulah sebabnya kau tidak mendapatkan hasil yang benar karena kau tidak memindahkannya di awal.”

“Tetapi bukankah cara yang benar adalah seperti ini?”

“Apa kau tidak percaya padaku?”

“Oh, baiklah, aku mengalah padamu, anak jenius.”

Seperti itulah keadaan yang terjadi di salah satu meja perpustakaan yang dijadikan tempat belajar bersama oleh Kihyun dan Sowon. Layaknya hari-hari lainnya, Kihyun selalu mengisi waktu istirahatnya dengan mengajari berbagai mata pelajaran yang tak dimengerti oleh Sowon, sahabatnya dari kecil. Mereka terlahir bagaikan langit dan bumi. Kihyun adalah laki-laki pintar nan jenius yang selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Sedangkan Sowon adalah perempuan yang cantik namun dengan kemampuan belajarnya yang menyedihkan. Setiap akhir semester, ia pasti selalu mendapatkan peringkat 10 terbawah untuk setiap pelajaran. Menyedihkan, bukan? Bahkan dalam urusan berdebat pun, Sowon tidak akan pernah menang dari Kihyun.

“Sekarang, coba kau kerjakan latihan nomor 7. Caranya tidak jauh berbeda dari nomor sebelumnya.” ucap Kihyun.

“Sudahlah, aku sudah lelah dan ingin istirahat saja.” Sowon merengek seraya menjauhkan buku Matematika dari hadapannya, membuat ruang yang cukup untuk menaruh kepalanya di atas meja. “Tidak ada harapan bagiku untuk menaikkan peringkat pada semester ini.” ucapnya yang terdengar hampir seperti gumaman bagi Kihyun karena mulutnya tertutup dengan tangannya sendiri sebagai alas kepala.

“Kau tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah kau yang sangat bersemangat pada awalnya?” Berniat untuk menjahili Sowon, ia sengaja memukul pelan kepala Sowon dengan pulpen miliknya mengikuti irama dari setiap kata yang ia lontarkan.

“Ah~ Lupakan saja. Anggap aku tidak pernah meminta tolong darimu.” Suara Sowon terdengar lirih di telinga Kihyun.

Helaan napas tak sengaja Kihyun keluarkan, merasa kasihan dan iba pada sahabat satunya ini. Ia ingin sekali membantu, tetapi apa daya jika Sowon sendiri tidak memiliki semangat.

“Kau yakin? Demi orang tuamu sekalipun?

“Mereka sudah angkat tangan dalam mengurus diriku.”

“Bagaimana kalau demi Minhyuk yang sedang duduk di ujung sana?”

Sekejap, hanya dalam sekejap, Sowon menegakkan tubuhnya dan memutar badan ke belakang untuk melihat sosok Minhyuk yang baru saja disebutkan Kihyun. Benar, Minhyuk memang benar ada di sana, sedang membaca buku yang Sowon tidak ketahui judulnya. Semburat merah mengisi pipi Sowon tanpa sepengetahuan dirinya. Hanya Kihyun yang menyadari dan dapat melihat semburat merah itu yang tiba-tiba muncul di kedua pipi Sowon.

“Kau masih menyukainya?” tanya Kihyun basa-basi, yang sudah jelas dengan pasti apa yang akan dijawab oleh Sowon.

“Tentu saja. Siapa di sekolah ini yang tidak menyukai dirinya? Tidak ada.” jawab Sowon dengan penuh keantusiasan.

Kihyun mengedikkan kedua bahunya. “Aku. Aku tidak pernah menyukai dirinya.”

“Apa kau sedang bercanda?”

Kerutan terbentuk di kening Kihyun. Ia merasa tidak sedang bercanda. “Tidak, aku serius akan perkataanku.”

Tawa Sowon terdengar selesai Kihyun menjawab pertanyaannya. Kihyun memang sahabatnya, tetapi terkadang ia merasa Kihyun juga bukan sahabatnya. Tak heran jika mereka berdua memang sering bertengkar adu mulut padahal hanya untuk masalah-masalah sepele.

“Aku lupa kalau aku sedang berbicara pada laki-laki jenius yang hanya memikirkan tentang belajar, belajar dan belajar setiap harinya. Mana mungkin orang seperti dirimu mengerti akan sebuah perasaan.” ucap Sowon bermaksud untuk bercanda.

Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk hati Kihyun. Ia tahu ia memang bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan orang lain karena semua orang menganggap dirinya adalah orang yang aneh. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah berkutat dengan buku-buku yang sudah ia anggap seperti temannya sendiri. Mendengar penuturan Sowon, ia semakin menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Sowon.

“Memang aku bukan orang yang ahli dalam mengerti sebuah perasaan, tapi setidaknya aku tidak bodoh seperti dirimu.”

Kedua bola mata Sowon membulat. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata tajam keluar dari mulut Kihyun. “Kau menyebut diriku bodoh?” Sowon mendengus tidak percaya. “Aku tahu aku tidak pernah mendapat nilai dan peringkat yang bagus, tapi bukan berarti kau dapat mengataiku bodoh, Yoo Kihyun. Setidaknya aku selalu berusaha walaupun hasilnya tidak pernah sesuai dengan yang kuinginkan.” Selesai berkata seperti itu, Sowon bangkit berdiri dan meninggalkan Kihyun sendirian yang kebingungan.

Kihyun merasa ia telah salah bicara. Sebenarnya yang dimaksud bodoh oleh Kihyun bukan seperti yang Sowon kira. Ia mengatakan Sowon bodoh karena terus menyukai orang yang justru belum tentu dapat membalas perasaannya kembali. Tetapi sepertinya Sowon telah salah mengerti.

“Oh, astaga! Bodoh sekali kau Kihyun.” Tanpa perlu pikir panjang, Kihyun segera menyusul Sowon untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.

 

***

“Sowon! Ya, Lee Sowon!” Kihyun terus memanggil nama itu sembari berlari mengejar Sowon. Jarak antara dirinya dan Sowon sudah tidak terlalu jauh, ketika Kihyun segera menarik pergelangan tangan Sowon agar berhadapan dengan dirinya.

“Kau salah paham, Sowon-ah.”

“Salah paham? Tentang kebodohanku? Oh, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu karena memang pada kenyataannya aku lebih bodoh darimu. Sekarang lepaskan aku.” Sowon menarik pergelangan tangannya agar terlepas dari Kihyun, tetapi genggaman Kihyun jauh lebih kuat.

“Bukan itu yang kumaksud. Aku tidak pernah…”

“Sudahlah, tidak perlu kau jelaskan lagi, aku sudah paham maksudmu. Jadi, tolong lepaskan aku.” Dengan sekuat tenaga yang Sowon miliki, ia melepaskan diri dari genggaman tangan Kihyun. Berhasil memang, tetapi tak lama ia melangkah, ia merasa dirinya kembali ditarik lebih kuat dari yang sebelumnya, membuat Sowon kembali berbalik dan masuk ke dalam dekapan Kihyun. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Hanya suara debaman-lah yang ia dengar, disusul dengan suara sesuatu yang pecah. Ia masih belum tersadar sepenuhnya, seakan-akan terhipnotis oleh suara detak jantung Kihyun yang terdengar begitu jelas di telinganya. Butuh beberapa detik untuk Sowon dapat menyadarkan diri dan menarik diri dari dekapan Kihyun.

Terlepas dari dekapan Kihyun, Sowon memberanikan diri untuk menatap langsung pada kedua mata Kihyun. Alangkah kagetnya ketika ia mendapati kacamata Kihyun yang pecah dan juga luka di tepi bibirnya, yang diakibatkan oleh sebuah bola futsal yang mendarat di wajahnya. Jadi, ia melindungiku? Pikir Sowon.

Tatapan mereka seakan menghipnotis satu sama lain, karena mereka seakan berada di dunianya masing-masing, tanpa memedulikan keadaan sekitar. Entah sudah berapa lama mereka bertatapan, mereka tidak tahu. Tapi yang jelas, mereka berusaha untuk tidak saling melepaskan tatapan tersebut, tatapan yang seolah-olah saling terikat satu sama lain dan sulit untuk dilepaskan.

 

***

Panas terik matahari tidak begitu memancar dan menyengat pada tempat dimana Sowon sedang duduk sambil membaca buku, tepat di bawah pohon yang tampak begitu rindang. Sowon sengaja memilih tempat ini karena tidak begitu ramai dikunjungi orang dan   sangatlah cocok apabila ingin menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi di sini. Sudah seminggu sejak kejadian yang terjadi antara dirinya dan Kihyun, dan sejak itulah mereka belum berbicara lagi. Mungkin semua itu terkesan berlebihan, tetapi Sowon sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi Kihyun setelah kejadian itu.

