[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 1)

cover ff mx

Author             : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

Seorang pemuda sedang mengamati berbagai macam aksesori ponsel di sebuah toko. Maniknya dengan lincah menyusuri setiap kaca etalase yang berkilau, hingga terhenti pada sebuah deretan earphone dengan berbagai model dan warna. Namun matanya tampak ragu saat akan memilih salah satu dari puluhan earphone itu.

Ini lebih buruk dari saat dia masih di bangku sekolah, lebih buruk dari teman-teman yang membully-nya. Saat itu dia masih dibela oleh sahabatnya. Namun sekarang dunia seolah bertindak lebih kejam dari teman-teman sekolahnya dulu. Dunia tak pernah membiarkannya berada dalam zona yang nyaman, dan ini sangat mengerikan untuknya.

“Aku ingin membeli earphone. Yang warna hitam.” Kata pemuda itu. Pramuniaga yang berjaga mengambil sebuah earphone dari etalase pajangan.

“Yang ini?” tanya pramuniaga itu.

“Umh… iya, yang itu.” Sahut pemuda itu ragu.

“Harganya 40 ribu won.” Kata sang pramuniaga. Pemuda itu merogoh saku jaketnya dan mengambil 4 lembar uang 10 ribu won.

“Ini.” ia menyerahkan uang itu pada sang pramuniaga, yang menyerahkan earphone pada si pemuda.

“Terima kasih.”

Pemuda itu bergegas keluar dari toko. Jalanan disekitarnya tampak ramai karena ia melihat orang-orang sedang buru-buru. Ia mendongak ke langit, kelihatannya baik-baik saja. Langit terlihat cerah seperti sebelum ia masuk toko aksesori tadi.

BRZZZ…

Ia kaget karena tiba-tiba literan air tumpah dari langit. Ia segera berlari mencari tempat yang teduh. Sepertinya hujan akan lama. Akhirnya ia lebih memilih untuk berlari ke apartemen yang letakknya tak jauh dari sana. Seluruh tubuhnya basah kuyup, mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu yang membalut kedua kakinya.

Namun hanya satu yang tetap kering, earphone hitam yang ia peluk erat dibalik jaketnya.

 

oooOooo

 

“Darimana saja kau, Kihyun?”

Seorang pemuda menegur Kihyun di depan pintu apartemen. Genangan air tercipta dari tetes air di ujung rambut dan ujung pakaiannya yang basah kuyup. Bibirnya membiru dan bergetar. Kihyun tak sanggup menjawab, tubuhnya kedinginan. Jangankan untuk menjawab, hanya untuk mengatur gemeretak giginya saja ia tak sanggup.

H..hyung—“

Pemuda bernama Hyunwoo, yang dipanggil “hyung” oleh Kihyun, menatapnya dengan pandangan menusuk. Rahang tegasnya mengeras menahan amarah yang membuncah dari rongga dadanya.

“Kau hujan-hujanan? Apa kau tidak tahu diluar sana hujan deras, huh?!” bentak Hyunwoo. Kihyun menundukkan kepalanya takut. Bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat.

“A-aku t-t-tadi…”

“Masuk sana! Ganti pakaianmu!” perintah Hyunwoo memutus ucapan adiknya.

Kihyun segera menuruti perintah kakaknya sambil menunduk. Sesampainya di kamar mandi, ia menggantungkan earphone yang tadi ia beli di gantungan baju. Lalu ia melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia yakin setelah ini harus segera menghadap kakaknya.

 

oooOooo

 

Hyunwoo –yang sedang duduk di ruang tengah- melirik pintu kamar mandi yang terbuka dan menampakkan sosok Kihyun yang sudah berganti pakaian. Pemuda itu masih merasa kesal dengan adiknya yang tak pernah mau mendengarkan ucapannya.

“Mengapa pulang terlambat? Kau tadi pamit kemana?”

Pertanyaan Hyunwoo membuat Kihyun mematung ditempat. Pemuda itu bahkan tak berani menatap wajah kakaknya.

“Apa seperti itu tata krama berbicara dengan yang lebih tua, huh? Jawab aku, Kihyun!” Nada bicara Hyunwoo naik 2 oktaf.

