[Oneshot] BOHONG

BOHONG

A story by mintulli

Lee Jooheon (MONSTA X)  Shin Naline (OC)

Shin Hoseok- Wonho (MONSTA X)

Im Changkyun (MONSTA X)

AU, Teen, Fluff, Slice of life

General | Oneshoot

 

“Naline! sambil menunggu hujan, bagaimana jika kita bermain saja?”

 

 

 

Jooheon pergi ke rumah Wonho hari ini. Bukan karena inisiatifnya sendiri seperti yang biasa ia lakukan, tapi karena ini memang permintaan Wonho –teman baik sekaligus kakak kandung Naline.  Ini memang ada sangkut pautnya dengan gadis berdarah Jerman-Korea itu. Entah mengapa Wonho semakin resah dengan tingkah adiknya yang aneh. Segala daya dan upaya dia lakukan untuk sang adik, tapi tak berpengaruh apapun, begitu juga sang kakak perempuan -Sekyung. Naline tetap seperti itu, seperti orang yang sudah gila. Lalu Wonho merasa mungkin hanya Jooheon yang bisa menaklukan Naline. Jalan terakhir untuk kebaikan Naline.

 

Pria dengan lesung pipi itu tiba di rumah Wonho lebih cepat dari perkiraan. Bagaimana tidak? Wonho tak pernah menelpon Jooheon dengan diawali pesan singkat

                Angkat telepon ku sekarang.

Lalu begitu Jooheon mengangkat telepon, Wonho bertanya

 

“Kau sayang adikku tidak?”

 

“Eum. Tentu saja.”

 

“Kalau begitu datang ke rumah ku sekarang.”

 

“Memangnya kenapa?”

“Datang saja, demi Naline.”

 

Jooheon bukan lah tipikal pria yang banyak berpikir. Begitu mendengar kata ‘demi Naline’ yang hanya ada di pikirannya adalah dia harus segera pergi kesana, untuk Naline. Jooheon langsung saja masuk ke ruang tamu tanpa mengetuk pintu. Ia sungguh tak tenang, bahkan tangannya basah karena takut hal yang buruk terjadi. Wonho yang mengetahui kedatangan Jooheon pun segera keluar menemui Jooheon.

 

“Ada apa hyung?

 

“Adikku gila.”

 

Huh?”

 

“Naline sudah gila dan kurasa kau yang bisa menyembuhkannya.”

 

Jooheon mengerutkan keningnya. Ia yakin gila yang dimaksud bukan sesuatu yang secara harfiah orang paham mengenai kata ‘gila’. Jooheon merasa ada yang salah.

 

“Gila yang bagaimana?”

 

Wonho segera menarik tangan Jooheon dan membawanya ke lantai dua, tempat dimana kamar Naline berada.

 

“Kau lihat sendiri saja.” Ujar kakak Naline sembari membukakan kamar Naline untuk Jooheon. Wonho mengarahkan kepalanya, memberi tanda agar Jooheon masuk dan melihat sendiri bagaimana keadaan Naline.

 

Sungguh-luar-biasa-gila.

 

Kamar Naline tak berwujud kamar. Tempat itu lebih pantas disebut kandang buku atau semacam gudang tua?

Ada banyak buku berserakan dimana-mana. Bahkan sepertinya, buku bergenre apapun ada disana –saking banyaknya. Tebal maupun tipis semua tergeletak. Bayangkan saja sendiri bagaimana buku-buku itu tergeletak diatas tempat tidur, di lantai, meja belajarnya, meja rias, bahkan buruknya ada beberapa kertas-kertas yang digumpal ataupun yang dalam keadaan baik ada di setiap sudut ruangan. Menambah kesan rusuh kamar Naline.

Sedangkan bagaimana keadaan Naline?

Duduk diatas tempat tidur dengan laptop menyala di depannya. Bukan itu yang masalah sebenarnya. Tapi keadaan Naline yang sesungguhnya.

Muka lesu, kumal, rambut berantakan seperti singa –bahkan seperti tak disisir berhari-hari, parahnya dari radius tiga meter, Jooheon bisa melihat sehitam apa kantung mata Naline. Sungguh representasi gadis yang sudah gila.

