[Vignette] Prom Night

Processed with VSCO with a1 preset

Prom Night

story by ayshry

[MX’s] Lee Minhyuk – [OC’s] Na Faeya

AU!, Sad, Romance/Vignette/G

***

Baru dua pekan sejak Minhyuk kembali dari perantauannya. Baru dua pekan pula ia kembali berkumpul bersama adik-adiknya. Sejatinya, Minhyuk sudah memutuskan untuk pindah ke luar kota lantaran pekerjaan, tapi karena beberapa hal; pemuda itu terpaksa kembali untuk menuntaskan apa yang masih menjadi hambatan.

Di sisi lain, Faeya telah mendengar kabar kepulangan Minhyuk dari karibnya yang juga menyandang status sebagai adik pemuda Lee itu. Ia juga tahu jika si pemuda takkan lama berada di Seoul dan hanya menetap sampai akhir bulan. Sesungguhnya, Faeya merindukan sosok pemuda itu. Pemuda yang pernah singgah dihidupnya meski hanya sesaat.

“Kau tak ingin menemui kak Minhyuk?”

Faeya memiringkan kepalanya ke samping. Dipandangnya gadis Lee itu dengan seksama lantas melempar senyuman tipis.

“Kak Minhyuk takkan mau menemuiku lagi.”

“Kata siapa?” Minyeol yang awalnya hanya terfokus pada notebook di hadapannya kini membalas tatapan Faeya lekat-lekat. “Kau merindukannya, aku tahu itu.”

“Tapi tidak dengannya, Yeol.”

Minyeol mendesah. Memang benar yang dikatakan karibnya itu, mungkin sang kakak tak merindukannya. Tapi siapa yang tahu dengan isi hati seseorang kecuali orang itu sendiri, huh?

“Lagi pula kak Minhyuk sudah memiliki kekasih.”

“Faey … maafkan aku.”

“Oh, tidak, Yeol. Kau tak perlu meminta maaf, haha. Sudah dua tahun berlalu, dan kurasa aku sudah baik-baik saja sekarang.”

Menarik napas dalam-dalam, Minyeol letakkan notebook-nya ke samping lantas meraih tangan Faeya demi memberikan semangat.

“Aku tahu kau tak baik-baik saja. Aku juga tak mengerti kenapa kak Minhyuk harus mengakhiri hubungan yang—“

“Sudahlah, semuanya cerita lama, Yeol.”

“Kau benar-benar tak ingin bertemu dengan kak Minhyuk?”

Gelengan menjadi jawaban, namun tatap sayu Faeya membuat gadis Lee itu memutar otaknya cepat-cepat; mencari cara agar keduanya bisa bertemu lagi setidaknya untuk sekedar melepas kerinduan.

“Oh, prom night akhir pekan!”

“Ya?”

“Kau sudah tahu akan mengajak siapa?”

Faeya menggeleng. Rautnya kebingungan.

“Oke, kalau begitu aku akan mencari cara agar kau bisa pergi dengan kak Minhyuk.”

“APA?!”

“Tenang saja. Aku akan mengatur semuanya. Kau tinggal menunggu dan—“

“Tapi, Yeol, bagaimana dengan kekasihnya? Bagaimana jika ia tahu kalau aku—“

“Sudah, jangan pikirkan yang lain! Pokoknya kau akan bertemu—ah, tidak, kak Minhyuk akan menjadi pasangan prom night-mu akhir pekan ini!”

***

Balutan dress berwarna tosca membuat penampilan Faeya sungguh mengesankan. Menambahkan pita berwarna senada juga high heels putih tulang menambah kesan mewah pada gadis manis itu. Di sisi luar gedung, ia terlihat menunggu dengan ragu. Pandangannya tak berhenti mengitari sekitar; mencari eksistensi seseorang yang dijanjikan akan menemaninya di acara prom malam ini.

Apa Minyeol benar-benar akan membuat Minhyuk datang ke sini?

Terlalu banyak kekhawatiran yang mengitari kepala gadis itu sampai sebuah tepukan pelan di pundak membuatnya berbalik lekas. Matanya membola tatkata bertubrukan dengan netra kecoklatan milik pemuda yang tengah tersenyum manis ke arahnya.

Untuk beberapa saat, waktu seakan terhenti. Bumi melupakan rotasinya dan udara di sekitar seakan menipis; membuat gadis Na itu sesak sesaat sampai sebuah suara yang amat ia rindukan menyambangi rungunya.

“Faey? Astaga, sudah lama sekali sejak pertemuan kita terkahir kali!”

Pemuda itu masih sama. Lee Minhyuk masih seperti seseorang yang amat berharga baginya. Caranya menatap, caranya berbicara, caranya menyebut namanya, bahkan cara pemuda itu tersenyum, semuanya masih sama. Dan Faeya seakan tak mampu mengalihkan padangannya dari hal yang amat ia rindukan itu.

“Hei, kau melamun?”

Tepukan pelan kembali menyambangi pundaknya, sempat membuatnya terlonjak sebelum akhirnya kembali ke dunia nyata.

“O-oh, maaf.”

