[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 7)

cover ff mx

Author                        : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

 

“Acute Myeloid Leukemia”

Ruangan itu tampak sunyi. Hanya ada dua orang yang duduk berhadapan dengan salah satu diantaranya tampak lebih muda. Tak banyak cahaya yang masuk di ruangan itu. Hanya seberkas sinar matahari yang masuk melalui celah-celah tirai fiberglass yang dipasang disana. Kitab-kitab kedokteran berbagai variasi ketebalan dengan huruf super kecil tertata rapi di sudut kanan ruangan itu.

“Atau biasa kita kenal dengan kanker darah.Ada pertambahan leukosit secara tak normal dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang belakang. Sel-sel abnormal ini dapat ditemukan di darah perifer atau darah tepi, mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.”

Pria berjas putih itu membetulkan letak kacamata frameless-nya, lalu mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat yang ia simpan di laci mejanya. Ia menyodorkan amplop itu pada orang yang lebih muda dihadapannya.Hyunwoo menerima amplop itu dengan tangan bergetar. Nafasnya tercekat di tenggorokannya.

“Dalam kasus Kihyun-ssi, ia mengalami anemia. Ini bisa dilihat dari hasil pemeriksaan yang menunjukkan kalau sel-sel abnormal itu keluar dari sumsum tulang belakang dan menyebar, ini menyebabkan gangguan pada haemoglobin-nya.”

Hyunwoo menganggukkan kepalanya. Ia mencoba mencerna ucapan dokter senior itu, meski otaknya berusaha mati-matian untuk menepis semuanya. Adiknya baik-baik saja, Kihyun baik-baik saja. Lidahnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menyela apalagi membantah pria yang ada dihadapannya.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperlambat penyebaran sel-sel abnormal tersebut. Oleh karena itu, saya menyarankan agar adik anda dirawat di rumah sakit ini. Dengan demikian kami bisa memantau perkembangan kondisinya.”

Hyunwoo memejamkan matanya sesaat. Dokter itu lebih memilih menggunakan kata “memperlambat” daripada “memusnahkan” atau “menghilangkan”. Ya, dia tidak bodoh. Hyunwoo sangat sadar kalau sebagian besardari penderita leukemia itu tidak bisa bertahan, —lebih tepatnya tidak bisa dipertahankan.

“Ada yang ingin anda tanyakan lagi, Hyunwoo-ssi?”

Hyunwoo menggeleng lemah. Ia segera berdiri dan membungkuk 60° pada pria yang ada dihadapannya dan keluar dari ruangan itu. Amplop yang ada ditangannya masih sangat halus, belum ia buka sama sekali. Penjelasan dokter tadi sudah lebih dari cukup untuk memukulnya secara telak.

Changkyun –yang sengaja menemani sejak tadi- langsung berdiri ketika melihat tetangganya itu keluar dari ruang dokter. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan panik atau cemas. Ia sudah tahu apa yang terjadi.

Hyung…”

Hyunwoo mendongakkan kepalanya sedikit. Senyum tipis yang tercetak dibibirnya terlihat begitu getir. Changkyun membimbing pemuda itu untuk duduk disalah satu bangku ruang tunggu yang berjejer di koridor.

“Kau tahu apa kata dokter?” tanya Hyunwoo

Changkyun memandang Hyunwoo dengan iba. Tangannya menepuk bahu pemuda itu pelan, mencoba untuk menguatkan. Meski kenyataannya itu hanya sebuah perbuatan yang sia-sia.

“Iya. Aku sudah tahu. Leukemia kan?”

Hyunwoo tak menyahut. Namun tangannya masih memegang amplop berwarna coklat dengan logo rumah sakit itu dengan erat. Entah ia harus berekspresi bagaimana. Semuanya tampak percuma.

“Kenapa harus Kihyun? Apakah tidak cukup dengan penderitaan yang selama ini ia alami? Kenapa harus dia, Changkyun?”

Ini bukan pertanyaan. Ini adalah ratapan hati seorang kakak yang ikut menderita karena penderitaan yang dialami adiknya, dan Changkyun tahu itu. Makanya ia tak bisa berbuat banyak selain mengusap punggung pemuda yang lebih tua 4 tahun darinya itu dengan penuh kelembutan.

“Menurutmu apa Kihyun harus tahu?”

“Harus, hyung.”

“Bagaimana kalau dia tidak menerimanya?”

Keduanya terdiam. Ya, inilah yang ditakutkan oleh Hyunwoo sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter. Ia takut adiknya tidak bisa menerima kenyataan yang ada di depannya.

“Kihyunhyung pasti mengerti. Dia cerdas, hyung. Kalaupun kau tidak memberi tahunya, dia akan mencari tahu kondisinya sendiri.”

