[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 3)

cover ff mx

Author                        : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

Dentum suara musik yang memekakkan telinga menerpa indera pendengaran Kihyun. Lampu disko yang berputar di tengah ruangan bar yang penuh sesak dengan orang-orang yang turun melantai menjadi pemandangan pertama yang dilihat Kihyun. Disampingnya, Changkyun tampak menyapa pengunjung dengan ramah. Sesekali pemuda itu melambaikan tangan atau ber-high five dengan beberapa pengunjung tetap disana. Kihyun jadi berpikir, bagaimana mungkin anak semanis Changkyun menjadi pengiring orang-orang mabuk itu. Padahal jika dilihat dari wajah dan penampilannya, Changkyun adalah anak yang baik dan ramah, juga tidak suka dengan hal-hal yang berbau alkohol. Oke, sekarang Kihyun jadi sok tahu tentang Changkyun.

Hyung, ayo kita ke meja sana. Kau tunggu aku disana saja.”

Changkyun sedikit mendekat dan mengeraskan suaranya karena musik bar itu begitu keras. Kihyun hanya mengangguk. Ia tidak peduli mau diajak kemanapun, ia hanya ingin melihat apakah benar Hyunwoo bekerja di tempat itu.

Changkyun mengajak Kihyun ke meja di depan bartender. Ia menyapa bartender yang bekerja di tempat itu dengan akrab. Bahkan terlihat seperti dengan saudaranya sendiri.

“Jooheon hyung, aku titip temanku sebentar, ya. Aku harus segera bersiap tampil.”

“Sip. Tampillah dengan baik, I.M. Penggemarmu sudah menunggu sejak tadi.”

Changkyun mengangkat jempolnya dan segera berlari menjauh dari tempat itu. Kihyun duduk dengan canggung memandang sekitarnya. Mencari sosok kakaknya yang –kata Changkyun- bekerja disini.

“Baru pertama ke bar?”

Kihyun menoleh dan melihat Jooheon, bartender yang juga teman Changkyun, tersenyum ramah padanya.

“Ya, begitulah. Aku hanya menemani Chang —umh, maksudku I.M bekerja.”

“Mau minum? Aku akan membuatkan minuman non alcohol untukmu. Sepertinya kau tidak pernah minum.” Tawar Jooheon.

“Baiklah.”

Jooheon meracik minuman untuk Kihyun. Dua menit kemudian, minuman itu sudah siap dihadapan Kihyun.

“Terima kasih, Jooheon-ssi.

No problem.”

Manik Kihyun masih nyalang menelusuri setiap sudut bar. Hingga akhirnya ia melihat kakaknya, Hyunwoo, bersama dengan wanita paruh baya. Maniknya membelalak lebar saat Hyunwoo mencium wanita itu dengan panas.

“Umh, Jooheon-ssi, kau kenal dengan Hyunwoo? Dia salah satu pelayan disini.” Tanya Kihyun. Jooheon memiringkan kepalanya sebentar, lalu mengangguk mantap.

“Ah, aku mengenalnya. Dia salah satu karyawan kesayangan bos kami disini. Kau tahu, aku kasihan sekali padanya. Orang tuanya meninggal saat dia menginjak bangku SMA. Semua hartanya habis untuk menyokong kehidupannya dan adiknya. Dia sebenarnya tidak ingin bekerja disini. Namun karena harus menghidupi adiknya, akhirnya dia terpaksa bekerja disini. Sebelumnya dia bekerja sebagai kasir di sebuah toko. Entah berita dari mana, dia dituduh mencuri uang di kasir dan dia dipukuli hingga babak belur. Kepalanya berdarah cukup parah dan badannya juga lebam-lebam karena dihajar banyak orang. Setelahnya, dia di pecat dari sana tanpa pesangon. Lebih parahnya lagi, tempat berkerjanya yang lain juga memecatnya tanpa sebab. Dia sudah mencari pekerjaan kemanapun, tetapi tak ada yang mau menerimanya. Akhirnya dia bekerja disini sebagai pelayan dan kadang —yah, sebagai pemuas nafsu wanita-wanita disini. Dia sebenarnya anak yang baik, hanya nasib yang tidak berpihak padanya.”