Sambil membaca buku, Sowon mencoba tenggelam ke dalam pikiran-pikirannya, mencoba mencari-cari jawaban akan pertanyaannya sepanjang minggu ini yakni mengapa Kihyun rela mengorbankan dirinya untuk melindungi Sowon. Mengapa ia melakukan hal tersebut? Padahal menit sebelumnya Kihyun mengatakan sesuatu yang menyakitkan, lalu menit setelahnya ia berubah seakan menjadi sesosok pahlawan bagi Sowon. Apa sebenarnya yang ada di benak Kihyun hingga ia dapat berubah secepat itu? Apa mungkin Sowon tidak mengerti situasi yang ada waktu itu? Semakin dipikirkan, semakin Sowon tidak mendapatkan jawaban dan berujung membuat kepalanya sakit. Hal itu juga yang membuat ia tidak menyadari kehadiran Kihyun yang sudah berdiri di sampingnya sejak tadi.

“Apa aku boleh duduk di sampingmu?” tanya Kihyun perlahan. Terkejut akan sapaan yang sangat tidak Sowon duga membuat buku dalam genggamannya terlepas dan terjatuh begitu saja ke tanah. Sowon tergelegap dan tidak tahu harus berbuat apa ketika Kihyun sudah lebih dulu mengambil buku itu dan mengembalikannya pada Sowon. “Apa aku mengejutkanmu?” tanya Kihyun kembali. “Ya…tentu…tidak sama sekali.” jawab Sowon tidak jelas.

Senyum Kihyun tersungging penuh mendengar penuturan Sowon yang seakan-akan meracau. Sowon tidak berani menatap dirinya dan ia juga belum menjawab pertanyaan Kihyun yang pertama. Tanpa perlu mendapatkan jawaban darinya, Kihyun memutuskan untuk langsung saja duduk menempati tempat di sebelah Sowon. Sekilas, manik mata Sowon mencoba melirik Kihyun di sampingnya dan mendapati ada sedikit perbedaan pada dirinya. Tidak, itu tidak hanya sedikit, tapi perubahan yang besar.

“Kau tidak menggunakan kacamatamu?”

“Oh, benar. Aku memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi.”

“Kenapa?”

“Kukira kau tahu mengapa alasannya. Kacamata itu pecah karena bola futsal yang menghantam wajahku.”

“Tapi kau bisa membetulkannya?”

“Tapi aku tidak mau dan tidak ingin.”

Sowon menatap heran sahabatnya itu. Ada apa dengan sahabatnya ini? Atas dasar apa ia memutuskan untuk tidak menggunakan kacamatanya lagi? Selama ini, kacamata itu sudah menjadi seperti jati diri seorang Kihyun. Apabila tidak ada kacamata, itu artinya bukan Kihyun. Kihyun dan sebuah kacamata, kedua hal itu tidak akan pernah dapat dipisahkan. Tetapi mengesampingkan kenyataan aneh tersebut, Sowon melihat tidak adanya alasan untuk melarang dan menolak penampilan Kihyun sekarang ini. Tanpa kacamata dan dengan lensa kontak yang melekat di kedua bola matanya, Kihyun seakan menjadi pribadi yang berbeda. Ia sungguh tampak berbeda. Bukan lagi Kihyun yang kutu buku, bukan lagi Kihyun dengan kacamatanya yang bulat, tidak, semua itu tidak lagi Sowon temukan dalam diri Kihyun pada saat ini. Apa mungkin Sowon sedang bermimpi?

“Kau melamun, Sowon-ah.”

Sowon kembali tergelagap dan mendapati dirinya sudah cukup lama terdiam sambil mengamati Kihyun. Sungguh memalukan!

“Ah, maaf. Aku hanya sedang tidak berada di pikiran yang benar.”

“Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Sowon terdiam. Sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk mengatakan bahwa Kihyun-lah yang menganggu pikirannya seminggu ini.

“Tidak…tidak ada.”

“Kau masih memikirkan hal minggu lalu?”

Ya, aku masih memikirkannya. Batin Sowon.

“Itulah alasan mengapa aku menghampirimu, Sowon. Ada yang ingin kusampaikan.” Beberapa patah kata itu saja sudah cukup membuat detak jantung Sowon mulai berdegup kencang.

“Sampaikanlah. Aku akan mendengarkan.”

