[MONSTA X |FREELANCE] EX – GIRL

Song Fict (EX-GIRL)

{SongFic} EX – GIRL

Chae Hyungwon (Monsta X) – Im Nami (OC)

Romance & Lil bit Sad

Created by : @123adinda

Do not copycut without my permission because this is my hardwork

I’m sorry for my mistake, because i’m not that perfect

Im Nami, akan tetap menjadi mantan kekasih Chae Hyungwon karena aku tidak mau lagi…….

Recommended Song :

Monsta X – (EX – GIRL)

Seventeen – (When I Grow Up)

BTS – (Hold Me Tight)

Author POV until The End

 

Cuaca sore itu terbilang cukup menyenangkan. Dilihat dari awan – awan yang berjalan sejajar di imbangi dengan angin musim semi yang begitu menghanyutkan. Ughh, hanya pemalas tingkat 5 yang akan melewatkan indahnya hari ini.

Tidak terkecuali Chae Hyungwon. Lelaki tampan yang memiliki tinggi badan ideal namun proporsi badan teramat kecil. Bahkan Jooheon -teman sepermainan Hyungwon, berani bertaruh jika ukuran pinggang Hyungwon jauh lebih kecil dari kepunyaannya. Itu kenyataan bukan bualan. Oh, mari lupakan sejenak tentang bagian tubuh Hyungwon.

 

Hyungwon menikmati waktu sore nan indah dengan caranya sendiri, yaitu tidur siang. Dia memang dikenal memiliki kebiasaan tidur yang tidak bisa di toleransi. Lihatlah lelaki itu. Dengan berpakaian lengkap layaknya anak sekolahan, Hyungwon menggulung badan tirusnya dengan selimut tebal bergambarkan doraemon. Ughh, such a cutie pie.

 

Ketika Hyungwon begitu hanyut di dalam mimpi. Tiba – tiba saja pintu kamar lelaki itu terbuka, menampakkan wajah seorang wanita paruh baya dengan apron bunga – bunga. “Hei, Chae Hyungwon.” Panggil wanita itu, namun Hyungwon tentu saja tidak bisa mendengarnya. Kerbau seperti Hyungwon, mana mungkin bisa dibangunkan dengan suara kecil.

 

Menghembuskan napas sebal, wanita apron bunga mulai mengambil langkah mendekat ke arah tempat tidur Hyungwon. Dengan senyum lebar dan air wajah yang terlihat cukup menakutkan -tidak semenakutkan wajah valak- wanita itu mulai menggoyang – goyangkan badan Hyungwon seraya berteriak “Hyungwon-a, Hyungwon-a, KAKAKMU BARU SAJA MELARIKAN SEPATU PUTIH KESUKAANMU, HYUNGWON-A.”

 

Seperti yang di harapkan. Bukannya terbangun, Hyungwon malah menyingkirkan tangan wanita itu dari area tempat tidur lalu kembali merapatkan selimut yang melilit badannya. “Berhentilah bercanda bu, aku sedang lelah.” Balas Hyungwon parau.

 

Ibu hyungwon berdiri, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan tatapan menyipit ia berikan kepada Hyungwon. “Dasar pemalas, kalau kau tidak bangun dalam 10 detik, dengan senang hati akan Ibu bakar semua koleksi yang ada di lemarimu Chae Hyungwon!?!.”

 

“Baiklah, baiklah, apa yang ibu inginkan ?” Mau tidak mau Hyungwon harus terbangun dari hibernasinya, mengingat ancaman wanita itu yang tak bisa di elakkan. Oh, gila saja jika Ibu Hyungwon benar – benar membakar semua koleksinya. Bisa – bisa besok pagi Hyungwon hanya tinggal nama saja karena kehilangan koleksi berharga miliknya.

 

Ibu Hyungwon tersenyum, kali ini senyum manis bukan seperti sebelumnya. “Pergilah ke supermarket dan belikan ibu barang – barang yang ada di dalam kertas ini !”