“Aku dari rumah…”

“Kalau ditanya itu jangan hanya menjawab! Hampiri juga orangnya yang bertanya!” bentak Hyunwoo. Kihyun menghela nafas panjang, ia menghampiri kakaknya dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

“Aku dari rumah Hyungwon, mengembalikan kotak makan. Aku tidak bohong, hyung. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja padanya.” Sahut Kihyun.

“Apa rumahnya Hyungwon pindah ke antartika, sampai kau pulang selarut ini, huh?” desis Hyunwoo.

“Ini masih sore, hyung.” Ralat Kihyun.

“Jangan membantah! Kau sudah aku beri kebebasan keluar rumah dan kau malah memanfaatkan ijinku untuk bermain? Bahkan kau pulang basah kuyup begitu. Apa kau tidak tahu hari ini akan hujan?” sentak Hyunwoo emosi. Kihyun menundukkan kepalanya.

“Beri tahu aku bagaimana caranya agar aku tahu bedanya langit cerah dan langit mendung, hyung.” Ucap Kihyun pelan.

“Apa?” Hyunwoo mengernyit heran.

“Beritahu aku bagaimana caranya aku tahu kalau hari ini hujan atau tidak saat langit sedang cerah dan tidak ada petir yang bergemuruh? Beritahu aku bagaimana cara membedakan langit yang mendung dan langit yang cerah saat semua yang aku lihat adalah sama? Beritahu aku bagaimana caranya mengetahui hujan akan turun ketika aku hanya menyadari orang-orang berlalu lalang dengan cepat di sekitarku tanpa tahu apa sebabnya.” Ujar Kihyun panjang lebar.

Hyunwoo tertegun sesaat, menatap lekat manik milik sang adik yang berpendar sendu. Sedetik kemudian, ia memalingkan wajahnya dan mengembuskan nafas kasar. Ia berdiri dan bergegas ke toilet meninggalkan Kihyun yang terdiam di ruang tengah.

Di dalam toilet, Hyunwoo memukul pinggiran wastafel dengan emosi. Nafasnya memburu dengan cepat. Pemuda itu kemudian membasuh wajahnya dan mengamati pantulan dirinya di cermin.

Inilah Hyunwoo, si apatis palsu yang hidup dalam kepura-puraan yang besar. Pura-pura marah pada Kihyun, namun tetap menyayanginya. Pura-pura tak peduli pada Kihyun, namun tetap mengkhawatirkannya, dan masih banyak kepura-puraan yang menghiasi kehidupan pemuda tampan ini.

Hingga maniknya melihat sebuah plastik buram yang tergantung di gantungan pakaian. Hyunwoo mengambil bungkusan plastik itu dan melihat isinya. Sebuah earphone warna hitam metalik yang bagus.

Ia teringat saat ulang tahunnya dua minggu yang lalu, dimana Kihyun memberinya hadiah sebuah earphone berwarna pink cerah. Warna yang membuat Hyunwoo mendelik protes pada sang adik.

Astaga, hyung. Maafkan aku, aku lupa menanyakan warnanya pada penjaga toko. Aku akan menggantinya saat aku sudah punya uang.

Begitulah jawaban Kihyun waktu itu. Hyunwoo bahkan tidak mengerti arti senyum yang diperlihatkan sang adik saat memberikan hadiah itu padanya. Bahkan ketika ditanya apa alasan memberinya earphone, jawaban Kihyun juga membuatnya terheran-heran.

Hidupmu terlalu monoton, hyung. Kau terlihat tidak senang menjalani kehidupan ini. Makanya aku memberimu earphone, karena earphone akan berhubungan dengan musik. Aku harap musik akan membuat hidupmu sedikit lebih cerah dan berwarna.

See? Alasannya sangat aneh, bukan? Hyunwoo bahkan langsung terbahak hingga bergulingan dikasurnya setelah mendengar jawaban sang adik yang menurutnya tidak irasional.

Pemuda itu keluar dari toilet, mencari adiknya dan mengajaknya makan malam. Namun ia tak mendapati sang adik di ruang tengah. Ia kemudian ke kamar Kihyun dan mendapati pemuda itu sudah terlelap.

“Selamat tidur, Kihyun. Semoga mimpi indah”

Hyunwoo berbisik lembut sambil mengusap surai kecoklatan sang adik dengan sayang. Setelahnya ia keluar dari sana dan membiarkan Kihyun istirahat dengan nyenyak.