 

Jooheon bergidik sembari menggeleng kan kepalanya. Agak terkejut melihat Naline ‘yang sebenarnya’.

 

“Kau beruntung melihat Naline seperti itu. Pikir ulang jika kau memang menyukai adikku.”

“Berapa lama dia seperti ini?”

 

“Tiga hari tanpa keluar kamar.”

 

“Tanpa keluar kamar??”

 

Suara Jooheon rupanya menyadarkan Naline akan kedatangan kedua orang itu. Sejenak ia alihkan pandangannya dari laptop, dan Jooheon hampir saja menjerit sebab tatapan Naline mengerikan sekali.

 

“Siapa yang suruh masuk ke kamarku?” Naline memecah keheningan selama tiga puluh detik. Suaranya datar, persis seperti orang yang dikucilkan lantas berbicara untuk yang pertama kalinya. Tak ada tenaga, dan sangat malas.

 

“Ada yang ingin bertemu dengan mu.” Wonho mendorong sedikit badan Jooheon . Pemuda Lee  itu berusaha tersenyum ramah, tapi tak digubris sedikitpun oleh Naline.

 

 

Wonho berlalu setelah mengucapkan kata itu. Sebuah beban yang amat… memberatkan hati Jooheon tentu saja. Ia tak pernah tahu jika Naline bisa berubah menjadi sosok yang cukup menakutkan seperti ini, lalu Wonho memintanya agar dia menyembuhkan Naline. Ada dua pertimbangan yang sedikit membuat Jooheon ragu.

Pertama, dia takut tak berhasil sebab mungkin saja dengan kondisi seperti itu Naline berubah menjadi gadis yang ganas. Mungkin meneriaki Jooheon atau memukulnya?

Kedua, dia takut tak berhasil sebab mungkin saja Naline tak akan menganggap Jooheon sedang berada dikamarnya. Katakan saja, kedatangan Jooheon sia-sia.

 

Tapi alam bawah sadar Jooheon lalu mengingatkan bahwa ini untuk Naline. Jadi Jooheon mencoba berjalan mendekati Naline. Perasaan kalutnya lantas mendadak hilang begitu secara dekat ia melihat keadaan Naline yang berantakan dengan rambut acak-acakannya. Sungguh mengundang tawa.

 

“Hey! Apa yang kau lakukan?”

 

“Mengerjakan tugas.” Naline masih fokus pada laptopnya. Sedetik pun dia tak mengalihkan sorot matanya dari sana. Bahkan jari-jarinya masih menekan tuts keyboard dengan kecepatan stabil.

 

Jooheon memandangi Naline sebentar. Melihat wajah Naline yang sekarang, rupanya mengingatkan Jooheon beberapa waktu silam dimana itu adalah hari ulang tahun Jooheon. Ia begitu menyukai ekspresi ceria Naline yang ditujukan untuknya, tak hanya hari itu. Bahkan setiap mereka bertemu, Jooheon selalu suka dengan senyuman Naline, candaan nya juga tawa kecilnya yang sengaja maupun tidak, selalu membuat mood Jooheon meningkat.

Lantas sekarang ia bertemu dengan kondisi Naline yang… ya Tuhan sebenarnya lucu saja melihat Naline seperti itu. Tapi secara bersamaan, Jooheon jadi sedih. Wajah Naline menjadi sangat serius, tak ada senyum sapaan untuknya, bahkan alisnya mengerut seperti akan menyambung. Bukan Naline yang Jooheon kenal, berbeda sekali. Lantas, Jooheon tak suka itu.

 

“Berhentilah sebentar.”

 

Jooheon menarik lengan Naline, memaksanya berhenti. Tapi Naline memberontak, ia tarik tangannya dan kembali mengetik .

“Ku bilang berhenti sebentar, Naline.”

 

“Tak bisa.”

 

“Sebentar saja, eumh?”

 

“Ada apa sih?” Naline akhirnya berhenti. Lalu mengalihkan atensinya pada Jooheon.

 

“Ayo ku ajak keluar.”

 

“Kemana?”