Changkyun benar. Kihyun adalah anak yang cerdas. Ia pasti akan berusaha mencari tahu sendiri kondisinya walaupun Hyunwoo tidak memberi tahu sedikitpun.

“Dia akan baik-baik saja kan, Changkyun?”

“Kihyunhyung adalah orang yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja.”

Ya, Kihyun pasti baik-baik saja.

 

oooOooo

 

Matahari mulai menggelincir ke ufuk barat. Kilau langit oranye saat senja terlihat indah menjelang musim dingin seperti saat ini. Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya Changkyun pamit pulang. Sebenarnya ia bersikeras untuk menginap. Namun Hyunwoo tahu kalau pemuda itu harus istirahat sebelum tampil di bar nanti malam.

Setelah melambaikan tangannya pada Changkyun yang kini telah menghilang di ujung koridor, Hyunwoo melangkahkan kakinya ke ruang rawat dengan nomor 208. Kedua maniknya menangkap sosok yang terbaring di tempat tidur menolehkan kepala –dengan seringai lemah menghiasi wajah itu.

Kihyun menyadari kehadirannya –hal ini membuat Hyunwoo harus menghela napas sekali lagi. Berusaha untuk bersikap biasa di depan adiknya. Ia memasang senyum dan melangkah masuk ke dalam kamar. Pintu di belakangnya tertutup perlahan.

Hyung, aku bosan.”

Itulah kalimat pertama yang terdengar ketika Hyunwoo menggeser kursi untuk duduk di sebelah tempat tidur Kihyun. Si sulung meraih tangan adiknya yang tergolek lemah di tempat tidur. Hangat. Suhu tubuh Kihyun belum turun rupanya.

“Bagaimana keadaanmu, hm?”

“Baik. Tapi bosan –kan tadi aku sudah bilang. Tak ada musik disini.”

Hyunwoo kembali tersenyum. Tangannya mengusap rambut sang adik dengan lembut. Sifat manja Kihyun saat sakit langsung keluar begitu saja, dan ia tak sungkan untuk menunjukkannya pada kakak tersayangnya.

“Besok aku akan membawakanmu mp3 player lengkap dengan earphone­-nya.”

Lalu keduanya terdiam. Hanya suara nafas Kihyun yang terdengar sedikit lebih keras dan kasar dari biasanya. Hyunwoo tahu, adiknya itu tak pernah betah di rumah sakit barang sejenak. Makanya ia harus memutar otak untuk membuat adiknya betah selama menjalani pengobatan disana.

Hyung…”

“Ya?”

“Boleh kutebak?”

“Apa?”

“Penyakitku.”

Jantung Hyunwoo mendadak berdetak liar seperti habis lari marathon. Ia bahkan bisa merasakan debarannya hingga punggung saking kerasnya. Namun ia harus tetap bersikap tenang dihadapan adiknya. Lamat-lamat, Hyunwoo menganggukkan kepalanya.

“Leukemia?”

Bingo! Entah mungkin dewi fortuna memang sedang berpihak pada Kihyun sehingga ia bisa menebak dalam sekali percobaan. Hati Hyunwoo mencelos melihat senyum lemah tercetak di bibir pucat adiknya.

“Kau… baik-baik saja?”

“Tentu saja tidak. Mana ada orang yang sebentar lagi akan mati bisa bersikap baik-baik saja? Tapi, kalau aku mau bersedih juga tak ada gunanya. Semuanya akan tetap terjadi.”

Keduanya terdiam cukup lama. Tangan Hyunwoo masih setia mengusap rambut sang adik dengan sayang. Meski terlihat baik-baik saja, namun Hyunwoo tahu kalau Kihyun sangat sedih. Hanya saja dia tidak ingin menampakkannya didepannya.

“Aku hebat kan, hyung?”

“Eh?”

“Aku sudah buta warna sejak kecil, aku tidak tahu seperti apa warna-warni dunia yang sering dibicarakan banyak orang. Sekarang aku sakit, leukemia pula. Bukankah aku hebat?”

DEG!

Entah Kihyun sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri, atau memang karena dia sedang sakit dan ucapannya melantur kemana-mana, yang jelas kalimat tadi benar-benar seperti menampar pipi Hyunwoo dengan keras.

“Tuhan pasti sangat menyayangimu. Makanya kau selalu diuji dengan berbagai macam cara. Jangan menyerah, ya.”

Hyunwoo mulai bersenandung kecil, meninabobokan Kihyun agar tidak terlalu banyak berpikir. Akhirnya adiknya itu sudah memejamkan matanya hanya dalam 5 menit.

“Bertahanlah, Kihyun. Hyung akan berusaha untuk menyembuhkanmu. Jadi jangan takut, oke?”

Hyunwoo merebahkan kepalanya disamping tangan Kihyun. Pertahanannya runtuh, setetes airmata meluncur cepat dan merembes ke sprei bangsal yang sedang digunakan adiknya untuk tidur. Ia tak peduli, saat ini yang ia butuhkan adalah tempat untuk menangis diam-diam tanpa diketahui siapapun.

