[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 8 – END)

cover ff mx

Author                        : BabyJisoo

Title                 : Pages of Life

Cast                 :

  • Son Hyunwoo (Monsta X)
  • Yoo Kihyun (Monsta X)
  • Other

Genre              : Brothership, Family, Angst

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary        : Kehidupan seperti sebuah buku, dimana pada bagian pertama adalah saat kita lahir ke dunia, bagian kedua adalah saat kita menjalani kehidupan, dan bagian terakhir adalah saat akhir kehidupan kita. Kehidupan hanya ada tiga warna. Hanya ada hitam, putih dan abu-abu.

Note                : Mohon maaf kalau ada typo dan pengunaan EYD yang belum sempurna. HAPPY READING ^^

 

Hari ini adalah hari pertama musim dingin. Artinya libur awal musim dingin dimulai. Salju pertama di musim dingin mulai berjatuhan dari langit. Semua orang bersuka cita menyambut musim ini meski sedikit menghambat aktifitas mereka karena udaranya yang cukup ekstreme.

Suasana menyenangkan itu tampaknya juga sedang meliputi kamar nomor 208. Seorang pemuda berpakaian rumah sakit berdiri memandangi butiran-butiran salju yang berjatuhan dari balik kaca jendela kamarnya. Tubuhnya terlihat kurus dan wajahnya tirus, bibirnya pucat serta rambut kecoklatannya yang terlihat semakin menipis seperti rambut bayi. Tetapi ada satu hal yang tak pernah berubah, kilau di maniknya yang tak pernah absen melengkapi senyumnya, meski sekarang semakin redup.

“Kihyun hyung, sedang apa disana? Ayo kembali ke ranjang.”

Suara Changkyun yang baru datang membuyarkan segala lamunan Kihyun. Pemuda itu tersenyum sekilas lalu mendorong tiang infusnya kembali mendekati ranjang. Ia tidak berbaring, tapi duduk bersandar dengan bantal sebagai penyanggannya.

Hari ini Hyunwoo harus tampil di bar dengan teman-teman dancer-nya, meski tidak pada jam malam seperti sebelumnya. Jadi Changkyun bersedia untuk menjaga Kihyun di rumah sakit. Lagipula belakangan ini, ia jarang sekali datang berkunjung lantaran sibuk dengan tugas sebagai seorang DJ tetap.

“Salju pertama musim dingin indah sekali ya, Changkyun.”

“Uh-um. Benar-benar indah. Sayang sekali kita tidak bisa pergi keluar untuk menikmatinya.”

“Tak apa. Aku bisa menikmatinya dari sini.”

Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ah ya, tadi aku mimpi. Mau dengar?”

Suara itu kini serak, walaupun masih terdengar merdu. Changkyun mendekatkan kepalanya, mengangguk mengiyakan.

“Err, sebenarnya aku lupa.“ cengiran khas itu mampir sebentar, menghiasi wajahpucat Kihyun. Changkyun balas menyeringai. Tetangganya itu benar-benar tak berubah, masih saja seperti saat pertama ia berkenalan dulu.Kihyun menghela napas panjang. Melemparkan pandangannya ke langit-langitrumah sakit. Dahinya berkerut. Berusaha mengingat mimpi yang baru saja menghiasitidurnya.

“Apa ya—ah, aku benar-benar tidak ingat. Sial.” Pemuda itu menggerutu pelan. Namuntersenyum kecil beberapa saat kemudian. Changkyun terkekeh sambil mengusap tangan Kihyun yang kini sangat kurus.

“…Tapi yang jelas, itu mimpi indah. Kalau boleh, aku tidak ingin bangun…”

Changkyun seketika terdiam. Ditatapnya wajah tirus Kihyun yang kini tampak berbinar senang. Hei, apa Kihyun tidak sadar akibat dari ucapannya? Kini manik pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya itu berembun menahan tangis.

“Changkyun…”

“Iya, hyung?”

“Terima kasih, ya.”

“Terima kasih? Untuk apa?” Changkyun memiringkan kepalanya. Kihyun tersenyum tipis sambil memainkan ujung baju rumah sakit yang ia kenakan.

“Untuk semuanya. Aku ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya padamu.”

