[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 2)

cover ff mx

Author             : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

Alasan Hyunwoo selalu pergi dengan meninggalkan catatan di pintu kulkas adalah karena jadwal kerjanya lebih pagi dari jam bangun Kihyun. Ia tidak mau mengambil resiko datang terlambat hanya karena menunggu adiknya bangun. Namun ia adalah kakak yang bertanggung jawab. Sebelum pergi bekerja, ia sudah menyiapkan sarapan untuk Kihyun.

Seperti hari ini, Kihyun kembali menemukan stickynote berwarna kuning cerah yang menempel di pintu kulkas seperti yang sebelumnya. Pemuda itu mengambil kertas kecil itu dan membacanya.

Di dalam kulkas ada jus strawberry (merah pucat). Tolong bersihkan apartemen dan jangan pergi kemanapun. Kalau sudah malam, kunci pintu dan balkon. Aku akan pulang terlambat. Jangan menungguku, tidurlah duluan.

Kihyun tersenyum. Setidaknya ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, walaupun sebenarnya tanpa disuruh pun ia akan membersihkan apartemen mereka setiap hari. Kihyun membuka kulkas dan menemukan jus strawberry dalam gelas berukuran sedang. Ia menyeruput sedikit, mencicipi jus buatan kakaknya.

“Hmm… enak.” Gumamnya pelan. Ia kembali meletakkan gelas itu ke kulkas dan memulai pekerjaannya. Ditengah kesibukannya membersihkan apartemen, ada seseorang yang mengetuk pintu depan. Pemuda itu bergegas membukakan pintu dan terlihat seorang pemuda tampan tengah tersenyum di depan pintu.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Kihyun.

“Umh… aku ingin meminjam bor. Apa kau punya?” pemuda itu terlihat canggung. Kihyun belum pernah melihat pemuda itu di lingkungan apartemennya.

“Oh umh, aku tetangga barumu, baru pindah kemarin malam di sebelah kamar apartemenmu. Jadi aku ingin membersihkan apartemen. Ternyata aku meninggalkan borku di apartemenku yang lama. Bisa aku pinjam bor?” pemuda itu menjawab kebingungan Kihyun. Kihyun tersenyum dan mempersilakan pemuda itu masuk.

“Aku akan mencarinya di lemari penyimpanan dulu. Kemarin hyung-ku juga baru menggunakan alat itu. Ayo masuk dulu.” Ajak Kihyun. Pemuda itu tersenyum untuk berterima kasih pada tetangga barunya itu.

“Oh, kalau ada, aku juga sekalian ingin meminta sedikit cat warna merah.”

“Sepertinya masih ada. Beberapa hari yang lalu, hyung-ku menggunakan cat dan katanya itu warna merah.”

Oh, sepertinya pemuda tampan tetangga baru Kihyun tidak begitu memperhatikan ucapan Kihyun. Ia terlalu asyik mengamati isi apartemen Kihyun yang begitu semarak dengan berbagai warna yang ada.

“Eh, sampai lupa memperkenalkan diri. Aku Im Changkyun. Namun orang-orang di tempat kerjaku lebih suka memanggilku dengan nama I.M. Aku seorang DJ. Terserah kau mau memanggilku bagaimana.” Kata Changkyun.

“Aku Kihyun. Senang berkenalan denganmu, Changkyun-ssi” Balas Kihyun.

“Salam kenal, Kihyun-ssi.

“Ini bornya. Kalau catnya, kau bisa pilih sendiri yang mana.”

Changkyun mengerutkan kening, heran sekaligus bingung. Memang disana ada banyak kaleng cat. Namun cat warna merah hanya ada satu.

“Umh, mungkin kau bingung. Tetapi aku tidak tahu yang mana warna merah. Aku… buta warna. Total.” Kata Kihyun. Changkyun tersentak, ia jadi merasa tidak enak pada pemuda yang ada didepannya itu.

“Oh, tidak. Tidak. Terima kasih untuk cat dan bornya, Kihyun-ssi. Err… kalau boleh tahu, berapa umurmu?” tanya Myungsoo.

“22 tahun.”

“Ah, berarti aku harus memanggilmu ‘hyung’. Umurku 19 tahun.” Kata Changkyun. Kihyun hanya tersenyum menanggapi.

