[MONSTA X FF FREELANCE] Started with a Stare (OneShot)

cover

Tittle/judul fanfic:STARTED WITH A STARE

Author: gegail

Length:Long oneshoot

Genre: School Life

Rating: PG13

Cast:

  • Chae Hyungwon
  • Kang Jooyoung
  • Son Naeun
  • Lee Yooyoung
  • Son Hyunwoo
  • Shin Wonho

 

It started with a stare

Your beauty smile is enchanting

                             Yura = Started with a stare

 

%

Kang Jooyoung menggenggam kameranya. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Begitulah caranya untuk mengingat yang dilakukannya hari ini. Memotret semuanya, sehingga ia memiliki kenangan untuk tersimpan. Ia melihat beberapa hasil potretnya. Hal itu membuatnya tambah bahagia, karena ia bisa merasakan luapan suasana saat itu.

Saat itu adalah musim semi. Jalanan setapak di Yeuido, Seoul tampak sangat indah. Warna bunga sakura yang bermekaran terlihat menyejukkan. Jooyoung menutup matanya, merasakan sejuknya musim semi hari itu.

Jooyoung mulai memotret lagi. Ia menempelkan matanya kea rah viewfinder kamera untuk memfokuskan objek fotonya. Namun, dengan ketidak sengajaan kameranya berhasil memotret seseorang. Ia melihat hasil fotonya. Itu adalah seorang namja. Mata namja itu menatap ke arah kamera. Tampaknya namja itu menyadari kalau dia memotret namja itu.

Jooyoung pun mengadah menatap ke arah namja itu berada. Bisa dilihat namja itu berjalan ke arahnya. Ada sesuatu dari namja itu yang ia sadari. Ya namja itu memang tampan. Tapi bukan itu maksudnya. Entahlah, tetapi sesuatu yang ia lihat saat itu membuat jantungnya berdebar sangat cepat. Dan sekarang ia tidak bisa bernafas karena namja itu tersenyum padanya. Hanya seperti itu dan kemudian namja itu melewatinya, dan berlalu dari hadapannya.

Itu membuat Jooyoung memutar tubuhnya. Seakan ia akan meleleh kalau tidak segera memotret namja itu lagi. Ia pun dengan segera memotret namja itu dari belakang. Jantungnya masih berdebar. Untungnya saat itu ia masih bisa mengatur nafasnya.

Kadang ketika seseorang tidak mempercayai suatu hal, pasti orang itu akan mengalami sendiri seperti apa rasanya mengalami hal yang tidak pernah dipercayai. Sama seperti Jooyoung. Ia tidak pernah percaya dengan yang namanya jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, ia sepertinya mengalami perasaan itu ketika melihat seseorang yang tidak sengaja di potretnya.Dalam hatinya berharap bisa melihat namja itu lagi.

%

Tempat Jooyoung bersekolah saat itu sedang amat ramai. Pasalnya anggota klub judo di sekolahnya mengadakan pertandingan nasional. Saat itu sekolahnya diliburkan karena pertandingan tersebut. Beberapa siswa diharuskan menonton acara pertandingan untuk mendukung tim klub sekolah.

Sebenarnya saat itu Jooyoung bukanlah orang yang diundang. Namun, chingunya Naeun memaksanya untuk menemaninya menonton pertandingan tersebut. Naeunsendiri, harus mendukung klub judo, karena ketua klub judo sekolahnya itu adalah oppa kandung Naeun—yang juga merupakan sunbae Jooyoung.

Seperti biasa Jooyoung tidak lupa membawa kameranya. Tentu saja. Ia tidak bisa menyia-nyiakan musim favorite-nya. Musim semi. Sebelum menonton, ia menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sekitar sekolahnya dahulu. Dengan wajah yang sangat bahagia ia memotret beberapa gambar. Ia juga usil dan memfoto tangannya di beberapa viewer yang dia jepret(?). Memang tidak ada lagi yang ia sukai selain fotografi.

“Jooyoung-ah,”

Panggilan tersebut membuat Jooyoung menoleh. Seorang yeoja cantik berambut sebahu menghampirinya. Itu adalah chingunya, Naeun.

“Kajja, kita ke lapangan indoor sekolah. Acaranya sudah mau mulai,” ajak Naeun.

Jooyoung memotret chingu-nya itu, sebelum akhirnya ia tersenyum. “Ne. kajja!”

Naeun tampak risih karena tahu kalau Jooyoung memotretnya langsung ribut sembari berjalan bersama dengan Jooyoung. Sembari berdempetan dengan Jooyoung, ia menarik-narik Jooyoung untuk segera menghapus fotonya. Otomatis itu membuat Jooyoung langsung berlari-larian kecil sembari tertawa. Di susul oleh Naeun yang sebal dengan perlakuan Jooyoung.

Begitu sampai di lapangan indoor, Naeun yang memilihkan tempat duduk untuk Jooyoung. Sebenarnya Jooyoung tidak begitu suka dengan pertandingan kekerasan. Tapi berhubung Naeun diharuskan untuk menonton akhirnya sebagai teman yang baik ia pun ikut menonton.

“Ah, acaranya sebentar lagi mau mulai,” kata Naeun sembari menyikut Jooyoung.

Pasalnya saat itu Jooyoung sibuk sekali memotret keramaian di banding menonton. Makanya Naeun harus memukulnya agar fokus dengan pertandingan.

Ronde pertama dimulai. Jooyoung menyernyit melihat orang yang sedang bertanding tersebut. Seorang namja dengan menggunakan pakaian judo. Ia sepertinya pernah melihat namja itu. Ia pun mengambil kamera dan memfoto namja itu dengan kameranya. Gambarnya diperbesar sekitar 5x pembesaran. Karena jarak duduk mereka memang tidak begitu jauh.

Jooyoung memperhatikan foto yang di ambilnya. Ia benar-benar pernah melihat namja itu. Mungkin saat itu ia sangat penasaran mengenai namja tersebut. Entah kenapa hatinya berkata untuk memperhatikan foto-foto yang ia ambil sebelumnya. Ia pun mengikutinya. Ada sekitar 30 foto yang ia ambil hari ini. Dan gotcha! Ia memang pernah melihat namja itu.

Pandangan Jooyoung berpindah dari kamera, menatap namja tersebut. Namja tersebut tampak sedang serius menghadapi lawan. Mungkin namja itu tidak sadar kalau ia ada disana sedang memandangi wajah namja itu. Sedetik kemudian ia tersenyum. Itu namja yang tidak sengaja ia foto saat berjalan di Yeoido. Namja yang membuat hatinya berdebar.

“Geudae. Itu kamu,” gumam Jooyoung tampak bahagia.

“Wae?”

Ucapan itu membuat Jooyoung berkedip. Kemudian menoleh. Chingu-nya Naeun sedang menatapnya heran.

“Dan sekarang kau senyum-senyum sendiri,” ucap Naeun yang kemudian kembali fokus ke pertandinngan. “Wae?”

Rasanya seperti darah naik ke ubun-ubun kepalanya. Wajahnya pasti saat itu sudah memerah. Karena ia tertangkap basah sedang melamun seperti orang kasmaran. Tunggu! Apa ia memang sedang kasmaran sekarang?

“aniyo,” jawab Jooyoung, entahlah untuk pertanyaan yang mana.

“Chae Hyungwon,” ucap Naeun tiba-tiba. “Dia seangkatan dengan kita. Ketua kelas 2-5,”

Jooyoung menaikan alis. Kemudian menoleh lagi ke arah Naeun. Ia bingung dengan maksud chingu-nya itu. Sementara Naeun yang ditatap seperti itu pun balik menoleh ke arah Jooyoung, hanya sekilas sebelum kembali fokus lagi ke permainan.

“Namja yang membuatmu senyum-senyum sendiri itu namanya Chae Hyungwon,” jelas Naeun. Yang tiba-tiba bersorak, “ipon!”

Jooyoung menoleh ke arah mata Naeun melihat. Kini ia bisa lihat kalau namja yang Naeun bilang bernama Chae Hyungwon itu—tampak menatap lawannya yang sudah terkapar di bawah. Hal itu membuatnya terbelalak. Kemudian ia menoleh lagi ke Naeun. Tunggu! Itu berarti namja itu memenangkan pertandingan?

Naeun menatap Jooyoung dengan wajah yang tampak senang. “Ne. Dia menang. Satu nilai untuk SMA kita. Hyungwon mengawalinya dengan sangat baik,”

Mendengar kalimat Naeun, tanpa sadar Jooyoung pun ikut tersenyum. Ia kembali menatap ke pertandingan. Bisa dilihat kalau wasit(?) mengangkat salah satu tangan namja bernama Chae Hyungwon—itu ke atas. Dan namja itu tampak tersenyum. Oh.. dan itu senyum yang sangat mendebarkan. Jooyoung benar-benar tidak bisa tahan untuk memotret namja itu. Sekali. Lalu ia melihat hasilnya dan terbelalak. Namja itu melakukannya lagi. Namja itu seakan menatap ke kameranya sembari tersenyum.

