THE CLAN Pt.1 LOST (B ver)

THE CLAN

Pt. 1 LOST (B ver)

 

A story by mintulli

Kihyun, Changkyun (MONSTA X)

Dee (OC)

AU, Fantasy, Slice of life, Friendship

Ficlet| PG-13

[another story inspired from All In music video]

Semua yang dilihatnya dalam mimpi, sungguh nyata

 

 

Ada satu hal yang membuat Dee terkadang merasa kesal. karena dirinya tertidur. Ya, dia sering sekali tertidur dan tak seharusnya itu dilakukannya. Alasan pertama adalah karena dia adalah seorang perawat. Bagaimana baiknya seorang perawat harus menjaga pasien yang sedang terluka, benar begitu? Justru hal itu tak dilakukan Dee dengan baik.

 

Ah ya, gadis ini bernama Dee. Jika dikatakan orang baru, sebenarnya tidak juga. Dee hanya mempelajari hal-hal baru yang lebih mutakhir dan enam puluh persen dijamin kembali sehat perihal pengobatan. Tapi keluarganya menganggap Dee pembangkang. Dee tidak terlalu percaya dengan cara pengobatan menurut tradisi desa yang mengandung unsur kepercayaan terlalu tinggi.

Zaman sudah semakin maju, Dee rasa sudah saatnya semua orang belajar dari penemuan baru yang lebih masuk akal. Justru hal seperti itu membuatnya jadi terasingkan. Bahkan tak dianggap selayaknya penduduk. Tidak secara tersurat memang, tingkah mereka cukup jelas bahwa semua penduduk menolak kehadirannya disana.

 

Dee pergi dari pemukiman. Meninggalkan keluarganya dan memilih untuk tetap memegang ilmu yang sudah dicari. Ia bersabar saja, suatu saat pasti dia akan dibutuhkan. Terserah bagaimana ceritanya dia akan dipanggil sebagai seorang dokter.

 

Tak lama setelah itu, Dee dikejutkan dengan kedatangan dua orang pemuda. Satu pemuda bersurai hitam, lainnya memiliki warna rambut coklat muda. Pemuda bersurai hitam itu terlihat tergopoh-gopoh membopong satu kawannya masuk ke dalam rumah kecil milik Dee yang memang sengaja dibuka untuk pasien yang ingin berobat.

Dee yang awalnya duduk di dekat perapian ruang tengah segera berlari menghampiri pasien baru ketika obsidiannya menangkap pemandangan yang cukup genting itu.

“Apa yang terjadi?”

“Kakinya terluka. Bisa kau menyembuhkannya.”

 

Sekelebat Dee melihat kaki kiri si pemuda bersurai coklat muda itu terluka. Cukup parah, dilihat dari darah segar yang terus saja mengucur disana tanpa henti. Juga celana bagian bawahnya sudah berantakan karena mungkin tembakan, tubrukan, pukulan atau apa, Dee tidak terlalu yakin. Lantas ia membantu pemuda itu membopong badan si pasien ke tempat tidur berwarna putih selayaknya para dokter menidurkan si pasien di tempatnya.

Pasien ini sama sekali tak bergerak. Matanya terpejam sempurna dengan beberapa luka ringan di kedua tangannya. Buruk sekali keadannya.

 

Mungkin dia pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah.

 

“Tolong selamatkan temanku.”

 

Tanpa mendengarkan permintaan itu toh Dee sudah harus melaksanakan kewajibannya. Ini pasien pertamanya dalam sejarah ia angkat kaki dari gubuk pengobatan dengan cara modern di desa nya dulu. Dengan cekatan ia ambil scalpel1 beserta kawanannya untuk mulai membedah apa yang sudah membuat kaki pemuda itu jadi tak normal.

Ditelitinya bagian dalam kaki si pemuda. Ada beberapa benda asing yang tajam dan secara otomatis merusak sendi-sendi disekitar pergelangan kaki si pasien. Hati-hati sekali Dee mengambilnya dengan bantuan kogel2 tang, mengembalikan sendi di tempat yang seharusnya, ada diantaranya juga di sambung. Menit-menit kritis setelahnya ia ambil benang kecil dengan jarum khusus alat dokter untuk menutup luka setelah dioprasi dengan bantuan Suture Forcespsi3.

