[Oneshot] Gajah

Gajah

A story by mintulli

Lee Minhyuk (MONSTA X) | Lee Zia (OC)

AU, Family, Slice of life, Sad

PG-13 | Oneshot

 

 

Aku ingin jadi Gajah.

 

 

Setiap detik, menit, bahkan jam semuanya akan sama saja bagi Zia. Sama saja semenjak kurang lebih enam bulan belakangan. Ia rasa sejak telinga nya yang memang tak salah dengar dan mata nya yang masih normal tahu dengan sendirinya bagaimana keadaan orang-orang rumah sekarang, ia punya kebiasaan baru. Merenung di depan layar laptop setelah belajar, atau setelah makan malam sebelum beranjak ke kasur untuk berbaring semalaman.

 

Tak hanya merenung, Zia bahkan menatap lamat-lamat laptop nya sampai matanya berair dan pipinya tak terhindarkan dari basah. Meski hanya sebentar, tapi cukup membuat dada Zia sesak setiap malam. Ingin marah, bahkan berteriak jika ia bisa, tapi diurungkannya niat itu. Berlebihan, pikirnya. Alasan lain, sebab Zia terlalu lemah untuk melakukan itu.

 

Pagi ini, dia kembali melakukan hal yang sama. Zia tak bergegas ke sekolah dan ribut mencari sepasang sepatu seperti biasanya, sebab saat ini hari Minggu. Semalam dia sudah merenung di depan sebuah foto dalam laptop itu, tapi pagi ini ia melakukannya lagi dengan foto yang berbeda. Ia sudah bosan dengan foto sebelumnya, jadi dia memandangi foto lain. Mungkin saja foto yang ini berdampak baik.

 

Nihil.

 

Tak ada yang berubah. Batin Zia masih saja sesak melihat itu. Sesekali ia menghela napas panjang nan berat. Menetralisir dadanya yang mungkin saja bisa memutus hubungan antara batin dengan mata. Ia tak ingin matanya berair pagi ini. Terlalu awal untuk melakukan itu.

 

Zia mencoba mencari kotak masa lalu dalam ingatannya. Ia ingin membongkar itu dengan waktu yang sama persis seperti dalam foto. Ia ingin merasakan bagaimana perasaannya saat foto itu diambil.  Zia ingin kembali mengingat itu, setidaknya pagi ini kedua sudut bibirnya mengembang barang tiga jari karena sudah ingat. Zia terus saja mencoba sambil semakin larut dalam foto yang menampakkan empat orang duduk berjajar dengan gaya yang menghangatkan, di bawah pohon besar yang rindang.

 

Saking asiknya Zia mencoba mengingat cerita masa lalu, tanpa sadar kakak laki-lakinya –Minhyuk masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Sengaja memang, karena dia sudah tiga kali mengetuk, tapi tak ada respon dari Zia. Minhyuk yang datang dengan senyum merekah mendadak berubah ekspresi. Air mukanya jadi ikut murung. Melihat adiknya dari belakang yang duduk manis di depan meja belajar dengan laptop menyala yang menampilkan foto mereka bertahun-tahun yang lalu sedikit membuat perasaannya miris.

 

Campur aduk lebih tepatnya. Kesal, marah, sedih, kecewa, juga sangat rindu saat-saat seperti itu. Bahkan dalam benak Minhyuk masih teringat jelas bagaimana ia beradu argumen dengan sang ayah juga ibu yang sempat membuatnya tidur di rumah teman sebab tak bisa mengendalikan emosi. Minhyuk juga tahu, kapan terakhir kali ia melihat Zia tertawa riang di rumah –sudah lama sekali. Minhyuk sudah beranjak menjadi pria dewasa, tentu dia tahu banyak hal. Mau tidak mau, ia harus bisa memposisikan diri. Seperti saat ini.

 

Pemuda itu duduk di ranjang di belakang kursi duduk adiknya yang masih tak sadar akan kedatangan sang kakak. Minhyuk ikut larut dalam suasana foto yang sungguh menyejukkan mata dan batinnya meski tak sampai lima menit. Tapi setidaknya itu bekerja pada Minhyuk dibanding pada Zia. Lantas arah mata Minhyuk beralih pada Zia. Ia sungguh merindukan adik kecilnya itu.

 

“Suka sekali memandangi foto akhir-akhir ini?” suara ramah Minhyuk mengagetkan Zia.

