[MONSTA X FF FREELANCE] DEBUT!

Poster FF wonho_254

DEBUT!

“Aku tidak peduli. Aku ingin debut.”

.

.

.

.

By : Hanhyera

.

.

.

Shin Wonho || Park Yoonji (OC) || Monsta X’s members

.

.

Romance, Fluff

 

 

 

Dentuman lagu, irama musik, hentakan kaki, peluh keringat, dan deru napas yang saling kejar mengejar menjadi latar belakang cerita tentang perjuangan para idola Korea untuk mengejar mimpi mereka.

Jika tidak berjuang sampai akhir, maka ucapkanlah selamat tinggal akan mimpimu yang akan merubah hidupmu menjadi gelap gulita untuk selamanya. Namun, kata menyerah itu tidak akan ada dalam kamus Shin Yoonji. Selama jantungnya masih berdetak, ia akan melakukan apapun yang ia inginkan sampai ia mendapatkannya. Seperti sekarang ini, apa yang ia rasakan ialah waktu untuknya debut hanya tinggal selangkah lagi. Mau bagaimanapun, ia harus berlatih lebih keras agar dapat memberikan hasil yang memuaskan bagi siapapun yang memiliki kekuasaan untuk mendebutkannya.

Yoonji tidak sendiri. Bersama dengan ke 13 teman sesama perjuangannya, mereka berjuang bersama-sama untuk debut dalam satu tim. Memang kebetulan sekali, perusahaan mereka ingin mendebutkan sebuah grup yang unik, sebuah grup yang beranggotakan 7 perempuan dan 7 laki-laki dalam satu grup. Mereka telah berlatih bersama untuk menampilkan sesuatu yang berbeda di hadapan publik selama kurang lebih dua tahun. Namun, pengumuman yang mereka tunggu tak kunjung mendarat di masing-masing kedua telinga mereka.

Yoonji masih saja berkonsentrasi dengan latihannya dan hanya memfokuskan pada pantulan dirinya di cermin, ketika rasa sakit itu muncul. Dengan sifatnya yang keras dan pantang menyerah, tentu dihiraukannyalah rasa sakit itu yang muncul dari pergelangan kaki kanannya. Setelah semenit dua menit berlalu dan Yoonji masih menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik, rasa sakit itu semakin menggila, membuat Yoonji terhuyung ke samping dan mengacaukan suasana latihan. Sontak, beberapa temannya mengerumuni Yoonji untuk mengecek keadaannya, dan beberapa teman lainnya pergi untuk mematikan musik yang masih mengalun.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Naeun, teman terdekatnya karena mereka seumuran.

“Sepertinya kakimu sakit. Istirahatlah.” perintah Shownu, sang leader sekaligus member tertua.

“Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku.” tegas Yoonji. Dipaksanya tubuh itu untuk kembali berdiri tegak. Menurutnya, kaki sakit seperti ini bukanlah menjadi penghalang.

“Jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kau istirahat saja.” pinta Minhyuk.

“Aku benar baik-baik saja. Jadi, ayo kita lanjutkan latihannya.”

Semua member mengalah. Mereka sudah tahu betul sifat keras kepala Yoonji sehingga mereka juga tidak bisa memaksanya. Akhirnya, latihan kembali berjalan atas kemauan Yoonji. Baru sekitar 10 menit latihan kembali dimulai, Yoonji berhenti bergerak dan mengaduh kesakitan. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi dan lebih hebat dari sebelumnya.

“Yoonji eonnie, kau tidak apa-apa? Tolong jangan paksakan dirimu!” ucap Bona dengan nada penuh kekhawatiran.

“Aku baik-baik….”

“Kau tidak baik-baik saja.” ucap Kihyun menyela. “Lebih baik kita beristirahat sejenak.”

Dengan perintah Kihyun, Yoonji dibantu dengan kedua temannya, Jay, Minyoung, dan Arin, dipapah menuju kursi yang terletak di ujung ruangan. Semua member memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk beristirahat, seperti minum, duduk, mengelap keringat, tapi kebanyakan dari mereka juga mengerumuni Yoonji untuk menemaninya.

“Eonnie, kalau kakimu sakit, lebih baik kau tidak usah ikut latihan saja.” Yuju, member termuda, memohon Yoonji dengan wajahnya yang memelas.

“Benar, kau harus menyayangi tubuhmu sebelum kau ingin bekerja keras.” ucap I.M.

