[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter. 6)

cover ff mx

Author                        : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

 

Hari libur. Siapa yang tidak senang dengan hal yang terdiri atas dua kata itu? Well, semua pasti senang dengan yang namanya libur, karena bisa beristirahat sejenak dari segala rutinitas yang telah membelenggu sepanjang hari.

Begitulah yang dirasakan oleh Hyunwoo, ia sangat senang karena mendapat libur selama 2 hari. Pemuda itu memanfaatkan hari liburnya dengan bermalasaan di depan televisi. Ia tidak ada jadwal tampil ataupun latihan dengan teman-temannya sesama dancer. Oh, ini adalah kedua kalinya dia libur, dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.

Berbeda dengan Kihyun, ia harus tampil di bar malam ini. Heol, dia iri dengan sang kakak yang bisa tinggal di apartemen mereka yang hangat. Sekarang hampir musim dingin, dan dia harus pergi keluar untuk tampil. Oh, betapa beruntungnya Hyunwoo dan betapa sialnya Kihyun.

Hyung, kau benar-benar libur?”

Hyunwoo, yang sedang menonton acara musik, menolehkan kepalanya dan menatap adik semata wayangnya yang sudah terlihat rapi dan wangi. Ia memamerkan senyumnya, entah untuk mengejek adiknya, atau apalah artinya. Kihyun tidak peduli.

“Iya, aku libur. Teman-temanku sedang ada urusan masing-masing.”

“Ukh, kau enak sekali, hyung. Aku harus tampil di depan gadis-gadis genit itu.”

“Kalau begitu kau minta libur. Mudah kan?”

“Kau mau kita puasa? Jangan bodoh, hyung.

“Ya sudah, pergi sana. Jangan banyak mengeluh.”

Kihyun berdecih sebal. Ia mengambil converse hitam kesayangannya dan segera memakainya. Perlu digaris bawahi, sepatu itu adalah satu-satunya yang ia miliki, yang kondisinya masih bagus, meski sekarang sudah sedikit sempit di kakinya. Sebenarnya Hyunwoo sudah menawarinya untuk membeli sepatu yang baru. Namun dengan halus ia menolak dengan alasan masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan sepatunya bisa menunggu nanti.

“Kau pergi sendiri?”

“Tidak. Changkyun juga bekerja malam ini. Aku akan pergi bersamanya.”

“Syukurlah. Setidaknya kau ada teman disana. Aku khawatir kalau kau sendirian.”

Yap, Hyunwoo mencemaskan adiknya. Bukan karena buta warna total yang dialami oleh Kihyun, tetapi karena sifat Kihyun yang sangat pemalu dan introvert membuatnya susah untuk bertemu dengan orang baru.

“Tenang saja, aku akan pulang sebelum tengah malam. Kata Changkyun dia hanya bermain sebentar.”

“Baguslah. Hati-hati dijalan. Jangan mencicipi minuman aneh-aneh di bar.”

“Iya, aku tahu. Oh ya, tolong gantikan sprei kasurku, hyung. Aku tadi tidak sempat menggantinya Bye hyung~”

Kihyun segera menghilang di balik pintu dalam hitungan detik. Bahkan sebelum Hyunwoo sempat membalas ataupun menolak permintaannya. Dengan sangat terpaksa, pemuda itu mengambil sprei yang bersih di lemari dan beranjak ke kamar Kihyun Ia segera mengganti sprei kasur itu, lalu menaruh sprei kotor di keranjang cuci.

Saat melepas sarung bantal, maniknya menangkap beberapa bercak yang tak biasa yang tercetak disana. Bercak berwarna merah itu terlihat masih baru karena warnanya masih begitu jelas.

Darah? Kihyun mimisan saat tidur?

