[MONSTA X FF FREELANCE] The Only One (Oneshot)

cover-ff-mx-2

Author                        : BabyJisoo

Title                 : The Only One

Cast                 :

  • MX’s Im Changkyun
  • Kim Shinyoung (OC)
  • Others

Genre              : Romance,Angst

Length             : Oneshoot

Summary        : Changkyun percaya bahwa Shinyoung adalah satu-satunya cinta dalam hidupnya.

“Kau sudah bangun kan?”

Changkyun sedang mengunyah roti tawar sambil menempelkan ponsel di teliinga kirinya. Pemuda tampan itu berdecak pelan.

“Sudah. Aku selalu bangun pagi.”

“Tugasmu sudah selesai?”

Pemuda tampan itu mengambil air mineral di kulkas. Diteguknya air itu sebelum menjawab.

“Sudah. Kemarin aku diajari oleh Minhyuk hyung, Kihyun hyung dan Wonho hyung. Jadi kau tidak usah khawatir.”

“Jangan lupa pakai mantel tebal. Kau itu tidak betah dingin.”

Decakan pelan kembali keluar dari bibir tipis Changkyun.

“Ini musim panas, Shinyoung. Aku tidak mungkin memakai mantel ke kampus.”

“Kalau begitu hati-hatilah ketika ke pergi. Jangan tidur di kelas dan jangan makan sembarangan. Ingat, lambungmu tidak bagus.”

“Eum. Aku mengerti.”

Changkyun mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku jaket. Hari ini ia ada kelas pagi dan ia tidak boleh terlambat kuliah.

 

oooOooo

 

Changkyun melambaikan tangannya pada sekelompok mahasiswa yang sedang mengobrol di dekat ruang kelasnya. Teman-teman Changkyun tersebut segera mengajak pemuda tampan itu untuk bergabung dalam obrolan seru mereka.

“Tumben baru datang. Biasanya kau selalu datang lebih dulu dari kami.” Kata Kihyun. Changkyun menyandarkan tubuhnya sembari memainkan ponselnya.

“Maaf, tadi akuditelepon kekasihku, jadi aku terlambat.” Sahut Changkyun kalem.

“Wah, enaknya pagi-pagi sudah ditelepon pacarnya.” Goda Arin. Changkyun hanya tersenyum tipis.

“Oi, kapan mau mengenalkan pacarmu pada kami?” Hyungwon menyenggol lengan Changkyun pelan. Jisoo menoleh pada pemuda bertubuh tinggi itu.

“Nanti aku kenalkan kalian padanya, hyung. Jangan khawatir.” Kata Changkyun.

“Changkyun, pacarmu sebenarnya secantik apa, sih? Sampai kau terus menunda untuk mengenalkannya pada kami.” Tanya Sooyoung. Changkyun terkekeh pelan, manik bulan sabitnya menerawang langit biru yang ada di atas sana.

“Dia lebih cantik dari gadis-gadis manapun yang kalian kenal, tingkah lakunya lembut, baik, penyayang… yah, pokoknya dia yang terbaik.” Ujar Changkyun.

“Memang dia sibuk? Sepertinya kami tidak pernah melihat diamengunjungimu atau datang ke apartemenmu.” Tanya Minhyuk.

“Dia masih terlalu asyik dengan kesibukannya. Nanti pasti aku akan mengenalkan pada kalian.” kata Changkyun. Ia membenahi tali ranselnya yang melorot dari bahu. “Ayo ke kelas. Sebentar lagi kuliah dimulai.”

 

oooOooo

 

“Ini salah. Hangulmu ini terbalik, Kyun.”

Sudah keenam kalinya Shinyoung menghapus huruf hangul yang ditulis di buku. Changkyun menghela nafasnya, tangannya sudah lelah karena sejak tadi menulis kalimat yang sama. Harus dimaklumi bila Changkyun belajar bahasa korea. Pemuda itu lahir dan besar di Boston meski kedua orang tuanya berdarah Korea.

“Aku bingung, Shinyoung. Semuanya terlihat sama. Aku bingung cara membedakan huruf-huruf ini.” keluh Changkyun.

“Ish, jangan mengeluh terus. Ayo tulis kalimat ini lagi. Ingatlah tata cara penulisan yang kemarin aku jelaskan.” Kata Shinyoung. Changkyun menggerakkan mata pensilnya ke kertas yang ada dihadapannya.

“Nah, akhirnya kau mengerti juga. Belajarlah huruf hangul lagi biar kau lebih terbiasa membaca dan menulis dengan huruf hangul.” Ujar Shinyoung setelah Changkyun berhasil menulis satu paragraf dengan benar.

“Aku lebih memilih menulis dalam bahasa inggris sebanyak 10 lembar daripada menulis dalam bahasa korea sebanyak 1 lembar.” Decak Changkyun.

“Yak! Kau ini orang Korea. Aku heran, bicaramu dalam bahasa korea sangat lancar tapi kau tidak bisa membaca dan menulis. Apa kerjaanmu selama di LA, huh?” dengus Shinyoung. Changkyun menutup bukunya dan menumpukan dagunya pada kedua lengannya.

“Ketika di Boston, aku berbicara bahasa korea dengan orang tuaku saat dirumah. Tapi ketika diluar rumah aku menggunakan bahasa inggris. Bahkan dengan korea yang bertemu denganku pun aku memakai bahasa inggris. Wajar saja kalau aku lebih fasih berbahasa inggris daripada bahasa korea.” Sungut Changkyun.