 

oooOooo

 

Pagi harinya, Kihyun terbangun dengan suhu tubuhnya yang naik drastis. Tentu saja, ia demam tinggi. Memangnya apalagi yang bisa kau dapat —selain demam tentunya— setelah mandi dibawah guyuran hujan? Hyunwoo nyaris tidak bekerja karena demam Kihyun mencapai 38,7°. Namun kalau dia tidak bekerja, itu sama saja dengan hari ini ia dan adiknya tidak makan. Sempat bimbang, akhirnya dia memutuskan untuk pergi setelah menyiapkan sarapan dan obat di meja makan.

Kihyun terbangun pukul 8. Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut sakit. Namun perutnya sudah protes untuk diisi. Dengan sedikit terhuyung, ia berjalan keluar dari kamar dan menuju dapur. Maniknya menangkap stickynote yang menempel di pintu kulkas kecil apartemen mereka.

Diatas meja ada bubur dan obat. Panaskan saja buburnya dengan microwave dan jangan menyalakan kompor. Jangan minum obat dengan susu, kau bisa keracunan. Panggil bibi Hwang jika butuh sesuatu (tekan tombol 3 sedikit lama). Aku akan pulang malam dan kau tidur duluan saja. Jangan menungguku.

Kihyun mendesah. Ia ditinggal sendirian dirumah lagi. Mengapa kata “lagi” sangat ditekankan disini? Ya, karena nyaris 5 tahun ini ia ditinggal sendirian oleh kakaknya, Hyunwoo yang sibuk bekerja. Bisa dibayangkan betapa kesepiannya pemuda itu selama 5 tahun? Hanya bertemu sang kakak saat malam. Itupun tidak banyak interaksi yang mereka lakukan, karena Kihyun sangat paham kakaknya lelah. Jadi dia tidak mau merengek pada sang kakak agar memperhatikannya.

Kihyun cukup tahu diri, bung! Hyunwoo sudah sibuk dengan segala permasalahan keluarga mereka, dan ia ingin membantu. Caranya? Cukup dengan diam dan mengikuti semua peraturan yang Hyunwoo buat. Sederhana bukan? Namun perlu kalian ketahui, itu tidak cukup untuk Kihyun. Ia ingin bisa melakukan lebih. Tapi apa? Apa yang bisa ia lakukan saat semua pemandangan yang ada dimatanya terlihatsama? Yang bisa Kihyun lakukan adalah diam dan bertahan, hingga kakaknya berlutut memohon bantuannya. Meskipun ia tahu, mengharapkan kenyataannya itu terjadi sama saja seperti menegakkan benang yang basah. Mustahil.

“Ukh!”

Pemuda itu mengerang tertahan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut semakin sakit. Kihyun nyaris lupa kalau ia sedang demam. Segera saja ia melahap bubur yang sudah di sediakan kakaknya tanpa memanaskannya terlebih dahulu dan segera minum obat. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah tidur agar tidak semakin merepotkan kakaknya.

 

oooOooo

 

Yang Kihyun tahu, Hyunwoo bekerja sebagai penjaga kasir di sebuah toko pada pagi hari hingga sore. Setelahnya ia akan bergegas ke kedai seafood dan menjadi koki disana sampai larut malam. Biasanya ia akan sampai rumah pukul 11 malam dengan tubuh seperti terbelah-belah saking lelahnya. Namun terkadang ia pulang dengan membawa sekantung buah atau makanan, bonus dari bosnya karena sudah bekerja dengan baik. Apel dan jeruk, biasanya yang paling sering ia bawa. Lumayan, oleh-oleh untuk adiknya yang telah menunggunya dirumah seharian.

Hari ini Hyunwoo pulang membawa sekantung apel. Cocok untuk Kihyun yang sedang sakit. Dengan wajah sumringah, ia memasuki apartemennya dan mendapati adiknya sedang duduk menyendiri di balkon. Oh, Kihyun memang selalu sendiri. Memangnya siapa lagi yang ada diapartemen selain mereka berdua?

Hyung, kau sudah pulang?”

Hyunwoo meletakkan kantung apel yang ia bawa di dekat pintu balkon setelah mengambil sebuah, dan duduk di sebelah Kihyun yang sedang sibuk menatap langit.

“Ya. Sedang apa kau disini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk segera tidur dan tidak menungguku?”