 

Selesai.

 

Tapi merasa belum berhasil juga karena pasien masih belum sadarkan diri.

“Apa dia akan baik-baik saja?”

 

Dee hampir saja lupa jika ada orang lain yang ternyata selama beberapa jam ia menahan muntah dan takut melihat kaki karibnya dibedah oleh berbagai alat operasi yang tajam.

 

“Kita hanya tinggal menunggu sampai dia siuman.”

“Jika tidak? Apa dia akan mati?”

 

Gadis itu membersihkan alat-alat penyelamatannya dengan air mendidih. Setelahnya, ia bersihkan sisa-sisa darah yang masih ada pada tubuh sang pasien juga di tangan lentiknya. Dee sengaja tak langsung menjawab. Ia sedikit khawatir jikalau praktik perdananya ini gagal.

 

“Entahlah.. yang jelas aku sudah melakukan yang terbaik.”

 

“Hei! Aku tahu aku datang kesini memang tidak membawa uang….”

“Aku tidak minta dibayar.” Potong Dee. Ia tentu tahu maksud lelaki itu. Melihatnya membawa sang teman seorang diri dengan keadaan berantakan seperti habis berperang, Dee mengerti jika dua pemuda ini bukanlah tergolong orang berada. Lagipula, Dee memang sudah mengabdikan dirinya sebagai seorang penyelamat. Bukan dokter yang meminta modal uangnya kembali.

 

“… tapi kau seharusnya melakukan penyelamatan dengan baik.”

“Kau meragukanku?”

 

Oh. Kalimat pemuda itu rupanya cukup membuat Dee tersinggung. Si lelaki dengan surai hitam dan mata kecil yang cukup tajam itu terlihat menimbang-nimbang akan menjawab apa. ia perhatikan Dee dari atas sampai bawah, lalu ia beranikan untuk bertanya.

 

“Sudah berapa lama kau jadi dokter?”

 

Dee menyunggingkan kedua sudut bibirnya mendengar itu seraya mengambil kembali alat-alat yang sudah bersih dari netralisasi air mendidih. Bisa dipastikan, ketika si penanya itu melihatnya, bulu kuduknya berdiri seketika. Agak seram memang.

 

“Sebenarnya… ini operasi pertama ku sih.

“Ah sial. Harusnya tak ku bawa kesini dia tadi.” Gumam pemuda itu. sedang Dee yang sangat jelas mendengar itu menyeringai. Geli sendiri mendengar orang lain terlihat menyesal membawa pasien datang ke rumah kecilnya.

 

“Lalu.. apa yang membuatmu datang kemari?”

Pemuda itu berjalan mendekati teman karibnya yang masih belum sadarkan diri. Mengecek hasil jahitan Dee yang terbilang cukup sempurna karena sama sekali tak terlihat seperti habis terkena luka parah.

“Aku lebih tidak yakin lagi jika dibawa ke tempat klenik… yah, kau tahu sendiri.”

 

Wah, rupanya Dee punya sekutu juga untuk tidak mendukung pengobatan tradisi desa. Melihat keadaan si pemuda, ada inisiatif di benak Dee untuk mengambilnya satu gelas minum. Sudah pasti lelaki itu ingin minum sesuatu yang segar. Apalagi dia baru saja melihat teman kakinya di bedah.

Dee menyenggolkan satu gelas air mineral kepada pemuda itu. dengan cepat si pemuda menegaknya sampai habis.

“Aku Changkyun, dan dia Kihyun.”

Dee mengangguk lalu menyambut tangan Changkyun untuk bersalaman.

“Panggil saja aku Dee.”

 

Changkyun mengangguk juga, “Ya, bagus. Aku akan langsung melaporkanmu pada askar di sekitar sini untuk membunuhmu jika temanku mati.”

Dee tertawa renyah lantas menepuk pundak si empu yang habis mengancamnya.

“Doakan saja temanmu agar cepat sadar.”

 

Gadis dengan rambut hitam legamnya yang terjuntai dengan ikatan kuda itu secara tak sadar memandangi sang pasien. Dalam batinnya ia berdoa.

‘cepatlah sadar, Kihyun’

 

“Aku harus pergi. Sampai jumpa.”