Hyung, apartemenmu berwarna sekali. Seperti, err… taman bermain mungkin?” kata Changkyun ragu.

“Sengaja. Hyung-ku yang mendesainnya. Aku hanya tinggal menikmati saja, meski tidak tahu warna-warna apa saja yang ada disini.” Kata Kihyun.

“Baiklah. Aku akan memperkenalkannya padamu satu persatu. Sofamu berwarna hitam, lalu ada bingkai foto berwarna-warni. Kita mulai dari sebelah kiri, itu warna merah, lalu ada hijau, biru, ungu, kuning dan oranye. Lemari dan cabinet disini warna coklat kehitaman. Sepertinya hyung-mu pandai memilih dan memadu-madankan warna.”

Ucapan Changkyun berhenti sejenak, mengamati penampilan pemuda yang ada dihadapannya dengan seksama.

“Hari ini kau memakai kaos berwarna biru dan celana training warna kuning pastel. Eyy, kau bercanda hyung?” gumam Changkyun. Kihyun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak apa-apa. Mungkin karena malu.

“Bibirmu kering. Kalau boleh aku sarankan, kau bisa mencoba pakai lipbalm. Yang bening saja.” Kata Changkyun.

“Umh… baiklah. Akan aku coba saranmu, Changkyun.” Kata Kihyun.

“Kau punya warna kesukaan, hyung?” tanya Changkyun. Ini sekedar iseng, ia bukan bermaksud menghina atau mengejek Kihyun. Sama sekali tidak.

“Ada. Warna biru.” Jawab Kihyun mantap.

“Mengapa?”

“Umh, kata hyung-ku, warna itu sangat sesuai dengan kepribadianku. Jadi aku suka.” Jawab Kihyun. Changkyun tertawa dalam hati. Pemuda yang ada dihadapannya ini benar-benar polos atau bagaimana? Bagaimana ia bisa menyukai sesuatu yang belum pernah ia lihat selama hidupnya? Ini benar-benar lucu untuk Changkyun.

Manik Changkyun terhenti pada sebuah bingkai foto berwarna biru. Bukan, bukan karena bingkai itu terlihat bagus dan mahal meski sederhana. Namun karena foto yang ada didalamnya. Ia seperti mengenal sosok itu di suatu tempat.

Hyung, sepertinya aku kenal dengan orang di foto itu.”

“Itu aku.”

“Oh bukan. Yang satunya lagi. Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi aku lupa dimana.”

“Itu hyung-ku. dia seorang kasir di sebuah toko. Mungkin kau pernah bertemu dengannya saat membeli sesuatu disana.”

Changkyun mengangguk ragu. Tidak, bukan di toko ia melihat pemuda yang ada yang ada di foto itu. Namun ia tidak yakin dengan tempatnya.

“Baiklah, hyung. Aku harus segera beres-beres apartemen. Aku pinjam dulu bor dan catnya.” Pamit Changkyun.

“Kau perlu bantuan? Aku lumayan baik dalam melakukan pekerjaan rumah.” Tawar Kihyun.

“Tidak usah. Ini saja sudah cukup merepotkanmu. Nanti kalau aku mengembalikan ini, aku akan membawakan pudding buatanku untukmu dan hyung-mu. Aku permisi dulu, hyung.” Kata Changkyun yang kemudian menghilang dengan cepat di pintu.

 

oooOooo

 

Hyunwoo mengernyitkan keningnya saat melihat apartemennya masih menyala terang. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.56 KST. Pemuda itu melepas mantelnya dan menyampirkannya di gantungan dekat pintu masuk.

“Baru pulang, hyung?”

Suara lembut Kihyun menyapa gendang telinga Hyunwoo. Pemuda itu menoleh dan melihat adiknya menunggu di ruang tengah dengan wajah yang mengantuk. Hyunwoo mendesah, dihampirinya Kihyun dengan ekspresi kesal.

“Bukankah dicatatan aku sudah bilang untuk tidak menungguku pulang? Apa kau tidak bisa baca, huh?” sentak Hyunwoo.

“Kau pikir aku bisa tidur dengan tenang sebelum melihat kau pulang? Aku khawatir padamu, hyung. Ini sudah tahun ke 2 kau pulang larut seperti ini.” balas Kihyun dengan tenang.