 

oooOooo

 

Suasana bar tidak terlalu ramai seperti hari biasanya. Namun tetap saja banyak yang datang kesana. Tempat itu didominasi oleh gadis-gadis berpakaian mini. Tujuannya sudah pasti untukmelihat penampilan DJ tampan, I.M –atau kita mengenalnya sebagai Changkyun- dan penyanyi bersuara indah, Kihyun. Mereka berdua dan juga Hyunwoo memang sudah memiliki fans tersendiri. Jadi jangan heran kalau mereka terlihat seperti idol yang ada di TV.

Seperti yang sudah diperkirakan, teriakan langsung terdengar ketika Changkyun mulai naik panggung. Basa-basi, dia menyapa penggemarnya sebentar. Tak lupa dengan senyum maut andalannya yang membuat gadis-gadis itu rela bertekuk lutut dihadapannya.

Saat Changkyun mulai memainkan DJ Gears, pengunjung langsung turun melantai menikmati musik yang dimainkan oleh pemuda tampan itu. Kemudian Kihyun muncul dari sisi kanan panggung dan mulai bernyanyi. Kihyun dan Changkyun menutup penampilan mereka dengan apik. Mereka langsung meninggalkan bar tanpa mengobrol terlebih dahulu dengan karyawan disana seperti biasanya.

 

oooOooo

 

Kihyun baru akan melepaskan sepatunya saat Hyunwoo menyambutnya didepan pintu dengan ekspresi serius dan tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu. Kali ini ada apa lagi? Setidaknya itulah yang bermain dalam benak Kihyun melihat sikap tidak biasa dari kakak semata wayangnya.

“Ada apa, hyung?”

“Kau sakit?”

Kihyun mengernyitkan keningnya tak mengerti. Tentu saja ia tidak paham dengan arah pembicaraan Hyunwoo. Ia baru saja sampai di apartemen dan kakaknya itu bertanya hal aneh padanya.

“Jawab Kihyun, apa kau sakit?”

“Tidak, hyung. Aku baik-baik saja.”

Kihyun melangkahkan kakinya kearah dapur usai menaruh sepatunya di rak didekat pintu masuk. Hyunwoo yang tidak puas dengan jawaban adiknya, segera mengikuti pemuda itu ke dapur.

“Kau tidak bohong, kan?”

Ck, Kihyun kesal dengan kakaknya yang mulai cerewet seperti ibu-ibu yang terlambat datang ke arisan. Dengan gusar, ia berbalik dan menatap manik hitam milik Hyunwoo dengan tegas.

“Apa aku berani berbohong padamu, hyung?”

“Lalu kenapa ada noda darah di bantalmu?”

Kihyun terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sedang dibicarakan kakaknya.

“Oh itu, tadi aku mimisan. Tapi aku baik-baik saja.”

Hyunwoo mengerjap tak mengerti, bagaimana adiknya itu malah mengatakan dia baik-baik saja padahal sebelumnya mimisan cukup parah.

“Hei, jawab yang benar.”

“Sungguh, hyung. Aku baik-baik saja. Aku memang mimisan saat tidur tadi, tapi aku tidak merasa sakit.”

“Bagaimana bisa? Atau jangan-jangan kau bermimpi kotor ya?”

Pletak!

Jitakan keras sukses mendarat di kening mulus Hyunwoo, dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Kihyun yang memandangnya dengan tatapan sadis. Yang lebih tua meringis kesakitan sambil bersumpah serapah dalam hati.

“Enak saja kalau bicara! Aku tidak mesum sepertimu, hyung.” Sungut Kihyun. Ia mengambil sebotol air dari kulkas dan meneguknya perlahan. “Aku sendiri tidak tahu bagaiman, tapi saat aku bangun, darah sudah mengalir di hidungku.”

“Kalau begitu kita ke dokter saja, ya?”

“Tidak perlu, hyung. Mungkin karena sebelumnya aku terlalu lelah, jadi tanpa sadar aku mimisan.”

Masuk akal! Kemarin mereka berdua harus tampil hingga subuh. Bahkan ketika sampai apartemen, keduanya langsung tidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Mungkin karena itu Kihyun mimisan ketika tidur.

“Hh, terserahmu sajalah.”