Tawa dari bibir Minhyuk menguar keras, dan lagi-lagi Faeya seakan disuguhi kenangan indah dua tahun silam yang enggan ia lepaskan lagi. Jika saja ia tak ingat jika pemuda di hadapannya itu sudah menjadi milik orang lain.

“Jangan canggung begitu, Faey. Masih ada lagi yang kau tunggu?”

“Ya?”

“Astaga, sudah kubilang jangan bertingkah seolah-olah kita ini baru kenal beberapa saat saja! Ayo kita masuk.”

Minhyuk meraih tangan kanan Faeya yang terjulur tanpa tenaga. Sang gadis yang masih belum mampu mengatur pikiran, pun perasaan itu hanya bisa pasrah juga mengikuti ke mana saja pemuda itu membawanya pergi. Baginya, malam ini harus bisa dilewatinya dengan sempurna. Setidaknya, ia tak ingin kesedihan menyambanginya terlalu lama. Setidaknya keberadaan Minhyuk di sisinya kini harus bisa ia manfaatkan sebaik-baiknya. Karena ia tak tahu kapan kebersamaan itu akan terjalin kembali.

Hei, Minhyuk sudah ada di hadapanmu dan kau masih ingin memasang tampang menyedihkan itu? Ayolah, Na Faeya!

Acara malam itu berjalan dengan amat sempurna. Entah bagaimana Faeya seakan mendapatkan kembali kebahagiaannya yang sempat enyah untuk waktu yang cukup lama. Minhyuk memperlakukannya seperti biasa, tidak ada kecanggungan apalagi jarak yang terbentang; semuanya sama. Seperti saat-saat mereka masih menjadi pasangan yang paling bahagia.

Tawa menghampiri keduanya dan Faeya yang amat merindukan segala bentuk kebaikan dari seorang Lee Minhyuk entah sudah berapa banyak mengucapkan rasa syukurnya. Malam ini sangat indah, pikirnya. Namun ketika malam semakin larut, langit semakin kelam, ia kembali disadarkan dengan kenyataan; bahwa keduanya tak mungkin bersatu karena terlalu banyak perbedaan yang tak mampu mereka padukan.

“Faey ….”

Gadis Na itu menoleh. Senyumnya tipis, namun berhasil membuat kadar kecantikannya bertambah. Di tangannya segelas soda tergenggam. Jeda terjadi sebelum Minhyuk melanjutkan kalimatnya dan hal itu dimanfaatkan Faeya untuk menenggak habis minumannya.

“Aku senang melihatmu tersenyum seperti itu.” Minhyuk kembali melempar senyum. Di raihnya gelas kosong di tangan Faeya lantas meletakkannya ke atas meja. “Ingin ikut denganku ke suatu tempat?” Tanpa menunggu jawaban, pemuda itu lekas meraih pergelangan tangan gadis di hadapannya, menariknya menuju halaman belakang gedung yang kebetulan menjadi tempat tersepi yang bisa ia temukan.

Minhyuk membantu sang gadis duduk di atas hamparan rerumputan. Kemejanya ia jadikan sebagai alas; tinggallah kaos lengan pendek yang membalut tubuhnya kini.

Prom night tidak lengkap tanpa diakhiri dengan konversasi romantis, kata Minyeol, sih. Makanya aku membawamu ke sini dan … eum, adakah hal yang ingin kau katakan, Faey? Sedari tadi kau hanya diam dan melempar senyuman. Jujur, aku sedikit bingung, tapi aku mencoba untuk mengerti, terlebih—“

“Aku senang. Sangat senang. Saking senangnya, aku sampai tak tahu bagaimana mengekspresikannya, asal kautahu.” Faeya kembali bungkam. Otaknya masih mencari rangkaian kata yang pantas ia utarakan tanpa menyebabkan kesalahpahaman.

“Senang karena bertemu denganku?”

Gadis Na itu mengangguk ragu. “Juga karena kau masih mau menemaniku bahkan caramu memperlakukanku masih sama seperti dulu. Aku ….”

“Maafkan aku, Faey.”

“Ya?”

Minhyuk tertawa singkat. “Terlalu banyak hal yang harus kujabarkan tentang maaf yang baru saja terlontar. Jadi, anggap saja a—“

“Tidak. Kau tak perlu meminta maaf, Kak. Semuanya hanya cerita lama, aku sudah baik-baik saja kini.”

“Bohong.”

Minhyuk mendesah pelan sebelum kemudian bibirnya kembali terbuka.

“Minyeol telah menceritakan segalanya, Faey. Aku tahu ini persoalan lama, tapi kautahu benar tentang segalanya. Tentang aku yang benar-benar harus pergi, tentang kita yang tak bisa bersatu lagi.”

Senyuman Faeya perlahan memudar. Meski pada awalnya ia telah menetapkan hati untuk bersenang-senang, namun kiranya Minhyuk tak berkehendak demikian. Hingga pada akhirnya segala sesuatu yang tertahan di tenggorokan bisa ia lepaskan.

“Aku masih tak mengerti. Tentang kita. Aku tak tahu harus memulainya dari mana, tapi yang pasti aku sedikit—tidak, aku sangat kecewa.”