“Aku tidak peduli. Aku ingin debut. Yang ada di mataku hanya debut dan debut. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangiku untuk bekerja keras mengejar mimpiku.” Entah apa yang membuat Yoonji malah terisak ketika ia mengatakan kata-kata itu. Baginya, menjadi lemah dan tak berdaya itu tidak akan pernah membuatnya maju menggapai mimpinya. Apalagi di saat-saat penting begini, dimana kemungkinan waktunya untuk debut tinggal sebentar lagi. “Semua ini memang terasa berat, tapi biarkan aku tetap latihan. Aku ingin debut!”

“Ah, jebal! Ini membuatku frustasi. Hyung! Wonho hyung! Bujuklah Yoonji agar ia tidak keras kepala seperti itu.” teriak Minhyuk memanggil nama Wonho. Yang dipanggil namanya hanya bisa tersenyum geli seraya menggelengkan kepalanya. Wonho berjalan mendekati kerumunan dan berjongkok di depan Yoonji.

Sebelum berkata, ia menarik napas dulu perlahan. “Jadi, Park Yoonji, kau ingin tetap latihan? Dengan kakimu yang sakit seperti itu?” ucap Wonho dengan nadanya yang tenang.

“Iya. Aku tidak peduli jika kakiku sakit atau apapun, yang aku inginkan aku tetap mau latihan.” Yoonji mengatakannya seraya menghapus air mata dengan tangannya.

“Baiklah, kalau memang kau bersikeras.”

Semua membelalakkan matanya, tanda tak percaya dengan ucapan Wonho.

“Hyung, apa kau sudah mulai gila?” tanya Jooheon tidak percaya.

Wonho mengedikkan kedua bahunya, menampilkan wajahnya yang polos ketika berbicara. “Toh, itu keinginan dia. Aku juga tidak akan bisa memaksanya.”

Setengah dari diri Yoonji merasa senang karena ada juga yang dapat mengerti jalan pikirannya. Tapi setengah dari dirinya juga merasa tidak nyaman setelah mendengar Wonho yang tidak begitu berusaha mencegahnya untuk latihan.

“Tapi kau harus ingat satu hal, Yoonji.” Yoonji mulai menatap kedua mata Wonho yang mulai menatap Yoonji begitu dalam. “Latihan dalam keadaan sakit tidak akan membuat dirimu satu langkah lebih dekat dengan impianmu untuk debut lebih cepat. Apa kau tidak memikirkan hal yang akan terjadi ke depannya? Apa kau tidak pernah berpikir akan kehilangan mimpimu dalam sekejap hanya dengan tidak mempedulikan kesehatanmu?” Ucapan Wonho yang terdengar ringan, terasa begitu berat di telinga Yoonji. Walau Wonho mengatakannya dengan nada biasa saja, tapi Yoonji merasakan matanya berbicara. Matanya itu yang penuh dengan sarat kepedulian dan kekhawatiran. “Lalu apa yang bisa kau lakukan? Hanya menyesal, bukan? Memangnya kau ingin merasa menyesal hanya karena satu buah kebodohan yang kau perbuat sendiri?”

Yoonji membeku. Bukan karena ia marah karena telah dinasehati di depan teman-temannya. Justru ia malu, malu akan kebodohannya sendiri. Wonho benar. Semua yang diucapkannya masuk akal. Mengapa bisa matanya seakan dibutakan oleh ambisinya sendiri? Yoonji, kau benar-benar manusia terbodoh.

“Lihat, kau tidak bisa mengelak, bukan?” ucap Wonho dengan cengiran mulai menghiasi wajahnya. “Lupakan ambisi bodohmu itu, Yoonji. Kau ingin debut, kita semua juga ingin debut. Tapi jika kau sampai melupakan kesehatanmu, maka mimpimu itu akan semakin jauh untuk kau gapai. Kau tidak ingin tidak debut bersama kami, kan?” Yoonji membulatkan kedua matanya dan mulai menatap semua temannya. “Tentu saja aku ingin debut bersama kalian.”

“Eonnie, aku ingin debut bersamamu. Kalau kau tidak debut bersama kami, maka aku juga tidak akan debut. Pokoknya aku ingin debut bersamamu.” Bona memeluk Yoonji manja. Yoonji terkekeh pelan.

“Ah, akhirnya manusia keras kepala ini tidak lagi menjadi batu.” ucap Minhyuk dengan nada sarkastik.

“Apa? Kau ngomong apa, Lee Minhyuk?”

“Tidak, tidak. Lupakan saja.” Selepas berbicara seperti itu, Minhyuk meinggalkan kerumunan dan berjalan mendekati Shownu yang sedari tadi memantau dari jauh.