Hyunwoo berjalan ke ruang tengah dan kembali menyalakan TV. Kihyun mengekori sang kakak dan duduk disampingnya. Kedua kakinya ia lipat keatas untuk mengurangi hawa dingin yang mulai menguar.

Hyung, apa kau masih ingat dengan pil fiksi yang kita lihat di internet beberapa waktu yang lalu?”

“Pil fiksi? Oh, yang warna merah dan biru itu. Iya, aku ingat. Kenapa?”

“Umh, kalau pil itu benar-benar ada di dunia ini, apa yang akan kau pilih?”

“Tentu saja yang merah. Kita akan punya banyak uang dengan pil itu.”

“Dasar mata duitan!”

“Hei, kita harus realistis, Kihyun!”

Perdebatan antara kakak-beradik itu masih saja berlanjut meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.37 KST. Memang mereka selalu meributkan hal-hal yang tidak penting seperti pil fiksi yang sedang mereka bicarakan.

“Kalau kau mau pilih yang mana?”

“Aku pilih yang biru.”

“Kenapa?”

“Rahasia.”

“Eyyy, apa-apaan itu? cepat katakan apa yang kau inginkan?”

“Pokoknya rahasia, hyung.”

“Kau ini!”

Plak!

“Akh!”

Hyunwoo terkejut melihat Kihyun meringis kesakitan sambil memegangi kaki kirinya. Padahal dia hanya memukul kaki adiknya itu pelan. Namun Kihyun terlihat begitu kesakitan. Dengan cepat Hyunwoo menggulung celana panjang yang dikenakan sang adik hingga sebatas tulang kering. Sebuah lebam yang cukup besar terlihat disana.

“Astaga, kau jatuh? Kenapa bisa lebam begini?”

Kihyun tidak menyahut. Namun dari ekspresinya terlihat dia sangat kesakitan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan keringat dingin keluar dari pelipisnya.

“Tunggu disini. Aku ambilkan salep dulu.”

“Ti..tidak usah. Aku baik-baik saja.”

Kerutan di kening Kihyun menghilang. Ia kembali menegakkan posisi duduknya dan nafasnya mulai teratur. Hyunwoo menatap wajah sang adik dengan cemas.

“Hei, kau oke?”

“Hmm…”

“Dari mana kau dapat lebam ini? Kau jatuh dipanggung?”

“Tidak. Aku tadi tampil seperti biasanya. Tanyakan saja pada Changkyun kalau hyung tidak percaya. Dia terus bersamaku sejak tadi.”

“Lalu kenapa bisa lebam begini?”

“Entah. Aku tidak ingat aku pernah terjatuh atau terantuk sesuatu.”

Keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ini aneh, kalau Kihyun memang tidak pernah terjatuh atau terantuk sesuatu, bagaimana bisa ada lebam berukuran besar di kaki kirinya?

“Ya sudah. Kau istirahat sana. Besok kau tidak usah tampil. Kau harus istirahat.”

“Baik, hyung.”

 

oooOooo

 

Beberapa hari ini Kihyun demam. Tentu saja Hyunwoo jadi khawatir setengah mati. Bagaimana tidak, sebelumnya pemuda itu baik-baik saja. Bahkan 2 hari sebelumnya dia masih tampil bersama Changkyun dan Hyunwoo di bar. Namun saat pulang dari tempat itu, suhu tubuhnya mendadak naik.

“Kita ke dokter, ya.”

Ini sudah kesekian kalinya Hyunwoo membujuk Kihyun untuk diperiksa oleh dokter. Jawaban Kihyun? Sudah pasti menolak, hingga membuat kakaknya gemas setengah mati dan ingin menyeretnya ke rumah sakit saat itu juga.

“Aku baik, hyung.

“Baik apanya? Suhu tubuhmu 39°, Kihyun! Jangan keras kepala!”

Kekesalan Hyunwoo sudah di ubun-ubun. Adiknya ini kelewat keras kepala dan susah diatur. Ekhem, sepertinya pemuda itu tidak sadar kalau sifat adiknya itu sama seperti dirinya yang juga keras kepala.