 

oooOooo

 

Matahari jatuh di ufuk barat. Bergantian dengan sang purnama yang perlahan merangkak naik ke cakrawala. Suhu udara menurun dengan drastis, mengingat saat ini musim dingin sudah berlangsung. Malam ini cerah. Bintang-bintang berkilauan terlihat bertebaran di angkasa. Satu dua butiran itu tak berkelip, bercahaya dengan anggunnya, ikut mewarnai cerahnya langit malam itu.

Kihyun menggeliat pelan. Perlahan membuka mata. Pandangannya kabur. Butuh beberapa menit baginya agar kedua bola matanya bisa melihat dengan jelas seperti biasa. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kedua obsidiannya. Melirik jam yang tergantung di ruangan itu. Sudah pukul 10.

Perlahan menolehkan kepala –dan menemukan sosok Hyunwoo yang tertidur di sebelahnya. Duduk di kursi, dengan kedua tangannya yang digunakan sebagai bantal. Wajahnya ditenggelamkan di balik kedua lengannya. Kihyun meraba bagian bawah kasurnya. Menyentuh tombol di bawah sana hingga perlahan bagian atas kasurnya terdorong naik.

Dengan posisi hampir terduduk, Kihyun memperhatikan kakak semata wayangnya yang tertidur pulas. Napasnya naik turun dengan teratur. Ia pasti kelelahan. Agak merasa bersalah karena dirinya tak bisa bangun lebih banyak dan menemani kakaknya mengobrol. Tapi apa daya, tubuhnya tak kuat. Ia selalu berharap bisa terbangun ketika hyungnya itu sedang terjaga.

Mengelus rambut kakaknya perlahan. Pandangan kedua obsidian pemuda itu meredup. Gerakan yang tentunya membuat sang kakak terjaga dari tidurnya. Hyunwoo mengucak matanya sesaat sebelum akhirnya tersenyum pada Kihyun.

“Kenapa bangun? Haus?”

Kihyun menggeleng lemah. Sedikit merasa bersalah karena telah membangunkan kakaknya yang sedang beristirahat.

“Maaf membangunkanmu, hyung. Kau pasti capek, kan?”

“Tidak. Aku tadi hanya beristirahat sebentar.”

Kihyun lagi-lagi tersenyum kala sang kakak menguap lebar. Ia tahu benar kalau Hyunwoo pasti sangat lelah

“Changkyun sudah pulang sejak tadi?”

“Iya. 15 menit setelah kau tidur tadi.”

Kihyun menatap kakaknya dengan intens. Membuat Hyunwoo sedikit mengerutkan kening lebarnya.

“Ada apa, Kihyun?”

“Aku merindukanmu.”

Hyunwoo nyaris saja menyemburkan tawanya. Namun melihat ekspresi adiknya yang serius, membuatnya urung. Ia takut kalau Kihyun marah dan tersinggung. Segera ia menutupi perasaan gelinya dengan tersenyum lebar.

“Hei, kita sering bertemu setiap hari. Lalu apa yang kau rindukan?”

“Iya. Kita memang bertemu setiap hari. Tapi aku tidak lagi bisa mengobrol banyak denganmu. Setiap kali kau datang, atau kau menginap disini, aku selalu menghabiskan nyaris semua waktuku untuk terapi dan tidur. kita tidak bisa mengobrol seperti biasanya.”

Hyunwoo tahu perasaan itu karena ia sendiri merasakannya. Selama Kihyun di rumah sakit, tak banyak waktu yang bisa mereka habiskan berdua. Jika biasanya akan terdengar ledekan pedas nan sadis khas keduanya, belakangan ini tak lagi terdengar. Semuanya sudah berbeda, tak bisa seperti dulu lagi.

“Tak apa. Aku mengerti. Kau harus banyak istirahat agar cepat pulih setelah terapi. Nanti ada saatnya kita akan mengobrol seperti biasanya.”

“Aku boleh memelukmu, hyung?”

“Eh?”

“Boleh, kan? Sekali saja. Sudah lama aku tidak merasakan pelukanmu.”

Hyunwoo duduk di tepi ranjang adiknya. Tubuh Kihyun yang semakin hari semakin kurus langsung tenggelam dalam pelukannya. Kihyun memejamkan matanya, menikmati pelukan hangat kakaknya yang sudah lama tidak ia rasakan.