“Pastikan kau kembali untuk menemui temanmu, Changkyun!” dee berteriak sebelum siluet badan Changkyun benar-benar hilang. Ia melihat si pemuda hanya berbalik lalu mengangkat jempol tanda menyanggupi.

 

 

Setiap dua jam sekali Dee melihat keadaan Kihyun yang masih tertidur di ruang pasiennya. Ia cek keadannya, tak ada tanda-tanda jika operasi nya gagal. Hanya masalah waktu agar semuanya terlihat jelas, bahwa Kihyun akan segera membuka mata.

Lalu Dee tertidur disana. Tepat disamping Kihyun yang terlelap.

 

 

-o-

 

 

Samar-samar Dee mendengar suara riuh. Bukan sorakan penonton. Bukan gedebum pistol. Bukan juga suara orang berteriak sebab ada bencana atau apa. sambil masih terlelap, Dee mencoba mendengarkan dengan baik. Mungkin saja ‘kan suara itu terdengar di dunia mimpinya. Tapi..

 

Tidak! Sama sekali tidak.

 

Ini jelas sekali terdengar di dunia nyata. Dee memang sudah terbangun tapi matanya masih sulit terbuka. Suara riuh itu semakin nyata saja. Kedengarannya seperti mengobark-abrik perabotan rumahnya. Segera kelopak mata Dee terbuka. Di depannya saat ini, tak ada Kihyun yang harusnya masih terbaring disana.

Sedang suara-suara ribut di belakangnya kembali menginterupsi. Menyadarkan sang pemilik rumah untuk segera berlari ke dapur untuk melihat ada apa.

 

Biangnya adalah Kihyun. Ia disana sedang … membongkar lemari pendingin, juga laci-laci tempat Dee biasa menyimpan makanan. Sungguh, Kihyun terlihat seperti orang kriminal yang akan mengambil barang dengan paksa.

Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Dee. alasan Dee untuk tercengang sekarang adalah seorang Kihyun. Dia berdiri tegap dan berjalan ke kanan dan ke kiri cukup baik, meski harus dibantu dengan kedua tangannya untuk memegang meja makan atau kursi sebagai alat bantu keseimbangannya.

“Kau pulih sangat cepat ya?”

 

Kihyun tersentak melihat Dee dibelakangnya. Untuk beberapa saat dia membeku dengan kedatangan Dee. Seharusnya Dee yang seperti itu, tapi si gadis rupanya terlalu antusias melihat Kihyun yang sudah sadarkan diri dan bisa berjalan.

 

“Apa kakimu tidak sakit?”

 

Kihyun malu-malu mengangguk. Ada perasaan salah tingkah dalam dirinya karena sang pemilik rumah sama sekali tak marah atau memaki dirinya yang sudah lancang membuat dapur menjadi berantakan. Sangat berantakan.

 

“.. sedikit”

 

“Benar tidak apa-apa?” Dee mengernyitkan dahinya, lantas mendekat ke arah Kihyun yang masih belum beranjak dari poisi terkejutnya. Dee terduduk dihadapan Kihyun untuk melihat keadaan kaki yang kemarin baru dibongkarnya.

“Ya Tuhan… ini akan membengkak.”

 

Kihyun tergencat. Ia alihkan pandangannya pada kakinya yang sakit.

“Harusnya kau tak berjalan dulu.” Gadis itu lalu meraih tangan kanan Kihyun, lalu dikalungkannya di leher. Ia paksa Kihyun berjalan dengan satu kaki sambil Dee menahan separuh beban berat badan Kihyun. Pelan-pelan sekali Dee memapah Kihyun untuk kembali ditidurkan di tempat pasiennya.

 

“Ku pikir ini sudah membaik.”

“Setidaknya kau harus membiarkan kakimu berisitirahat selama dua hari.”

Kihyun menghela napas gusar.

 

“Jangan khawatir, kakimu pasti cepat pulih”

 

Pemuda bermarga Yoo itu selama beberapa waktu terbius dengan kurva yang tercipta di kedua sudut bibir si gadis. Belum pernah ia melihat gadis tersenyum se-menawan itu. Lalu setelahnya….

 

Suara perut Kihyun menginterupsi.