 

“Kemana saja, jalan-jalan”

 

“Hari ini aku deadline, Jooheon.” Naline kembali bermain dengan tuts-tuts di keyboarnya dan melanjutkan menulis sesuatu disana.

 

Pemuda itu lalu mendekatkan badannya pada Naline. Mencoba mencium aroma Naline pagi ini. Sama seperti aroma orang bangun tidur, hanya saja…

 

“Jangan katakan kau belum mandi selama tiga hari.”

 

“Dua hari, kok.

 

“Astaga, Naline! Cepat bersihkan dirimu!” Jooheon kembali menarik lengan Naline. Memaksanya untuk berdiri dari sana.

 

“Nanti dulu, Jooheon!”  Pemuda Lee itu tak memedulikan bagaimana Naline merengek atau sedikit membentaknya. Ia terus paksa Naline untuk berhenti mengerjakan tugas dan segera pergi ke kamar mandi. Oh! bahkan dia berhasil mengambil laptop Naline dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Anggaplah sebagai sebuah jaminan, agar Naline mau menuruti perkataannya. Sampai akhirnya ia mendorong badan Naline untuk segera masuk ke kamar mandi.

 

“Ish! Jooheon!” rengek Naline dengan sedikit usaha untuk mengambil paksa laptopnya. Benda yang paling berharga untuk saat ini.

 

“Mandi dulu baru aku akan memberikannya padamu.”

 

Naline mendengus kesal di depan wajah Jooheon, lantas Jooheon hanya tersenyum sinis seakan-akan ia menang.

 

“Baiklah, tapi kau harus keluar kamarku!”

 

“Aku tidak akan mengintip.”

 

“Yasudah, aku tidak mandi.”

 

“Aku harus memastikan kau benar-benar masuk ke dalam, Naline.”

 

Gadis itu berkicau sendiri. Cukup kesal dengan sikap Jooheon yang bisa dibilang lebih berani daripada sang kakak. Sungguh, Wonho sama sekali tak berani menyuruh adiknya untuk berpindah dari tempat tidur ke kamar mandi jika sudah dalam keadaan seperti itu. Meminta bantuan Jooheon rupanya tak buruk juga.

 

Pria dengan mata sipit dan lesung pipi yang menggemaskan itu sedikit menarik sudut bibirnya kecil. Memang benar tak ada satupun yang bisa membuat mood nya baik jika bukan seorang Shin Naline.  Bahkan dalam keadaan Naline dilanda stress karena deadline pun bisa menaikkan kadar mood nya meski hanya satu persen. Hebat.

Jooheon lalu membersihkan kamar Naline sembari menunggu. Ia ambil sampah-sampah kertas yang berserakan, menata bukunya di rak yang ada, merapikan tempat tidur, oh dia lebih baik mengurus Naline daripada kakak kandungnya.

 

 

Setelah Naline selesai membersihkan diri ditambah rasa terkejutnya sebab kamarnya menjadi terlalu rapi, juga Wonho yang tiba-tiba menghilang dan hanya menuliskan ‘titip adikku’  di sebuah kertas kecil di lemari es dapur, Jooheon memutuskan untuk mengajak adik temannya itu makan diluar. Bayangkan bagaimana perut Naline meronta sebab sejak semalaman dia belum makan dan sekarang hampir memasuki tengah hari.

 

“Kau ingin makan apa?”

 

“Apa saja yang penting kenyang.”

 

Jooheon menimbang-nimbang. Lantas dengan cepat memutuskan untuk makan ditempat favoritnya sejak kecil.

 

“Ku jamin kau pasti suka. Makanannya sungguh enak.”

 

“Terserahlah, yang penting aku kenyang.”

 

 

Begitu sampai, mereka segera memesan makanan dan menyantapnya dengan lahap. Keduanya bahkan terlihat seperti adu makan. Jooheon karena memang suka dengan masakannya, dengan Naline yang kelaparan dan bahagia karena bisa makan dengan sangat kenyang.

 

“Kau senang disini?”

 

“Dimanapun jika makanannya enak, pasti aku suka.”

 

Jooheon terkikik. Ia tak menyangka Naline punya selera makan yang bisa dibilang sebanding dengannya. Naline memang gadis yang penuh dengan kejutan.