“Belajar lagi, oke? Aku tidak mau pacarku lebih menyukai bahasa asing daripada bahasa ibu. Silakan saja kalau kau mau belajar bahasa inggris, jepang, mandarin, atau apapun asalkan kau fasih membaca, menulis dan melafalkan bahasa korea. Itu jati dirimu, Jisoo-ya.” Ujar Shinyoung. Changkyun menyungging smirk tipis di wajah manisnya.

“Aku mau belajar bahasa kalbu saja biar bisa mengerti dirimu, Shinyoung.” Bisik Changkyun tepat ditelinga Shinyoung yang sontak membuat gadis cantik itu merona.

“Sial! Jangan menggombaliku seenaknya, Im Changkyun!” gerutu Shinyoung. Changkyun hanya tertawa sambil mengusak rambut coklat kekasihnya dengan sayang.

 

oooOooo

 

“Yak! Chae Hyungwon! Kau ketua ekskul dance tapi jalanmu lambat sekali seperti Miss Universe!” gerutu Mina. Hyungwon hanya meringis meski dalam hati ia memaki dirinya sendiri, merutuki kesialannya bisa mendapatkan pacar segalak Lee Mina. Emosi kekasihnya itu tidak sebanding dengan tubuhnya yang mungil, begitu juga dengan lidahnya yang tajam bagaikan pisau, sangat tidak sesuai dengan wajahnya yang manis.

“Cepat Hyungwon, aku lapar!” rengek Mina dengan nada ketus luar biasa.

“Astaga, Minanoona. Suaramu terdengar sampai ujung koridor, tahu!” dengus Jooheon yang langsung dibalas tatapan galak oleh Mina. Yang lain hanya menggelengkan kepalanya. Hyungwon mencolek bahu Changkyun yang berjalan disampingnya.

“Changkyun,apakah pacarmu galak?” tanya Hyungwon. Changkyun memiringkan kepalanya.

“Terkadang dia memang galak dan cerewet. Dia pernah hampir memukulku dengan gitar karena aku pulang terlambat dan tidak mengabarinya.” Kata Changkyun.

“Segalak apapun pacarmu, tidak akan bisa mengalahkan galaknya Mina.” Gumam Hyungwon setengah berbisik.

“Aku dengar itu, Chae sialan! Awas ya, aku akan menenggelamkanmu di sungai Han kalau kau mengataiku galak lagi.” ancam Mina yang membuat teman-temannya terkikik geli, sementara Hyungwon hanya tersenyum masam.

“Changkyun, apa kau dan pacarmu sering bertengkar seperti Hyungwon oppadan Minaunnie?” tanya Yoonji.Changkyun menggelengkan kepalanya.

“Kami selalu mengerti satu sama lain, jadi kami sangat jarang bertengkar.” Jawab Changkyun. Teman-temannya memandang takjub kearahnya. Sangat jarang ditemukan pasangan yang jarang berselisih paham seperti Changkyun dan pacarnya.

“Kita lanjutkan obrolannya nanti saja. Sekarang pesan makanan dulu. Kalian mau apa?” tawar Hyunwoo.

“Ramyun cup dan cola saja, hyung. Aku tidak terlalu lapar.” Kata Kihyun. Yang lain mengangguk setuju.

“Aku juga mau.” Si maknae Ahra bersorak riang. Hyunwoo menatap Changkyun yang tidak ikut memesan seperti yang lainnya.

“Kau mau apa, Changkyun?” tanya Hyunwoo. Changkyun tersenyum sebentar, teringat pesan seseorang yang selalu mengingatkannya soal makanan.

“Tidak usah. Aku masih kenyang. Lagipula dia selalu cerewet, mengingatkanku untuk tidak makan sembarangan.” Tolak Changkyun dengan halus. Hyunwoo hanya mengangguk dan segera memesankan makanan untuk dirinya dan teman-temannya.

 

oooOooo

 

“Sudah kubilang jangan makan sembarangan. Lihat apa akibatnya, kau jadi dirawat dirumah sakit, kan?”

Changkyun hanya terkekeh pelan mendengar omelan Shinyoung. Sedang sakit pun ia tidak luput dari mulut sadis kekasihnya itu meskipun ia tahu kalau kekasihnya itu sangat khawatir padanya.

“Makanan itu terlalu menggoda. Aku tidak tahan untuk tidak mencobanya.” Kata Changkyun pelan. Tubuhnya masih terasa lemas setelah sepagian tadi ia muntah-muntah akibat mengonsumsi makanan yang seharusnya tidak boleh ia makan.

“Lambungmu itu tidak bagus, Kyun. Kau bisa memintaku untuk memasakkannya. Aku pasti akan membuatkan yang sedikit berbeda untukmu kalau kau memintanya.” Ucap Shinyoung kesal.

“Baiklah, aku minta maaf. Seharusnya aku lebih mendengarkanmu.” Changkyun meremat tangan Shinyoung yang menggenggam tangannya. Shinyoung tersenyum tipis.

“Jangan sakit lagi. aku tidak suka kau terbaring seperti ini. Rasanya menyakitkan melihatmu begini, Kyun.” Ujar Shinyoung.

“Tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya, Shinyoung. Aku janji.”

 

oooOooo

 

“Aduh!”

Semua menoleh kearah Hyunwoo. Pemuda itu mengibaskan tangannya, ada darah yang menetes dari sana.