“Tunggu apa lagi. Pergilah ke klinik sekarang dan periksakan kakimu, sebelum semuanya terlambat.” ucap Hyungwon sambil lalu. Ia berkata seakan tidak peduli, padahal ia tentu sangatlah peduli. Beberapa dari mereka mulai meninggalkan kerumunan dan kembali untuk siap-siap melanjutkan aktivitas mereka.

“Ayo, kuantarkan kau ke klinik!” ajak Jay yang sudah mulai berdiri dan bersiap untuk memapah Yoonji.

“Biar aku saja. Kau kembalilah latihan, Jay. Masih banyak yang harus kau perbaiki dari gerakanmu.” ucap Wonho mengingatkan Jay. Tentu saja, Jay adalah main vocalist dan ia tidak memiliki pengalaman menari sebelumnya. Jay sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia justru malah meminta maaf pada Yoonji karena tidak dapat mengantarnya ke klinik.

Sekarang, hanya tinggal Wonho dan Yoonji berdua. “Kau juga kembalilah latihan. Aku bisa jalan ke klinik sendiri.” Sifat keras kepala Yoonji masih saja berlaku pada saat-saat seperti ini. Baru mencoba bangkit berdiri, ia tidak dapat menahan rasa sakit di kaki kanannya sehingga ia akan kembali terjatuh, ketika kedua tangan Wonho menangkap tubuh Yoonji tepat pada waktunya.

“Masih ingin bersikeras untuk latihan? Lihat, berdiri saja tidak bisa.” goda Wonho.

“Diamlah, Shin Hoseok! Jangan menggodaku.”

Wonho terkekeh pelan mendengar ucapan Yoonji. Setelah itu ia kembali berjongkok dengan menampakkan punggungnya yang lebar di hadapan Yoonji.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoonji bingung.

“Menunggumu naik ke punggungku.”

“Kau ingin menggendongku?”

Wonho memutar kedua bola matanya. “Tentu saja.”

Yoonji tersenyum penuh arti. Tanpa perlu menunggu lama, ia segera menempelkan tubuhnya pada punggung Wonho dan melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Wonho. Wonho tidak membutuhkan banyak usaha untuk berdiri dengan Yoonji berada dalam gendongannya karena nyatanya tubuh Yoonji memang tidak begitu berat.

“Apa aku tidak berat?” tanya Yoonji, helaan napas nya sempat menggelitik leher Wonho selama seperempat detik.

“Hmmm, kau ingin sebuah fakta atau sebuah dusta?”

“Apa-apaan kau ini? Apa yang akan kau katakan jika aku memilih dusta?” tanya Yoonji tidak sabar.

“Aduh, kau sangatlah berat, Park Yoonji. Apalagi dengan “batu-batu” keras kepala itu di kepalamu. Sepertinya aku tidak sanggup menggendongmu lagi.” ucap Wonho seraya berpura-pura berjalan sempoyongan, membuat Yoonji mengeratkan kedua tangannya di leher Wonho.

“Berhenti bermain-main, Wonho-ya! Kau membuatku takut. Oh, dan juga berhenti menjadi menjengkelkan seperti Lee Minhyuk. Aku sangat ingin memukul kepalanya.”

Wonho hanya bisa tertawa mendengar omelan Yoonji, karena menurutnya itu terdengar sangat lucu.

“Lalu, jika itu adalah dusta, bagaimana dengan yang fakta?” tanya Yoonji penuh dengan nada penasaran.

“Kau sama sekali tidak berat, Yoonji-ah. Aku bisa menggendongmu hanya dengan satu tangan.” Dan setelahnya ia benar-benar melakukan itu, membuat Yoonji sontak menjerit di tengah koridor, dan kembali membuat Wonho tergelak tawa.

“Shin Hoseok, jika kau kembali melakukan hal seperti itu, aku akan…”

“Berkencanlah denganku, Yoonji.” ucap Wonho tiba-tiba.

“Apa?”

“Berkencanlah…..denganku.”

 

***

Yoonji’s POV

 

“Untung saja kau tidak datang terlambat, sehingga kakinya masih bisa disembuhkan. Jika tidak, kakimu harus diperban berbulan-bulan. Ini. Olesi dengan salep ini dua kali sehari, maka sekitar 3-5 hari, kakimu akan sembuh.” ucap dokter Lee yang memang bertugas mengobati para artis dan trainee di entertainment ini.

“Terima kasih banyak, Dokter Lee.” ucapku tulus.

Selepas itu, ia meninggalkanku dan Wonho berdua, dimana aku masih terbaring di atas ranjang pasien setelah dokter Lee memeriksa kaki kananku.

