[MONSTAX FF FREELANCE] – Pages of Life (Chapter 5)

cover ff mx

Author                        : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

Changkyun meletakkan dua kaleng soda dan beberapa potong kue kering di meja ruang tengah. Disana, ada Kihyun yang duduk dengan pandangan kosong menatap dinding. Sudah 10 menit yang lalu dia bersikap demikian, hingga sang pemilik tempat enggan untuk mengusik kegiatannya.

“Changkyun…”

“Ya, hyung?” sahut Changkyun. Dalam hati ia mendesah lega karena pemuda yang tiga lebih tua darinya itu mau membuka suara.

“Aku bodoh, ya?”

“Eh?”

Changkyun memandang wajah manis Kihyun dengan pandangan tidak mengerti. Hei, dia masih belum tahu duduk permasalahan yang sedang membelit tetangganya ini. jadi wajar kalau ekspresinya demikian.

“Aku tidak tahu Hyunwoo hyung kesusahan sepanjang hidupnya. Aku tidak tahu kalau waktu itu Hyunwoo hyung dituduh mencuri dan dihajar habis-habisan hingga babak belur. Aku tidak tahu kalau Hyunwoo hyung bekerja di bar selama 2 tahun belakangan ini hanya untuk menghidupiku. Bukankah aku ini adalah orang paling bodoh dan paling brengsek di dunia ini?”

Changkyun tertegun untuk sesaat, maniknya tak lepas dari Kihyun yang masih statis memandang dinding yang ada dihadapannya. Sejurus kemudian, ia meremas bahu Kihyun dengan lembut.

Hyung…” Changkyun mengambil nafas sejenak untuk menyiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan. “Hyunwoo hyung pasti punya alasan mengapa dia tidak menceritakan semuanya padamu. Setidaknya dia ingin melindungimu dari orang-orang yang tidak menyukainya. Mungkin Hyunwoo hyung hanya menunda untuk memberitahumu. Kau jangan berprasangka buruk dulu padanya. Dia sangat sayang padamu, hyung.

“Ya, saking sayangnya sampai aku tidak tahu apapun tentangnya. Tentang lukanya, tentang kesakitannya, tentang penderitaannya, tentang kesulitanya. Aku bahkan berpikir kalau dia adalah orang paling menyebalkan di dunia ini, menyuruhku untuk berkeluh-kesah padanya tanpa mengijinkanku untuk tahu segala kesulitannya.”

Changkyun mengerti perasaan itu. Dia sangat mengerti posisi Hyunwoo saat ini. Pasti Hyunwoo hanya ingin Kihyun hidup normal layaknya orang lain, tanpa menghadapi kesulitan yang berarti.

“Tak ada kakak yang ingin melihat adiknya bersedih, hyung. Hyunwoo hyung punya alasan untuk itu. Dia ingin meyakinkanmu kalau kau bisa mengandalkannya. Dia ingin kau tahu kalau kau bisa bersandar padanya saat ada masalah. Dia ingin kau tahu tentang itu.”

Kihyun tak menyahut. Ia menghela nafas panjang untuk membuang sesak yang membekap dadanya sejak kemarin. Matanya menerawang, mengingat semua perlakuan Hyunwoo yang begitu memanjakannya walaupun mereka sering berkelahi dan berdebat kecil. Ia ingat bagaimana Hyunwoo sering membuatkan masakan kesukaannya, sering membawakan cemilan-cemilan sepulang kerja, dan masih banyak hal sederhana yang Hyunwoo lakukan untuknya. Semua itu hanya berpusat pada satu hal, kasih sayang seorang kakak pada adiknya.

“Beberapa hari yang lalu, kami berdua membuka sebuah website. Disana membahas tentang keberadaan pil biru dan pil merah. Tentu saja itu fiksi. Namun aku dan Hyunwoo hyung iseng-iseng memilih satu diantara dua pil itu. Dijelaskan kalau kita memiliki pil merah, kita akan memiliki banyak uang, dan kalau kita memiliki pil biru, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Kau tahu aku memilih apa? Aku memilih pil biru.”

“Dan Hyunwoo hyung memilih pil merah?”

“Ya. Katanya dia ingin punya banyak uang, sehingga kami tidak terus-terusan berada dalam kesulitan seperti ini.”

Sesaat tak ada suara yang terdengar disana. Kihyun dan Changkyun sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Kau tahu kenapa aku memilih pil biru?”

“Kenapa?”

“Pada awalnya aku ingin ayah dan ibu kembali hidup di dunia, menemaniku dan Hyunwoo hyung seperti dulu lagi. Namun aku sadar, itu mustahil. Kita tidak bisa mengambil apa yang telah kembali kepada Tuhan. Sekarang aku tahu apa yang aku inginkan kalau pil itu benar-benar ada di dunia ini.”