“Kenapa, hyung?” tanya Jooheon.

“Tanganku tergores paku.” Hyunwoo meringis menahan perih. Teman-temannya langsung meneliti bangku taman yang mereka duduki. Memang ada beberapa paku yang sedikit berkarat mencuat diantara konstrukti bangku kayu tesebut.

“Astaga, ini bahaya sekali!” kata Ahyoung.

“Sebentar, aku pinjam palu pada satpam.” Wonho langsung menyerahkan ramyun cup-nya pada Ahyoung dan berlari ke pos satpam yang letaknya tak jauh dari posisi mereka.

“Hyunwoooppa, tanganmu harus segera diobati supaya tidak infeksi. Soalnya pakunya berkarat.” Kata Arin. Changkyun mengeluarkan air mineral, tisu, dan kotak P3K dari dalam tasnya. Memang tas pemuda itu terkenal seperti kantong ajaib doraemon, apapun yang kalian butuhkan pasti dimiliki oleh Changkyun.

“Kemarilah, hyung. Aku akan membersihkan lukamu.”

Hyunwoo duduk di sebelah Changkyun, membiarkan pemuda itu membersihkan lukanya. Changkyun membasahi beberapa lembar tisu dengan air mineral dan membersihkan darah Hyunwoo. Setelahnya ia mengambil beberapa lembar tisu lagi, membasahinya dengan alkohol dan mengoleskannya pada luka di tangan Hyunwoo dan menutupnya dengan plester sebagai sentuhan akhir. Hyunwoo mengamati pergerakan pemuda yang ada dihadapannya ini, begitu telaten dan sabar seperti seorang gadis. Sesekali ia memekik kecil karena rasa perih yang menguar.

“Yak, Im Changkyun! Tidak adakah plester yang lebih normal sedikit?” tanya Hyunwoo kala menatap plester yang membalut lukanya.

“Aku hanya punya itu. Lagipula itu lucu, hyung.” Kata Changkyun.

“Lucu apanya? Aku ini laki-laki, masa pakai plester warna pink begini? Ada gambar hati pula disini!” gerutu Hyunwoo yang langsung membuahkan tawa riuh dari teman-temannya.

“Plesternya cocok untukmu kok, hyung.” Ledek Minhyuk.

“Kau mau mati, huh?” desis Hyunwoo. Teman-temannya tertawa semakin keras.

“Aku heran, darimana Changkyun bisa mendapat plester selucu itu.” gumam Mina.

“Dia yang selalu mengisi kotak P3K-ku dengan plester itu. Awalnya aku menolak, tapi dia terus saja memasukkan plester itu. Akhirnya kubiarkan saja.” kata Changkyun.

“Pacarmu pengertian sekali. Hal sekecil ini saja sangat diperhatikan olehnya.” Kata Jooheon sedikit iri. Changkyun tersenyum mendengar pujian itu.

 

oooOooo

 

“Ouch! Pelan-pelan, Shinyoung!”

“Ish, tahan sebentar. Kau ini seperti gadis saja, Kyun. Lagipula salah siapa, main sepak bola seanarki tadi, huh?”

Changkyun meringis kesakitan ketika Shinyoung membersihkan luka yang ada di lutut dan sikunya. Bajunya kotor terkena tanah karena berkali-kali jatuh ketika bermain sepak bola dengan teman-temannya.

“Itu tidak anarki, Shinyoung. Tackle dalam sepak bola itu hal biasa. Aku saja yang terlambat menghindar sampai jatuh.” Kata Changkyun. Sinyoung memutar bola matanya kesal.

“Kau itu bukan anak SD lagi, Kyun. Mana ada anak seumuranmu main bola sampai bajunya kotor begitu?” dengus Shinyoung. Changkyun terkekeh sambil menahan perih.

“Kau tidak pernah melihat pertandingan bola atau bagaimana sih? Lihat saja para pemain bola professional, baju mereka juga kotor ketika bermain bola. Apa mereka juga akan kau sebut sebagai anak SD, hum?” ucap Changkyun.

“Mereka berbeda. Jangan samakan dengan dirimu.” Sela Shinyoung dengan cepat. Ia menutup luka Changkyun dengan pink bergambar hati. Changkyun mengernyit tak suka.

“Ini apa? Kenapa warnanya pink begini? Apa tidak ada warna yang lain?” gerutu Changkyun. Shinyoung mencebik tak peduli.

“Aku hanya punya plester itu. lagipula itu cocok untukmu.” Kata Shinyoung.

“Ya Tuhan, Shinyoung, aku ini laki-laki. Masa aku pakai plester bergambar hati begini, sih?” decak Changkyun.

“Ya Tuhan, Kyun, kau ini bawel sekali. Mana ada laki-laki secerewet dirimu, huh? Ayolah, itu hanya plester.” Dengus Shinyoung.

“Terserahmu.” Changkyun meneguk air mineralnya yang tersisa separuh dan menyisakan sedikit air untuk membasahi rambutnya. Shinyoung membereskan semua perlengkapan P3K-nya, setelah itu memasukkan kotak putih itu ke ransel Changkyun.

“Bawa ini kemanapun kau pergi. Kau itu ceroboh, jadi kalau kau terluka, kau bisa langsung membersihkan lukamu itu dengan ini.” kata Shinyoung.

“Hng.” Changkyun hanya mendengung sebagai jawaban. Shinyoung menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.