“Aku tidak apa-apa, hyung. Mungkin karena sebentar lagi akan musim dingin dan tubuhku belum siap dengan pergantian musim.”

“Tsk! Jangan banyak alasan, Kihyun. Pokoknya kita kerumah sakit sekarang.”

“Tidak, hyung. Aku istirahat saja disini.”

“Ck, terserahmu saja!”

Hyunwoo keluar dari kamar Kihyun. Sementara sang adik hanya menghela nafasnya. Kihyun tahu kalau kakaknya itu mengkhawatirkannya. Tapi dia tidak boleh manja. Kebutuhan mereka masih banyak. Kalau uang mereka digunakan untuk pergi ke dokter, maka tidak akan ada lagi uang untuk makan.

Perlahan, ia bangkit dari kasurnya. Kepalanya terasa berat. Namun ia harus minta maaf pada Hyunwoo. Bibir pucatnya tersenyum saat melihat kakaknya sedang menonton TV di ruang tengah.

Hyung…”

Suara parau Kihyun sukses mengalihkan perhatian Hyunwoo dari benda elektronik yang memiliki layar berukuran 24 inchi tersebut. Hyunwoo berdecih kesal.

“Siapa yang menyuruhmu bangun?”

“Maaf, hyung. Aku sudah membuatmu khawatir.”

“Kau memang selalu membuatku khawatir.”

“Aku tahu, Maafkan aku.”

“Kembalilah ke kamar. Nanti aku bangunkan kau saat makan siang.”

Kihyun mengangguk patuh. Ia segera kembali ke kamarnya setelah mengucapkan kata “maaf” sekali lagi pada kakaknya. Hyunwoo menghela nafas, ia butuh seseorang untuk membujuk Kihyun. Sejenak ia berpikir, lalu wajahnya berbinar cerah. Ya, dia tahu siapa orangnya.

 

oooOooo

 

“Oh, Hyunwoo hyung. Tumben sekali. Ada apa?”

“Apa kau sedang sibuk, Changkyun?”

“Tidak. Masuklah, hyung.”

Hyunwoo menggumamkan terima kasih. Mengapa ia ada disini? Jawabannya adalah karena hanya Changkyun yang bisa membujuk adiknya yang keras kepala.

“Jadi, ada apa?”

“Kau tahu, anak itu benar-benar keras kepala. Aku sudah membujuknya dengan berbagai cara supaya dia mau di periksa oleh dokter. Tapi dia selalu saja menolak. Dia selalu saja mempunyai alasan untuk membantah ucapanku. Selalu saja ada kalimat penolakan yang ia ucapkan supaya tidak ke rumah sakit atau diperiksa oleh dokter. Hh, aku sudak tidak tahu lagi harus membujuknya dengan cara apalagi. Anak itu selalu membuatku migrain dengan sifat kepala batunya itu.”

Changkyun hanya bengong mendengar penuturan Hyunwoo. Sepertinya pemuda itu lebih cocok menjadi rapper daripada dancer. Lihat saja bagaimana cara Hyunwoo bercerita dan mengeluarkan unek-uneknya dalam satu tarikan nafas. Benar-benar tipikal seorang rapper.

“Kihyunhyung masih tidak mau ke dokter?”

Hyunwoo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kepalanya ia sandarkan pada sofa dengan frustasi. Changkyun menepuk-nepuk bahu pemuda itu dengan lembut, mencoba mengerti perasaan Hyunwoo.

“Kau juga sama keras kepalanya dengan Kihyunhyung, hyung. Jadi jangan berkata seolah kalau Kihyunhyung sulit diatur, karena kau sendiri juga begitu. Nantiaku akan mencoba untuk membujuknya ke rumah sakit, atau setidaknya dokter datang ke apartemen kalian. bagaimana?”

“Oh, Im Changkyun. Kau benar-benar penyelamatku. Aku mencintaimu.”

“Tsk! Hentikan, hyung. Kau menjijikkan!”