“Apa itu, hyung?”

Changkyun menatap Kihyun dengan intens, menunggu jawaban yang akan dilontarkan pemuda itu.

“Aku ingin pergi dari dunia ini agar Hyunwoo hyung tidak menderita lagi.”

Jawaban itu menbuat Changkyun mematung ditempatnya untuk beberapa saat.

 

oooOooo

 

Malam turun di kota Seoul. Suasana tampak begitu menyenangkan dengan bintang- bintang dan rembulan yang menghiasi langit. Namun tidak demikian dengan salah satu ruang apartemen di sudut kota Seoul. Memang biasanya kamar apertemen itu sepi. Namun tidak sesunyi ini.

Kalau kalian bisa menebak siapa pemilik apartemen itu, kalian memang hebat. Bisa menebak? Yap, Hyunwoo dan Kihyun. Apartemen itu terlihat lebih sepi sejak pertengkaran mereka pagi tadi. Kihyun tidak mau mengangkat telepon dari Hyunwoo. Padahal kakaknya itu ingin meminta maaf.

Tak tahan, akhirnya Hyunwoo memutuskan untuk datang ke apartemen Changkyun yang letaknya hanya di sebelah apartemennya. Pemuda itu sempat cemas, takut Kihyun tidak mau menemuinya. Adiknya itu kalau sedang marah, akan susah untuk dibujuk. Namun setelah memantapkan diri, akhirnya Hyunwoo berani mengetuk apartemen Changkyun.

Butuh waktu sekitar 5 menit hingga pintu itu terbuka. Hyunwoo terkejut melihat sosok pemuda yang membukakan pintu. Begitu pula sebaliknya, sosok itu juga terkejut dengan kedatangan Hyunwoo.

“Kau… I.M?”

“Oh, Hyunwoo hyung. Ada apa kemari?”

“Aku mencari adikku.” Sahut Hyunwoo. Ia masih terkejut dengan keberadaan Changkyun di unit apartemen ini. “Jadi kau ini Changkyun, yang sering dibicarakan Kihyun?”

Changkyun menggaruk tengkukknya yang tidak gatal, sedikit salah tingkah pada pemuda yang ada dihadapannya ini.

“Masuklah, hyung.Kihyunhyung ada di dalam.”

Ia menggeser sedikit tubuhnya dan memberi jalan masuk untuk Hyunwoo. Setelah menutup pintu, Changkyun segera mengajak Hyunwoo menemui Kihyun yang sedang duduk di ruang tengah.

“Kihyunhyung, ada yang ingin bertemu denganmu.”

Kihyun menoleh, dan wajahnya berubah datar melihat kedatangan kakaknya. Segera, ia memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak peduli. Hyunwoo tahu, reaksi semacam ini yang akan ia terima. Namun ia tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini.

“Kihyun, boleh hyung berbicara denganmu? Sebentar saja.” tanya Hyunwoo setengah memohon. Kihyun tak menanggapi kakaknya yang tengah mengajaknya berbicara.

“Kihyun, hyung mohon…”

“Ada apa?”

Hyunwoo menarik nafasnya sejenak. Ia kemudian duduk disebelah Kihyun yang masih tak mau menatapnya. Tak masalah, selama adiknya itu mau mendengarkannya.

“Maafkan aku kalau selama ini aku selalu saja membuatmu terluka dan sakit hati. Aku hanya tidak ingin kau menanggung beban yang tak seharusnya menjadi tanggung jawabmu. Kupikir itu benar. Namun aku baru sadar kalau kau semakin tersakiti dengan hal itu. Hyung minta maaf, Kihyun.”

Kihyun tak menyahut, bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun menghadap wajah kakaknya. Biasanya Hyunwoo akan marah kalau sikapnya seperti ini, karena ini tidak sopan. Tetapi tidak berlaku untuk hari ini, Kihyun ingin membantah Hyunwoo untuk sekali saja.

“Aku punya alasan mengapa aku bekerja di bar dan tidak memberitahumu. Pertama, disana aku bisa mendapatkan uang untuk hidup kita berdua. Kedua, tak ada yang mau menerimaku bekerja, sehingga pilihanku hanya bar itu. Kau tahu kan, jaman sekarang sangat sulit mencari kerja. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain bar itu. Ketiga, alasanku tidak memberitahumu adalah, karena aku tidak ingin kau malu punya seorang kakak yang tidak berguna sepertiku. Aku ini bukan anak yang baik lagi seperti dulu, dan aku tidak ingin orang-orang menganggapmu tidak baik juga.”