“Ah, jadi kau lapar ya? Sampai berani berjalan ke dapur ku.”

 

Kihyun mengalihkan pandangannya karena malu. Bukan malu juga. Hanya bersikap seperti ‘salah siapa yang tak menyiapkan makanan untukku?’

 

“Tunggu disini, akan ku buatkan sup untukmu.”

 

Pemuda bersurai coklat muda itu menaik turunkan kepalanya pelan. Antara merasa canggung, tapi juga lemas karena perut yang masih kosong.

Lima belas menit berlalu, Dee kembali membawa dua mangkuk sup yang aromanya sungguh membuat perut Kihyun semakin meronta untuk segera diisi. Jadi Kihyun dengan cepat mengambil satu mangkuk dari nampan yang dibawa Dee, lantas menyantapnya tanpa meminta izin Dee untuk makan lebih dulu.

Dee santai saja. Ia tahu bagaimana rasanya lapar setelah di operasi dan tertidur selama sehari penuh tanpa bangun.

“Jadi… kau yang mengobatiku?”

Dee tersenyum mengiyakan.”Temanmu Changkyun yang membawamu kesini.”

 

“… aku sudah menyuruhnya untuk menjengukmu hari ini, kau tenang saja.”

 

“Dia mungkin tak datang.”

Hampir saja Dee tersedak sebelum akhirnya dia tak kembali menyeruput kuah sup yang tinggal beberapa sendok saja.

“Kenapa memangnya?”

 

Kihyun hanya menggeleng sembari melempar satu ulasan senyum. Ia kembali menikmati sup buatan Dee setelahnya. Mungkin masalah privasi. Dee tentu tak berani bertanya yang lebih jauh, jadi dia balas tersenyum juga.

 

“Terimakasih ya, sudah menolongku.”

“Sudah tugasku, meski kau pasien pertamaku.”

 

Mata Kihyun mendadak membulat. Oh, bahkan seperti akan keluar saking terkejutnya.

“Kau baru pertama kali ini mengobati orang?”

 

“Kau sudah sadar, bahkan berani membuat dapurku berantakan.  Jadi tak masalah kan?”

 

“Jika kakiku masih sakit bagaimana?”

 

“Turuti saja kata dokter bahwa kau harus istirahat selama dua hari disini.”

 

Dee memasang wajah menangnya pada Kihyun. Meski baru ini dia berinteraksi banyak dengan pasien. Dia tahu betul gelagat Kihyun yang mencoba meng-skak mat pernyataannya. Karena disini Dee seorang dokter, jadi dia punya banyak jawaban jitu untuk membuat Kihyun mengalah.

 

“Aku akan membuat kakimu sama seperti ku jika saja nanti….”

 

“Aku Dee. “

 

Kihyun mengernyitkan dahinya. Seolah-olah bertanya ‘apa maksudmu memotong pembicaraanku?’

“Jika kau ingin meminta bantuan teman mu nanti ….untuk memotong kaki ku mungkin, setidaknya kau harus tahu namaku. Benar begitu, Kihyun?”

 

Pemuda itu melepas tawanya. Merasa konyol sekali dia. Ternyata ada gadis yang berani menyamai mengimbangi sikap naif nya. Menarik sekali. Menarik hati Kihyun juga.

 

 

Lalu setelah itu, Dee banyak bercerita dengan Kihyun. Bagaimana dia dulu, dan mengapa dia bisa pergi ke perbatasan desa yang cukup jauh. Tambahannya, mereka semakin dekat setelah itu. bahkan mereka sempat mencuci mangkuk sup bersama. Juga… Kihyun terkadang mengganggu Dee yang sibuk membenahi ini-itu di rumahnya –layaknya seorang gadis yang tinggal sendiri.

Semuanya terasa menyenangkan bagi Dee maupun Kihyun.

 

Sampai ada satu peristiwa yang… sungguh jika ditinjau dari pikiran manusia, ini tidaklah masuk akal. Diluar pemikiran. Fantastis, tapi juga misterius.

 

Suatu malam Dee tertidur seperti biasa. Tidak di dekat Kihyun, tapi Kihyun memang masih berada disana. Terbaring di tempat tidur pasien selama masa pemulihan lukanya. Dee membiarkan dirinya terlelap di sofa ruang tengah dekat perapian.