Sungguh hal ini menarik atensi dari para pengunjung yang lain. Baik Naline maupun Jooheon begitu fokus dengan hidangan mereka sampai tak memedulikan tanggapan orang-orang yang melihat mereka.

 

 

 

 

Setelah puas, mereka hendak akan pergi, sebelum akhirnya Naline melihat dari jendela bahwa diluar sedang turun hujan. Cukup deras dan berangin memang, jadi kecil kemungkinan bagi mereka untuk nekat menembus hujan.

 

“Yahh.. hujan.”

 

“Baguslah, berarti kita bisa menunggu disini.”

 

“Tau seperti itu aku tadi membawa payung saja.” Gumam Naline. Entah apa yang membuat otaknya dengan cepat kembali memikirkan masalah tugas yang menumpuk sehabis ia makan dengan kenyang.  Jooheon kembali menarik sudut bibirnya. Ada perasaan senang bisa bersama Naline dalam waktu yang cukup lama.

 

“Naline! sambil menunggu hujan, bagaimana jika kita bermain saja?”

 

“Bermain apa?”

 

“Aku beri kau dua pilihan, dan kau harus memilih salah satu dengan jujur!”

 

“Oke, aku siap. Apa?”

 

Jooheon diam sejenak berpikir.

 

“Song Jong Ki atau kakakmu?”

 

“Wonho oppa!”

 

“Bohong!”

 

“Tentu saja aku memilih kakakku! Asal kau tahu, dia lebih tampan dari pada aktor itu.”

 

“hey! Bagaimana mungkin!? Semua gadis selalu suka dengan ketampanan Song Joong Ki.”

 

“Tapi kakaku memang lebih tampan darinya. Bahkan banyak gadis yang selalu datang ke rumahku untuk bertemu kakakku.”

 

Jooheon meringis. Dia tahu sekarang jika Wonho punya banyak gadis yang mengejarnya sampai ke rumah.

 

“Baiklah. Kali ini kau harus menjawabnya cepat… Song Joong Ki atau aku?”

 

“Tentu saja Song Joong Ki.”

 

“Bohong!”

 

“Semua gadis selalu mengakui ketampanannya ‘kan?”

 

Skak mat!

Jooheon kembali memikirkan opsi yang lain.

 

“Tau seperti itu aku tak mengajakmu makan enak disini.” Naline melebarkan senyumnya. Sedikit menggoda seolah-olah ‘kau sendiri tadi yang bilang begitu’.

 

 

“Changkyun atau aku?”

 

“Changkyun!”

 

“Changkyun? Kau lebih memilih Changkyun?”

 

“Memangnya kenapa? Dia tampan, baik, romantis.”

 

“Bohong!”

 

“Aku mana pernah berbohong Jooheon?! Dia memang pantas ku pilih.”

 

“Maksudmu aku tidak tampan, baik dan romantis?”

 

“Aku tidak mengatakan begitu, kau tahu.”  Naline sungguh tak bisa kalah dari Jooheon. Lihatlah bagaimana cara gadis dengan maniknya yang besar itu selalu tak mau disalahkan.

 

“Jadi kau lebih menyukai Changkyun daripada aku?”

 

Naline mengangguk cepat.

 

“Bohong!”

 

“Aku tidak berbohong, aku serius.”

 

“Lalu, kenapa tidak makan saja dengannya?”

 

“Kan kau yang mengajakku makan sekarang.”

 

“Jika aku dan Changkyun menyatakan perasaanku padamu maka kau akan memilih Changkyun begitu?”

 

Naline diam sejenak. Menggaruk kepalanya sambil mencoba menata kalimat yang pas untuk diutarakan pada Jooheon.

 

“Entahlah.. aku juga tidak tahu. Tapi… bukankah aku harus memilih yang terbaik?”

 

Jooheon terdiam. Maniknya lurus menatap Naline, menelisik dengan jeli setiap gaya bicaranya. Ia rasa ia harus mencari celah bahwa Naline memang berbohong.

 

“Memang Changkyun sudah melakukan apa untukmu?”