“Lain kali berhati-hatilah ketika bermain bola. Aku tidak ingin kekasihku cedera. Untung ini hanya luka kecil.” Ujar Shinyoung. Changkyun tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

 

oooOooo

 

“Sudah pulang?”

“Baru saja sampai.”

Changkyun melemparkan tasnya ke sofa sambil menempelkan ponselnya ditelinga kiri. Kuliah hari ini benar-benar menguras energi dan pikirannya. Ditambah lagi dengan tugas-tugas yang menggunung. Rasanya pemuda manis itu ingin loncat dari apartemennya.

“Bagaimana kuliahmu hari ini?”

“Melelahkan. Tugasku semakin banyak.”

Changkyun merebahkan dirinya di sofa. Mantel yang ia kenakan disampirkan begitu saja di meja. Sepatunya pun masih berserakan di depan pintu masuk.

“Letakkan mantel di gantungan baju dan rapikan sepatumu. Jangan tiduran di sofa, kau bisa sakit leher.”

“Iya, Shinyoung. nanti aku rapikan.”

“Sudah makan? Kau tidak makan sembarangan, kan?”

“Belum. Nanti saja, aku belum lapar.”

Changkyun bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil sekaleng soda.

“Jangan minum soda, Kyun.”

“Aku baru kali ini minum soda. Kau tidak perlu khawatir.”

“Jangan tidur terlalu malam.”

“Iya iya. Jangan khawatir, aku bukan anak kecil lagi.

Changkyun mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas kulkas. Ia kemudian meraih mantelnya dan berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat. Ia lelah dan butuh tidur setelah seharian beraktifitas di luar rumah.

 

oooOooo

 

Oppa, apa besok malam kau sibuk?”

Saat ini Changkyun dan teman-temannya sedang berada di kafetaria kampus mereka. Changkyun melemparkan pandangan pada Ahra yang bertanya.

“Tidak. memangnya kenapa?” tanya Changkyun.

“Kami berencana pergi ke festival kembang api musim panas di Namdaemun. Kau mau ikut atau tidak?” tawar Hyunwoo.

“Dan menjadi obat nyamuk kalian? Tsk, tidak. Terima kasih.” Dengus Changkyun.

“Kok obat nyamuk, sih?” tanya Sooyoung.

“Tentu saja, noona. Kau dengan Minhyuk hyung, Hyungwon hyung dengan Mina noona, Wonhohyung dengan Ahyoung noona, Hyunwoo hyung dengan Hana noona, Kihyunhyung dengan Arin noona, Jooheon dengan Yoonji. Lalu aku sendirian. Apalagi namanya kalau bukan obat nyamuk?” ujar Changkyun sambil menyesap frappucino­-nya.

“Makanya kami mengajak Ahra. Kau bisa jalan-jalan berdua dengannya sementara kami sibuk berduaan.” Kata Minhyuk.

“Sayangnya aku tidak pedofil sepertimu, hyung. Lagipula Kihyun hyung bisa menghajarku kalau aku berani memacari adik kecilnya.” Sahut Changkyun yang dihadiahi death glare gratis oleh temannya itu.

“Ayolah, oppa. Mumpung besok libur. Daripada kau berdiam diri di apartemen tanpa melakukan apapun. Lebih baik kita pergi ke festival.” Rengek Ahra.

“Atau kau sudah ada janji dengan pacarmu?” terka Sooyoung.

“Bukannya pacarmu sibuk?” imbuh Mina. Changkyun tersenyum penuh arti pada pasangan sipit tersebut.

“Iya, dia sibuk. Baiklah kalau kalian memaksa, aku ikut pergi.” Kata Changkyun.

“Nah, begitu dong, hyung. Kami janji tidak akan melupakanmu dan Ahra.” ucap Wonho sambil memamerkan senyumnya.

“Sudah, nikmati saja waktu kencan kalian. jarang-jarang kan bisa keluar berdua seperti ini. Yah, kecuali Wonhohyung dan Ahyoung noona, sih.” Kata Changkyun setengah menggoda. Wajah Ahyoung langsung memerah digoda demikian.

“Aish, kami tidak seperti yang kau pikirkan.” Kilah Ahyoung.

“Lho, memangnya Changkyun memikirkan apa?” kini Hyunwoo ikut menggoda yang membuat gadis itu semakin merona.

“Wonho, tolong aku~”

Semua tertawa melihat ekspresi merajuk Ahyoung. Wonho hanya tersenyum lebar sambil mengusak rambut kekasihnya dengan sayang dan meminta teman-temannya untuk berhenti menggoda Ahyoung.

 

oooOooo

 

“Festival kembang api?”

Shinyung mengangguk dengan penuh semangat sambil menunjukkan brosur yang ia pegang pada Changkyun.

“Iya. Ayo kita kesana. Mumpung sedang libur musim panas. Langitnya sedang cerah, jadi bisa melihat kembang api dengan jelas.” Pinta Shinyoung. Changkyun menimbang sejenak. Ia ada latihan sepak bola, dan acara kembang api itu bersamaan dengan jadwal latihannya.

“Kau sibuk?” manik Shinyoung berpendar sendu, sedikit kecewa karena Changkyuntak kunjung menjawab ajakannya. Changkyun menggelengkan kepalanya.