 

“Sekarang ? Ah, ibu. Aku masih mengan–”

 

“CHAE HYUNGWON !!”

 

“Baik baik, Ibu ini cerewet sekali.” Grutu hyungwon seraya beranjak dari kasur. Lelaki itu lantas mengambil daftar belanjaan beserta uang dari tangan ibunya. Mengambil jaket yang tergantung di pintu lemari, lalu pergi begitu saja setelah mengucapkan salam. Ibu hyungwon hanya menggeleng gemas melihat anak laki – lakinya.

Bagi Hyungwon, belanja keperluan sehari – hari adalah malapetaka. Apalagi jika memiliki daftar belanjaan, Sempurna sudah. Tidak hanya daftar belanjaan, namun Hyungwon juga benci ketika beberapa remaja wanita mengendap – endap dan mulai mencuri foto dirinya. Hal itu, tidak mengenakkan.

 

Hyungwon menyelesaikan semua prosesi belanjanya. Tinggal membayar dan bayangan ranjang sudah terlintas di pikiran.

 

“Chae Hyungwon ?” Hyungwon terkejut bukan main ketika mendengar suara itu. Mata lelaki itu terbuka lebar, begitupun telinganya. Astaga, sudah berapa lama ia tidak mendengar suara itu ?

 

“Bagaimana kabarmu ? Kudengar kau kuliah di Daenggu, Woah.. kau sangat beruntung.” Takjub gadis yang sedang menghitung belanjaannya. Hyungwon tak mampu buka suara. Hanya melemparkan senyum kikuk, hanya itu.

 

“Baiklah, ini belanjaanmu. Totalnya 11.500 won.” Gadis itu kembali bersuara. Senyum manis kepunyaannya memang tak pernah pudar. Dari dulu hingga sekarang, Hyungwon begitu mengingat senyum itu.

 

Hyungwon memberikan uang dan gadis itu menerima, lalu mengembalikan lebihnya. “Terima kasih sudah berbelanja disini, Hyungwon-a.” Hanya sebuah anggukan dan Hyungwon pergi begitu saja dari hadapan gadis itu. Tanpa senyum maupun perkataan. Namun sebenarnya, Hyungwon memiliki banyak pertanyaan yang melintas di otaknya hanya saja ia terlalu takut untuk mengutarakan. Contohnya :

 

‘Apakah kau baik – baik saja setelah kuputuskan, Im Nami ?’

Setibanya di rumah, Hyungwon tidak lagi memiliki selera untuk tidur. Lelaki itu memutuskan untuk duduk di balkon rumah seraya memandangi langit sore dengan tatapan kosong.

 

Hyungwon tidak menyangka jika dirinya akan dipertemukan kembali dengan Im Nami, mantan kekasihnya yang telah di putuskan 2 tahun lalu. Namun Hyungwon tidak bisa mengelak jika dirinya memang masih menyayangi Nami. Rasa – rasanya, baru kemarin ia mengatakan hal pedih itu pada Nami.

 

~Flashback On

 

Im Nami sedang asik bercengkrama dengan sahabatnya ketika Hyungwon datang dan menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Gadis itu tentu saja meringis kesakitan, mengingat memar di pergelangan tangan belum hilang sepenuhnya.

 

“Apa kau mengalami hari yang buruk ? Hmm ? Kau tau dimana tempat yang nyaman untuk bercerita bukan ?” Walaupun tangannya kesakitan, namun Nami tetap bersikap lembut pada hyungwon. Gadis itu juga tidak lupa untuk tersenyum.

 

Hyungwon tak menjawab. Ia malah menatap Nami marah dengan gigi yang di gertakkan. “Bagaimana caramu menjelaskan semua ini ?” Tanya Hyungwon mengintimidasi seraya memperlihatkan sebuah foto yang ada di dalam ponsel. Dan itu foto Nami yang terlihat sedang mencium seorang pria.