Andai saja Hyunwoo tahu, setetes airmata juga mengalir dari sudut mata Kihyun yang sebenarnya tidak tidur.

 

oooOooo

 

Sudah seminggu ini Kihyun mengikuti serangkaian pengobatan untuk menghambat penyabaran sel kankernya. Selama proses pengobatan, ia sama sekali tidak mengeluh. Meski Hyunwoo sempat cemas kalau adiknya tidak sanggup mengikuti macam-macam pengobatan yang harus dijalani. Nyatanya tak ada satu pun kata keluhan muncul dari bibir adiknya. Hyunwoo bahkan sempat melihat Kihyun bercanda dengan seorang perawat laki-laki sebelum menjalani kemoterapi.

“Ah, banyak sekali.”

Gumaman pelan memecah kesunyian di kamar nomor 208. Kihyun mengerucutkan bibirnya. Mengumpulkan helaian-helaian rambut kecoklatannya yang tersebar di selimut dan menarik beberapa helai lagi yang tersangkut di sisir miliknya. Entah apayang mendorong pemuda itu untuk dengan iseng meraih sisir yang berada di laci danmerapikan rambut miliknya. Alhasil, helaian-helaian itu meluncur turun dari kepalanya.

Hyunwoo yang sedang membaca buku, hanya menggelengkan kepalanya saat Kihyun menunjukkan padanya gumpalan rambut ditangannya. Entah apa yang ada di benak Kihyun, Hyunwoo tak tahu. Tapi ia sudah sangat bersyukur melihat semangat hidup yang masih terpancar dari obsidian adiknya itu.

Changkyun sesekali berkunjung, bergantian dengan Hyunwoo menemani Kihyun di rumah sakit. Namun tetap saja, Hyunwoo yang nyaris setiap hari datang untuk memastikan adiknya baik-baik saja. Ia baru akan pulang kalau Kihyun yang memintanya. Hei, ini bukan mengusir atau Kihyun tidak bersyukur kakaknya selalu ada disampingnya. Ia hanya tidak ingin Hyunwoo ikut jatuh sakit karena terlalu sering menjaganya.

Ya, tak ada yang berubah dari Kihyun. Manik bening itu masih berkilau walaupun sekarang sudah sedikit redup. Senyum manis yang tak pernah absen dari wajahnya kala dokter atau suster yang memantau datang ke kamarnya. Hyunwoo selalu berharap semua tetap seperti itu, dan tidak ada yang berubah.

“Tumben Changkyun belum datang. Apa dia ketiduran?”

“Tadi dia bilang katanya—“

Cklek!

“Maaf, aku terlambat. Tadi aku ditahan fans kalian di bar.”

Kihyun terkikik mendengar jawaban pemuda berlesung pipi itu. Memang, sejak Kihyun sakit, dua saudara itu jarang tampil di bar. Changkyun harus tetap tampil disana karena dia adalah seorang DJ tetap. Bisa repot urusannya kalau dia terus-terusan ijin.

“Mereka tidak menerormu kan?”

“Tidak. Sekarang mereka sudah bisa diam. Akhirnya telingaku sedikit lega setelah manajer mengatakan alasan kalian jarang tampil di bar.”

Kali ini tawa keras Hyunwoo terdengar di ruangan itu. Selama ini Changkyun selalu jadi bahan bulan-bulanan fans dua bersaudara lantaran jarang sekali tampil.

“Katakan pada manajer kalau aku sangat berterima kasih.”

“Nanti aku akan menyampaikannya. Sekarang giliranku jaga kan? Jadi Hyunwoo hyung pulang saja sana.”

“Hei, kau mengusirku?” sungut Hyunwoo.

“Tidak. Tapi ini jatahku untuk bermalam disini.”

“Ukh, baiklah. Aku akan pulang. Awas kalau kau mengajak adikku mengobrol dan tidak membuatnya istirahat, aku akan menggantungmu di Namsan Tower. Mengerti?”

Changkyun hanya menganggukkan kepalanya sembari mengibaskan tangannya pada Hyunwoo. Kihyun terkekeh mendengar perdebatan kedua pemuda itu. menyenangkan sekali bisa melihat kakaknya dekat dengan orang lain selain dirinya.

Andai aku bisa melihat mereka seperti itu lebih lama lagi.

 

oooOooo

 

Hari keduapuluh satu ketika panggilan dari dokter sampai di tangan Hyunwoo. Namun Ia baru bisa mengunjungi rumah sakit sore hari –kebetulan tadi manajer bar datang mengunjungi apartemen. Setelah mengecek keadaan Kihyun yang kini sedang tertidur pulas di kasurnya, ia langsung menuju ke ruangan dokter yang memanggilnya. Mau tak mau jantungnya berdebar keras. Hyunwoo tak bisa mempredisikan apa yang akan diberitahu dokter itu nantinya.