“Tidak, tapi aku ada latihan sepak bola di hari itu.” jawab Changkyun. Shinyoung mendesah, ia mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ya, terus saja urus klub sepak bolamu itu. Tidak usah pikirkan aku.” Rajuk Shinyoung. Changkyun terkekeh mendengar ucapan kekasihnya.

“Hei, dengarkan aku berbicara dulu. Aku memang ada latihan pada hari itu, tapi aku bisa meminta ijin pada Hyunseong sunbae untuk menemanimu pergi. Dia pasti mengerti.” Ujar Changkyun. Senyum Shinyoung kembali merekah,gadis cantik itu langsung merengkuh manja lengan kekasihnya.

“Kau memang terbaik, Changkyun. I love you”

 

oooOooo

 

Seperti yang telah disepakati kemarin, hari ini Changkyun dan teman-temannya datang ke festival kembang api musim panas di Namdaemun. Mereka itu langsung berpisah dan akan bertemu lagi tiga jam kemudian ditempat yang sama. Ahra langsung menggamit lengan Changkyun dan mengajaknya berkeliling.

“Oppa, kau pernah kesini?” tanya Ahra.

“Pernah. Mungkin dua atau tiga kali. Aku tidak terlalu ingat.” Jawab Changkyun.

“Pasti dengan pacarmu, kan” tebak Ahra. Changkyun hanya tertawa sambil mengangguk. Mereka berhenti sebentar di stand yang menjual bubble tea.

“Dia suka sekali minum ini. Aku yang awalnya tidak suka jadi ketagihan karenanya.” Cerita Changkyun.

“Kalian pasti serasi sekali. Ah, kalau aku punya pacar, aku ingin seperti kau dan pacarmu, oppa.” Ucap Ahra sambil berkhayal. Changkyun mengusak rambut Ahra dengan gemas.

“Kalau Kihyun hyung dengar, aku bisa dikuliti hidup-hidup karena mengajarimu yang tidak-tidak.” kata Changkyun. Tawa Ahra langsung bergema. Benar yang dikatakan Changkyun, oppa mungilnya itu bisa marah besar kalau tahu dia ingin punya pacar di umurnya yang baru menginjak 16 tahun. Umur yang belum legal untuk melakukan suatu ikatan.

Oppa, aku kira oppadeul dan unniedeul yang lain sudah tahu pacarmu. Ternyata belum, ya?” tanya Ahra. Changkyun menggeleng sambil menyeruput sedikit bubble tea­-nya.

“Aku termasuk anak baru di geng hits mereka. Jadi mereka tidak tahu kalau aku punya pacar.” Kata Changkyun.

Oppa pasti punya foto pacarmu, kan? Ayo tunjukkan padaku. Biar aku jadi yang pertama yang tahu seperti apa wajah pacarmu.” Pinta Ahra. Changkyun menyentil dahi bocah yang ada disampingnya itu dengan pelan.

“Jangan mencuri start. Yang lebih tua darimu saja belum aku beritahu.” Kata Changkyun. Ahra mempoutkan bibirnya. Namun ia harus menghormati keputusan pemuda yang ada disampingnya ini.

 

oooOooo

 

“Kyun, lihatlah! Kembang apinya cantik sekali!”

Shinyoung menunjuk kearah langit dimana puluhan kembang api sedang menyala terang, menimbulkan berbagai macam pola dan warna kala benda itu meletup di udara. Changkyun tersenyum melihat Shinyoung yang terlihat sangat bahagia.

“Tapi mereka tidak bisa mengalahkan kecantikanmu, Shinyoung.” Kata Changkyun. Pipi Shinyoung memanas, merona malu akibat ucapan kekasihnya barusan. Untungnya suasana disekitar sana tidak terlalu terang sehingga Changkyun tidak bisa melihat rona kemerahan di wajah cantiknya.

“Beruntungnya kita bisa mendapatkan spot yang bagus unuk melihat kembang api.” Kata Shinyoung.

“Benar. Langit juga terasa sangat dekat dari sini. Jarang sekali bisa melihat bintang-bintang bertaburan seperti disini.” Sambung Changkyun. Shinyoung menganggukkan kepalanya setuju.

“Kyun…”

“Ya?”

“Kalau kau dilahirkan kembali, kau mau jadi apa?”

Changkyun terdiam sejenak, memikirkan jawaban untuk kekasihnya.

“Diriku sendiri. Aku tidak ingin menjadi yang lain karena seperti inilah aku.” Jawab Changkyun mantap. Ia menatap wajah Shinyoung yang menengadah ke langit. “Kalau kau?”

“Aku ingin menjadi sirius, bintang yang paling terang. Supaya aku bisa menerangi setiap malammu.” Kata Shinyoung. Changkyun terkekeh, ia tak menyangka kalau kekasihnya bisa menggombalinya seperti itu.

“Tapi bintang yang paling terang akan mengeluarkan energi yang besar, sehingga memperpendek umurnya.” Kata Changkyun.

“Tidak masalah. Aku tidak peduli dengan itu. Yang terpenting adalah aku bisa selalu bersamamu dimanapun aku berada. Walaupun terlihat jauh, tetapi aku akan tetap berada disekitarmu.” Kata Shinyoung. Changkyun tersenyum, ia meraih tangan Shinyoung dan menggengamnya erat.

“Aku akan terus bersamamu. Selamanya.”

 

oooOooo

 

“Kau mau kemana, Chngkyun?”

Langkah Changkyun terhenti. Ia menoleh pada teman-temannya yang ada dibelakangnya. Tangan kanannya menggenggam sebuket bunga mawar.