Tanpa Kihyun sadari, ia mulai membenarkan posisi duduknya dan gugup menjalari dirinya. Sudah berhari-hari ia memikirkan dan menyusun kata-kata yang tepat untuk ia sampaikan pada Sowon. Namun belum saja memulai, ia sudah lupa apa yang harus ia ucapkan. Sialan! Rutuk Kihyun.

“Lee Sowon… Aku…. Aku tahu aku telah mengatakan hal yang salah minggu lalu dan aku sungguh menyesalinya. Aku berani bersumpah bahwa bukan itu yang kumaksud dan kau benar-benar salah paham. Aku tidak pernah menganggap dirimu bodoh, Sowon-ah. Aku… Baiklah, aku mengakui bahwa diriku-lah yang bodoh.”

“Kau tidak bodoh, Yoo Kihyun. Kau manusia terpintar yang pernah kukenal.”

Kihyun menggeleng dan tersenyum lemah. “Tidak, aku tidak sepintar yang kau kira. Pintar? Kepintaranku hanyalah sebatas buku-buku dan ilmu pengetahuan dan itu tidak bersifat abadi. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari kepintaranku ini.”

Ia mulai mencoba menatap Sowon yang masih terdiam dan membisu mendengarkan penuturan Kihyun yang datang secara tiba-tiba. “Terkadang, ada beberapa hal yang ingin kutingkatkan kemampuannya selain kepintaran dari otakku ini. Misalnya saja seperti membaca hatimu, atau bersikap lebih berani dalam menunjukkan dan mengungkapkan isi hatiku.”

Degupan jantung Sowon semakin tidak terkira. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi karena Kihyun adalah sahabatnya. Sowon harus menghentikan semuanya sebelum terlambat. Tetapi anehnya, Sowon juga tidak ingin ini berhenti. Ia masih ingin mendengarkan kelanjutan perkataan Kihyun karena rasanya terasa sangat menyenangkan.

“Sepanjang pertemanan kita mungkin kau tidak pernah menyadarinya, tapi perlu kau ketahui, Lee Sowon, aku selalu menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau sahabatku, tapi kau jugalah orang yang kusukai. Dan itu bertahan hingga saat ini, hingga detik ini.” Kihyun meraih jemari-jemari Sowon dengan lembut dan meletakkannya tepat di dada Kihyun. “Kau adalah alasan mengapa jantung ini selalu berdetak begitu cepat saat aku berada di dekatmu. Aku tahu ini semua terdengar kekanak-kanakkan dan mungkin sedikit berlebihan, tapi aku selalu cemburu mendengarkan ceritamu tentang Minhyuk. Dan juga di saat kau menatapnya, aku berharap bahwa akulah orang yang kau tatap.”

Senyum tersungging di mulut indah Sowon. “Jadi itukah alasan mengapa kau tidak menyukai dirinya?”

“Ya, itu salah satu alasannya, aku cemburu padanya.” Kihyun menautkan jemari tangannya pada jemari tangan Sowon dan alangkah bahagianya Kihyun ketika Sowon tidak menolak sama sekali. Untuk beberapa menit, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Saat-saat seperti ini adalah saat-saat yang perlu untuk dinikmati.

“Kau tahu, Kihyun, hari ini aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.”

“Aneh? Apakah kau sakit?”

“Tidak, bukan sesuatu yang aneh seperti itu. Ini berhubungan dengan perasaanku.”

Kerutan kening Kihyun mulai terlukis di keningnya. “Perasaanmu? Pada Minhyuk? Apa sekarang kau mulai mencintainya?”

Sowon terkekeh pelan. “Bagaimana kalau itu benar terjadi?”

Rahang Kihyun mengeras, genggamannya pun menguat dalam tangan Sowon. “Rasanya sulit untuk tidak menghancurkan wajah sombongnya itu.”

“Lalu, bagaimana kalau itu tidak akan pernah terjadi? Bagaimana kalau aku tidak akan pernah mencintainya? Bagaimana kalau aku sudah tidak menyukainya lagi?” sambung Sowon.

“Kau…tidak menyukainya lagi?” tanya Kihyun heran.

“Hal aneh yang kurasakan hari ini adalah saat jantungku mulai berdegup hanya dengan keberadaan dirimu di sampingku. Aku tidak pernah merasakan hal aneh tersebut, sekalipun pada Minhyuk. Tapi entah untuk alasan apa, hari ini jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Dan kau adalah penyebabnya, Yoo Kihyun.” Sowon bertutur kata sembari mengayunkan kedua kakinya, berusaha untuk mengatasi rasa malu yang mulai menjalari seisi tubuhnya. Bagaimana ia bisa mengungkapkan kata-kata yang menurutnya sangat memalukan sekali?