My lovely Changkyunie~”

“Menjauh dariku, hyung! Awas, aku adukan kau pada Kihyunhyung!!”

Gelak tawa nan rusuh kemudian terdengar di apartemen itu hingga matahari tepat diatas kepala.

 

oooOooo

 

Kihyun sedang membaca novel saat pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok yang begitu familiar di matanya. Segera saja ia menutup bukunya dan meletakkannya di nakas yang ada di samping ranjangnya.

“Kau datang, Changkyun.”

“Yap! Maaf baru bisa menjenguk sekarang. Belakangan benar-benar sibuk di bar.”

“Tak apa. Aku sudah membaik.”

“Kau tahu hyung, popularitasmu di bar benar-benar tidak ada duanya. Fansmu terus menerorku dengan bertanya kemana kau. Ah, aku hampir gila dibuatnya.”

Kihyun terbahak mendengarnya. Pemuda yang ada dihadapannya ini terlihat benar-benar kesal. Bibirnya mengerucut lucu dan matanya berkilat. Kalau tidak sedang sakit, Kihyunpasti sudah mencubit pipi Changkyun dengan gemas.

“Maaf aku merepotkanmu dan membuatmu hampir gila. Katakan pada mereka kalau aku akan segera sembuh.”

“Baiklah. Awas saja kalau kau tidak segera sembuh. Aku akan menghajarmu dengan DJ Gears milikku.”

Changkyun teringat dengan misinya. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat.

Hyung, sebaiknya kau diperiksa dokter saja. Kasihan Hyunwoo hyung sampai frustasi membujukmu.”

“Aku baik, Changkyun. Aku hanya butuh istirahat.”

“Tapi hyung— Eh, kau berjerawat, hyung?”

Kihyun menggelengkan kepalanya. Hei, meskipun dia laki-laki, dia selalu menjaga kebersihan kulitnya. Dia selalu mandi 3 kali sehari dan rajin membersihkan wajah sepulang bepergian. Jadi mana mungkin ada jerawat yang mampir ke wajahnya.

“Wajahmu ada bintik merahnya, hyung.” Changkyun menyodorkan ponselnya agar Kihyun menggunakannya sebagai cermin.

“Eh, benar. Ada bintik-bintik di wajahku. Kenapa ini? Hei, di tangan dan kakiku juga ada. Astaga, ada apa ini?”

Sementara Kihyun heboh dengan jerawatnya, otak Changkyun berputar dengan cepat. Ia sedang berpikir tentang apa yang terjadi pada Kihyun. Sebelumnya, Hyunwoo sudah menceritakan semua keanehan yang dialami Kihyun belakangan ini.

Pandangan berbayang, mimisan mendadak, lebam aneh, demam tinggi, bintik-bintik merah— astaga! Jangan-jangan…

“Sebentar, hyung.”

Changkyun merampas ponselnya yang sedang dipegang oleh Kihyun dan mengetik sesuatu disana. Bibirnya ia gigit dengan gelisah.

“Ada apa?”

Tak ada sahutan apapun dari Changkyun. Ia masih fokus pada layar ponselnya yang kini menampilkan sebuah laman web. Beberapa link ia buka sekaligus, dan semua mengarah ada hal yang sama. Kesimpulan yang baru saja ia sadari.

“Anak-anak, ayo makan.”

Hyunwoo yang baru muncul di depan pintu kamar Kihyun, terkejut karena Changkyun menghampirinya dengan buru-buru.

“Kita bawa Kihyunhyung ke rumah sakit sekarang. Kita seret dia kalau dia tidak mau.”

“Eh, ada apa, Changkyun?”

“Jangan banyak bertanya, Hyunwoo hyung. Sudah tidak ada waktu lagi!”

Jawaban tegas Changkyun membuat Hyunwoo bergerak. Kihyun yang semula menolak untuk ke rumah sakit, kali ini langsung menurut. Changkyun merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari sesuatu.

Dasar Im Changkyun bodoh! Otak pintarmu tidak berguna kalau begini.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s