“Aku ini hyung-mu. Kau tidak usah mengkhawatirkanmu karena aku bisa jaga diri, Kihyun! Menurutlah pada apa yang aku perintahkan. Jangan keras kepala begini!” seru Hyunwoo. Rasa lelah dan kesal membuat emosinya cepat tersulut.

“Kalau kau hyung-ku, apa aku tidak boleh khawatir, huh? Hanya kau yang aku miliki di dunia ini. Apa aku tidak pantas mengkhawatirkan hyung-ku?” desis Kihyun.

“Cukup! Masuk kamarmu dan tidurlah! Aku tidak ingin berdebat denganmu, Kihyun.” Perintah Hyunwoo skakmat. Kihyun mendengus sebal sebelum akhirnya ia melangkah ke kamarnya meninggalkan kakaknya di ruang tengah. Hyunwoo mendesah panjang setelah sang adik menutup pintu kamarnya.

“Makan malam untukmu ada di meja. Changkyun, tetangga baru yang tinggal di sebelah apartemen kita, yang memberikannya tadi sebagai tanda keramahannya. Cepatlah tidur, hyung.”

Kihyun melongokkan kepalanya di celah pintu kamar, membuat Hyunwoo berjengit kaget. Beberapa detik kemudian, pemuda itu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Hyunwoo memeriksa meja makan. Ada sebuah misting yang masih terbungkus kain berwarna merah dengan rapi. Pemuda itu bisa menebak kalau adiknya belum makan malam. Mungkin karena Kihyun ingin makan bersama dengannya, jadi dia menunggunya pulang.

“Kihyun, mau sampai kapan kau akan keras kepala begini? Aku berkerja seharian untukmu juga. Jadi aku mohon mengertilah.” Gumam Hyunwoo lirih. Ia menyimpan makanan itu di kulkas, tak lagi berselera untuk makan. Jadi ia lebih memilih untuk segera mandi dan mengistirahatkan tubuhnya.

 

oooOooo

 

Keesokan harinya, Kihyun bangun lebih pagi dari biasanya. Ia melihat kakaknya sudah berpakaian rapi. Hyunwoo sedang bersiap untuk membuat sarapan saat adiknya keluar kamarnya.

“Selamat pagi, Kihyun.”

“Pagi, hyung.”

Kihyun membuka kulkas dan mengambil sebotol air. Misting dari Changkyun kemarin terlihat disana, lengkap dengan kain pembungkusnya.

“Kemarin kau tidak makan malam, hyung?” tanya Kihyun.

“Kau pikir aku bisa makan kalau kau sendiri belum makan?” Hyunwoo malah balik bertanya pada Kihyun.

“Tidak usah masak lagi. Sayang kalau makanan dari Changkyun terbuang begitu saja.” Kata Kihyun.

“Aku juga niatnya begitu. Sekarang aku sedang menanak nasi untuk sarapan dan makan siangmu nanti. Tolong kau pindahkan makanan dari Changkyun ke panci. Aku akan memanaskannya.” Kata Hyunwoo.

“Umh…”

Kihyun mengambil panci dan penggorengan dan memindahkan semua makanan dari tetangga baru mereka ke wadah itu. Setelahnya, Hyunwoo memanaskan sebentar agar tidak cepat basi.

“Ngomong-ngomong, Changkyun itu tetangga baru kita? Kapan dia pindah kemari?” tanya Hyunwoo.

“Kemarin siang, kau masih bekerja. Im Changkyun memperkenalkan dirinya dengan sangat ramah. Oh ya, dia meminjam bor dan meminta sedikit cat warna merah.”

Hyunwoo terhenyak untuk beberapa saat. Im Changkyun. Sepertinya dia pernah tahu nama itu. Namun tidak ingat dimana. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja karena nama Im Changkyun tidak hanya satu di dunia ini.

“Kau sudah memberikan catnya?”

“Sudah. Aku menyuruhnya memilih sendiri, karena aku tidak tahu yang mana warna merah.”

Hyunwoo tidak menyahut. Ia meletakkan dua mangkuk nasi dan beberapa lauk di meja makan. Kemudian menarik kursi di samping Kihyun. Adiknya memandang wajah sang kakak dengan takjub.

“Ada apa? Mengapa memandangiku begitu?” tanya Hyunwoo heran.