Kepala Jooyoung terangkat dan menatap namja itu lagi. Namja itu tampak membungkuk hormat ke arah penonton, sebelum akhirnya pergi. Hal itu membuat Jooyoung sedikit kecewa. Ya, itu pasti hanya kebetulan saja.

Tapi sebelumnya Naeun bilang apa? Namja itu ketua kelas 2-5? Itu berarti mereka satu sekolah?

Jooyoung mengulaskan senyum. Chae Hyungwon. Itu namanya. Ah jinja, bagaimana bisa sekarang ia suka sekali senyum-senyum sendiri seperti orang gila karena seorang namja yang bahkan tidak mengenalnya? Bodoh!

%

Sekolah kembali dimulai seperti biasa. Di suasana musim semi saat itu sekolah yang ditempati oleh Jooyoung tampak ramai. Itu karena memang saat itu sedang waktu istirahat. Banyak siswa yang menikmati suasana musim semi dengan bermain bola, duduk-duduk di bangku yang tersedia di dekat lapangan. Ada juga yang hanya asik sendiri di dalam kelas.

Jooyoung sendiri sedang melakukan hobinya. Yaitu memotret. Ia hanya memakai kamera ponsel. Karena peraturan sekolah melarangnya membawa peralatan yang bukan untuk belajar, kecuali ponsel tentu saja. Untungnya ponsel miliknya cukup canggih untuk memotret.

Jooyoung memotret setiap kegiatan siswa di sekolahnya. Ia senang sekali bukan hanya dirinya yang menikmati hari karena saat itu musim semi. Tapi para siswa yang lain pun tampak menikmati musim tersebut. Ya hal-hal sederhana seperti itu yang terkadang membangkitkan mood-nya.

Sedang asik memotret, tiba-tiba Jooyoung melihat seseorang disana. Seorang namja sedang duduk di bangku penonton sembari memegang sebuah buku. Tampaknya itu buku sketsa. Dan namja itu sedang membuat sesuatu di buku tersebut, dengan menggunakan pensil raut. Namja yang tidak lain adalah Chae Hyungwon. Benar kata Naeun kalau ia satu sekolah dengan namja itu. Suatu kebetulan yang menguntungkan bukan? Keberuntungan yang membuatnya berharap kalau semuanya takdir.

“apa namja itu sedang menggambar?” gumam Jooyoung.

Hal itu membuat Jooyoung mengerutkan kening. Saat itu ia sangat yakin kalau Hyungwon sedang menggambar. Yang membuatnya tambah yakin adalah ketika namja itu mengancungkan jempol ke arahnya, memiringkan kepala dan menutup salah satu mata. Lalu kemudian namja itu kembali menulis lagi. Ya namja itu memang sedang menggambar.

Jooyoung tersenyum lagi. Melihat Hyungwon yang tampak serius mengerjakan sesuatu membuatnya.. entahlah, mungkin ia senang karena tahu ia satu sekolah dengan namja itu.

Jooyoung pun tak tahan untuk memotret Hyungwon yang ada—jauh—di hadapannya—lagi. Entahlah ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memotret namja itu. Bukan hanya karena Hyungwon memang tampan. Tapi karena sepertinya ia sudah kepincut dengan namja itu.

Ya. Tanpa di sadari Kang Jooyoung sudah menyukai Chae Hyungwon.

%

“Naeun-ah! Andwae!!” tolak Jooyoung yang sedang ditarik-tarik oleh Naeun.

Naeun benar-benar tidak bisa dihindari kalau sedang ingin usil. Sebenarnya saat itu Naeun sedang disuruh eommanya untuk memberikan bekal untuk oppa-nya—yang ketinggalan di rumah. Eomma-nya khawatir dengan oppa-nya karena akan pulang malam.

Oppa Naeun adalah ketua klub judo. Son Hyunwoo. Salah satu klub yang cukup terkenal di sekolahnya.Namun bukan itu intinya. Sebenarnya Naeun sangat malas kalau kesana sendirian, karena para anggota judo pasti menggodanya. Karena itu ia mengajak Jooyoung.

Kebetulan Jooyoung sedang naksir dengan salah satu anggota judo bernama Hyungwon. Ya, chingu-nya itu sudah menceritakan semuanya. Mulai dari Jooyoung bertemu dengan Hyungwon tanpa sengaja ketika memotret, hingga Jooyoung yang merasa sering mencuri-curi pandang dan memotret Hyungwon. Ya. Naeun merasa bersyukur. Karena pada akhirnya ada juga yang disukai Jooyoung selain memotret. Kesempatan bagus bukan? Ia juga jadi bisa mengenalkan Jooyoung pada Hyungwon sekalian memberikan bekal untuk Hyunwoo.

“Memangnya mau sampai kapan dia tidak tahu kalau kamu menyukainya?” omel Naeun.

“Begini lebih baik,” ucap Jooyoung, yang kemudian menepis genggaman tangan Naeun yang menarik-nariknya. “Aku memang tidak ingin dia tahu.”

Kalimat itu membuat Naeun menaikkan alisnya dan menatap Jooyoung. Ia langsung speechless karena perkataan chingu-nya itu. Tapi itu hanya sedetik, kemudian Naeun kembali menarik tangan Jooyoung. Pokoknya kali ini ia mau bersikap egois. Ia benar-benar tidak mau sendirian masuk ke klub Judo.

“Ya! Setidaknya temani aku mengantarkan ini dulu,” kata Naeun yang menyeret Jooyoung mengikutinya.

%

Karena pemaksaan Naeun, akhirnya Jooyoung ikut masuk ke ruang latihan klub judo. Seperti yang pernah diketahui kalau kakak Naeun adalah ketua klub judo. Dan Naeun disuruh memberikan bekal kakaknya yang ketinggalan dirumah.

Sebenarnya saat itu Jooyoung tidak mau ikut karena di klub judo pasti ada Hyungwon. Namja yang sudah sebulan ini ia sukai. Ia malu kalau ada namja itu. Karena pasti ia tidak bisa berhenti untuk menatap Hyungwon. Namun Naeun benar-benar memaksanya untuk masuk ke dalam ruang klub judo. Karena ditarik-tarik, ia pun akhirnya ikut masuk kedalam.

Dan benar saja, begitu Jooyoung masuk ke dalam bersama Naeun—ada Hyungwon disana. Namja itu sedang di garis bertanding bersama dengan salah satu anggota judo yang ia tidak tahu siapa namanya.

“Hyunwoo-oppa!” panggil Naeun.

Dan itu langsung menghentikan latihan pertandingan yang akan dimulai. Semua anggota menoleh menatap Naeun dan Jooyoung. Hyungwon juga menatapnya.

Namja bernama Hyunwoo itu tampak langsung berjalan menghampiri Naeun dan Jooyoung. Melihat sunbaenim tersebut Jooyoung pun langsung membungkuk hormat, sementara namja itu tersenyum padanya sebelum akhirnya meladeni Naeun.

Tanpa disuruh Naeun langsung berbicara panjang lebar pada Hyunwoo. Entahlah mereka sedang mengatakan apa, Jooyoung benar-benar tidak fokus. Karena saat itu ia sedang memperhatikan Hyungwon. Bisa dilihat Hyungwon sedang berlatih sendiri dengan temannya. Namja itu terkadang tertawa ketika salah satu temannya berhasil menyikut kaki dan membuat namja itu hampir jatuh. Tanpa sadar Jooyoung tersenyum lagi sembari memperhatikan Hyungwon. Terkadang sesuatu hal yang sederhana mampu membuatnya bahagia. Semua hal tentang Hyungwon termasuk hal yang sederhana, kan?

Hyunwoo yang tidak sengaja menoleh kea rah Jooyoung merasakan keanehan teman dongsaengnya itu. Namja itu langsung berbisik ke Naeun. “Temanmu baik-baik saja?”

Naeun pun menatap Jooyoung dan mengikuti arah temannya menatap. Ah benar, itu pasti Hyungwon. Naeun memutar bola matanya. “Anni, oppa. Dia sedang kasmaran,”

Lalu Naeun menghampiri Jooyoung. Jooyoung bahkan tidak sadar kalau Naeun sudah berada disebelahnya. Astaga, ini pertama kalinya Naeun melihat Jooyoung mematung seperti itu.

“Ya! Kang Jooyoung,” panggil Naeun.

Untungnya Jooyoung segera mengerjap dan menoleh ke arah Naeun. “Ne?”

“Pinjam ponselmu,” kata Naeun sembari mengulurkan tangan.

Jooyoung merasa heran. “Untuk apa?”

“Berikan saja,” jawab Naeun.

Meskipun bingung tetapi Jooyoung pun menuruti perkataan Naeun. Dan memberikan ponselnya pada temannya itu. Setelah diberikan ponsel, Naeun mengulaskan smirk.

“Ya! Chae Hyungwon!” panggil Naeun tiba-tiba.

Namja yang dipanggil Naeun tersebut langsung menoleh. Disertai dengan semua anggota dan Jooyoung yang ikutan menoleh. Berbeda dengan yang lainnya, Jooyoung tampak kaget dengan panggilan Naeun tersebut. Lalu tiba-tiba saja Naeun mengangkat ponsel Jooyoung dan nampak berniat memotret Hyungwon.