 

Bukannya mengelak maupun menjelaskan, Nami malah tertawa melihat foto itu. “Foto itu, darimana kau mendapatkannya ? Hahaha.”

 

Mata Hyungwon semakin memerah, bukan ini yang ia inginkan sebagai jawaban. Namipun menghentikan tawanya setelah tau jika suasana saat ini tidak seperti apa yang ia harapkan.

 

Hyungwon marah, benar – benar marah.

 

“Ya, apa yang ada di foto itu memang benar. Aku menciumnya.” Nami mengakuinya. Hyungwon merasa waktu berhenti berputar, begitu juga detakan jantungnya.

 

Hyungwon mengepalkan tangan hingga buku – buku kukunya memutih. Ia lantas menarik nami, menyudutkan gadis itu di dinding lalu menatap tepat ke arah matanya penuh amarah.

 

“Kau mengakuinya ? Semudah itukah ?” Hyungwon kembali mengintimidasi.

 

Nami mulai merasa ketakutan. Lelaki yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Hyungwon.

“Hyung—Hyungwon-a, aku bisa menjelaskan siapa pria yang ada di foto itu. Ku mohon, jangan seperti ini. Kau–kau membuatku takut.”

 

“Kau melarangku melakukannya padamu, tapi kenapa kau melakukannya dengan pria lain IM NAMI ?” Teriak Hyungwon.

 

Nami berusaha mendorong dada Hyungwon menjauh. “Kumohon, aku bisa menjelaskannya.”

 

Hyungwon tak perduli dengan penjelasan Nami. Pikirannya sudah gelap karena cemburu. Lelaki itu juga hilang kendali terhadap tubuhnya sendiri. Ia malah semakin menyudutkan Nami, mengunci rahang gadis itu dengan seluruh tangan kanannya dan…..

 

PLAKKK

 

Nami menampar Hyungwon.

“APA YANG KAU LAKUKAN ?” Bentak Nami. Air mata sudah berkumpul di sudut matanya. Nami tidak menyangka jika Hyungwon yang lembut malah berubah menjadi monster haus akan nafsu. Padahal selama ini Hyungwon tidak pernah menyenggol hal – hal seperri ciuman dan sebagainya, tapi hari ini ? Mengapa ia malah memaksa Nami untuk menciumnya ?

 

“SEHARUSNYA ITU PERTANYAANKU IM NAMI !! KENAPA KAU MELAKUKANNYA NAMI ? KENAPA ?”

 

Nami balas menatap Hyungwon marah. “Jadi,  selama ini kau hanya mengincar ciumanku ? Kupikir kau menyayangiku Chae Hyungwon. Tapi ternyata, KAU HANYA INGIN MEMENUHI NAFSUMU. DASAR BRENGSEK !!!”

 

“Ya, memang itu yang ku inginkan. Lalu bagaimana denganmu ? Kau memanfaatkanku, memanfaatkan ketenaranku. Kau mau menjadi kekasihku hanya gara – gara kau ingin terkenal bukan ? Oh, bahkan kau rela jika ku —-”

 

Perkataan Hyungwon terhenti ketika Nami kembali mensukseskan tamparannya dan kali ini gadis itu mengikutsertakan air mata. Ia menangis, untuk pertama kalinya.

 

“Kumohon Hyungwon, aku tidak ingin melanjutkannya. Kumohon.” Isak Nami.

 

“Kalau begitu, bagaimana jika semuanya kita hentikan saja ?” Nami terbelalak. Ini tidak mungkin terjadi.

 

“Hyungwon-a.”

 

“Kita cukup sampai disini Im Nami, kuharap kau dan aku bisa menjadi lebih dewasa lagi di masa depan.” Penyelesaian yang berhasil membuat hati Nami hancur berkeping – keping. Air mata kembali lolos dari matanya. Nami runtuh sepenuhnya.