“Kau tahu hyung, kemarin aku bermimpi melihat pelangi. Namun aku bisa melihat warnanya. Merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Semuanya aku bisa melihat bahkan membedakan warnanya.”

Hyunwoo hanya tersenyum sambil mengusap punggung sang adik yang kini tulangnya terlihat menonjol.

Hyung, kau masih ingat pil biru yang jadi pilihanku?”

Tiba-tiba Kihyun mendongakkan kepalanya, yang membuat beberapa helai rambut kecoklatannya berjatuhan karena puncak kepalanya bergesekan dengan dagu kakaknya. Hyunwoo melepaskan pelukannya dan mengumpulkan helaian itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Iya. Aku masih ingat. Kenapa?”

“Sebenarnya waktu itu aku bingung ingin menggunakan pil itu untuk apa, kalau memang pil itu benar-benar ada di dunia ini. Tapi sekarang aku sudah tahu akan kugunakan untuk apa jika pil itu ada.”

“Oh ya? Lalu kau mau apa?”

“Karena pil biru bisa mengabulkan semua hal yang kita inginkan, maka aku akan meminta pada Tuhan untuk menjamin kebahagiaanmu saat aku pergi nanti. Jadi aku bisa tetap melihatmu tersenyum walaupun aku sudah tidak ada disampingmu.”

Jawaban itu sukses membuat Hyunwoo terdiam.

 

oooOooo

 

Belum genap dua bulan.

Orang bilang, waktu akan berlalu dengan sangat cepat ketika kita berusaha untuk menikmatinya. Ketika kita berusaha untuk mengisi setiap detik hari-hari itu dengan hal-hal yang kita tahu tak akan sia-sia. Kalian tidak perlu repot-repot untuk mengutuk dan menyumpahi waktu. Sudah jutaan orang di dunia ini yang mewakilkan hal itu padamu. Sang waktu pasti telah bosan. Ia tak akan mendengarkan, sekeras apapun kau menuding telunjukmu padanya. Ia akan terus berputar. Tak berhenti.

Belum genap dua bulan.

Sejak tubuh ringkih itu berusaha mati-matian untuk menganggap semua baik-baik saja. Sejak hari dimana hidupnya dinyatakan akan berakhir dalam hitungan jari. Semua yang ada di sekitarnya baik-baik saja. Menutup mata dan telinga dari segala hal janggal yang mengusik harinya. Tidak. Dengan sekuat mungkin menolak kenyataan yang terus berbisik di telinga. Menari-nari di pelupuk mata. Semua akan baik-baik saja, selalu meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Sampai hari itu tiba. Tak ada yang salah. Tak ada yang akan menyesal.

Belum genap dua bulan.

Dan gundukan tanah merah itu kini menjadi akhir bagi semua. Sebagai tembok yang menandakan berakhirnya sebuah perjalanan. Pasrah. Tak ada yang bisa melawan takdir –bahkan teknologi paling canggih sekalipun akan selalu tunduk. Kerumunan orang-orang berbaju hitam lalu lalang disana. Menundukkan kepala, meneteskan air mata. Menaburkan bunga di atas gundukan itu. Turut berbela sungkawa atas berakhirnya satu lagi perjalanan hidup.

Ya, tertera di sana. Sebuah nama yang tertulis dengan huruf kapital, disertai dengan tanggal lahir di bawahnya. Dan juga tanggal yang menandakan hari kemarin, dipisahkan dengan satu tanda strip. Beristirahat dengan tenang.

Langit yang mendung benar-benar memuntahkan segala apa yang ia punya. Tetesan-tetesan berkah itu turun satu persatu dari langit. Beberapa puluh tetes yang turun secara bersamaan baru membuat orang-orang itu mendongakkan kepala ke atas. Menengadahkan telapak tangannya. Basah. Lantas berlari kecil menuju ke gerbang utama untuk lekas pergi sebelum tetesan itu memanggil teman-temannya yang lain. Bukan salju. Tuhan tidak perlu repot-repot menghibur dengan butiran-butiran indah itu. Cukup air bening yang akan menyamarkan kepedihan yang begitu kentara disana.

Ah, tapi tidak untuknya. Hujan mengguyur tubuh berjas hitam itu tanpa ampun. Dingin. Tapi tak peduli. Dia hanya di sana. Diam. Mengelus batu nisan itu dengan tatapan mata yang tak terbaca.