“Jangan lupa untuk mengolesnya dua kali sehari. Kau harus cepat sembuh, agar bisa kembali latihan. Mengerti?”

“Aku mengerti, Shin Hoseok yang cerewet.”

Kami kembali terdiam, bingung ingin berkata apa. Ini semua gara-gara Wonho. Mengapa juga secara tiba-tiba ia mengajakku berkencan? Yang ia katakan justru membuat suasana di antara kami menjadi canggung. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya mengingat aku dan Wonho sudah sangat dekat sejak pertama kali kita menjadi trainee. Benar, aku dan Wonho adalah trainee dengan masa training terlama, sudah sekitar 7 tahun. Tidak heran apabila kita memiliki hubungan yang sangat dekat dibanding dengan member-member yang lain.

“Wonho-ya.”

“Hmm?”

“Atas dasar apa kau tiba-tiba mengajakku berkencan?”

Wonho tersenyum, senyum yang selalu menjadi favoritku selama ini. “Karena aku tertarik padamu, Yoonji.”

“Apa yang membuatmu tertarik padaku?”

“Ada tiga alasan.”

Aku memiringkan kepalaku bingung. “Tiga?”

“Benar. Alasan nomor tiga adalah karena kau memiliki mata yang indah.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Heol. Apa itu bisa dijadikan alasan?”

Tanpa mempedulikan ucapanku, Wonho melanjutkan ucapannya, “Alasan nomor dua, tentu karena kau terlihat cantik dan juga memiliki tubuh yang seksi.”

“Apa? Wah, hebat! Apakah semua lelaki di Korea menyukai seorang perempuan hanya dari fisiknya saja?” omelku.

“Dan alasan nomor satu adalah karena kau memiliki sifat yang baik, Yoonji. Aku mengenalmu sudah hampir 7 tahun sehingga aku mengenal baik dirimu.”

Percaya atau tidak, aku tidak merasa tersentuh dan terkesan akan jawabannya. Semua alasan itu seakan dibuat-buat.

“Dan ada satu alasan lagi, alasan nomor nol….”

“Nomor nol? Jangan mengada-ada, Wonho, mana ada…”

“……alasan dimana aku tidak membutuhkan alasan untuk menyukaimu. Memangnya, apa kita harus memiliki alasan yang kuat untuk menyukai seseorang? Jika kau bertanya pada hatiku, akan ada banyak sekali jawaban yang menjadi faktor bagaimana aku bisa menyukaimu, misalnya saja alasan-alasan yang tadi kusebutkan. Tapi, yang penting bagiku adalah alasan nomor nol dimana aku tidak membutuhkan alasan apa-apa untuk menyukaimu. Perasaanku mengalir adanya dengan tulus untuk menyukaimu, Yoonji.”

Menakjubkan. Entah bagaimana caranya, ia sukses membuatku bersemu merah. Ia juga sukses membuat hatiku berdegup kencang. Dan, ia juga sukses membuatku tidak dapat menahan senyum. Bagaimana seorang Wonho yang sudah kukenal dalam waktu yang lama, dapat membuatku menjadi orang bodoh seperti ini?

“Jadi, maukah kau berkencan denganku?” tanya Wonho dengan nada yang serius.

Aku berusaha menahan diriku agar tidak melompat di tempat.

“Baik, tapi dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya?”

“Kau bilang tadi bahwa aku tidak berat, bukan?”

Wonho mengangguk dengan raut wajah yang bingung.

“Aku mau berkencan denganmu asal kau mau menggendongku hingga Sungai Han. Bagaimana? Apa kau sanggup?”

Sungai Han tidaklah terlalu jauh dari entertainment tempat kami berlatih sehingga seharusnya ini bukan menjadi tantangan yang begitu berat untuk dirinya. Gelak tawa terdengar di seluruh ruangan klinik, menandakan betapa bahagianya Wonho hanya dengan mendengar dari suara tawanya saja.

“Apa kau kira aku tidak bisa melakukannya?” Perlahan, Wonho mengelus dengan lembut puncak kepalaku, lalu disambung dengan mengacak-acak rambutku secara pelan. “Aku akan melakukan apa yang kau mau, Yoonji. Jadi, marilah berkencan denganku esok hari.”

“Esok hari, setelah selesai latihan.”

“Setuju.”

Dengan jari kelingking kami saling bertautan, maka dengan begitulah aku dan Wonho resmi berkencan pada esok hari ke Sungai Han. Satu hal yang mencerminkan keadaanku sekarang ini, aku sungguh tidak sabar menyambut esok hari.

 

-FIN-

Advertisements

Author: 델라

Let's make our imajination!^^

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] DEBUT!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s