Hyunwoo mengembuskan nafasnya. Ia tak berharap Kihyun akan memaafkannya. Ia hanya ingin adik kesayangannya itu tahu alasannya melakukan ini.

“Maafkan aku, Kihyun. aku sudah banyak menyakitimu.”

Kihyun bukannya tidak punya hati. Hanya saja, dia masih merasa kalau sikap sang kakak benar-benar kelewatan. Namun sikap sakartisnya tak berlangsung lama karena tiba-tiba Hyunwoo bersimpuh dan merebahkan kepalanya di pangkuan Kihyun. Segaris airmata meluncur dari manik hitam pemuda itu.

“Kumohon katakan sesuatu. Jangan hanya diam dan membuatku semakin tersiksa. Pukul aku kalau kau mau, Kihyun. Hajar aku kalau kau ingin. Apapun asal jangan hanya mendiamkanku begini.”

GREP!

Kihyun menarik kakaknya bangun dan memeluknya erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Hyunwoo. Isakan lirih lolos dari bibir pemuda itu.

“Cukup, hyung. Jangan bicara lagi. Maafkan aku karena bersikap sangat tidak baik padamu. Aku hanya ingin kau menyandarkan dirimu padaku sebentar saja. aku hanya  ingin kau tahu kalau kau tidak sendiri, ada aku yang akan selalu menjadi orang pertama untuk membelamu. Maafkan aku karena aku bersikap egois.”

Pada akhirnya, tembok kepura-puraan dan kebohongan yang telah tercipta diantara Hyunwoo dan Kihyun selama 5 tahun ini, runtuh dengan sempurna. Tak ada lagi yang bisa membatasi keduanya untuk saling melindungi dan menjaga. Keduanya telah berjanji akan saling melindungi satu sama lain tanpa harus menyakiti dan berpura-pura lagi.

Hei, lalu kemana perginya tokoh ketiga? Kemana perginya sang pemilik apartemen yang tampan itu? Sudah menghilang di balik pintu kamar bercat gading yang tak jauh dari ruangan itu. Ia hanya tidak ingin mengganggu kemesraan kakak beradik yang sedang menumpahkan perasaan satu sama lain. Cukup menjadi pihak pasif yang akan datang bila dibutuhkan.

 

oooOooo

 

Sejak hari itu, Kihyun mulai ikut Hyunwoo bekerja di bar. Bukan sebagai pelayan ataupun penjaja seks, namun sebagai seorang penyanyi. Fakta yang cukup mengejutkan sang kakak yang tidak tahu menahu mengenai bakat terpendam adiknya. Hyunwoo tidak tahu –mungkin lupa- kalau Kihyun begitu mencintai musik sejak ia membuka mata di dunia untuk pertama kalinya. Sekarang inilah jadinya, mereka bekerja di tempat yang sama namun dengan profesi yang berbeda.

Hyunwoo sendiri sudah meninggalkan dunia gelapnya. Ia tak lagi menjadi budak seks wanita-wanita liar yang biasa mengelilinginya. Ia tetap bekerja di bar itu. Namun sekarang ia menjadi salah satu anggota grup dance  yang biasa tampil disana setiap malam. Hasilnya juga tak jauh beda dari pekerjaan sebelumnya. Sedikit menyesal mengapa ia dulu cukup kuper untuk mengetahui ada pekerjaan yang tak membutuhkan ijazah. Hanya bermodalkan skill dance yang sudah ia miliki sejak bangku SMA, hal itu bisa menghasilkan uang yang lumayan.

“Kihyun-ssi, waktunya anda tampil.”

Seorang pelayan memberi tahu Kihyun untuk untuk segera ke stage. Kihyun menarik nafas pelan sebelum akhirnya mengangguk. Hyunwoo mengangkat jempolnya untuk memberi semangat sang adik.

Changkyun -yang menjadi DJ utama- tak hentinya tersenyum melihat Kihyun begitu bersemangat. Selama mengenal pemuda itu, baru kali ini ia melihatnya begitu hidup dan berwarna.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, Kihyun mengakhiri penampilannya dengan gaya yang sangat elegan, membuat gadis-gadis disana menjerit heboh. Saatnya Kihyun bertukar tempat dengan sang kakak, Hyunwoo.Tak jauh beda dari penampilan Kihyun sebelumnya, penampilan Hyunwoo malam ini juga mengundang decak kagum sekaligus histeria dikalangan gadis-gadis. Oh, tampaknya dua bersaudara itu akan bersaing untuk menentukan siapa yang paling banyak penggemar diantara mereka berdua. Suasana terus meriah hingga grup dance Hyunwootersebut menyelesaikan penampilannya.