“Aku mau menemui pacarku.” Jawab Changkyun,

“Wah, apa dia sudah tidak sibuk lagi? kalian mau berkencan?” pekik Hana, yang baru kembali bergabung usai menyelesaikan tugas skripsinya.

“Iya. Kalian mau ikut?” tawar Changkyun.

“Umh, tidak usah. Kami tidak ingin mengganggu acara kencanmu dengan pacarmu.” Tolak Mina dengan halus.

“Bukankah kalian kemarin yang merengek minta dikenalkan dengan pacarku? Kenapa sekarang menolak?” tanya Changkyun.

“Tapi bukan saat kau berkencan, Changkyun.” Kata Hyunwoo.

“Tidak apa-apa. Ayo, dia pasti senang bertemu dengan kalian.” ajak Changkyun. Teman-temannya langsung mengangguk setuju meski dalam hati mereka merasa tidak enak karena mengganggu quality time Changkyun dan kekasihnya.

 

oooOooo

 

Teman-teman Changkyun terdiam. Lebih tepatnya terkejut ketika bertemu dengan kekasih Changkyun. Pemuda tampan itu tersenyum sambil meletakkan buket mawar yang ia bawa disampingnya.

“Hai Shinyoung, maaf aku baru sempat kemari. Belakangan ini aku sangat sibuk.” Kata Changkyun sambil mengusap batu nisan bertuliskan “Kim Shinyoung” dengan lembut.

“Oh ya, aku membawa teman-temanku kesini. Katanya mereka mau berkenalan denganmu. Itu Hyunwoo hyung dan pacarnya Hana noona. Katanya mereka akan menikah setelah lulus kuliah. Lalu disebelahnya ada Minhyuk hyung dan Sooyoung noona, lalu yang itu Hyungwon hyungdan Mina noona. Mereka adalah pasangan kekasih yang paling aneh.Kalau yang itu Wonho hyung danAhyoung noona, lalu yang itu Kihyunhyung dan Arin noona, disebelahnya itu Jooheon dan Yoonji, dan yang kecil ini Ahra, adik Kihyun hyung.”

Changkyun menolehkan kepalanya pada teman-temannya yang terlihat masih sangat terkejut. Kihyun dan Hyungwon bahkan nyaris tidak berkedip. “Kenalkan, dia pacarku, Kim Shinyoung. Dia meninggal dua tahun yang lalu.”

Inilah alasan mengapa Changkyun tidak pernah telihat membawa kekasihnya ketika ia dan teman-temannya sedang berlibur bersama. Kekasih Changkyun sudah terbaring di tanah, tertidur dengan damai bersama malaikat-malaikat surga yang bernyanyi untuknya.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Wonho pelan. Changkyun tersenyum sambil terus mengusap foto Shinyoung yang sedikit kotor.

“Kecelakaan. Ia ditabrak mobil sepulang dari festival kembang api musim panas dua tahun lalu. Bodohnya, aku hanya diam ketika mobil sialan itu menabrak tubuh Shinyoung.” Cerita Changkyun. Teman-temannya menahan nafas, mereka sangat tidak percaya kalau Changkyun memiliki memori buruk tentang kekasihnya. Kekasihnya yang meninggal tepat didepan matanya.

Sementara itu, Jooheon terdiam. Ia teringat kejadian dua tahun lalu, dimana sahabat kecilnya meninggal karena kecelakaan usai menonton kembang api.

Sahabatnya itu adalah Kim Shinyoung.

“Jadi kau yang waktu itu menangis sambil memeluk Shinyoung?” tanya Jooheon. Changkyun mengangguk pelan.

“Aku baru teringat, kau juga ada disana saat kejadian itu terjadi. Kau juga menangis saat itu, tapi kau tidak mendekat.” Kata Changkyun.

“Ternyata kita sudah dipertemukan sebelum berteman.” Ucap Jooheon dan Changkyun bersamaan. Lalu mereka tersenyum.

 

oooOooo

 

Shinyoung dan Changkyun baru pulang dari festival kembang api. Keduanya bergandengan tangan sambil sesekali melontarkan candaan satu sama lain. Langit malam yang cerah menjadi saksi bagaimana mesranya sejoli itu.

“Kau lihat pria tadi? Ah, aku kasihan padanya karena pacarnya minta putus di malam yang indah seperti ini.” kata Shinyoung sambil tertawa.

“Ya. Di malam cerah seperti ini malah mendapatkan sesuatu yang pahit.” Imbuh Changkyun. Keduanya tak hentinya tertawa, mengobrolkan banyak hal. Tawa mereka terhenti kala Shinyoung melihat seorang wanita paruh baya yang tengah kerepotan memunguti jeruk-jeruknya yang jatuh bertebaran di jalan.

“Kyun, tunggulah disini sebentar. Aku mau membantu bibi itu dulu.” Shinyoung melepaskan tautan tangannya dengan Jisoo dan menghampiri wanita tadi.

“Bibi, mari saya bantu mengumpulkan jeruknya.” Tawar Shinyoung. Tangannya mengambil jeruk-jeruk itu dengan cekatan. Setelah semuanya terkumpul, ia memasukkan semua jeruk tadi ke dalam keranjang.

“Terima kasih, nak. Kau baik sekali.” Ucap wanita itu.