Jantung Kihyun seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Kakaknya difitnah dan dipukuli, dan dirinya tidak tahu? Astaga, adik macam apa dia ini. Maniknya kembali menoleh ke arah kakaknya yang kini sedang bercumbu dengan wanita tadi. Mendadak kepala Kihyun terasa pusing. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan kakaknya saat itu.

“Jooheon-ssi, aku permisi dulu.”

“Eh, tapi I.M belum selesai tampil.”

“Aku akan menghubunginya nanti. Sampaikan saja kalau aku pulang duluan.”

Kihyun tidak menunggu jawaban dari Jooheon. Ia langsung bergegas keluar dari tempat itu sebelum ia kalap dan menarik kakaknya keluar dari tempat nista itu. Pemuda itu berjalan sedikit terhuyung, masih tidak mempercayai apa yang tadi ia dengar dari Jooheon. Otaknya penuh dengan pertanyaan. Siapa yang tega memfitnah kakaknya yang baik hati itu? Siapa orang yang dengan biadabnya menghajar kakaknya hanya karena fitnah itu? Mengapa Hyunwoo lebih memilih bekerja ditempat seperti itu daripada di tempat yang lebih layak?

Langkah kaki Kihyun berbelok ke sebuah swalayan 24 jam, yang letaknya tak jauh dari apartemennya. Ia ingin membeli sesuatu disana.

“Kihyun?”

Kihyun menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya. Bibirnya tersenyum kala melihat seorang pemuda berseragam swalayan itu.

“Lee Minhyuk, kau dapat shift malam?” tanya Kihyun.

“Yap. Lebih menyenangkan bekerja saat malam begini. Tak banyak pelanggan yang datang. Jadi aku bisa sedikit bersantai.” Jawab Minhyuk. Tampak sekali keramahan yang diperlihatkan oleh pemuda itu.

“Kau sendiri dari mana? Ada perlu apa malam-malam ke swalayan begini?” tanya Minhyuk.

“Umh, aku ingin membeli lipbalm.” kata Kihyun.

“Hm, lipbalm ya? Sebentar, aku ambilkan dulu.”

Minhyuk menelurusi rak-rak, mencari lipbalm. Beberapa saat kemudian ia kembali ke dekat Kihyun.

“Ini.”

Kihyun menerima benda itu dengan ragu.

“Ini bening kan?”

“Kau pikir apa? Merah? Pink?”

“Bukan begitu. Hanya saja… yah, kau tahu kan kalau aku bagaimana?”

Minhyuk menepuk bahu Kihyun dengan gaya yang begitu bersahabat. Senyuman tercetak manis di wajah pemuda itu.

“Berapa?”

“8.000 won.”

Kihyun menyerahkan sejumlah uang pada Minhyuk. Minhyuk menyerahkan struk beserta kembalian dari uang Kihyun.

“Aku permisi dulu, Minhyuk.”

“Hati-hati dijalan.”

Kihyun menggenggam bungkusan itu dengan erat. Tekadnya sudah bulat, mulai besok dia akan membantu kakaknya bekerja. Tentu saja tanpa sepengetahuan Hyunwoo. Ia harus bisa mandiri, hingga kakaknya tidak perlu bersusah payah lagi untuknya.

 

oooOooo

 

“Belum tidur? Menungguku pulang lagi?”

Suara teguran Hyunwoo mengagetkan Kihyun yang sedang menonton TV. Yang lebih muda hanya tersenyum menyambut kedatangan sang kakak.

“Kau benar-benar keras kepala, Kihyun.”

Kihyun tak peduli. Ia langsung berdiri dan membantu Hyunwoo melepas mantel. Setelah itu, ia ke dapur mengambilkan air minum untuk kakaknya.

“Hari ini aku tidur denganmu, ya? Boleh kan, hyung?”

“Apa?”

“Sekali ini saja. Boleh ya, hyung?”

Hyunwoo mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan adik semata wayangnya hari ini? Tidak biasanya ia bertingkah manja seperti itu padanya, terlebih lagi diumurnya yang sudah menginjak 22 tahun.

“Baiklah. Tapi jangan menyentuhku. Aku akan menendangmu kalau sampai berani menyentuhku.”

“Oke.”

“Masuk kamar dan tidurlah sekarang. Aku mandi dulu.”

“Eh, hyung mandi dinihari begini?” tanya Hoya.

“Memangnya kenapa? Tiap hari aku mandi sepulang kerja. Badanku lengket, Kihyun.”