Kedua maniknya sudah berlinang, lantas turun ketika kepalanya menoleh pada sang kakak yang berada di belakangnya. Zia gelagapan. Ia tersenyum singkat pada sang kakak, lalu kembali menghadap layar laptop. Tak berani menatap Minhyuk.

 

“Hanya ingin.” Zia menjawab lirih. Ia hampir saja ingat bagaimana ceritanya sebelum momen itu diabadikan, tapi mendadak buyar begitu mendengar suara Minhyuk.

 

“Percuma saja, foto itu tak akan bergerak jika dilihat terus.” Minhyuk mencoba mencairkan susasan diantara mereka. Sedang Zia sama sekali tak terpengaruh. Itu gagal.

 

“Aku sudah bilang. Aku hanya ingin melihatnya saja.”

Tanpa Zia menjelaskan, Minhyuk tentu tahu apa maksud adiknya. Minhyuk tahu Zia ingin mengingat kembali bagaimana rasanya senang dengan senyum merekah seperti itu. Minhyuk tahu betul, bahwa Zia merindukan dirinya sendiri.

Beri garis bawah tentang sifat Minhyuk yang satu ini!

Dia adalah seorang kakak laki-laki yang sangat baik. Terutama pada adiknya. Jadi ia tak pernah kehabisan akal untuk membuat momen menyenangkan bersama sang adik kapanpun ia mau.

 

“Hey! Kapan terakhir kali kau ke kebun binatang?”

 

Zia terlihat menggarukkan kepalanya. Ia putar kepalanya ke kanan untuk mencoba mengingat dan seingat Zia ia tak pernah pergi ke kebun binatang. Atau jika dia pernah, maka itu pasti sudah lama sekali, mungkin ketika Zia masih belum bisa berjalan? Lantas ia menggelengkan kepalanya. Antara tidak tahu dan belum pernah ke sana.

 

“Cepat bersihkan dirimu dan ikut aku setelah ini!”

 

“Kenapa memangnya?”

 

“Ku tunggu di ruang tamu ya?”

 

 

▪▪▪

 

Sebab rasa sayangnya pada si adik, Minhyuk berinisiatif mengajaknya ke kebun binatang hari ini. Begitu adiknya siap, mereka berjalan ke luar rumah dan memilih naik bus untuk sampai ke kebun binatang yang sudah awam dikunjungi banyak orang di kota mereka. Minhyuk berusaha keras tentu saja agar adiknya ini tersenyum, paling tidak se-lebar tiga jari.

 

Hal itu tentu bukan suatu yang sulit untuk Minhyuk. Zia dengan mudahnya tersenyum bahkan tertawa dengan tingkah konyol kakaknya. Entah ketika dia gelagapan karena hampir saja merasa dompetnya tertinggal –bayangkan bagaimana lucunya wajah Minhyuk ketika panik, atau ketika Minhyuk membuat sebuah lelucon selama perjalanan mereka dalam bus –bayangkan bagaimana senyum sang kakak yang meneduhkan itu terkembang dengan garis-garis kecil di tulang pipinya.

Oh! Bahkan Minhyuk juga menceritakan tingkah bodoh Hyungwon, teman baik Minhyuk yang ia tahu, secara diam-diam adiknya ini mengagumi pria itu –bayangkan betapa Zia sangata antusias mendengar itu dan Minhyuk yang gemas melihat adiknya seperti itu. Atau lagi ketika mereka mencicipi jajanan di pinggir jalan yang enak begitu turun dari bus–ekspresi Minhyuk ketika memakan sesuatu yang enak selalu membuat mood Zia naik.

 

Perlahan, Zia kembali menjadi dirinya. Tak terhitung sekarang sudah berapa kali bibirnya membentuk kurva sempurna juga diiringi gelak tawanya yang sangat ingin didengar oleh rungu sang kakak. Ketika ia berjalan dan melihat beberapa binatang yang bagi Zia cukuplah mengocok perut karena tingkah lucu mereka di sana, sedikit demi sedikit mood nya mendekati kata sangat baik. Terutama didampingi Minhyuk yang tak pernah lelah menggoda Zia bahkan sesekali megerjainya dengan meninggalkannya sendirian atau mengagetinya dengan berpura-pura bahwa hewan buas akan menerkamanya setelah itu.

“Jangan coba-coba mengerjaiku, kak!”

Minhyuk berlari menghindari cubitan kasar sang adik, “Aku bicara jujur, buaya tadi hampir menerkam mu! Tapi aku melarangnya.”