“SMILE!” ucap Naeun sebelum ponsel Jooyoung berbunyi tanda sudah memfoto.

Setelah itu Naeun memberikan ponsel tersebut pada Jooyoung. Lalu kemudian menarik Jooyoung itu untuk segera kabur. Ya. Naeun takut Hyungwon marah dengan kelakuannya.

“Aku pergi dulu, oppa. Selamat latihan!” ucap Naeun pada Hyunwoo. “dan jangan pulang terlalu malam,”

Setelah itu Naeun pergi dengan Jooyoung keluar dari ruang klub judo. Wajah Jooyoung masih terlihat panik karena kelakuan Naeun tersebut. Sementara Naeun sendiri tampak senang dengan keusilannya. Habisnya kalau tidak begitu tidak akan ada kemajuan antara Jooyoung dengan Hyungwon.

%

Ruangan berukuran 3×4 tersebut tampak hening. Sinar lampu berwarna-warni yang terpasang di dinding, ditambah lampu ruangan itu tampak lengkap menyinari ruang tersebut. Ruangan tersebut adalah ruangan Jooyoung. Lebih tepatnya lagi kamarnya.

Saat itu Jooyoung sedang mencetak hasil fotonya dengan printer. Kemudian ia menaruh foto-foto hasil jepretannya tersebut pada dinding atas tempat tidurnya. Ia menatap foto-foto tersebut. Beberapa ada foto dari seorang namja bernama Chae Hyungwon. Melihat foto-foto tersebut tampak membuatnya sedikit tersenyum.

Sebenarnya Jooyoung ingin membuat kisah dari hasil-hasil kumpulan fotonya. Seperti saat musim dingin lalu, cerita dari fotonya adalah ia menghabiskan waktu dengan keluarganya dan menemani appa-nya bekerja ke Pulau Nami. Pergi ke Pulau Nami saat itu sangat berkesan untuknya. Ia belajar banyak tentang fotografer. Ya. Appa-nya adalah seorang fotografer majalah perusahaan asing. Itu makanya ia sangat menyukai fotografi. Oleh karena itu, ia ingin membuat suatu cerita menarik di musim semi ini. Apalagi ia sangat menyukai musim semi.

Jooyoung menyentuh foto Hyungwon yang sudah tertempel di dinding kamarnya. Itu adalah foto ketika namja itu memenangkan pertandingan judo waktu lalu. Foto dimana namja itu melihat kea rah kameranya dan tersenyum.

“Aku harap, kamu yang akan melengkapi kisah musim semiku,” ucapnya sembari memejamkan mata dan masih menyentuh foto Hyungwon.

Untuk sekarang Jooyoung ingin Hyungwon ikut melengkapi fotonya. Karena ia menyukai musim semi.

Dan menyukai Chae Hyungwon.

%

Jooyoung segera bergegas menuju kantin sekolahnya. Karena tugas dari songsaengnim untuk mendata nilai, ia jadi hampir kehilangan waktu istirahatnya. Ia sudah meminta Naeun menunggunya di kantin.

Namun ketika sedang berjalan menuju kantin sekolahnya, seseorang menghentikan langkah Jooyoung. Seorang namja yang sedang duduk di bangku yang terdapat di bawah pohon—di sekolahnya. Namja itu tampak serius mewarnai sesuatu di sebuah buku. Sesekali namja itu tersenyum melihat hasil yang dibuat. Hal itu tanpa sadar juga membuat Jooyoung mengulaskan senyuman.

Jooyoung sangat yakin kalau namja bernama Hyungwon itu sedang menggambar. Sepertinya gambar buatan namja itu sudah hampir jadi. Ia pun mengambil ponselnya. Momen tersebut tidak boleh ia lewatkan.

Ketika Jooyoung sedang mengambil angle yang bagus, tiba-tiba matanya terbelalak. Tangannya yang sedang terangkat memegang ponsel pun langsung ia turunkan. Ia benar-benar kaget dengan apa yang dilihatnya saat itu. Ia mencoba mengerjap. Sekali. Dua kali. Tapi ia tetap tidak bisa bernafas. Rasanya seperti ada sesuatu menutup paru-parunya.

Hyungwon sedang bersama seorang yeoja. Yeoja yang sangat cantik. Jooyoung tidak tahu siapa yeoja itu, tapi yang ia tahu adalah yeoja itu memeluk Hyungwon dari belakang. Dan ia terlalu kaget melihat hal tersebut. Akhirnya ia pun segera pergi dari situ. Tubuhnya seperti dihantam benda keras. Matanya pun terasa panas. Rasanya sakit sekali.

Ya. Jooyoung harus segera pergi. Sebelum orang-orang melihatnya bertingkah aneh.

%

Mata pelajaran ke-7 saat itu sedang tidak ada guru. Bukan hanya di kelas Jooyoung dan Naeun, tapi di semua kelas. Itu karena semua guru di sekolahnya ada rapat penting. Jadi pelajaran ke-7 ditiadakan. Mengenai Naeun, ya, yeoja itu sekelas dengan Jooyoung. Sudah hampir 2 tahun mereka selalu sekelas. Dan itu membuat mereka berdua jadi tambah akrab.

Saat itu Jooyoung sedang melamun. Sebenarnya bukan saat itu saja, hampir sepenuhnya pada hari itu ia melamun. Mulai dari berangkat ke sekolah sampai di sekolah. Ia sampai salah naik bus dan diomeli gurunya karena melamun. Saat itu juga Naeun belum menyadari dengan perlakuan Jooyoung.

“Kang Jooyoung! Ada yang mencarimu,” panggil salah satu teman Jooyoung.

Naeun yang mendengar itu langsung dengan segera menyikut Jooyoung. Namun Jooyoung sama sekali tidak menggubris panggilan tersebut dan masih melamun. Entahlah, rasanya hatinya sedang tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tidak. Sepertinya memang ada yang salah. Tapi ia tidak tahu apa itu.

“Ya! Kang Jooyoung, apa kau tidak mendengarnya?” tanya Naeun.

Jooyoung masih melamun, pandangannya kosong. “Ne?”

“Ya! Dia kesini,” kata Naeun lagi. Entahlah siapa maksudnya.

Naeun menyikut Jooyoung lagi, namun tidak ada tanggapan darinya. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara berat milik seorang namja disebelahnya.

“Kau yang bernama Kang Jooyoung?” tanya namja itu.

Ucapan tersebut membuat Jooyoung menoleh. Sedetik kemudian matanya terbelalak. Namja itu Chae Hyungwon. Chae Hyungwon ada di hadapannya. Tanpa disadari ia menahan napasnya. Oh dear, hanya karena namja itu jantungnya berdebar lebih cepat.

“Ah, ini. Bukumu sepertinya terselip ditumpukkan buku siswa kelasku. Aku hanya ingin mengembalikannya,” ucap Hyungwon dengan sikap cueknya.

Jooyoung sadar kalau Hyungwon memang sangat tampan. Tadinya ia pasti sangat senang karena namja itu sekarang mengetahui namanya. Ya tadinya begitu, sebelum ia tahu kalau namja itu sudah memiliki pacar. Ah, ia mengingat kenyataan itu. Dan hal itu membuatnya jadi lesu lagi. Seakan energinya hilang. Ia benar-benar tidak bersemangat saat itu.

Mengharapkan seseorang yang sudah memiliki pacar bukanlah hal baik. Begitu menurut Jooyoung.

Akhirnya Jooyoung hanya tersenyum lemah dan menunduk hormat. “Kamshahamnida. Sudah membawakan bukuku,”

“Ne, cheonmanhae,” ucap Hyungwon sebelum akhirnya pergi dari hadapan Jooyoung.

Setelah itu Jooyoung kembali melamun. Dan Naeun langsung menyikut lengan Jooyoung lagi. Kali ini Jooyoung menoleh sembari mendengus, karena yang terakhir tadi terasa sakit di lengannya.

“Itu Hyungwon. Chae Hyungwon. Kenapa kamu bersikap seperti itu?” tanya Naeun seakan-akan berusaha menyadarkan Jooyoung kalau ia menyia-nyiakan kesempatandengan pangeran berkuda putih yang baru saja datang menghampirinya.

Namun Jooyoung hanya mengulaskan senyuman pada Naeun dan menjawab asal. “Ne. Aku tahu.”

Ya. Hyungwon adalah pangeran berkuda putih. Namun seorang pangeran pasti akan bersama seorang putri yang cantik. Tidak mungkin seorang pangeran akan dengan senang hati menyukai yeoja dari rakyat jelata yang tidak menawan.

Memangnya apa yang Jooyoung harapkan?

%

Jam istirahat kedua di sekolah saat itu hanya Jooyoung habiskan dengan duduk-duduk dibawah pohon rindang sekolahnya bersama dengan Naeun. Sedari tadi chingu-nya itu bercerita tentang pusat perbelanjaan dan ingin minta ditemani ke tempat itu. Ya, Jooyoung mendengar semuanya. Tapi ia sama sekali tidak punya niat untuk membawanya.