“Aku tidak bisa tidur, hyung. Rasanya tidak tenang kalau belum melihatmu pulang.”

Hyunwoo mengulum senyum. Adiknya ini benar-benar memiliki mulut semanis madu walaupun sedikit menyebalkan dan susah diatur.

“Ini untukmu. Bonus dari bosku.”

Apel yang tadi diambil Hyunwoo, diberikan pada Kihyun. Adiknya hanya memutar-mutar buah itu tanpa memakannya, seolah sedang mencari cacat pada buah itu.

Hyung, boleh aku tanya sesuatu?”

“Apa?”

“Seperti apa langit saat malam? Apa benar bintang-bintang terlihat begitu indah?”

Hyunwoo termangu sejenak. Maniknya menatap wajah adiknya yang sejak tadi tidak mengalihkan fokusnya dari langit. Untuk sejenak, ada sedikit perasaan perih yang menelusup ke hatinya.

“Ya, langit malam sangat indah, Kihyun. Bintang-bintang bertaburan di langit. Ada bulan juga yang menemani ribuan bintang itu.”

“Lalu, apa bintang itu berpendar? Atau hanya seperti titik-titik dilangit?”

“Mereka bersinar, meski tidak seterang matahari. Namun mereka berkelip indah, bahkan ada yang sangat terang dan sangat mencolok diantara yang lain.”

Hyunwoo dan Kihyun terdiam. Hanya desau angin yang berhembus pelan menerpa wajah mereka.

“Kihyun…”

“Hm?”

“Bagaimana—“

Hyunwoo menatap wajah polos adiknya. Sejenak ia ragu pada pertanyaan yang akan ia lontarkan.

“Ada apa, hyung?”

“Bagaimana rasanya… err… buta warna total?”

Kihyun tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Apel yang sejak tadi ia mainkan, kini ia letakkan disisinya. Kedua lengannya memeluk lututnya yang ia tekuk.

“Sama seperti saat kau melihat TV lama, hanya hitam dan putih yang kau lihat. Terkadang abu-abu juga mendominasi. Cukup mengerikan untuk dibayangkan. Tapi aku… sudah biasa. Seperti itulah aku melihat dunia.”

Hyunwoo menggigit bibirnya. Sepertinya ia salah bertanya, karena wajah adiknya berubah sendu. Ah, ia jadi merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah pada Kihyun.

“Kau mau tahu warna-warni dunia kita, Kihyun?”

“Tentu.”

“Kita mulai dari diri kita dulu. Kau memiliki kulit yang putih bersih dan aku memiliki kulit sedikit kecoklatan. Rambutmu berwarna kecoklatan dan rambutku berwarna hitam. Mata kita sama, hitam. Bibirmu merah seperti cherry.”

Kihyun tersenyum mendengar setiap penuturan yang keluar dari bibir sang kakak. Sementara itu, Hyunwoo terus menceritakan semua warna yang ada diapartemen mereka. Sengaja dibuat warna-warni supaya Kihyun tetap mengetahui seperti apa dunianya, meski dari orang lain.

“Apel yang tadi kau pegang berwarna merah. Rasanya manis. Kalau jeruk yang kemarin aku bawa itu berwarna oranye cerah. Matahari juga berwarna oranye cerah, namun terlalu terang untuk dilihat secara langsung. Di apartemen kita juga banyak sekali warna. Aku sengaja membuatnya berwarna-warni agar suatu saat kau bisa mengenalinya.”

“Dari semua warna yang ada, warna apa yang kau pilihkan untukku, hyung?”

Hyunwoo berpikir sejenak, dan Kihyun memandang wajah kakaknya. Menunggu jawaban yang membuatnya penasaran.

“Biru.”

“Kenapa?”

“Langit ketika cerah akan berwarna biru. Warna biru juga bisa menggambarkan keindahan laut dimana kehidupan lain terjadi disana. Warna itu sangat cocok untukmu yang periang dan ceria.”

Kihyun tersenyum, sekarang ia sudah tidak penasaran lagi dengan dunianya. Hyunwoo sudah cukup menjelaskannya. Ia bahkan sudah punya warna favorit. Biru. Meski ia tidak tahu seperti apa warna itu, tetapi ia tahu dan percaya, Hyunwoo tidak akan salah memilihkan warna untuknya.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s