 

“Hah! Mana ada seorang Minhyuk tahu bahasa buaya.”

“Aku sungguh tahu, kau tak percaya?”

Zia menggeleng cepat sembari mengejek dengan lidahnya.

“Bagaimana bisa kau tak percaya pada kakakmu sendiri?”

 

“Entahlah … mungkin karena dia tak paham bahasa gadis yang menyukainya? Mustahil ‘kan dia paham bahasa buaya?”

Zia mencoba menyindir sang kakak. Ia tahu beberapa minggu yang lalu, kakaknya menyesal karena tak peka pada seorang gadis yang sudah lama menyukainya. Sekarang, ia sudah menikah dengan pria lain.

 

“Awas kau Zia!!” dan mereka kembali berkejar-kejaran di kebun binatang. Sungguh lucu sekali mereka.

 

Minhyuk tentulah merasa teramat bahagia berada di dekat sang adik yang sudah kembali. Ada perasaan sedikit bangga pada diri Minhyuk yang berhasil membuat Zia tak murung seperti biasanya. Minhyuk sungguh lebih menyayangi adiknya daripada gadis itu.

 

Karena lelah, mereka lalu duduk di bawah pohon rindang dengan pemandangan sekelompok gajah yang sedang ditonton beberapa orang. Entah sedang memberi mereka makan, atau sekedar memotret tingkah gajah.

 

Zia lalu larut dalam pemandangan itu. Fokusnya tertuju pada para gajah. Bahkan Zia melihat mereka tanpa berkedip, bersamaan dengan air muka yang berubah.

 

“Aku ingin jadi gajah.” Gumam Zia.

Minhyuk yang mendengar itu tentu terkejut.

 

“Haha gajah? Yang benar saja kau ini, Zia.”

 

“Lihatlah mereka! Tenang, damai, tak pernah beradu. Badan mereka besar, wajah mereka teduh seperti siapa saja akan melindungi mereka dan tak pernah ingin saling menyakiti. Dibalik itu, mereka juga kuat. Tidak mudah lemah jika siapapun mencoba membuat mereka sakit. Dengan badan yang besar itu mereka bisa meremukkan lawannya, bukan? Juga, mereka selalu bersama. Seperti keluarga.”

 

Minhyuk tersentak mendengar ucapan adiknya. Ada perasaan tak enak dalam batinnya. Bahkan melihat adiknya sekarang jadi terasa berat. Ia tahu apa arah bicara sang adik, ia paham rasa kesal dan sedih itu belum sepenuhnya pergi.

 

“Aku ingin menjadi Gajah karena mereka begitu istimewa. Tak ada masalah yang menganggu, semuanya baik-baik saja,dan bahagia.”

 

“Bagaimana kau tahu jika mereka baik-baik saja dan bahagia?”

 

“Kakak tak lihat bagaimana mereka begitu dicintai dan dikagumi? Mereka sungguh tenang tak seperti diriku yang gelisah setiap waktu.”

 

Minhyuk menghela napas sejenak. Intonasi bicara Zia sedikitnya membicarakan tentang masalah yang terjadi pada mereka khususunya diri Zia sendiri.

 

“Jadi kau tak senang lahir sebagai seorang manusia?”

“Aku hanya membayangkan bagaimana tenangnya diriku jika aku menjadi gajah setidaknya untuk saat ini.”

 

Sekarang, giliran Minhyuk yang mencoba ikut larut dalam imaji Zia tentang menjadi gajah. Ia perhatikan gajah-gajah itu baik-baik. Tapi berbeda dengan sang adik, ia sama sekali tak sejalan dengan pikiran Zia.

 

“Aku tahu mereka juga. Ya, aku sedikit setuju denganmu tentang bagaimana kehidupan gajah yang tenang,dan damai. Seperti keluarga? Mungkin saja. Tapi tak menutup kemungkinan juga jika mereka mungkin sudah kehilangan keluarga mereka, entah mati atau berpisah dengan jarak yang jauh. Kelihatannya saja mereka tenang dan damai dari fisik dan gaya mereka. Tapi apa kau bisa benar-benar membaca bagaimana hati gajah?”

 

Zia mengerutkan keningnya. Seolah-olah berusaha membuat kontak dengan si gajah di sana. Barangkali ia sungguh bisa mengerti batin mereka.