Tak ada satu kata pun yang terucap. Kebisuan diiringi dengan derasnya suara hujan dan guntur yang berdentum bergantian. Kilatan-kilatan yang menerangi langit sepersekian detik. Angin dingin yang berhembus kencang dari arah barat.

Mengelus batu nisan itu dalam diam.

Tetesan air hujan turun satu per satu dari rambut hitamnya. Ia menundukkan kepala. Masih menetes. Air mukanya terbiaskan oleh derasnya tetesan air hujan yang menerpa. Inilah yang ia harapkan, hujan menyamarkan airmatanya yang mengalir, sederas hujan yang menghantamnya beberapa menit yang lalu.

Seorang pemuda memegang payung dengan erat. Langit terlihat tak bersahabat dari pagi tadi. Keputusan yang tepat untuk membawa benda itu turut serta hari ini. Lantas iamenurunkan tubuh, menyamakan posisi dengan sosok yang masih bersimpuh di depan batu nisan di sebelahnya. Menyentuh bahunya pelan.

“Hyung, hujan..”

Masih tak mau mengangkat kepala. Terdiam. Walaupun air hujan tak menerpanya sederas tadi –kini tubuh kuyupnya sudah terlindungi oleh setengah bagian payung yang dibawa sosok di sebelahnya.

Merasa tak menemukan respon, sosok yang membawa payung itu memiringkan kepala. Berusaha melihat wajah dari orang yang diajaknya bicara. Tak ada perubahan. Menghembuskan napas panjang.

Sosok itu perlahan mengajak sang pemuda untuk bangun dari posisi bersimpuhnya.Tanpa paksaan, perlahan ikut mengangkat badan. Meluruskan kaki –walau dengan kepala yang masih tertunduk. Kosong. Tanpa ekspresi.

“Hyung, jangan sampai sakit. Kihyunhyung tidak akan senang melihatmu sakit. Dia pasti akan mengomelimu seperti ibu-ibu.”

Senyum menghiasi wajah itu.

“Ayo,”

Dengan lembut mengajak pemuda itu untuk berbalik dan melangkah menjauh. Yang dituntun pun hanya menurut. Perlahan membalikkan badan dan berjalan pelan, menyamai langkah sosok di sebelahnya. Mengayunkan kaki pergi dari tempat itu.

Senyuman itu masih terulas di sana.

 

oooOooo

 

*Flashback*

Hyunwoo menata hasil masakannya dalam sebuah rantang susun. Hari ini ia berjanji pada Kihyun akan membawakan makanan hasil masakannya. Ada nasi putih yang lembut, sayur-sayuran segar, potongan daging, telur gulung, dan lauk-pauk yang lain. Ia menyusun makanan itu dengan sangat rapi. Puas, ia membungkus hasil kerjanya dengan kain berwarna biru.

Ponselnya bergetar beberapa kali, menandakan ada seseorang yang meneleponnya. Nama Changkyun tertera di layar sebesar 5 inchi tersebut. Dengan segera, ia menggeser tombol warna hijau dan menempelkan ke telinganya.

“Hyung, kapan kau akan ke rumah sakit?”

“Ini aku akan berangkat kesana. Ada apa?”

“Kihyun hyung tiba-tiba kritis. Cepatlah kemari.”

Hyunwoo langsung menutup telepon itu secara sepihak. Ia meraih rantang yang akan ia bawa dan segera berlari keluar apartemennya.

Tunggu aku, Kihyun. Hyung segera datang. Kumohon jangan pergi.

 

oooOooo

 

Changkyun duduk di ruang tunggu dengan gelisah. Pintu kamar rawat Kihyun masih tertutup rapat. Di dalam sana, dokter dan suster sedang berusaha menyelamatkan Kihyun. Changkyun menangkupkan kedua tangannya ke depan dada, memohon belas kasih Tuhan agar tidak mengambil tetangganya yang ramah itu dengan cepat.

Tadi Changkyun sempat meninggalkan Kihyun sebentar. Ia hanya ingin membeli air minum dan beberapa cemilan. Sebenarnya ia was-was meninggalkan Kihyun sendiri. Namun pemuda itu berusaha untuk meyakinkannya. Akhirnya Changkyun keluar dari kamar rawat Kihyun. Ketika kembali, ia menemukan pemuda itu berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Awalnya Changkyun mengira Kihyun sudah tidur. Namun, ia mulai menyadari kalau pemuda itu tidak bernafas. Changkyun segera berteriak dengan histeris memanggil dokter, bahkan ia menekan tombol pemanggil dengan kasar.