 

oooOooo

 

Hari ini Hyunwoo dan Kihyun mendapat jatah libur. Lumayan untuk menjernihkan pikiran setelah nyaris bekerja setiap malam. Kini quality time dua bersaudara itu menjadi semakin banyak setelah memutuskan untuk bekerja ditempat yang sama.

Jika sedang tidak ada pekerjaan atau jadwal tampil seperti malam ini, Hyunwoo dan Kihyun akan menghabiskan waktu mengobrol berdua sambil ditemani teh dan kue kering buatan Hyunwoo. Semula tak ada yang aneh. Namun sepanjang obrolan berlangsung, Kihyun terus mengucak kedua matanya. Bahkan pemuda itu juga memukul-mukul pelan kepalanya.

“Kihyun, ada apa? Kenapa mengucak mata terus?”

“Pandanganku berbayang, hyung. Kepalaku jadi pusing.”

“Kau sakit?”

Hyunwoo meraba kening adiknya. Tidak panas. Namun gerak-gerik Kihyun benar-benar aneh, tidak seperti biasanya. Well, Sekarang Hyunwoo cemas karena adiknya itu tidak berhenti memukuli kepalanya sendiri.

“Hei, berhenti memukuli kepalamu. Nanti tambah sakit.”

“Pandanganku tidak bisa fokus, hyung. Semuanya yang aku lihat jadi berbayang dan aku seperti melihat ada bercak aneh.”

“Kita ke dokter ya?”

“Tidak usah, hyung. Aku baik-baik saja. Mungkin tidur sebentar akan membuat penglihatanku jadi lebih baik.”

Kihyun beranjak dari duduknya dan berjalan pelan ke kamar. Sesekali tangannya terus mengucak matanya. Bercak yang –entah, Kihyun sendiri tidak yakin apa warnanya- terlihat dimatanya menjadi semakin jelas. Kepalanya semakin terasa sakit dan sejurus kemudian semuanya berubah menjadi gelap.

 

oooOooo

 

Kihyun mungkin akan bangun dengan wajah yang manis jika saja sebuah tangan tidak menepuk pipinya dengan tiba-tiba. Maniknya menangkap wajah sang kakak yang meringis bersalah karena membuatnya terbangun dari dengan cara yang cukup menyakitkan.

“Maaf, tadi ada nyamuk di pipimu.” Ucap Hyunwoo. Kihyun yang tadinya sudah bersiap mengomeli kakaknya, seketika urung saat melihat lingkaran hitam yang tercetak di kedua mata Hyunwoo.

“Sudah berapa lama aku tidur?”

“Nyaris 8 jam, dan sekarang sudah pukul 2 lewat tiga puluh menit.”

Hyung belum tidur sejak tadi?”

Hyunwoo meringis, bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan nyenyak ketika adiknya mendadak tidak sadarkan diri. Kihyun tidak tahu betapa kakaknya sangat panik melihatnya tiba-tiba pingsan. Segera saja Hyunwoo memapah Kihyun ke kamar.

“Aku tidak mengantuk.” Jawab Hyunwoo singkat. Diusapnya rambut sang adik dengan sayang. “Kau lapar? Makan bubur ya?”

Sebenarnya Kihyun ingin menolak. Namun, melihat ketika Hyunwoo yang sudah merelakan waktu istirahatnya yang singkat untuk menjaganya, mau tak mau ia menganggukkan kepalanya.

Hyunwoo mengambil bubur yang sudah ia siapkan di nakas. Ditiupnya dengan pelan supaya tidak terlalu panas.

“Nah, kereta datang. Ayo buka terowongannya. Aaaang…”

“Aku bisa makan sendiri, hyung.”

“Ssstt, diam dan makan saja. Kau itu sedang sakit.”

Kihyun mengerucutkan bibirnya kesal. Namun ia tetap membuka mulutnya saat Hyunwoo menyodorkan suapan.

“Kenapa tidak bilang kalau kau sakit?”

“Aku tidak tahu. Aku baik-baik saja sebelumnya.”

“Lain kali kalau sakit, langsung bilang padaku.”

“Aku bukan bayi, hyung.

“Tapi kau adikku, Kihyun.”

Hyunwoo kembali menyodorkan bubur pada Kihyun. Namun adiknya memalingkan wajah. Pemuda itu langsung berbaring dan menarik selimut.

“Aku mengantuk. Sebaiknya kau juga tidur, hyung.

“Baiklah, selamat tidur, Kihyun.”

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

1 thought on “[MONSTAX FF FREELANCE] – Pages of Life (Chapter 5)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s