Entahlah akhir-akhir ini ia benar-benar tidak bersemangat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ada suatu hal yang mengganggu. Dan ia tidak suka akan hal itu. Ia sadar mengenai hal itu, tetapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Karena ia tidak bisa menerima kenyataan sebenarnya. Iya kenyataan kalau orang yang disukainya sudah memiliki pacar. Hal itu yang menyebabkan dirinya sering termenung akhir-akhir ini.

Naeun mulai sadar sikap Jooyoung yang aneh itu. Karena beberapa bulan terakhir ini Jooyoung tampak kikuk. Temannya itu ketika ia ajak ke café, malah menuangkan terlalu banyak gula di gelas kopi. Dan Jooyoung sering tersandung karena melamun. Bahkan ketika memesan sesuatu, Jooyoung menaruh terlalu banyak sambal di makanannya. Dan terakhir yang paling penting adalah Jooyoung sama sekali tidak pernah memotret. Biasanya Jooyoung selalu memotret apapun. Namun Naeun tidak tahu hal yang membuat Jooyoung seperti itu. Ia sangat penasaran.

“YA! Kang Jooyoung! Kau melamun lagi,” omel Naeun.

Jooyoung yang tersentak pun hanya menoleh sejenak, kemudian pandangannya kembali kosong.

“Ya! Mwoyaa?? Kenapa jadi seperti ini?” tanya Naeun penasaran. Ia mengguncang-guncang tubuh Jooyoung—disebelahnya.

Jooyoung tidak menggubris. “Naeun-ah,”

“Wae?” Naeun tambah penasaran.

“Pernahkah kamu merasa terganggu akan suatu hal, yang kamu sendiri bahkan tidak mengerti mengapa kamu bisa terganggu dengan hal itu?” tanya Jooyoung tiba-tiba.

Pertanyaan yang ngawur sebenarnya. Karena Naeun sama sekali tidak mengerti apa maksud pertanyaan yang dilontarkan Jooyoung tersebut.

“Mwo?” alis Naeun naik sebelah. “YA! Kau sedang memberikan tebak-tebakan, sekarang?”

Jooyoung menggeleng. Kemudian ia tersenyum pahit. “Chae Hyungwon. Sepertinya ia sudah punya pacar. Pacar yang cantik,”

Naeun tambah bingung lagi. Ia mencoba memutar otaknya. Berusaha memahami kalimat Jooyoung. Tunggu! Apa mungkin selama ini Hyungwon yang membuat Jooyoung sering melamun?

“Pacar? Tahu darimana?” tanya Naeun penasaran.

“Aku melihatnya,” jawab Jooyoung singkat. “Yeoja itu memeluknya,”

“Ya! Apa mungkin karena Hyungwon kamu jadi seperti ini?”

Jooyoung kembali menoleh ke Naeun. Temannya itu memang sangat pintar membaca situasi. “Bodoh bukan? Aku yang menyukainya diam-diam, dan sekarang aku patah hati sendiri.”

“Kang Jooyoung!” ucap Naeun merasa tidak enak.

“Bahkan fotografi pun terasa tidak mengasikan, sekarang,” tambah Jooyoung.

Naeun bisa lihat kalau Jooyoung tampak sedih. Hal baru yang dilihatnya dari sosok Jooyoung. Jooyoung yang rapuh. Karena selama ini ia tidak pernah menyukai seseorang, Jooyoung tidak bisa terima ketika disadarkan dengan kenyataan. Rasanya pasti sama seperti menaruh harapan yang sangat tinggi, lalu dijatuhkan begitu saja ke dasar yang paling dalam.

Mungkin itu yang Jooyoung rasakan.

Dan Naeun tidak bisa berbuat apa-apa.

%

Guru Jooyoung menyuruhnya untuk mengambil hasil ujian harian yang tertinggal diruang guru. Sebenarnya itu adalah tugas ketua kelas. Tapi berhubung Jooyoung sedang melamun dan tidak mendengarkan, jadi Jooyoung dihukum untuk mengambil kertas-kertas ujian tersebut.

Jooyoung menurut dan mengambilnya. Bahkan saat berjalan saja Jooyoung bisa melamun dan tidak memperhatikan jalan. Sudah hampir 2 bulan Jooyoung bersikap seperti itu. Tenggelam dengan lamunan dan menjadi kikuk.

Tiba-tiba saja Jooyoung merasa sesuatu yang keras menghantam kepalanya. Ia terjatuh. Matanya mengerjap. Sekali. Dua kali. Ia bahkan tidak tahu hantaman itu nyata atau hanya khayalannya saja.

Jooyoung merasakan kepalanya sangat pusing. Ia mencoba untuk bangkit berdiri, tapi tidak bisa. Ia hampir saja terjatuh lagi. Ya hampir saja ia tersungkur kalau saja tidak ada seseorang bertubuh tinggi yang menopang tubuhnya. Dan membantunya berdiri.

“Kang Jooyoung! Kau tidak apa-apa?” tanya orang tersebut.

Jooyoung yang masih bertopang dengan orang itu masih berusaha mencari keseimbangan tubuhnya. Sementara orang itu menggenggam kedua pundaknya dan menatapnya sembari mengecek keadaaannya.

“kau terbentur bola basket tadi. Apa kau benar-benar tidak apa-apa?”

Jooyoung yang sudah menemukan kesadarannya pun langsung menggeleng. Ia menatap seseorang yang menolongnya, berniat untuk mengucapkan terima kasih. Namun baru melihat orang itu membuat tubuhnya menegang. Matanya terbelalak dan sangat nanar menatap orang tersebut. Tubuhnya terasa panas. Matanya tiba-tiba saja sakit. Rasanya seperti dicolok oleh sesuatu. Sementara orang itu sepertinya tampak khawatir dengan keadaannya.

Sakit. Sakit karena tanpa Jooyoung sadari, selama ini ia sangat berusaha untuk menerima kenyataan. Sakit karena orang itu bisa membuatnya kembali tertidur dan bermimpi. Sakit karena ia merindukan orang dihadapannya itu. Orang itu memang Chae Hyungwon. Sudah hampir beberapa bulan ini Jooyoung berusaha menghindari namja itu. Tapi kini Hyungwon ada di hadapannya. Dan menyentuhnya. Oh dear.

Tampaknya saat itu Hyungwon sedang kelas olahraga. Karena Jooyoung bisa melihat namja itu tampak sempurna dengan pakaian olahraga sekolahnya.

Salah satu tangan Hyungwon menjalar menyentuh kepala Jooyoung. “Apa disini sakit?”

Sentuhan itu membuat Jooyoung mengerjap. Dengan refleks ia langsung menghindar. Seharusnya Hyungwon tidak bersikap sebaik itu padanya. Ia bisa mengharapkan yang tidak benar. Terutama ketika ia tahu kalau namja itu sudah punya pacar.

“aku tidak apa-apa,” ucap Jooyoung menepis semua perlakuan Hyungwon.

Ingat Kang Jooyoung! Chae Hyungwon sudah punya pacar!

“Gumawoyo! Sudah menolongku,” tambah Jooyoung yang masih sempoyongan.

Kemudian Jooyoung berjalan mendahului Hyungwon. Berjalan perlahan agar tidak jatuh. Ya. Kepalanya masih sangat pusing saat itu. Namun hal yang ia lakukan saat itu lebih baik di banding ia merasa bahagia karena ditolong oleh orang yang membuatnya harus menyadari kenyataan.

%

Jooyoung baru saja keluar dari gerbang sekolahnya. Hari itu ia tidak pulang bersama Naeun. Karena chingu-nya itu sedang ada kencan. Dan ia juga tidak mau mengganggu. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang sendiri saja.

Di sepanjang jalan Jooyoung masih asik merenung. Bahkan saat menyebrang pun ia tetap merenung. Alasannya adalah Chae Hyungwon. Bahkan, ia tidak tahu kalau warna lampu lalu lintas berubah dengan cepat. Saat itu tinggal sedikit lagi ia mencapai trotoar berikutnya. Dan hampir saja ada mobil akan menabraknya. Ya hampir saja, kalau tidak ada seseorang yang segera mendorongnya dari belakang. Menyeretnya dengan cepat ke trotoar.

Terdengar suara tancap gas dari banyak mobil. Disertai dengan bunyi klakson. Jujur, saat itu Jooyoung benar-benar terkejut. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ya. Mungkin ia akan mati saat itu kalau tidak ditolong.

Orang itu menggenggam kedua pundak Jooyoung. Sementara dirinya terkejut dengan perlakuan tiba-tiba seperti itu. Ya, siapapun juga pasti kaget kalau ada yang mendorongnya saat sedang berjalan.

Jooyoung menoleh ke belakang. Untuk melihat siapa yang menolongnya. Dan matanya kembali terbelalak lebar. Seseorang yang diyakininya bernama Hyungwon. Namja yang selama ini selalu dipikirannya. Ya. Namja itu yang menolongnya. Sekarang Hyungwon sedang menatapnya sembari mengulaskan senyum. Senyum yang sangat terkutuk. Senyum yang tidak boleh ia lihat, karena pasti akan membuatnya susah menghilangkan perasaan sukanya.