“Baiklah. Aku tidur duluan ya, hyung.

“Hmm. Selamat tidur.”

Setelahnya tak ada lagi interaksi yang tercipta. Kihyun langsung berbaring di ranjang menunggungi sang kakak yang sudah masuk kamar mandi. Meski pada kenyataannya, ia tidak tidur. Ia tidak bisa tidur kala mengingat betapa Hyunwoo sudah berkorban banyak untuknya selama ini.

Kihyun ingat benar hari dimana Hyunwoo pulang dengan ceria, seolah ia mendapat durian runtuh. Padahal saat itu masih pukul 4 sore, masih jauh dari jam pulang kerjanya yang biasanya jam 11 malam. Tak biasanya Hyunwoo pulang secepat itu.

“Kihyun, ini adalah hari Jum’at yang benar-benar yang menyenangkan!”

Waktu itu Kihyun hanya mengerjap senang. Jarang-jarang Hyunwoo bisa pulang cepat seperti ini. Belum lagi nada bicaranya yang terdengar begitu ceria.

“Tumben sudah pulang. Pekerjaan hyung selesai lebih cepat?”

“Uh-um. Hari ini pekerjaanku tidak sebanyak biasanya. Jadi bisa pulang cepat. Dan bosku sudah memberikan gaji yang banyak untukku hari ini.”

“Gaji? Tapi ini kan belum waktunya hyung gajian. Maksudmu bonus?”

“Ah iya, maksudku bonus. Bonusku banyak, Kihyun.”

“Benarkah? Berarti hari ini kita bisa makan enak?”

Waktu itu Hyunwoo terdiam cukup lama. Kihyun tidak menyadari tatapan sendu di manik kakaknya. Ia hanya menyadari suara kakaknya yang terdengar begitu bahagia dari biasanya.

“Hyung…”

“Ah iya, hari ini kita makan enak, Kihyun.”

“Ngomong-ngomong, baumu amis sekali, hyung. Seperti bau darah, dan hoodiemu basah.”

“Ah, tadi sedikit gerimis saat aku pulang. Makanya hoodieku basah. Soal bau amis, mungkin dari ikan yang tadi aku olah. Darahnya mengenai bajuku.”

Dengan bodohnya Kihyun mempercayai Hyunwoo begitu saja. Ia tak menyadari kalau kepala kakaknya penuh dengan luka dan darah. Itulah alasannya mengapa Hyunwoo menutupi kepalanya dengan hoodie, karena ia tidak ingin adiknya melihat luka yang ada di kepala dan sekujur tubuhnya.

Seharusnya Kihyun tidak mempercayai kakaknya. Seharusnya ia bertanya lebih detail lagi pada kakaknya. Seharusnya ia tidak meminta yang macam-macam hanya karena ia mendengar suara kakakya yang terdengar begitu ceria. Masih banyak kata seharusnya yang disesali oleh Kihyun. Pemuda itu mengembuskan nafas panjang.

“Kau belum tidur?”

Kihyun tersentak kaget mendengar suara Hyunwoo. Terlalu asyik dengan pikirannya membuatnya tidak menyadari kalau kakaknya sudah selesai mandi. Ia memutar tubuhnya menghadap kakaknya.

Hyung…

“Hmm?”

“Kau sudah melihat gelas-gelas koleksi milik ibu yang aku susun di lemari? Aku tadi membersihkannya dan—“

“Ceritanya besok saja, Kihyun. Aku lelah sekali. Hari ini banyak pelanggan yang aku layani.” Potong Hyunwoo.

Ah, benar. Hyunwoo pasti lelah setelah bekerja seharian. Seharusnya Kihyun sadar itu, dan membiarkan kakaknya beristirahat, bukannya mengajak mengobrol hal yang tidak penting seperti tadi.

“Baiklah. Selamat tidur, hyung. Semoga mimpi indah.”

 

oooOooo

 

Kihyun terbangun karena mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Ia melirik jam weker milik Hyunwoo di nakas. Masih pukul 6 pagi. Siapa orang gila yang mandi sepagi ini? di musim gugur pula? Tanpa Kihyun mengintip pun ia sudah tahu kalau itu adalah Hyunwoo. Memangnya siapa lagi?

“Kau mandi lagi, hyung?”