 

Lantas setelah beberapa jam, ia seperti melihat.

Sungguh jelas dengan mata terbuka.

 

Kihyun sedang berlari. Berlari seperti menghindari sesuatu. Air mukanya begitu khawatir, sesekali menahan rasa sakit. Ia terus memaksakan tungkainya untuk melangkah cepat. Untuk berlari tanpa menoleh ke belakang.

Kruck yang dibawanya pun secara spontan di lempar ke sembarang arah. Pelan tapi pasti dia menjauh. Pelan tapi pasti dia biarkan kakinya yang kesakitan untuk tetap berlari meninggalkan sesuatu. Bersama napasnya yang terengah, dia mencoba melarikan diri dari sesatu yang Dee tak tahu apa itu.

Lantas ia mendengar suara ledakan hebat. Ia sungguh merasakan suara itu juga meledak dalam jiwanya. Ia sadar akan itu, sampai tiba-tiba semuanya terlihat gelap. Semakin gelap dan tak terlihat.

Setelahnya Dee kembali membuka mata.

Kali ini dikerjap-kerjapkan nya berulang kali, dan ia tersadar… bahwa itu hanya mimpi.

 

Tapi..

Semua yang dilihatnya dalam mimpi, sungguh nyata. Tak ada satupun yang terlihat fana atau delusi mimpi semata.

 

Dee alihkan atensi nya pada tempat tidur Kihyun. Dalam remang-remang ia sipitkan obsidiannya agar terlihat semakin jelas bahwa ..

 

Kihyun tak terbaring disana.

 

Segera saja Dee bangkit dari sofa. Kembali mengabsen keadaan untuk mencari keberadaan Kihyun. Kalau saja Kihyun pindah tidur atau memporak porandakan dapurnya lagi. Sungguh, Kihyun memang tak ada di rumahnya.

 

Sebelum Dee memutuskan untuk pergi, ia dikejutkan oleh suatu keadaan. Dimana diluar sana, angin berhembus sangat kencang. Salju turun dengan kencangnya tanpa ampun. Ini aneh, tak biasanya ada badai salju datang. Lantas begitu dia membuka pintu rumah, semuanya kacau.

Hancur berkeping. Hanya rumahnya yang masuih bertahan. Sedang yang lain sungguh sudah tak bisa dikatakan pemukiman lagi. Kepalanya menoleh ke kiri dan ia melihat desa sudah tak karuan. Bahkan terlihat seperti desa mati.

 

Dee lalu berlari mencari Kihyun. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang di mimpi tadi benar hanya mimpi. Bukan Kihyun yang nyata yang memang berlari meninggalkan dirinya. Bukan Kihyun yang memang menjauh darinya. Itu sungguh mimpi. Tapi bagaimana bisa terlihat sangat nyata.

Buruknya saat ini, Kihyun memang tak ada. Seperti benar-benar sudah lari. Entah mengapa, kemana dan untuk siapa dia melakukan itu.

 

Sekon selanjutnya, rungu Dee menangkap suara bedebam yang keras. Lalu dengan itu bebarengan dengan dirinya yang jatuh terpental lantas matanya terpejam semakin dalam, semakin gelap.

 

Dee mencoba menggerakkan badannya diantara runtuhan puing. Ia seperti mati rasa. Tapi bisa mendengar seseorang samar-samar bersua di telinganya.

 

“Apa kau baik-baik saja, nona?”

 

 

tbc

 

Kamus :

 

1scalpel : pisau bedah/untuk  memotong jaringan.

2 kogel tang : menjepit dan mengangkat organ

3 Suture Forcespsi:  menjepit luka yang terbuka

 

 

 

                TATATARATATA! Ini mintulli kembali dengan THE CLAN Pt.1 LOST (B Ver)

Untuk yang cerita ini difokuskan pada story Kihyun :”)

Sekali lagi ini murni imajinasi saya berdasar mv All In yaa hehehe.

Mohon ditunggu untuk versi selanjutnya dari cerita THE CLAN, oke?

Mind to review?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: mintulmint

perempuan, lucu, dan baik :) have a big eyes, big smile, and big laugh! and also full of surprised!