“Sama-sama, bibi. Lain kali hati-hatilah.” Kata Changkyun. Wanita itu mengangguk dan berlalu setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Shinyoung. Dari kejauhan, Changkyun tersenyum melihat kebaikan hati kekasihnya.

Senyum itu tak berlangsung lama ketika Shinyoung berlari kearah Changkyun tanpa melihat kanan-kiri terlebih dahulu. Dari arah selatan, sebuah mobil melaju kencang ke arah gadis cantik tersebut. Manik Changkyun melebar, tapi kakinya seperti tidak bisa digerakkan.

“Shinyoung awas!!!”

BRAKK!

Setelahnya, semua seperti adegan slow motion bagi Changkyun. Maniknya sama sekali tak berkedip ketika tubuh Shinyoung terpental jauh dan terhempas dengan keras ke aspal. Aroma anyir darah tercium dengan kuat.

“Tidak! Kim Shinyoung!”

Changkyun berlari sekuat tenaga, meraih tubuh lemah kekasihnya yang bersimbah darah. Shinyoung mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Shinyoung meraih tangan Changkyun dan menggenggam erat.

“Ja..ngan menangis… K..Kyun….” ucap Shinyoung lirih.

“Bertahanlah, sayang. Sebentar lagi ambulans datang.”kataChangkyun mencoba menguatkan Shinyoung. Kekasihnya itu malah tersenyum.

“Ma..af… aku… tidak… bisa… me..nemanimu.. lagi…” Shinyoung berusaha berbicara dengan sisa tenaga dan nafas yang ia miliki.

“Jangan berkata seperti itu, Junghanie. Kau pasti selamat. Kau harus selamat.” Kata Changkyun diantara airmatanya yang berjatuhan.

“I… love… you… Kyun…”

Genggaman tangan Shinyoung terlepas dari Changkyun, bersamaan dengan hembusan nafas terakhirnya. Changkyun berteriak miris memanggilShinyoung. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera memanggil ambulans walaupun mereka tahu, semuanya sudah sangat terlambat. Shinyoung telah pergi tiga menit yang lalu.

 

oooOooo

 

Changkyun menyandarkan tubuhnya pada pintu apartemennya. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka sebuah file rekaman lalu menempelkan di telinga kanannya.

“Kyun, kau sudah makan?”

“Sudah. Tadi aku langsung makan dengan teman-teman setelah mengunjungimu.” Changkyun menyahut pelan.

“Jangan lupa istirahat, tidur yang teratur dan jangan terlalu memforsir diri.”

Rekaman suara Shinyoung terus mengalun lembut ditelinga Changkyun, membawa pemuda itu kembali pada memori yang menyakitkan. Nafas Changkyun berderu cepat, airmatanya menyeruak keluar, mengalir ke pipinya tanpa permisi.

“Cukup, Shinyoung. Aku tidak sanggup lagi…. Aku tidak bisa menahan semua ini lagi…” ucap Changkyun lirih. Memori manis tentang Shinyoung itu seperti teror diotaknya, menjelma menjadi mimpi buruk berkepanjangan yang tak pernah usai. Changkyun tahu, ia belum bisa melepas kepergian Shinyoung.

 

oooOooo

 

“Hah? Merekam suaraku?”

Shinyoung mengernyit bingung. Changkyun mengangguk sambil tersenyum lebar, sebuah senyum yang sangat jarang diperlihatkan oleh pemuda tampan itu pada siapapun kecuali kekasihnya.

“Iya. Mau, ya?”

“Untuk apa, Kyun?”

“Iseng saja. aku ingin mendengar suaramu setiap saat. Jadi aku ingin merekam suaramu, Shinyoung.” Kata Changkyun. Kerutan di kening Shinyoung semakin kentara. Permintaan Changkyun kali ini benar-benar aneh menurutnya.

“Tidak ah! Aku malu!” tolak Shinyoung.

“Ayolah, Shinyoung. Mau ya, sayang?” rayu Changkyun. Shinyoung menggigit bibir. Senyum Changkyun selalu berhasil meluluhnyannya.

“Hh… baiklah. Tapi hanya untukmu saja, jangan disebar luaskan. Awas kalau sampai aku tahu.” Kata Shinyoung. Changkyun mengangguk. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi perekam suara.

“Apa yang harus aku katakan?” tanya Shinyoung.

“Apapun.” Changkyun menekan tombol merah, tanda perekam suara mulai bekerja. Shinyoung terdiam sebentar, mengambil nafas untuk mengatur degup jantungnya.

“Kyun, apa kau sudah makan?”

Begitulah hingga rekaman yang diminta Changkyun berakhir di menit ke 10. Pemuda itu meminta sang kekasih untuk mengatakan hal berbeda disetiap rekamannya hingga menghasilkan 10 buah rekaman suara. Changkyun tersenyum puas dengan hasil rekaman tersebut.

 

oooOooo

 

Hari ini Changkyun jalan-jalan sendirian. Sedikit aneh karena biasanya ia ditemani oleh teman-temannya. Namun hari ini Changkyun ingin sendiri, menikmati setiap detik dan semilir angin yang berhembus menerpa wajah tampannya. Earphone yang terpasang ditelinganya sedang melantunkan lagu-lagu bermelodi lembut.

Tiba di persimpangan Namdaemun, Changkyun berhenti sebentar. Maniknya menelisik setiap sudut daerah itu dengan tatapan sendu. Disinilah mimpi buruknya berawal, mimpi buruk yang selalu menghantui sepanjang hidupnya. Di tempat inilah takdir dengan kejam merampas orang yang paling ia cintai, satu-satunya cinta dalam hidup Changkyun.