“Ya! Kang Jooyoung, kau mau mati ya?” tanya Hyungwon dengan nada setengah khawatir dan setengah bercanda.

Jooyoung tidak menjawab pertanyaan Hyungwon. Ia masih sedikit terkejut dengan kehadiran Hyungwon disana. Oleh karena itu ia hanya menatap namja itu sembari mematung. Ia masih shock dan cukup gugup dengan yang dia alami hari ini.

Hyungwon melepaskan genggamannya di pundak Jooyoung. Namja itu berpindah berhadapan dengannya. Kemudian sedikit membungkuk, dan menatap ke arah wajahnya. Jooyoung membelalakkan matanya lebar. Mwoya? Perlakuan apa itu?

“Ah, sepertinya kau hanya sedikit terkejut,” lanjut Hyungwon.

Jooyoung hanya memalingkan wajahnya gugup. Sepertinya namja itu hanya ingin melihat keadaannya. Aish, bagaimana ini? Ia bisa saja merasa luluh lagi kalau namja itu sedikit saja memperhatikannya. Ini hal yang gawat. Mengingat namja itu sudah punya pacar.

Melihat Jooyoung yang tidak mengatakan apapun, membuat Hyungwon membetulkan posisi berdirinya dan berniat untuk pulang duluan. Namun tiba-tiba saja namja itu seperti melupakan seesuatu.

“Ah iya, ngomong-ngomong, apa kau suka pameran lukisan?” tanya Hyungwon lagi. Namun Jooyoung sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hyungwon. Dan hanya menatap namja itu saja tanpa mengatakan apapun.

Hyungwon tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari kantung celana sekolahnya. Sebuah tiket. “Ini pameran lukisan sekolah. Datanglah dengan Naeun,”

Setelah memberikan 2 lembar tiket pada Jooyoung, maka Hyungwon segera pergi dari hadapannya. Dalam diam Jooyoung menatapi tiket yang ada di tangannya. Itu kan tiket pameran untuk penggalangan dana. Ya. Sekolahnya sering sekali membuat sesuatu untuk menggalang dana. Lalu uangnya digunakan untuk membantu beberapa orang tidak mampu di sekitar lingkungannya.

Jooyoung mengerjap. Sekali. Dua kali. Ah ia berhasil menemukan kembali cara untuk respirasi. Ia menatap kea rah punggung Hyungwon berada. Menatapi kepergian namja itu. Tidak wajar memang merasa bahagia karena Hyungwon memanggil namanya. Ya. Karena namja itu mengetahui namanya saja ia tidak bisa menahan senyumannya.

Tapi barusan Hyungwon memintanya untuk apa? Datang ke pameran dengan Naeun?

%

Jooyoung menatapi gambar terakhir yang ia potret. Itu gambar Hyungwon yang sedang berjalan membelakanginya. Suasana langit dan trotoar jalan raya menjadi latar belakang namja itu. Itu foto terakhir yang ia ambil, tentu dengan kamera ponselnya. Foto yang baru saja ia ambil secara diam-diam ketika bertemu Hyungwon di jalan ketika menyebrang.

Ya. Hari itu Jooyoung bertemu dengan Hyungwon secara tidak sengaja. Namja itu baru saja menyelamatkan harinya. Setelah ia hampir saja tertabrak mobil. Kalau saja Hyungwon tidak datang menolongnya, ya kalau saja Hyungwon tidak datang menolongnya mungkin ia bisa tertabrak mobil.

Jemari tangan Jooyoung menjalar dan hampir menyentuh foto Hyungwon yang sedang berjalan membelakanginya tersebut. Namun ketika mengingat kenyataan yang harus diterimanya, ia hanya tidak jadi menyentuh foto tersebut.

Bodoh bukan.

Hanya karena Jooyoung berpikir hari itu Hyungwon menyapanya, ia merasa tersentuh dengan semuanya itu. Dan tidak bisa di pungkiri ia merasa bahagia karena Hyungwon memanggil namanya. Namja itu mengingat namanya.

%

Sekolah tempat Jooyoung belajar memang begitu sering mengadakan berbagai macam acara untuk pencarian dana ke salah satu Yayasan Panti Asuhan yang berada di bawah naungannya. Biasanya melalui acara-acara tersebut sekolah ini akan menjual berbagai karya dari siswanya, yang nanti sebagian uangnya akan di berikan sebagai bantuan dana. Kali ini sekolah tersebut mengadakan pameran lukisan. Untuk masuk ke pameran tersebut di kenakan biaya yang nantinya digunakan untuk bantuan dana.

Jadi disinilah Jooyoung, pintu masuk pameran lukisan sekolahnya. Bersama dengan Naeun. Tadinya ia tidak mau datang, tetapi Naeun memaksanya. Kata Naeun, ia harus bersikap lebih dewasa lagi. Ya. Memang benar sih. Tidak baik bersikap seperti ini, apalagi Hyungwon yang mengajaknya untuk datang dengan Naeun.

Jooyoung dan Naeun saat itu baru saja memberikan tiket masuk ruang pameran pada penjaga dan berniat untuk masuk ke dalam ruang pameran. Namun tiba-tiba saja seseorang menabrak Jooyoung. Sepertinya tidak sengaja. Karena ia dan orang itu sama-sama terdorong akibat hal itu. Orang itu melihat Jooyoung, tetapi tidak meminta maaf. Padahal sebenarnya orang itu yang salah.

Jooyoung melihat orang itu. Ah sepertinya mereka satu sekolah, mungkin itu sunbae, makanya tidak mau meminta maaf. Akhirnya ia memutuskan kalau dirinyalah yang harus inisiatif untuk meminta maaf.

“Chosuhamnida,” ucap Jooyoung.

Tadinya Jooyoung mau langsung pergi. Namun tiba-tiba saja orang yang adalah yeoja itu mengatakan..

“Kang Jooyoung,”

Itu membuat Jooyoung menoleh. “Ne?”

“Kau Kang Jooyoung?” tanya yeoja itu sembari menunjuk nametag-nya.

Jooyoung mengangkat alisnya seakan ingin berkata ‘Lalu?’. Ya. Ia sedikit bingung dengan tujuan yeoja itu mengetahui namanya. Namun yeoja itu menunjukkan smirk padanya.

Yeoja itu. Mata Jooyoung sedikit terbelalak begitu mengamati yeoja itu. Tunggu! Jooyoung mengenal yeoja itu. Itu adalah yeoja yang memeluk Hyungwon. Orang yang selama ini di kiranya sebagai pacar Hyungwon. Ia melihat nametag yeoja itu. Lee Yooyoung. Ah itukah namanya?

Lalu yeoja itu mengulurkan tangan pada Jooyoung. “Nan Yooyoung-imnida. Salam kenal Kang Jooyoung,”

Jooyoung menyambutnya. Dengan senyuman terpaksa pastinya. Ya, mengetahui kalau Hyungwon sudah punya pacar saja begitu menyakitkan untuknya. Apalagi sekarang ia harus bertemu dengan pacar namja itu.

“Ne. Salam kenal,” jawab Jooyoung berusaha ramah.

“Pamerannya bagus sekali, kurasa kau juga harus segera melihatnya,” kata Yooyoung yang nampaknya sedang mencari-cari bahan pembicaraan.

Jooyoung bingung harus menjawab apa pada Yooyoung. Rasanya seperti bertemu saingan. Lagipula ia tidak begitu menyukai tatapan Yooyoung yang tampaknya sangat merendahkannya. Ya, yeoja manapun pasti tahu kalau tatapan Yooyoung sangat menghakiminya.

Akhirnya Jooyoung hanya menjawab. “Oh, ne!”

“Baiklah kalau begitu, aku duluan ya..” kata Yooyoung pada akhirnya.

Setelah itu Yooyoung berjalan melewati Jooyoung. Sementara yeoja itu pergi, Jooyoung tampak memperhatikannya. Salah satu chingu yeoja itu tampak menoleh ke arahnya kemudian membisikkan sesuatu pada Yooyoung. Mungkin tidak terdengar seperti bisikan. Ia tidak tahu chingu Yooyoung itu sengaja atau tidak. namun yang jelas, ia bisa mendengar kalimat tersebut. Sangat jelas.

“Kau bahkan lebih cantik darinya, Yooyoung-ah,” kata chingu tersebut.

“Ne. aku tahu,” begitu jawab Yooyoung.

Hal itu membuat Jooyoung tambah tidak mengerti. Di sisi lain ia sedikit sakit hati dan merasa kalau perkataan itu memanglah buatnya. Ya. Bagaimana tidak? Ia bahkan tidak mengenal yeoja bernama Yooyoung itu, tetapi yeoja itu mengenalnya. Dan setelah memperkenalkan diri padanya, salah satu teman yeoja itu mengatakan mengenai fisik seseorang. Jelas saja ia paham betul kalau itu dirinya. Namun yang membuatnya tidak mengerti adalah kenapa harus dirinya yang menjadi objek perbandingan fisik? Padahal banyak yang lebih darinya. Bisa dibilang kalau dibanding Yooyoung, ya ia sama sekali tidak ada apa-apanya.