Disinilah Changkyun sekarang, duduk termangu didepan ruang rawat Kihyun yang tertutup rapat sembari mengucap do’a panjang dalam hati. Berharap do’anya dikabulkan oleh Tuhan.

Changkyun tersentak dan segera bangkit dari duduknya kala pintu kamar rawat Kihyun terbuka. Beberapa orang suster keluar dari sana dengan ekspresi keruh. Lalu ia melihat dokter yang menangani Kihyun keluar dari ruangan itu.

“Dokter, bagaimana kondisi Kihyunhyung?” todong Changkyun. Dokter senior itu mendesah sambil menggelengkan kepalanya.

“Maaf—“ Sang dokter menepuk bahu Changkyun pelan. “—Kihyun­-ssi sudah kembali menghadap Tuhan yang Maha Kuasa. Dia pergi dalam tidurnya yang damai.”

BRAK!

Changkyun menoleh dan mendapati Hyunwoo berada disana, tak jauh darinya saat ini. Penampilan pemuda itu berantakan dan nafasnya memburu dengan cepat. Bekal makanan yang ia bawa dari apartemen jatuh terhempas dan berhamburan di lantai begitu saja. Wajah tampan itu mulai basah oleh airmata yang deras mengalir.

“Tidak… Ini bohong kan, Dokter? Kihyun baik-baik saja kan?”

Miris. Itulah yang terlintas dalam benak Changkyun. Kihyun adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki Hyunwoo. Semua orang tahu seberapa sayangnya pemuda itu pada adiknya, meski tak pernah selalu ditunjukkan secara verbal. Menghadapi kenyataan kalau sang adik telah tiada tentu membuatnya sangat terpukul.

“Maaf. Kihyun-ssi sudah meninggalkan kita semua.”

Hyunwoo langsung berlari masuk ke ruang rawat Kihyun, diikuti oleh Changkyun usai mengucapkan terima kasih pada Dokter yang telah berusaha untuk menyelamatkan Kihyun di detik-detik terakhirnya. Meski pada akhirnya semua sia-sia.

Hyunwoo menyingkap kain yang menutupi adiknya. Tangisnya langsung pecah merobek kesunyian rumah sakit itu. Ia memeluk tubuh kurus Kihyun yang mulai kaku dan memanggil namanya dengan pilu.

Maafkan aku karena terlambat. Maafkan aku karena meninggalkanmu sendiri. Aku mohon kembali, Kihyun.

Tetapi sekeras apapun Hyunwoo memanggil nama Kihyun, tetap saja adiknya tidak akan pernah bangun dan tersenyum padanya lagi. Kihyun sudah sampai pada batasnya, dan kini ia lebih memilih menyerah pada takdir. Takdir untuk meninggalkan Hyunwoo sendiri.

*Flashback End*

 

oooOooo

 

“Hidup itu seperti sebuah buku. Setiap lembarnya adalah hari-hari yang kita lewati. Lembar pertama, adalah hari dimana kita memulai kehidupan kita. Lembar kedua, adalah hari dimana kita menelusuri jalan kehidupan kita. Lembar ketiga, adalah hari dimana kita mengakhiri segala kehidupan kita.

Kehidupan sama halnya dengan warna abstrak yang netral. Hitam, putih, dan abu-abu. Segala pilihan ada ditangan kita. Apakah kita akan membiarkannya tetap dengan ketiga warna itu, atau mulai mewarnai setiap lembarnya sesuai dengan apa yang bisa kita kerjakan dan kita inginkan.

Hidup kita terlalu singkat untuk mengeluh dan mengutuk segala rintangan yang menghadang. Jika ingin tahu, kunci hidup bahagia adalah lakukan apa yang kita bisa, jalani hidup apa adanya, nikmati apa yang telah diberikan oleh Tuhan pada kita, syukuri apa yang telah kita dapatkan, dan berbagi pada sesama agar hidup lebih berarti.” —Kihyun.

.

.

.

.

FIN

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

2 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] Pages of Life (Chapter 8 – END)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s