13 thoughts on “THE CLAN Pt.1 LOST (B ver)”

  1. aku baperrrrr…. asli baper pas bagian kihyun ketawa… walahhhh… bayangin ketawa ala kihyun yg nyembur duluan itulho terus matanya ilang sambil keliatan lesung pipinya wkwkwkwk aingggg …. dan aura misteriusnya berasa banget lohh.. daebakk … baksuu… kepo kenapa kihyun bilang changkyun gaakan dateng… what happen?? mwoee?? wae?? wkwkwk ini semacam penjabaran imajinasi all in.. asli sukaaaa wkwk berimajinasi cerita nyatanya georeo.. heheuttt dan kenapa kihyu kabur?? kepoo pokoknyaa…. ditunggu next nyaa yhaa heheuttt

    Like

  2. AAAK AKU TERHARU :”>
    Ini keren banget tegang gitu
    Bikin senyum2 sendiri :)))
    Apa yang terjadi ya Rabb? Mungkinkah itu semua hanya mimpi? Kihyun tak pernah ada di sana??? Ingat, oppa itu memang fana. Sadar, Dee, sadar. /?
    Pokoknya harus hepi en ya
    Makasih mintulli :*
    Keep writing 💕

    Like

    1. HWALUUU AW AW AW!!! eh masa bikin tegang si? alhmdulillah dah kalo ini ngefeel wkkwkkw ini nunggu comeback mv part.2 nya dulu baru bisa lanjut saayy :”) doakan nyambung yaaa huhuh :”))
      ih requestnya kwkwkkw. oke makasi reviewnya juga cincaaaaa ❤

      Like

      1. WAQS AKU KEMBALI KE DARI PERADUAN (?) K, sebelumnya ku mau kasi klarifikasi kenapa kemaren cuma ngelike karena aku mau baca tapi keduluan ngantuk(?) dan kenapa tadi aku cuma nyepot doang padahal udah baca karena aku baca lewat hp dan komen lewat hape itu ribet sekali…. YA JADI AKU KEMBALI DALAM KONDISI SUDAH MEMBUKA SEOKJIN (EH)

        OKE KU DI SINI SUNGGUH MELIHAT KEDUA BIASKU BERMAIN BERDAMPINGAN DUH RASANYA SENANG SEKALI WALAU AIYEM CUMA NONGGOL SEKELEBIT(?) TAPI GAPAPA HATI INI ENGGA GUNDAH KOK……. YANG PENTING KIHYUN DAN DEE SELALU BERSAMA (EH)

        But aku mau tany sedikit nad, itu di atas-atas ada percakapan begini, “Kakinya terluka. Bisa kau menyembuhkannya.” mungkin kamu meninggalkan tanda tanya di sana atau memang seperti itu(?)

        Yowis lah apalah arti tanda tanya jika Kihyun bak maling tamvan yang ngobrak-abrik dapur orang. Maapkeun ya, Dee, Kihyun emang rada gatau malu……

        INTINYAAA AKU CUKUP PENASARAN DENGAN KEJADIAN YANG DEE RASA MIMPI TAPI ITU NYATA DAN KIHYUN KEMANA? APA KIHYUN UDA DIJEMPUT SAMA AIYEM? APAPULA YANG TERJADI PADA NEGERI ITU RASANYA KACAU SEKALI? INGATLAH, KAK KIHYUN DAN CHANGKYUN, ADA PBB, DUNIA INI SUDAH BEBAS DARI PERANG(?)

        KUTUNGGU LANJUTANNYA INI NADSE MANGATZEEEE!!!! XD

        Komenanku…….. astaga….

        Liked by 1 person

    1. WAHAHAAHHAYY ADU MAKE MA DAY SEKALI KOMENMUUU BRUTAAALLL ><

      Yaaa nyempil aja sih aiyem, kalo muncul terus ntar ciwi ciwi pada ketabrak /? YA BAYANGKAN SAJA KETAMPANAN MEREKA BERSANDING APAKABAR PARU2 MU? WKWKWKKW

      iyaaaaa it typoooo MAAFKAN T_T
      AHAHAHAHA YA ITU KUDU NUNGGU PART2 MV KELUAR BAEU BISA LANJUT HEHEEHHE. SEMOGA BISA NYAMBUNG YA DOAKAN :"""")

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s