Naeun lah yang begitu tidak terima ketika tidak sengaja juga mendengar kalimat itu. Hampir saja Naeun mengejar Yooyoung dan berniat mengajak yeoja itu berkelahi. Ya. Kalau saja ia tidak menahan Naeun, mungkin mereka tidak jadi melihat pameran dan malah bertengkar.

“Dasar jalang!” umpat Naeun dengan wajah kesalnya.

Jooyoung segera mengajak Naeun untuk masuk ke ruangan pameran berlangsung. Ya. Harus segera sebelum Naeun berubah pikiran dan menjadi sangat galak.

%

Naeun begitu kesal mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja memperkenalkan diri ke Jooyoung. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud yeoja itu bersikap baik di depan Jooyoung lalu tiba-tiba menghina Jooyoung setelahnya. Untung saat itu Jooyoung segera menyeretnya masuk ke dalam ruang pameran. Kalau tidak ia bisa berulah.

“Itu dia orangnya,”

Naeun yang masih kesal langsung menatap Jooyoung. Alisnya terangkat. Apa maksudnya?

“Ne?” tanya Naeun.

“Pacar Chae Hyungwon yang kuceritakan waktu itu,” jelas Jooyoung.

Tunggu dulu! Itu berarti yeoja yang dilihatnya tadi adalah yang dikira Jooyoung sebagai pacar Hyungwon. Yeoja yang sewaktu itu dikatakan Jooyoung memeluk Hyungwon. Yeoja yang membuat Jooyoung menjadi murung.

“Nenek sihir seperti itu pacarnya Hyungwon? Tidak mungkin!” tegas Naeun.

Ya. Tidak mungkin. Naeun bisa meyakinkan kalau Yooyoung itu bukan pacar Hyungwon. Dan selama ini Jooyoung hanya melamunkan hal yang tidak jelas. Bisa dibilang Jooyoung salah paham mengenai pengelihatannya. Bagaimana bisa? Ya tentu saja karena ia memang hebat meluruskan hal-hal kesalahpahaman seperti ini.

%

“Kudengar Hyungwon juga memamerkan lukisannya,” kata Naeun, yang berhasil membuyarkan lamunan Jooyoung.

Ya. Saat itu Jooyoung memang sedikit terganggu dengan perkataan Yooyoung. Walaupun sebenarnya ia tidak perlu merasa seperti itu. Karena ia pasti tidak akan menang dengan Yooyoung. Lebih tepatnya yeoja sesempurna Yooyoung.

Sementara Naeun tampaknya sudah melupakan kekesalan tadi. Karena chingu-nya itu tampak sangat terpukau dengan berbagai karya lukisan siswa di sekolah mereka. Naeun bahkan tidak bisa berpikir kalau lukisan yang dilihat saat itu benar-benar terlihat seperti pameran yang nyata. Dan Naeun begitu menyukai kenyataan tersebut.

“Aku baru tahu kalau Hyungwon bisa melukis,” tambah Naeun.

Kalimat itu membuat Jooyoung balas menatap Naeun. Ya. Dulunya pun ia tidak menyangka kalau orang seperti Hyungwon bisa melukis. Namun, ketika ia melihat namja itu sedang memegang buku sketsa, ia mengetahui fakta itu. Hal tersebut membuatnya tambah menyukai Hyungwon.

“Ah, itu dia lukisan Hyungwon,”

Tiba-tiba saja setelah mengatakan hal tersebut, Naeun segera menarik tangan Jooyoung. Ditarik seperti itu hanya membuatnya mengikuti Naeun berjalan. Dan ia sampai di sebuah lukisan berwarna merah muda cerah. Lukisan musim semi.

Lukisan itu tampak sangat sederhana. Si pelukis tampaknya melukis di balik pagar jarring. Ah tunggu itu pagar lapangan sekolah. Dalam lukisan tersebut terdapat seseorang yang sedang memotret. Lukisan itu mengambil posisi orang tersebut dari samping. Orang itu tampak sedang menjunjung tinggi tangan kanan sembari memegang ponsel. Orang itu adalah yeoja. Siapapun tahu, karena rambut orang tersebut panjang sebahu. Latar belakang yang adalah pemandangan musim semi di sekolah membuat lukisan tersebut tampak indah.

“Kang Jooyoung,”

Panggilan Naeun membuat Jooyoung menoleh ke arah chingunya. Namun Naeun tampak serius menatap sesuatu. Ia pun beralih ke arah pandangan Naeun. Yeoja itu menatap kea rah judul lukisan tersebut.

‘Kang Jooyoung (by: Chae Hyungwon)’

Mata Jooyoung begitu terbelalak melihat tulisan tersebut. Ia menatap lukisan itu sekali lagi. Bahkan rasanya begitu mustahil ia berani berharap kalau orang yang ada di dalam lukisan tersebut adalah dirinya. Salah satu alisnya terangkat. Kepalanya dimiringkan. Apakah benar itu dirinya?

“Ah, Chae Hyungwon!”

Mendengar nama itu membuat Jooyoung terbelalak. Bodoh. Hanya karena nama itu dipanggil oleh Naeun, jantungnya langsung berdebar dengan cepat. Napasnya tertahan. Ia bahkan tidak berani membalikkan tubuh seperti yang dilakukan Naeun. Karena wajahnya sudah sangat memerah.

Sementara Naeun yang merasa ada ketegangan saat itu, memutuskan untuk langsung pergi.

“Ah, kurasa ada temanku disana. Aku ingin menyapanya dulu,” kilah Naeun yang kemudian menepuk pundak Jooyoung. “Aku kesana dulu ya,”

Naeun kemudian menghampiri Hyungwon sebentar dan berkata. “Lukisan yang bagus,”

Dan Naeun pergi begitu saja. Sementara tatapan Jooyoung mengikuti arah perginya Naeun. Ia hendak mengatakan sesuatu pada Naeun untuk tidak meninggalkannya. Namun yeoja itu sudah keburu menghilang begitu cepat dari hadapannya.

Tinggallah Jooyoung dan Hyungwon. Saat itu Jooyoung memutuskan untuk membalikkan tubuhnya dan menatap Hyungwon. Rasanya aneh membiarkannya berdua dengan namja itu. Ya. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun. Keadaan tiba-tiba saja menjadi hening. Yang Jooyoung bisa dengar hanyalah suara jantungnya sendiri.

“Kau…..”

“Kau….”

Jooyoung ingin mengatakan sesuatu agar suasana tidak terlalu tegang. Namun tidak jadi, karena Hyungwon juga mengatakan sesuatu. Mereka berdua jadi berbicara secara bersamaan. Ia pun jadi salah tingkah. Dan nampaknya Hyungwon juga. Karena namja itu menaruh tangan di belakang kepala, sebentar—lalu menurunkannya lagi.

“Kau duluan,” ucap Jooyoung dengan tersenyum kaku.

“Ah itu,” kata Hyungwon yang ikut tersenyum. “Aku hanya ingin bilang, kalau kau salah paham tentang diriku dan Yooyoung,”

Kalimat itu membuat Jooyoung tersentak. Salah satu alisnya terangkat. Ia tiba-tiba merasa tidak mengerti. “Ne?”

“Lee Yooyoung, dia bukan pacarku,” jelas Hyungwon.

Saat itu seperti ada sesuatu yang menambat di dalam tubuh Jooyoung bisa keluar begitu saja. Tidak bisa dipungkiri rasanya lega mendengar kalimat itu keluar dari mulut Hyungwon. Jadi selama ini sesuatu yang mengganggu pikirannya adalah sesuatu yang sepele dan salah paham. Tapi tunggu! Darimana Hyungwon tahu kalau hal itu mengganggunya?

Jooyoung menatap namja itu, begitu juga sebaliknya. Tapi mengapa ia tidak bisa mengatakan apapun. Tatapan namja itu seperti sihir buatnya. Seakan ia telah menjadi patung saat itu.

“Dan kau….?” Hyungwon mengatakan sesuatu lagi. “Apa yang mau kau katakan?”

Jooyoung mengerjap. Seakan bisa menemukan kembali kalimatnya, ia berkata, “Kau hebat. Lukisan yang indah,”

Itu kalimat yang tulus. Bukan dalam konteks karena mungkin itu adalah lukisan Jooyoung, tetapi lukisan Hyungwon memang begitu indah. Warna musim semi dalam lukisan itu memang begitu nyata. Itu yang membuat Jooyoung berani memuji lukisan Hyungwon. Ya. Hyungwon memang berbakat.

Bisa dilihat karena pujian Jooyoung, Hyungwon malah terkikik.

“Kau memujiku karena memang kau menyukai seni lukis atau karena itu lukisan mengenai dirimu?” tanya Hyungwon.

Jooyoung terbelalak mendengarnya. Bahkan Jooyoung tidak menyangka kalau Hyungwon bisa blak-blakkan mengatakan hal seperti itu. Dalam arti lain, ia sama sekali tidak berani berharap kalau itu adalah lukisan mengenai dirinya.