“Semuanya sudah jelas, Faey, dan kita—“

“Juga soal kau yang telah mendapatkan pengganti. Bukan maksudku untuk mengatur hidupmu, Kak, aku hanya tak bisa menemukan jawabannya. Kenapa? Kenapa kau harus melepaskanku saat itu dan kenapa pula kau harus mengisi posisiku secepat itu?”

“Tidak ada yang bisa kukatakan, Faey, tidak mengenai hubungan kita dulu juga hubunganku sekarang. Maaf.”

Faey dapat melihat raut wajah Minhyuk berubah sendu. Sang gadis merasa amat bersalah, juga merutuki kebodohan karena tak mampu menahan diri. Seharusnya ia tak terpancing suasana, seharusnya ia tetap pada pendirian untuk menikmati malam dengan canda tawa.

“Oh, lupakan saja. Aku terlalu terbawa suasana sepertinya.” Ia mengalah; tak ingin malam yang indah berakhir dengan membuka kisah lama apalagi sampai dibumbui dengan tangisan. Ia ingin menjadi sosok yang kuat. Bukan seorang Faeya yang rapuh hanya karena percintaan.

“Faey?”

“Jangan memandangku seperti itu, haha. Sudahlah, Kak, maaf aku terlalu emosi tadi. Jadi … tak bisakah kau melupakan perkataan konyolku dan melanjutkan malam ini dengan cerita bahagia saja? Jika kau bersedia, maka akan kuanggap ini sebagai salam perpisahan yang manis. Benar-benar manis. Dan aku … aku akan memulai untuk melupakan keresahanku. Membuka lembaran baru dan bahagia tanpamu. Kurasa, aku akan baik-baik saja.”

Minhyuk tak ingin menanggapi. Sejujurnya ia tak ingin melihat Faeya seperti ini, namun pemuda itu tak memiliki pilihan lain. Memamerkan senyum hangat adalah apa yang bisa dilakukannya kini. Setidaknya sebelum malam berakhir dan esok kembali seperti hari-hari sebelumnya, hari di mana keduanya seakan tak saling kenal, hari di mana Minhyuk hanya akan menganggap Faeya seorang teman. Tidak lebih, dan takkan pernah lebih. Meski harus ada yang tersakiti, namun bagi Minhyuk segalanya sudah jelas kini. Ia memiliki kehidupan sendiri dan selayaknya Faeya pun demikian.

Di bawah langit malam yang bertabur ribuan bintang itu keduanya saling diam. Setelah mengutarakan perasaan juga pemikiran masing-masing, mereka telah merasa tenang. Konversasi romantis yang Faeya bayangkan pun telah lenyap, berganti dengan janji manis yang harus ia tepati demi kebahagiaan.

Kelak, ketika aku membuka mata esok hari, sosok di sampingku ini akan kukenang selalu. Bukan sebagai seseorang yang pernah menyakitiku, tetapi sebagai seseorang yang pernah memberitahuku akan arti dari kehidupan, juga bagaimana mengatasi segala sesuatu permasalahan yang berkecamuk di dalamnya.

-Fin.

  1. Tolong abaikan ketidakberkesinambungan antara poster dan isi cerita.
  2. Tolong maafkan kegajean yang terkandung disetiap kalimat hingga akhir cerita.
  3. Tolong maklumi ke-ooc-an yang terjadi pada karakter di dalam cerita.
  4. Big thanks to Gecee atas ide ketjehnya yang malah berakhir awut-awutan begini hue XD
  5. Mind to review?

-mbaay.

Advertisements

Author: megaton-bomb

Call Me Ay | A-Blood Type | Forever Maknae | Purple Addict.

6 thoughts on “[Vignette] Prom Night”

  1. TAU GAK SIIII?
    KAKYAY
    SERIUSAN AKU UDA SIAP SIAP SENYUM2 BAPER KOK TAPI…..

    halaaaaa kok sedih SUMPAAAHH😭😭 kenapa si mereka?duh kok aku lupa cerita terakhir nya mereka gimana?😞
    Kok aku jadi pen nyemangati faeya?
    “Nggak apa faey, selama janur kuning belum melengkung, semua halal!!! Tancap gasss ajaaaa”

    MANGATSS NULIS KAAAKK❤❤❤❤❤❤

    Liked by 1 person

    1. GATAU KAK GATAUUUU HAHA

      Iyanih awalnya emang mau bikin yg hv fun gitu sih ya tapi keinget kisah mereka yg rada angst yowislah sekalian aja tak giniin

      Gabisa mba gabisaaaa minhyuk wis punya dayoung entar faeya ketemuin sama cowo laen aja biar mupob kyaaaa

      Maaciw sudah mampir kakmint😘😘

      Like

  2. Terus ya kaay… Terus ya…
    Daku yg ngasih ide, daku yang baper… Yawlah…
    ITU KATA KATA DARI MINHYUK DEMI APA BKIN BAPER BANGET UHUKS SERASA DAKU YANG JADI FAEYA…

    Nice fic kaaakk 💕💕

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s