Setetes airmata Changkyun jatuh kala mengingat memori itu. ia mengembuskan nafasnya pelan, melepas sesak yang membekap dadanya selama ini.

Aku merindukanmu, Shinyoung…

Changkyun tidak menyadari ada mobil yang melaju kearahnya. Pemuda itu terlalu fokus pada kenangan yang mendadak melintas seperti roll film yang berputar cepat di otaknya.

BRAKK!

Dan semuanya berlangsung cepat. Changkyun terpental dan terhempas keras ke aspal. Ponselnya terlindas mobil yang menabraknya. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu memekik kaget, berteriak meminta seseorang untuk memanggil ambulans.

Changkyun merasa sesuatu keluar perlahan dari tubuhnya, senyumnya terkembang manis.

Shinyoung, aku datang….

 

oooOooo

 

Sekelompok remaja menatap kosong gundukan tanah yang masih basah itu. Masih berusaha untuk tidak mempercayai semuanya, meski kenyataan yang ada sudah didepan mata mereka.

“Tempat yang sama…” kata Wonho.

“Persimpangan yang sama…” kata Jooheon.

“Mobil yang sama…” kata Kihyun.

“Supir yang sama…” kata Minhyuk

“Cara meninggal yang sama…” kata Hyungwon.

“Luka dikepala yang sama…” kata Hyunwoo

“Bahkan makam mereka pun bersebelahan…” ucap keenam pemuda itu bersamaan. Lalu mengukir tersenyum, miris sekaligus sedih. Changkyun adalah anak yang manis dan menyenangkan, mereka mengenal pemuda tampan itu dengan baik.

“Mereka memang berjodoh, ya…” ujar Wonho

“Cinta memang luar biasa. Sejak awal mereka sudah ditakdirkan untuk bersama…” ujar Hyunwoo.

 

oooOooo

 

“Kau tahu apa yang paling aku takutkan di dunia ini, Shinyoung?”

“Apa itu, Kyun?”

“Aku takut kehilanganmu untuk yang kedua kalinya.”

Shinyoung tersenyum manis, ia mengeratkan tautan tangannya pada Changkyun. Keduanya berjalan bersisian menyusuri sebuah taman yang indah.

“Tapi sekarang kau tak perlu takut lagi, Changkyun. Tuhan telah mempertemukan kita lagi di tempat yang lebih indah.” Kata Shinyoung.

“Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan terus bersamamu selamanya? Sekarang kau percaya, kan?” kata Changkyun

“Ya. Terima kasih untuk semuanya.” Ucap Shinyoung

“Sekarang kita tinggal menyaksikan kebahagiaan teman-teman kita di dunia.”

Keduanya tersenyum. Kebahagiaan sejati telah mereka dapatkan. Kini tak ada lagi yang harus memendam rindu akibat jarak yang terbentang luas diantara mereka. Changkyun dan Shinyoung sudah mendapatkan semua itu.

.

.

.

.

Fin

Advertisements

Author: MonstaX-FanfictionIndo

HEY READERS MANIA!!! Kami menyuguhkan Fanfiction dengan main cast 'All Member of MONSTA X' So Let's join with us!!

4 thoughts on “[MONSTA X FF FREELANCE] The Only One (Oneshot)”

  1. baca FF ini pas hujan jam 11 malam. njjir. nyesek. dr awal nebak jangan2 Shinyoung udah mati. & ternyata saya benar. hehe. bagus thor. ‘present’ diselingi ‘past’ nya keren bgt feelnya dapet. nyesek pas bagian changkyun ngenalin ‘makam kekasih’nya ke teman satu geng dg ekspresi bahagia tp kalo dibayangkan sendu + ngilu. mereka bertemu di kehidupan kedua adalah ending yg antara sedih ama bahagia.

    Like

  2. HAYY KU NADA/MINS (98) NAIS TU MITYU YAAAAAA
    BAYDEWAAY WKWKKW AKU INI LHOO BAPER MAX SAMA CERITAMU YAWLAA SUMPAAAHHH
    sebenrnya aku uda nebak sih kalo si cewe ini nggak ada. uda jadi arwah canti gitu. TAPI
    TAPI
    TAPI
    TAPI
    aku nggak nyangka kalo cerita setelahnya bakalan kek gituu.. kalo ternyata dia ngerekam suara si cewe aduuhh aku rapuh
    pas cerita ending ya changkyun kecelakaan jugaaaa, maaaf tapi aku ngmong kasar! kok tega sih kamuuuu :”””
    aku mbrabak sumpaahh sedihhh :”((
    harusnya dia bisa bahagiaaa du aku nggak tega T.T
    seriously ini dapet banget ceritanyaa feelnya nyampeee huhuhuhuhu
    SEMANGAT TERUS NULISNYA YAAAAA ❤

    Like

    1. Hai nada…. makasih udah baca dan review ceritaku ^^
      sebenernya sih ini ide dadakan dari salah satu temen dan aku tinggal nuangin ke bentuk ceritanya.
      Maapkeun kalo ini bikin kamu sedih /halah :D,, soalny aku nggak terlalu pinter bikin cerita yang happily ever after kek di dongeng-dongeng gitu. malah aku bisanya nistain castnya wakakaka
      Sekali lagi makasih ya cantiks buat review-mu ^^

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s