Penuturan jujur dari mulut Sowon mampu membuat Kihyun tersenyum bahagia. Rasanya bagaikan ada burung yang sedang menerbangkan hatinya ke langit yang sangat tinggi. “Jadi, kesimpulannya lelaki yang berhasil membuat Sowon bertingkah aneh seperti ini adalah Yoo Kihyun, bukan Lee Minhyuk yang sombong itu?”

Sowon menggeleng perlahan, membuat beberapa helai rambutnya menempel pada wajahnya yang lembut. “Itu terasa sangat aneh, tetapi juga benar di saat yang bersamaan. Apakah kau merasakan hal tersebut, Kihyun-ah?”

Senyum Kihyun belum juga lenyap dari bibirnya. Dengan satu tangannya lagi yang masih bebas, ia gunakan untuk membenarkan beberapa helai rambut Sowon dan meletakkan di belakang telinganya. “Tidak ada yang salah bila kau merasakan hal itu karena mungkin ini menjadi pengalaman pertamamu. Aku juga akan mengatakan bahwa aku tidak mungkin bisa memberikan sepenuhnya seperti yang kau inginkan, mengingat ini juga merupakan pengalaman pertamaku dan aku tidak terlalu pintar dalam hal seperti ini. Tapi, aku akan berusaha sebisaku untuk membahagiakanmu, Lee Sowon. Jika kita berdua berusaha untuk saling melengkapi, maka tidak ada hal yang tidak mungkin.”

Cukup, bagi Sowon perkataan Kihyun itu sudah sangat cukup baginya untuk memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Kihyun. Ini sama-sama merupakan pengalaman pertama bagi mereka berdua dan yang mereka perlukan hanyalah usaha dan kepercayaan. Benar kata Kihyun, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mencobanya. Dengan jemari masih saling bertaut, mereka menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi ke arah mereka, seakan angin itu pun tahu bahwa perasaan mereka sedang terbang bahagia.

 

***

“Kamus Biologi, Kamus Biologi, Kamus Biologi.” Mata Sowon menyapu seluruh buku yang berada dalam rak dengan hati-hati, demi mencari sebuah buku bertuliskan Kamus Biologi. Sudah hampir 5 menit ia habiskan untuk mencari buku tersebut, tetapi hasil nya menunjukkan bahwa ia masih saja berdiri dengan tangan kosong.

“Dalam keadaan seperti ini, aku berharap bisa berada dalam dunia Harry Potter agar dapat mengambil buku itu hanya dengan sapuan tongkat sihir. Tsk. Mengapa buku itu tidak kunjung muncul batang hidungnya?” Sowon sudah tidak dapat mengendalikan emosinya dan baru saja memutuskan untuk menyerah mencari buku tersebut ketika sebuah tangan muncul dari balik tubuhnya beserta sebuah buku bertuliskan Kamus Biologi dengan ukuran yang sangat tebal.

“Inikah yang kau cari?”

Suara itu terdengar tidak asing di telinga Sowon. Ketika ia membalikkan tubuhnya agar dapat melihat siapa pemilik suara itu, alangkah kagetnya saat ia mendapati orang itu adalah Lee Minhyuk. Benar, Lee Minhyuk yang dulu ia sukai. Lee Minhyuk yang akan membuatnya bersemu merah, dulu. Sekarang, perasaan seperti itu sudah tidak muncul lagi dalam dirinya.

“Ah, benar. Terima kasih atas bantuannya.” sahut Sowon dengan senyumnya seraya meraih buku tebal itu dan mengambilnya.

“Tidak masalah.” ucap Minhyuk membalas senyum Sowon. “Sepertinya aku sering melihatmu di koridor sekolah. Kau… Lee Sowon, bukan?”

“Betul. Namaku Lee Sowon.”

“Kenalkan, namaku Lee Min….” Baru saja Minhyuk mengulurkan tangannya untuk mengajak Sowon berkenalan, di saat itulah juga Kihyun muncul dari balik punggung Sowon seraya merangkulnya. Mata tajam Kihyun seakan dapat menembus kedua mata Minhyuk. Tatapannya itu membuat Minhyuk menarik tangannya kembali dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Mengapa kau lama sekali, Sowon-ah?” tanya Kihyun sambil tetap menatap tajam Minhyuk.