Semoga bukan hal buruk.

Hyunwoo mengetuk pintu dua kali. Terdengar seruan dari dalam dan ia membuka pintu itu perlahan. Melihat sang pria berjas putih tersenyum kecil dari kursinya, mempersilahkan Hyunwoo untuk masuk dan duduk di tempat yang sudah tersedia.

Basa-basi beberapa menit awal. Sang dokter memberitahu perkembangan akhir Kihyun. Sejauh ini cukup baik. Setelah menjalani beberapa kali kemoterapi, lumayan ada peningkatan. Mental Kihyun juga sepertinya baik-baik saja. Hyunwoo bisa menghela napas lega setelah mendengar hal ini. Dalam hati bangga dengan adik tersayangnya itu. Kihyun memang hebat.

“Seperti yang kita tahu, kemoterapi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang bersarang di tubuh Kihyun–ssi. Tapi pasti ada beberapa sel sehat yang ikut mati akibatnya. Rambut Kihyun–ssi sedikit rontok beberapa saat terakhir, tapi saya harap kerontokan ini tidak berlangsung lama.“ Hyunwoo mengangguk-angguk ketika mendengar hal ini.

“Kemoterapi ini juga mempengaruhi proses kerja sum sum tulang belakang Kihyun–ssi. Terjadi beberapa penurunan dalam jumlah eritrosit dan leukosit miliknya. Sehubungan dengan hal ini, saya menyarankan anda untuk bersedia mencangkokkan sedikit sum sum tulang belakang untuk membantu produksi darah dalam tubuh adik anda.”

Ah, Hyunwoo tersenyum lebar, senang dengan penjelasan dokter.Mengangguk mantap. Sang dokter tersenyum kecil melihat reaksi Hyunwoo. Ia membenarkan posisikacamata frameless miliknya dan mengambil beberapa lembar kertas dari laci meja.

“Transplantasi ini baik dilakukan oleh mereka yang punya hubungan darah. Silahkan isi formulirpernyataan ini terlebih dahulu. “ sang dokter menyerahkan lembaran kertas itu pada Hyunwoo.

“Untuk melakukan pencangkokan ini, Hyunwoo–ssi harus dalam keadaan sehat. Selain itu, akandiadakan Human Leucosyte Antigen Testing atau HLA Testing terlebih dahulu untukmencocokkan jaringan juga kemiripan DNA antara pendonor dan penerima.Prosedur selanjutnya akan dijelaskan setelah HLA Testing dilakukan. Seharusnya tak memakan waktu lama.”

Hyunwoo mencerna semua penjelasan sang dokter dengan sangat baik. Tekadnya sudah mantap. Apapun akan ia lakukan untuk membantu Kihyun bertahan dari sakitnya.

“Silahkan datang ke sini lagi kalau ada yang perlu dibantu.”

Mengangguk dan berdiri. Hyunwoo membungkuk 90°, berkali-kali mengucapkan terimakasih pada sang dokter yang dibalas anggukan dan senyum lebar. Harapan Kihyun bisa sembuh sedikit menghangatkan hatinya.

 

oooOooo

 

Kihyun menatap Hyunwoo dengan sengit. Wajahnya terlihat sangat kesal, bahkan marah pada kakak semata wayangnya itu. Tak ada suara yang tercipta, hanya kicauan burung yang sedang bertengger di pepohonan menjadi dominasi. Bahkan seorang suster yang hendak melakukan pemeriksaan rutin, mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan itu.

Di depan Kihyun, Hyunwoo menatap sang adik dengan pandangan yang entah apa artinya. Tadinya ia memberitahu Kihyun tentang cangkok sumsum tulang belakang yang bisa menyelamatkan nyawanya. Namun bukannya senang, reaksi adiknya justru sebaliknya

“Hanya ini satu-satunya cara, Kihyun.”

“Tidak, hyung. Aku tidak mau kalau harus membuatmu berkorban begitu. Lebih baik begini saja sudah cukup untukku.”

“Aku ingin kau sembuh. Ini satu-satunya cara agar aku bisa membantumu.”

“Kumohon, hyung. Aku hanya ingin menjalani hidup apa adanya. Jangan paksa aku untuk mau melakukan itu. Aku juga tidak ingin kau berkorban lagi untukku.Tolong jangan paksa aku, hyung. Aku tetap tidak mau.”

Hyunwoo menghela nafas saat Kihyun memunggunginya. Kesempatan sudah didepan mata, dan Kihyun tidak ingin melakukan cangkok sumsum. Beban yang tadinya sedikit terangkat, kini kembali bertumpu pada pundak Hyunwoo. Harapannya pupus.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 7)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s