 

Merasa tidak ada lagi urusan, Hyungwon berbalik. Berniat pergi untuk menenangkan dirinya. Namun jauh dalam dirinya, Hyungwon tidak menyangka jika ia akan mengatakan kata itu. Ia terus saja merajut langkah hingga Nami tidak lagi terlihat dan di saat itulah,

 

Hyungwon menyesali perkataannya.

 

Menyesali pikiran pendeknya.

 

Menyesali tindakan lancangnya.

 

Dan juga menyesal karena telah berhasil membuat Nami meneteskan air mata di hadapannya.

 

~FlashBack Off————————–————————————————————————–

 

Hyungwon menutup matanya, mengingat kejadian perih itu benar – benar menguras pikirannya. Andai saja dulu ia mau mendengarkan penjelasan Nami tentang pria yang di ciumnya, mungkin hubungan Hyungwon dan Nami baik – baik saja masa itu. Dan rasa menyesal Hyungwon semakin berlipat ketika mengetahui fakta bahwa pria yang Nami cium adalah adiknya sendiri yang tinggal di Jepang.

 

 

Setelah berperang cukup lama dengan pikiran sendiri, disinilah Hyungwon pada akhirnya. Berdiri di depan pintu supermarket tempat Nami bekerja. Berharap memiliki kekuatan untuk masuk, namun yang ia lakukan hanya berdiri dan menatap Nami yang tengah menjalani pekerjaannya. Hyungwon tidak sadar jika ia selalu saja mengulum senyum ketika melihat Nami melayani setiap pelanggannya.

 

Masih belum mendapatkan kekuatan. Hyungwon memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di salah satu kursi yang ada di luar supermarket. Ia menggesekkan kedua tangan dengan cepat karena udara Seoul di malam hari benar – benar  gila. Bahkan jaket tebal yang Hyungwon kenakan masih belum bisa menangkal angin dingin.

 

 

“Terima kasih Nami, maaf sudah merepotkanmu.” Nami menggeleng. “Tidak apa.” Balas gadis itu lembut pada lelaki yang ada di hadapannya.

 

“Kalau saja kau tidak ada, Aku tidak tau lagi harus meminta pertolongan siapa.”

 

“Apa yang kau bicarakan ? Bekerja disini menyenangkan. Aku bisa bertemu banyak orang, terlepas dari kegiatan harianku yang menyebalkan.” Nami melebarkan senyumnya.

 

“Apa kau tidak ingin kuantarkan ? Rumahmu cukup jauh dari sini.” Lelaki itu menawarkan namun Nami menolak. “Siapa juga yang ingin menggangguku ? Kalau begitu, aku pulang eoh ?” Pamit Nami.

 

“O, hati – hati di jalan.”

 

Nami mengangguk. “Pasti. Jangan lupa sampaikan salamku pada ibumu.” Lelaki itu mengangguk dan Namipun keluar dari supermarket.

 

Udara dingin menyambut Nami ketika keluar dari supermarket. Namun hal itu bukanlah yang membuat Nami terkejut.  Kehadiran Hyungwon yang tampak kedinginanlah yang mengejutkan Nami. Alis gadis itu bertaut. Ia berjalan mendekati Hyungwon yang duduk bagaikan gumpalan trenggiling yang menggulung.

 

“Hei, Chae Hyungwon.” Panggil Nami, namun Hyungbau -Hyungwon kerbau- tentu saja tidak akan terbangun. Ia tertidur layaknya orang mati di cuaca ekstrim seperti ini.

 

Nami tersenyum. Hyungwon tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, Hyungwon mencintai aktivitas tidur lebih dari siapapun. Lagi, Nami berusaha membangunkan Hyungwon. Namun kali ini ia membangunkan Hyungwon dengan bisikan. Menghembuskan udara hangat ke dalam telinga Hyungwon dan hal itu tentu saja berhasil.