“Tumben sekali kau mau sarapan bersamaku. Kepalamu kemarin tidak terbentur kan, hyung?” tanya Kihyun. Hyunwoo memukul kepala adiknya dengan sumpit, membuat pemuda yang setahun lebih muda dari Hyunwoo itu mengaduh kesakitan.

“Sakit hyung!”

“Yang sopan kalau berbicara dengan yang lebih tua.”

“Aku kan hanya bertanya.”

Hyunwoo tidak lagi meladeni adiknya. Ia segera memakan sarapannya setengah terburu-buru. Pekerjaannya sudah menunggu, dan ia tidak boleh terlambat bekerja barang semenit saja.

“Jangan buru-buru, hyung. Kau bisa mati tersedak.”

“Aku buru-buru, Kihyun. Jangan mengajakku mengobrol dulu.”

Kihyun mendesah pelan. Meski sarapan berdua, tetapi tetap saja rasanya ia makan seorang diri. Hyunwoo terlihat tidak menikmati sarapannya.

“Aku tidak bisa mencuci piring kotornya. Tolong kau bersihkan, ya.”

“Ya. Tinggalkan saja di bak cuci. Aku akan mencucinya nanti.”

“Aku pergi dulu, Kihyun. Jangan menungguku pulang. Hari ini aku pulang larut. Awas saja kalau kau menungguku lagi seperti kemarin.”

“Hmm…”

Setelahnya, Hyunwoo menghilang dibalik pintu. Kihyun meletakkan sendoknya. Selera makannya menghilang begitu saja. Ia beranjak membereskan meja makan dan mencuci semua peralatan makan yang telah dipakai.

Tring!

Kihyun meletakkan mangkuk terakhir yang ia cuci. Setelah mengeringkan tangannya, ia segera membukakan pintu depan. Disana ada Changkyun dengan wajah sumringahnya.

Hyung, aku ingat orang yang ada di foto bersamamu.”

“Iya. Dia hyung-ku, Changkyun.”

“Aku pernah melihatnya, hyung. Namanya kalau tidak salah Hyun… Hyun…”

Changkyun sedikit kesulitan mengingat nama orang yang ia maksud. Kihyun yang tanggap langsung menyahut dengan cepat.

“Hyunwoo, bukan?”

“Ah, iya. Hyunwoo. Dia bekerja sebagai pelayan di bar tempatku bekerja.”

“Apa?! Tidak mungkin, Changkyun. Dia itu penjaga kasir di sebuah toko. Dia tidak mungkin bekerja di bar.”

“Sungguh, aku berani bersumpah kalau aku melihatnya bekerja di bar sejak 2 tahun lalu. Aku kira dia hanya sementara bekerja disitu karena saat itu ada salah satu pelayan yang sakit. Namun ternyata dia pekerja tetap disana.”

Kihyun terdiam cukup lama. Otaknya masih berusaha menepis ucapan Changkyun. Namun ia tahu, pemuda yang ada dihadapannya ini tidak berbohong. Manik itu terlihat begitu polos dan jujur.

Mengapa Hyunwoo hyung berbohong padaku? Mengapa dia tidak berterus terang padaku? Mengapa dia menyembunyikan semua ini dariku?

Banyak pertanyaan bertumpang tindih di otak Kihyun, dan ia tidak menemukan satupun jawabannya. Pemuda itu kecewa.

“Changkyun, nanti malam kau bekerja?” tanya Kihyun.

“Iya, hyung. Ada apa?” sahut Changkyun.

“Boleh aku ikut? Aku hanya ingin memastikan kalau orang yang kau maksud itu benar-benar hyung-ku atau bukan. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri.” Pinta Kihyun. Changkyun menganggukkan kepalanya.

“Boleh. Aku akan menjemputmu pukul 10 malam. Bersiaplah, hyung.

“Oke. Terima kasih, Changkyun.”

Kihyun segera menutup pintu apartemennya dan bersandar lemas disana. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai. Frustasi. Ia tiak habis pikir, mengapa Hyunwoo begitu sampai hati membohonginya selama 2 tahun ini.

Mengapa kau berbohong, hyung? Aku bukan lagi anak kecil yang harus berpura-pura tidak tahu dengan keadaan sekitarku.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s