“Kau…. melukisku?” tanya Jooyoung. “Sejak kapan?”

Akhirnya Jooyoung bisa mengatakannya. Ia menatap Hyungwon, namja itu juga menatapnya. Saat itu ia benar-benar membutuhkan jawaban. Namun, Hyungwon malah tersenyum padanya. Semyuman yang sangat manis. Senyuman yang membuatnya tidak menyesal karena sudah menyukai namja itu. Senyuman yang selalu ia inginkan ada di setiap fotonya. Dan senyuman yang membuat ia begitu tertarik dengan musim semi.

Hyungwon tidak menjawab pertanyaan Jooyoung, tetapi namja itu berkata masih dengan tersenyum padanya……

“Kau memotretku? Sejak kapan?”

%

EPILOG

Full of flashback

Hyungwon sedang duduk-duduk di kursi penonton lapangan basket. Pandangannya sedang menatap ke arah seorang yeoja yang hanya terhalang dengan jaring tinggi—pagar lapangan basket. Yeoja itu tampak memotret sekitar dengan kamera ponsel. Ia bisa melihat kalau yeoja itu tampak sangat bahagia begitu melihat hasil foto tersebut. Ia tidak mengenal yeoja itu. Tetapi melihat yeoja itu membuatnya mengulaskan senyum.

Hyungwon tahu kalau yeoja itu adalah yeoja yang waktu itu memotret di sekolah ketika pertandingan judo. Ia pun tahu kalau yeoja itu juga yang memotretnya. Ia juga tahu kalau akhir-akhir ini yeoja itu sering ada di sekelilingnya tanpa sadar. Mungkin karena hal-hal itu ia merasa sedikit ge-er.

Saat itu Hyungwon sedang memegang buku sketsanya. Salah satu hobi terpendamnya. Menggambar. Entah kenapa, pikirannya seakan membuatnya tergerak untuk melukis yeoja itu beserta pemandangan sekitarnya. Dunia yeoja itu.

Hyungwon mengangkat jempolnya untuk mengambil angle yang baik. Ia mengarahkan kea rah yeoja yang ada di depannya itu. Dan ups, sepertinya yeoja itu menyadari kalau ia mengancungkan jempol kea rah yeoja tersebut. Makanya ia segera menurunkan jempolnya. Dan mulai menggambar.

Sedetik kemudian Hyungwon mengulaskan senyumnya. Tatapannya masih tertuju pada buku sketsanya. Ia tersenyum karena ia tahu kalau yeoja itu memotretnya lagi sekarang.

%

Latihan klub judo saat itu memang sangat ketat. Karena pertandingan persahabatan yang lalu, klubnya di ajak untuk mengikuti pertandingan di tingkat selanjutnya. Itu membuat semua anggota klub judo harus bekerja lebih keras. Bahkan saat itu mereka dipastikan akan pulang malam.

Hyungwon termasuk salah satunya. Saat itu ia sedang disuruh ketuanya, Son Hyunwoo—untuk memberi teknik dalam menjatuhkan lawan agar mendapatkan ipon(?). Namun baru saja ia mengambil kuda-kuda, tiba-tiba ada dua orang yeoja datang ke klubnya. Yang satu ia yakini bernama Son Naeun, karena yeoja itu adalah dongsaeng ketua klubnya. Tapi satu yeoja lagi, bukankah itu yeoja yang suka memotretnya.

Sementara Hyunwoo menghampiri dongsaengnya, Hyungwon pun berusaha fokus dengan latihannya. Begitu juga anggota yang lain. Namun tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.

“YA! Chae Hyungwon!”

Hyungwon menoleh dan tiba-tiba saja ia melihat kamera ponsel terangkat lalu terdengan suara ‘jepret(?)’. Tentu saja Hyungwon kaget dengan suara tersebut. Tunggu! Apa-apaan Naeun ini?

Hyungwon tadinya ingin marah, tapi ia tidak jadi melakukannya. Karena ia melihat kalau salah satu yeoja yang bersama Naeun itu tampak panik dan ketakutan. Entahlah, ia jadi kasian karena tahu kalau yeoja itu sedang dikerjai oleh Naeun. Akhirnya ia pun berlagak tidak perduli. Lalu setelah itu melanjutkan latihan.

“YA! Chae Hyungwon! Shin Wonho! Ayo lanjutkan yang tadi,” ucap Hyunwoo seakan tidak perduli dengan perlakuan memalukan dongsaengnya.

Hyungwon pun menuruti perintah ketuanya. Ia mencengkram kedua baju judo milik Wonho, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua saling memasang kuda-kuda. Namun tiba-tiba Wonho mengulaskan senyum. Itu membuatnya mengangkat alis.

“Ya! Sepertinya temannya Naeun menyukaimu. Ia menatapmu terus sejak tadi,” ucap Wonho.

Mendengar itu membuat Hyungwon merasa senang, namun sedetik kemudian ia membanting Wonho segera. “Aku tahu itu, tapi tolong seriuslah dengan latihan,”

Wonho yang dibanting hanya mendengus sebelum akhirnya tersenyum. Sementara ketua mereka hanya bingung dengan apa yang membuat mereka berdua tersenyum. Tapi akhirnya Hyunwoo berkata “Ipon”

Setelah itu Hyungwon menatap ke arah pintu klubnya dan tersenyum sembari berpikir ‘Kau berhasil lagi memotretku,’

%

Hyungwon menghampiri kelas 2-4. Kelas yang bersebelahan dengan kelasnya. Karena ada salah satu buku yang tidak ada namanya di kelasnya. Namanya Kang Jooyoung. Sepertinya terselip saat gurunya memeriksa tugas mereka. Untung di buku itu tertulis kalau buku tersebut berasal dari kelas 2-4.

Akhirnya Hyungwon memutuskan untuk mengembalikan buku tersebut langsung kepada pemiliknya. Ia bertanya pada seseorang dikelas tersebut. Tadinya orang itu mau memanggilkan pemilik buku tersebut, tapi saat itu sedang istirahat dan sepertinya pemiliknya tidak mendengar. Ia pun memutuskan untuk mengantarkan sendiri ke pemiliknya. Orang yang ditanyanya itu kemudian menunjuk kea rah 2 orang yang tampak sedang mengobrol.

Mata Hyungwon melebar melihat kedua orang itu. Ia mengenal kalau salah satunya adalah adik ketua klubnya. Son Naeun. Tapi yang satu lagi.. Kemudian ia melihat nama yang ada di buku yang dipegangnya.

Apakah namanya Kang Jooyoung?

Hyungwon menghampiri kedua orang tersebut, tentu saja dengan penuh harap. “Kau yang bernama Kang Jooyoung?”

Seorang yeoja berambut panjang lurus sepunggung—yang sedang duduk itu menoleh ke arah Hyungwon. Ah benar namanya Kang Jooyoung. Tapi yeoja itu tampak kaget melihatnya. Naeun juga tampak kaget melihatnya. Mungkinkah mereka takut ia akan marah karena kejadian di klub? Tapi bukan itu tujuan kedatangannya.

“Ah ini,” Hyungwon mencoba menjelaskan maksudnya dengan sikap sesantai mungkin. “Bukumu sepertinya terselip ditumpukkan buku siswa kelasku. Aku hanya ingin mengembalikannya,”

Mendengar penjelasan Hyungwon, tampaknya yeoja bernama Jooyoung itu terlihat sedikit santai. Naeun juga tampak lega dengan ucapannya. Kemudian ia bisa melihat yeoja bernama Jooyoung itu tersenyum. Pertama kali ia melihat yeoja itu tersenyum seperti itu. Mungkinkah ia gugup?

Jooyoung menunduk hormat pada Hyungwon. “kamshahamnida, sudah membawakan bukuku,”

Hanya seperti itu dan Hyungwon menjawab. “Ne. Cheonmanhae”

Setelah itu Hyungwon pergi. Bisa ia dengar setelah itu Naeun tampak berisik karena kehadirannya. Itu membuatnya mengulas senyum. Akhirnya ia tahu nama yeoja itu.

Kang Jooyoung.

Aneh bukan? Pada awalnya Hyungwon berpikir kalau Jooyoung yang menyukainya, tapi kenapa sekarang ia malah terlihat seperti orang yang sedang kasmaran? Tentu saja ia tidak akan membiarkan yeoja itu mengetahuinya.

%

Hari itu sedang kelas olahraga. Hyungwon dan para teman satu kelasnya bermain basket. Giliran anak perempuan yang melempar bola. Salah satu temannya yang bernama Yerin melempar bola tersebut, tapi lemparannya meleset terlalu jauh dan melewati pagar jarring. Dan bahkan mengenai seseorang.

Hyungwon kaget dengan orang yang terkena bola basket tersebut. Itu Kang Jooyoung. Ia pun segera berlari menghampiri yeoja itu.

Khawatir. Sudah pasti. Apalagi karena ekspresi wajah Jooyoung tampak sangat buruk karena berbenturan dengan bola basket. Hyungwon pun segera membantu Jooyoung yang berusaha untuk berdiri. Ia memutar tubuh yeoja itu dan menatapnya.