 

“Mungkin saja mereka sedang ketakutan karena banyak orang yang mengelilingi mereka. Mungkin juga mereka merasa tak aman disetiap waktu meski di dalam kebun binatang. Gajah-gajah itu terlihat baik-baik saja karena mereka tak bisa bicara. Jikalau Tuhan memberikan mereka kelebihan untuk bicara, aku yakin mereka pasti punya segudang keluhan untuk diuatarakan. Aku yakin mereka tak sepenuhnya baik-baik saja.”

 

Garis wajah Zia menurun. Memperlihatkan bahwa dia kalah bicara dengan sang kakak. Ada benarnya juga perkataan sang kakak.

 

“Bersyukurlah kau yang menjadi manusia dan bisa berbicara. Jadi kau tak mungkin bingung jika akan mengutarakan apa yang mengganjal pada dirimu, karena kau bisa mengatakannya padaku.”

 

Skak mat!

Zia memang tak pernah berbicara banyak pada Minhyuk setelah hari-hari yang berat waktu itu. Ia selalu tersenyum pada kakaknya, tapi Minhyuk tidak pernah benar-benar mendengarkan adiknya mengeluh padanya pun meminta tolong akan sesuatu.

 

“Aku tahu semuanya sudah tak akan sama lagi sekarang. Meski kita mencoba memperbaiki, tapi itu tentu berat untuk ayah dan ibu. Jadi tak apa jika kau ingin marah atau menangis, kau bisa berlari padaku.”

Kini Zia berusaha mati-matian menahan emosinya yang semakin mencuat. Tidak! Mana mungkin dia menumpahkan keluh kesahnya sekarang disini.

 

“ Tapi ada satu hal yang tak akan berubah. Aku tetaplah kakakmu, selamanya akan seperti itu. Sungguh, sampai aku mati, aku akan melindungimu dan ibu. Jadi kau tak perlu khawatir. Aku tidak akan pernah mengecewakan kalian. ”

 

Minhyuk membuat Zia mengalihkan atensinya pada sang kakak. Manik jernih Minhyuk berbinar, memancarkan sesuatu yang begitu menusuk dalam dada Zia. Ia seperti diberi bius paling ampuh yang membuat dadanya sedikit mendesir sebab terharu. Juga, sang kakak berhasil memberikan energi positif yang membuat Zia begitu percaya akan ucapan Minhyuk.

 

“Janji?” Zia mengangkat kelingking. Seperti kebanyakan orang lakukan sebagai simbol pengikat.

“Tentu saja.” Minhyuk mengaitkan kelingkingnya dengan milik Zia.

 

Gadis berambut sebahu itu mengangguk. Sekarang, ia akan menceritakan segalanya pada Minhyuk. Apapun itu.

 

“Tapi jika dipikir-pikir kau mirip juga dengan gajah.”

 

“Apanya yang mirip?”

 

“Karena kau kuat dan gajah kuat. Kalian sama-sama kuatnya, dan aku berterimakasih padamu, kau sudah bertahan dan menguatkan diri sejauh ini.”

 

Zia tak bisa membendung linangan air matanya. Cairan itu lolos begitu saja, dan tentu membuat Minhyuk untuk mendekap sang adik. Memberinya kenyamanan dan mengurangi rasa sedih pada dirinya secara tersirat.

 

“Terimakasih sudah terlahir menjadi adikku.”

 

“Jangan membuatku semakin terbawa suasana disini kak! Ini di tempat umum.” Ujar Zia. Minhyuk hanya terkekeh sembari tetap mendekap sang adik. Ia sungguh tak ingin membiarkan adiknya berada dalam kesedihan yang berkepanjangan setelah ini.

 

 

 

 

-fin-

 

hehhe lagi gabut dan terjadilah cerita ini. review nya duung :”3

 

 

 

Advertisements

Author: mintulmint

perempuan, lucu, dan baik :) have a big eyes, big smile, and big laugh! and also full of surprised!

2 thoughts on “[Oneshot] Gajah”

  1. baru kali ini aku menemukan sosok cewek yang ingin jadi gajah… secara gajah itu kan big, dan biasanya cewek sensitif dengan kata2 kayak gitu. tapi Zia lucu, masa pengen jadi gajah -,-
    nice fanfic btw.. dan salam kenal aku reader baru 🙂

    Like

    1. HAIII! aku manggil kamu apa nih? ge? kwwkkwwkkw ceritanya terinspirasi dari lagunya tulus juga sihh terus di mix sama inspo kek gituu AWWW! makassiii ya uda bacaaa :”3 baca fic ku yang lain juga yaa heeheheheh salam kenal ku nada/mins #98 ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s