 

“Kenapa tidur disini ? Apa kau di usir lagi ? Ah, kenapa kau tidak berubah Chae Hyungwon ?” Nami terkekeh melihat wajah Hyungwon yang blank. Dan pria itu langsung mengerti keadaan, ia menggelengkan kepalanya, berusaha terlihat lebih segar dan juga lebih sadar.

 

“A–aku, ta–tadi.” Sial! Hyungwon kehilangan kata – katanya. Ia benar – benar terlihat seperti orang idiot saat ini.

 

“Udara di luar semakin memburuk. Kau akan sakit jika terlalu lama disini.” Hyungwon terdiam.

 

Nami tersenyum, Hyungwon begitu menggemaskan jika terdiam seperti itu. “Kalau begitu aku pulang, eoh ?”

 

Nami baru mulai berjalan sekitar 3 meter ketika tiba – tiba seseorang menggenggam lengannya. Membuat Nami tersentak kaget dan hampir saja melayangkan sebuah pukulan. Namun, pergerakan gadis itu terhenti ketika mendapati jika ternyata Hyungwonlah yang menggenggam lengannya. Dari tangan, pandangan Nami berpindah pada wajah Hyungwon.

 

“Ada apa ?”

 

Hyungwon berusaha mengatur nafasnya terlebih dahulu, ia juga mulai merangkai kata – kata lagi. Dan ketika Hyungwon hendak memulainya, Nami lebih dulu memotong.

 

“Aku ingin minta maaf padamu, Chae Hyungwon.” Pinta Nami dengan wajah di tekuk. Hyungwon tentu saja terkejut. Yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya, bukan Nami. Tapi Hyungwon kembali diam ketika Nami melanjutkan ucapannya.

 

“Aku tidak tau jika saat itu kau memang tidak tau jika Chankyung adalah adik ku. Kupikir kau tau semua tentangku, tapi pikiranku salah sehingga membuat kesalahpahaman itu semakin besar.” Sesal Nami.

 

“Aku juga minta maaf.” Akhirnya Hyungwon lancar berbicara. Lelaki itu juga menurunkan tangannya hingga menggenggam pergelangan tangan Nami. Sementara Nami hanya bisa menegakkan kepalanya, menatap Hyungwon seakan tak percaya. Tak percaya jika yang mengucap maaf adalah Hyungwon.

 

“Seharusnya aku tidak berpikir terlalu pendek saat itu. Memutuskan perkara di saat otak tidak berpikir stabil membuatku menjadi orang paling idiot. Aku bahkan lebih idiot ketika tidak berpikir untuk menemuimu setelah pertengkaran. Membiarkan rasa marah dan benci semakin besar tanpa memulai aksi untuk meredakannya. Aku begitu idiot. Maafkan aku Im Nami. Aku tau kesalahanku sangat besar, dan bisakah kau memaafkanku ? Tidak sepenuhnya memaafkan juga tak apa.” Sesal Hyungwon disertai penjelasan yang membuat hati Nami terasa hangat. Pengakuan Hyungwon, baru kali ini Nami mendapatkannya. Yang setulus ini dan semuanya berasal dari Hyungwon.

 

“Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.” Balas Nami bahagia disertai munculnya angka satu melalui telunjuknya. Sementara tangan satunya masih berada dalam genggaman Hyungwon.

 

“Apa itu ? Kuharap bukan menebak isi kotak berisikan tikus lagi. Kalau kau meminta itu, aku tentu saja akan menolaknya.” Nami terkekeh mendengar nya. Si penakut Hyungwon belum berubah.

 

“Tidak. Aku tidak akan setega itu padamu.” Hyungwon menghela napas lega.

 

“Tapi mungkin akan jauh lebih tega lagi.” Nami melanjutkan, membuat Hyungwon bergidik ngeri. Oh, Im Nami selalu suka sesuatu yang menantang.

 

“Jadi, apa syaratmu ?”

 

Nami menyeringai kecil. Gadis itu lantas menyuruh Hyungwon untuk mendekat kepadanya dan pria itu menurut. Ia mendekatkan dirinya pada Nami. Hingga akhirnya, Hyungwon terbelalak kaget ketika Nami secara mendadak menciumnya dan itu tepat di bibir. ASTAGA!