“Kang Jooyoung! Kau tidak apa-apa?” tanya Hyungwon. Ia benar-benar khawatir saat itu.

Jooyoung tidak menjawab. Mata yeoja itu terpejam. Sepertinya Jooyoung merasa pusing.

“kau terbentur bola basket tadi,” jelas Hyungwon. “Apa kau benar-benar tidak apa-apa?”

Jooyoung menggangguk. Yeoja itu membuka mata dan menatapnya juga. Ditatap seperti itu oleh Jooyoung membuatnya mengerjap. Rasanya saat itu sulit sekali menelan ludahnya. Tapi kenapa Jooyoung menatapnya seperti itu? Seakan ia adalah orang yang sangat jahat. Apa terjadi sesuatu pada yeoja itu?

Tiba-tiba saja Jooyoung menepis semua genggaman Hyungwon dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku!”

Setelah itu Jooyoung langsung pergi dengan jalan terseok-seok. Itu membuat Hyungwon heran. Tapi ia hanya menatap kepergian yeoja itu. Saat itu ia sangat takut kalau tiba-tiba saja Jooyoung jatuh pingsan. Karena ia yakin sekali kepala yeoja itu pasti masih terasa pusing akibat terbentur lemparan bola tadi.

Tiba-tiba saja seseorang menghampiri Hyungwon. Membuatnya menoleh, karena seseorang itu menggenggam lengannya. Orang itu adalah Yooyoung. Seorang yeoja yang membuatnya sedikit ngeri. Bagaimana tidak? yeoja itu sering sekali menempel padanya. Dalam setiap kesempatan. Entahlah, ia hanya tidak terbiasa dengan skinship tiba-tiba seperti itu.

Yooyoung memang sedikit mengganggu Hyungwon. Tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapi yeoja seperti itu.

“Mwoya?” tanya Yooyoung sembari menatap Hyungwon dengan wajah aegyo.

Hyungwon yang merasa risih, langsung memberikan bola yang dipegangnya pada Yooyoung dan melepaskan genggaman yeoja itu di lengannya.

“Ini bolanya. Giliranmu bukan,” jawab Hyungwon dingin. Kemudian ia meninggalkan Yooyoung.

%

“YA! CHAE HYUNGWON!”

Panggilan itu membuat Hyungwon menoleh. Dilihatnya Naeun bertolak pinggang dan berjalan ke arahnya. Saat itu ia baru saja selesai latihan judo. Dan jujur saja melihat Naeun ada di ruangan klubnya membuatnya sedikit aneh.

“Jawab pertanyaanku,” kata Naeun dengan nada penuh menghakimi. “Apa benar kau sudah punya pacar?”

Alis Hyungwon terangkat. Ia benar-benar merasa heran. Pacar?

Namun melihat ekspresi aneh Hyungwon malah membuat Naeun tambah salah paham. Yeoja itu pun menghembuskan nafas berat dan menunduk dengan lesu.

“Jadi benar kau sudah punya pacar,” lanjut Naeun. “Kasian Kang Jooyoung, ia jadi harus menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku benar-benar tidak bisa melihat Jooyoung seperti itu.”

Hyungwon tambah tidak mengerti arah pembicaraan Naeun daritadi. Kini keningnya menyernyit. Sebenarnya apa hubungannya ia yang sudah punya pacar dengan Kang Jooyoung? Dan ia punya pacar darimana?

“Pernahkah kau melihat Jooyoung yang seperti itu? Kikuk dan tidak bersemangat. Ia bahkan sudah 2 bulan tidak memotret apapun, kerjaannya hanya melamun saja.” tambah Naeun dan hampir menangis. “Aku tidak bisa melihatnya yang seperti itu,”

Cukup. Hyungwon sudah tidak tahan lagi dengan ocehan Naeun yang membuatnya tidak mengerti. Ia mengangkat salah satu tangannya. Meminta Naeun berhenti mengoceh.

“Apa sebenarnya maksudmu?” tanya Hyungwon akhirnya.

“Kang Jooyoung melihatmu berpelukan dengan pacarmu,” jawab Naeun. “Temanku, Kang Jooyoung selama ini menyukaimu.”

Sebenarnya Hyungwon masih tidak mengerti tentang pacar. Ia benar-benar tidak paham yeoja mana yang dipeluknya saat itu? Sepertinya selama ini ia tidak pernah memeluk siapapun. Tapi saat itu ia tidak bisa memungkiri rasa senangnya. Itu karena perasaannya selama ini benar.

“Kang Jooyoung menyukaiku?” tanya Hyungwon berusaha meyakinkan pendengarannya.

Naeun mengangguk. “Iya aku tahu ini bukan salahmu. Bagaimana pun, ini pertama kali untuknya menyukai seseorang. Jadi sulit untuknya untuk menerima itu. Aku akan usahakan untuknya agar bisa menerima kenyataan.”

“Jadi selama ini benar ya,” kata Hyungwon tidak menggubris perkataan Naeun. “Jadi selama ini bukan Cuma ge-er saja”

Sekarang giliran Naeun yang tidak mengerti.

Menatap wajah Naeun yang tidak mengerti, lalu Hyungwon mengulaskan senyumnya. Ia benar-benar bahagia saat itu. “Aku benar-benar senang, karena dia menyukaiku.”

Naeun memiringkan kepalanya sedikit dan mengerutkan alis heran sembari menatap Hyungwon. Mwo? Ucapan apa itu?

%

Hyungwon menatap sekeliling ruang pameran. Sedari tadi ia sedang menunggu seorang yeoja bernama Jooyoung datang. Ya. Ia sudah merayu Naeun untuk mengajak Jooyoung datang. Karena ada beberapa hal yang perlu Jooyoung lihat di pameran kali ini.

“Chae Hyungwon!”

Panggilan itu membuat Hyungwon menoleh. Dilihatnya seorang yeoja cantik, bertubuh tinggi, dan dengan senyuman riang berjalan ke arahnya. Setiap orang yang melihat wajah yeoja itu pasti sada kalau yeoja itu sangat cantik. Suatu kecantikan yang mungkin sedikit mengintimidasi. Ya. Ia pun merasa begitu. Yeoja itu adalah Lee Yooyoung, yeoja yang selama ini terus menempel padanya. Yeoja yang membuat Jooyoung salah paham.

Yeoja itu berjalan kea rah Hyungwon. Ia pun hanya tersenyum ramah. Sementara Yooyoung menghampirinya.

“Ah ini, lukisanmu?” tanya Yooyoung sembari menatap kea rah belakang Hyungwon.

Sementara Hyungwon mengikuti arah mata Yooyoung memandang. Ya. Itu adalah lukisannya. Lukisan seorang yeoja yang memotret suasana musim semi di sekolah. Lukisan yang tidak lain adalah…..

“Kang Jooyoung,” kata Yooyoung tiba-tiba. Yeoja itu menatap kea rah Hyungwon. “Nugu?”

Hyungwon tersenyum mendengarnya. “Yeoja dalam lukisanku”

Nama Kang Jooyoung berhasil membuat Hyungwon merasa senang. Sebenarnya semenjak ia mengetahui bahwa yeoja yang selalu memotretnya bernama Kang Jooyoung, ia pun terus menyebutkan nama yeoja itu dalam hati. Ia tidak mau melupakan nama yeoja itu lagi, dan menjadi uring-uringan karena tidak mengingat yeoja itu. Karena itu ia membuat judul lukisannya dengan nama Kang Jooyoung.

“Pacarmu?” tanya Yooyoung.

Tiba-tiba yeoja itu menatap Hyungwon dengan nanar. Seakan yeoja itu mengharapkan penjelasan, tetapi tidak yakin ingin mendengar jawaban dari mulut Hyungwon.

“Aku hanya menyukainya,” jelas Hyungwon.

“Kau…..” Yooyoung mengerjap sekali mendengar jawaban Hyungwon. “Kupikir kau….”

“Apa?” tanya Hyungwon sembari tersenyum. Ya. Ia sudah tahu arah pembicaraan Yooyoung selanjutnya. Tetapi ia membiarkan yeoja itu yang mengatakannya sendiri.

Yooyoung tertunduk sekilas, kemudian menggeleng pelan dan menatap Hyungwon. Yeoja itu mengulaskan senyum. Bukan senyum yang seperti biasanya. Orang manapun yang melihatnya pasti berpikir yeoja itu sedang patah hati. Hyungwon sendiri baru menyadari kalau yeoja itu menyukainya.

“Lukisan yang indah, Chae Hyungwon,” puji Yooyoung.

Saat itu Hyungwon merasa bahwa bukan kalimat tersebut yang ingin Yooyoung katakan padanya. Tetapi ia tidak bisa memaksa Yooyoung, karena ia sendiri pun tidak bisa membalas apapun kalau Yooyoung mengatakan sesuatu padanya.

Akhirnya Hyungwon hanya bisa tersenyum pada Yooyoung. “Gumawo, chingu-ya!”

Yooyoung mengulaskan smirk mendengarnya. “Ne. Chingu..”

FIN

 

 

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Started with a Stare (OneShot)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s