“Ah, aku tidak dapat menemukan Kamus ini dan Minhyuk yang menemukannya.” Sowon berkata seakan itu merupakan hal yang biasa saja. Tidak, ia tidak tahu betapa Kihyun sedang bersusah payah untuk menahan rasa cemburunya.

“Sekarang kau sudah menemukannya, bukan? Lekas segera kembali ke meja.” perintah Kihyun lembut pada Sowon. Sowon mulai mengerti dan dapat membaca situasi menyesakkan ini. Aura di sekitarnya mulai berubah dan Sowon mundur perlahan dengan perasaan cemas, takut-takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan dalam perpustakaan ini. Ketika Sowon sudah tidak berada di sana lagi, Kihyun kembali memberi tatapan tajam pada Minhyuk, dan kali ini dengan sebuah peringatan, “Camkan baik-baik, jangan pernah berani mendekati dirinya atau kau akan habis di tanganku.” Sebuah peringatan singkat itu saja sudah sanggup membuat Minhyuk mundur dan bersumpah untuk tidak akan berani mendekati Sowon lagi.

“Apa kau menyakitinya?” tanya Sowon cemas saat Kihyun sudah kembali ke meja tempat mereka sedang belajar.

“Tidak, belum, tapi akan, bila ia masih berani mendekatimu.” ucap Kihyun singkat, masih berusaha untuk meredam rasa cemburunya. Deru napas Kihyun yang berat menyadarkan Sowon bahwa lelaki ini sedang berusaha untuk mengendalikan emosinya.

“Kau cemburu.”

“Bagaimana aku tidak cemburu? Dia Lee Minhyuk, lelaki yang pernah kau sukai.”

“Benar, pernah kusukai. Bukan sedang kusukai. Lelaki yang sedang kusukai adalah Yoo Kihyun.” ucap Sowon lembut seraya mengelus pelan tangan Kihyun, sebelum akhirnya mendarat di telapak tangan Kihyun yang lebih besar darinya. Secara otomatis, telapak tangan Kihyun menyambut tangan mungil Sowon dan menggenggamnya dengan begitu erat, seakan takut apabila ia akan pergi dari sisinya.

“Apa ia berbuat macam-macam padamu?” tanya Kihyun dan mulai berani menatap mata Lee Sowon.

“Astaga, tentu saja tidak. Ia hanya membantuku mencarikan buku Kamus Biologi yang tak kunjung kutemui. Apakah itu bisa disebut macam-macam?”

Kihyun mengedikkan kedua bahunya. “Mana tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak datang tepat pada waktunya tadi.”

“Tidak akan terjadi apa-apa, Yoo Kihyun. Kau adalah hal terbaik yang pernah kupunya dan tidak mungkin bagiku untuk menyia-nyiakan cintamu begitu saja.” Mata Sowon menjelajah seluruh wajah Kihyun. Kini, ia benar-benar tampak berbeda. Kihyun tidaklah lagi seperti Kihyun yang ia kenal pada masa kecilnya dulu. Kihyun sudah merubah penampilannya. Tanpa kacamata dan hanya dengan lensa kontak, juga rambutnya yang turun dengan rapi menutupi keningnya, semua itu terasa sangat sempurna di mata Sowon. Lelaki mana yang bisa sesempurna ini? Lamunan Sowon dikejutkan oleh sebuah gebrakan yang datang dari seberang meja yang ternyata adalah ibu penjaga perpustakaan ini. “Dilarang berpacaran dalam perpustakaan. Kalian tidak bisa membacanya?” ucap ibu itu galak sambil menunjuk sebuah poster kecil di ujung tembok sana.

Refleks, mereka melepaskan kedua genggamannya dan menuturkan kata maaf sebelum akhirnya ibu itu pergi. Tak lama, Sowon dan Kihyun sama-sama terkikik pelan karena merasa itu adalah hal yang lucu.

“Baiklah, sekarang waktunya untuk kembali belajar, Lee Sowon.” Kihyun mulai membuka Kamus Biologi yang tadi dicari oleh Sowon. Sebenar-benarnya fakta bahwa penampilan Kihyun telah berubah, tetapi itu tidak menyurutkan fakta bahwa Kihyun tetaplah jenius dan akan terus menjadi orang yang membantunya dalam belajar. Betul, sahabatnya yang jenius, kekasihnya yang jenius.

 

-FIN-

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

1 thought on “[MONSTAX FF FREELANCE] My Best (Boy)Friend – Oneshot”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s