Kihyun langsung melempar pertanyaan begitu melihat Hyunwoo masuk dengan rambut yang basah. Hyunwoo terkejut, tidak biasanya Kihyun bangun sepagi ini. Apalagi matahari belum terbit seujung kuku pun.

“Entah mengapa aku merasa hari ini sedikit panas. Makanya aku mandi lagi.” Sahut Hyunwoo sekenanya. “Sebaiknya kau tidur lagi. Ini belum waktunya kau bangun, bukan?”

Rasa kantuk Kihyun sudah lenyap begitu saja. Jadi ia tidak mengindahkan ucapan kakaknya. Ia menurunkan kakinya dan duduk di tepi ranjang, memandangi tubuh Hyunwoo yang terlihat semakin kurus.

“Kau mau kemana, hyung?”

“Bekerja, tentu saja. Kau pikir mau kemana lagi?”

“Sepagi ini? bahkan kau lebih rajin dari ayam yang berkokok dipagi hari, hyung.”

“Rejeki itu datang sebelum ayam berkokok, Kihyun. Jadi aku jangan sampai kalah dari ayam-ayam itu.”

Serius, candaan Hyunwoo tidak lucu sama sekali. Tidak tahukah dia kalau adiknya sedang mengkhawatirkannya? Dan sekarang dia malah mengajak bercanda? Heol, yang benar saja.

“Sudah ya, aku berangkat dulu. Untuk sarapan, kau panaskan lauk kemarin saja. Maaf aku tidak sempat memasakkan makanan baru untukmu.”

Hyunwoo menyambar mantelnya dan mengenakan converse hitamnya dengan cepat. Kihyun hanya memandang sang kakak yang sudah berlari keluar apartemen dengan buru-buru. Suara bantingan pintu pun tak membuatnya bergeser dari tempatnya. Ia mengacak rambutnya frustasi.

Oke, mulai hari ini dia harus membantu kakaknya. Caranya? Cari kerja. Kihyun rasa ia butuh bantuan Changkyun untuk memilihkannya pakaian. Ya, dia harus berubah. Demi Hyunwoo, kakak tersayangnya.

Kihyun segera mencuci muka dan berlari ke apartemen Changkyun. Diketuknya pintu dengan sedikit kasar. Namun tetangganya itu tak kunjung keluar. Apa dia masih tidur? sekali lagi Kihyun mengetuk pintu, dan tak ada sahutan dari dalam. Ia menyerah. Akhirnya dia memutuskan untuk berusaha sendiri. Semoga pilihannya tepat.

 

oooOooo

 

Hyunwoo berjalan sembari menghirup udara pagi yang begitu segar. Mungkin karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sengaja ia berangkat pagi agar pikirannya lebih jernih dan tubuhnya sedikit lebih rileks.

Kakinya tiba-tiba terhenti di sebuah toko elektronik. Disana ada TV model lama yang kualitas gambarnya masih hitam-putih. Hal itu mengingatkannya pada Kihyun, adik semata wayangnya yang menderita buta warna total. TV itu menampilkan sebuah kartun yang lucu. Namun karena berwarna hitam-putih, kartun itu sedikit lebih menyeramkan.

Masih basah dalam ingatan Hyunwoo saat Kihyun kecil menangis keras melihat kartun di TV, mengatakan kalau kartun itu menyeramkan. Adiknya itu selalu saja ketakutan walaupun kartun yang ditayangkan sangat lucu. Sekarang dia mengerti alasan Kihyun menangis saat itu. Ia sendiri merinding melihat karakter kartun di TV lama tersebut.

Sejenak Hyunwoo berpikir, seperti inikah dunia yang dilihat adiknya selama ini? Apa seperti ini visualisasi yang diterima Kihyun selama 22 tahun? Sungguh, ia tidak sanggup membayangkan betapa menyeramkan objek yang adiknya lihat seumur hidupnya. Semuanya serba hitam, putih dan kadang abu-abu, seperti pernah dikatakan Kihyun.

Hyunwoo menghela nafas pelan, dan baru menyadari kalau dompet dan ponselnya tertinggal. Pemuda itu begitu menyesali betapa pelupanya dia. Sedikit menyesal mengapa ia harus buru-buru dan membuatnya melupakan benda yang paling penting itu. Segera saja dia berbalik ke apartemen untuk mengambil dompet dan ponselnya.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

5 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s