 

Bukan hanya sekedar ciuman, namun Nami juga memberikan sedikit sensasi di dalamnya. Membuat Hyungwon harus mengikuti alur yang telah Nami perbuat hingga akhirnya mereka mulai merasa kehabisan oksigen dan melepas tautan tersebut. Hyungwon merasa malu sehingga tak mampu menatap Nami. Ia tidak menyangka jika Nami akan berbuat seperti itu.

 

“Sekarang aku sudah berumur 21 tahun, melakukan yang sedikit lebih liar. Tak apa kan ?” Nami berucap disertai tawa. Hyungwon terkekeh di buatnya.

 

“Dan ini, kau harus memakai syal ini.” Nami membuka syal yang ada di lehernya lalu memindahkannya pada Hyungwon. “Aku tidak ingin melihat badanmu lebih kurus lagi. Kau benar – benar seperti tulang berjalan.” Omel Nami, namun Hyungwon hanya bisa tertawa dibuatnya. Oh, kenapa udara yang semula sangat dingin terasa lebih hangat ya ?

 

Belum mendengar apapun dari Hyungwon, Nami lantas merajuk. “Kau tidak ingin menyampaikan apapun setelah kejadian tadi ?”

 

“Menyampaikan apa ?”

 

“Dasar lelaki tidak peka.” Nami cemberut. “Aku bahkan membuang rasa maluku jauh – jauh hanya untuk menciummu.”

 

“Lalu, apa yang harus kukatakan ? Ingin meminta kembali hubungan kita yang sudah putus ?” Nami tersenyum mendengar ucapan Hyungwon. Gadis itu juga mengangguk semangat.

 

“Tidak akan.” Rasa – rasanya Nami merasa pusing. Jawaban Hyungwon benar – benar diluar prakira.

 

“Im Nami, akan tetap menjadi mantan kekasih Chae Hyungwon karena aku tidak mau lagi menganggapnya sebagai kekasih sesaat. Melainkan menjadi kekasih seumur hidupku ketika nanti, apa yang menjadi kewajibanku untuk menjadi kepala keluarga telah terpenuhi. Dan, maukah kau menungguku ?”

 

Sebuah lamaran dadakan, itu sebuah lamaran dadakan. Tanpa cincin, buket bunga dan juga makan malam romantis. Cukup jalanan dan angin yang menjadi saksinya. Nami bahagia, kelewat bahagia malahan. Dan gadis itu tentu saja tanpa ragu mengatakan ya, diiringi anggukan kepala yang pasti. Hyungwon ikut tersenyum lantas memeluk Nami erat seakan – akan tak ingin kehilangannya.

 

“Jadi, kapan ciuman kedua akan kau berikan ?” Goda Hyungwon disela kebahagiaannya.

 

“Ciuman ciuman. Kita harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, lalu mulai mencari pekerjaan tetap. Menabung untuk segala keperluan kita dan ketika fisik beserta mental sudah siap, baru kita bisa melakukannya.” Omel Nami membuat Hyungwon cemberut.

 

“Itu terlalu lama, bahkan hanya untuk ciuman kedua ?”

 

“Ya.”

 

“Kalau begitu.” Hyungwon tersenyum jahil, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Nami sejenak sebelum melarikan diri menjauh dari Nami. “Sebut saja itu ciuman pertama dariku.” Teriak Hyungwon yang mulai menjauh.

 

“YAAA!! CHAE HYUNGWON!!”

 

-CUT-

Lil Quotes        :

Menyelesaikan masalah diwaktu perkara tidak akan memperbaiki semuanya. Berhentilah bersifat egois, berikan jeda waktu dan kau tidak akan menyesali apa yang telah kau putuskan kemudian. Percayalah, penyesalan tidak pernah datang di permulaan.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s