 

“Mmm.. coba kupikirkan. Dia menyemangatiku setiap hari, membelikanku susu rasa melon, mengajakku makan siang di luar, ah! bahkan dia mengucapkanku selamat malam setiap hari, bukankah itu sangat… romantis?”

 

Jooheon tersenyum meremehkan. Ia adalah teman baik Changkyun, dan tentu saja ia tahu apa saja yang sedang dilakukan Changkyun sekalipun jika Changkyun dekat dengan seorang gadis. Lantas sepanjang sejarah ia berteman, Changkyun memang tampan dan baik kepada siapapun. Tapi ia masih belum menemukan tambatan hatinya dan… mana mungkin dia mendahului langkah Jooheon?

 

Jooheon sendiri sebenarnya tahu bahwa hanya dia yang sedang dekat dengan adik Wonho itu, atau anggap saja dia tak ada saingan yang harus ditakuti. Tapi ia sengaja membawa nama Changkyun karena temannya itu juga bertingkah sangat baik ketika bertemu untuk pertama kalinya dengan Naline. Lalu mendengar penjelasan Naline tadi, sungguh sebenarnya Naline hanya mengada-ada saja. Sedikit membuat drama dalam otaknya.

 

“Berhentilah berkata omong kosong atau akan kucium bibirmu agar kau diam?”

 

Naline tersentak. Ya, dia memang diam seketika. Tapi sorot matanya berubah tajam.

 

“Aku tahu kau berbohong! Mana mungkin Changkyun melakukan itu?”

 

“Sudah kubilang aku tidak…”

Jooheon mendekatkan wajah nya pada telinga Naline sembari berbisik.

 

“Aku tidak main-main dengan ucapanku Naline.”

 

“Hey! Kau pikir aku…”

 

“Kuperingatkan kau sekali lagi untuk berhenti omong kosong, karena aku sudah membaca buku harianmu di meja belajar dengan kau berandai-andai agar aku melakukan itu semua padamu. Aku bisa pastikan kau menulis namaku dengan jelas disana.”

 

Naline membeku. Matanya seakan-akan keluar dari tempatnya, sama sekali dia tak bergerak atau berkedip. Bagaimana bisa Jooheon membaca itu?

 

Pemuda Lee itu kembali duduk di posisi awalnya, lantas mengerlingkan sebelah matanya untuk Naline.

 

Ini sungguh menggelikkan Jooheon sebenarnya. Tapi, kapan lagi bisa menggoda Naline?

 

 

 

 

-fin-

aduuuu ini receh hasilnya ah syusaah wkwkwk sebelumnya aku mau berterimakasih pada kak ashry  untuk prompt nya yang luar biasa gila wkwkwkwk >< dan maafkan kalo eksekuis nya lama dan receh sekali. AHAHAHHAAH kapankpana kasi aku prompt lagi ya kaaakk, kalo nggak ada prompt luar biasa gila ituu pasti momen Jooheon-Naline ini belom terlahir T_T ehehehehheeh makasi banyak mwaaahhh :**

oh ya untuk THE CLAN, masi dalam tahap observasi ya /? masi mau berpikir keras untuk jalan ceritanya dan pengusahaan nyambung di comeback yang baru ini. kemungkinan juga sih ku bakal bikin cerita berdasar theory imajinasi, bukan dari theory asli tapi mencoba cari tahu dari para pengamat yang bisa buat theory yang sekiranya bisa lah buat referensi bikin fic nya hehehe. ditunggu aja yaa, ku pasti berusaha untuk menyelesaikannya kok MWAHHHH :***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: mintulmint

perempuan, lucu, dan baik :) have a big eyes, big smile, and big laugh! and also full of surprised!

4 thoughts on “[Oneshot] BOHONG”

  1. Yasalammmm…… Gak nyangka bisa se melted ini baca ff juhon.. Habis kalo liat mukanya bawaannya pengen nyakar mulu kalo lagi kumat wkwk ehhhh baca sisi cheesynya gini jadi pengen nyium wkwkwkwk naline kudu ati2 lain kali bhakkkk… Cuteeeeeeeee aslii

    Like

  2. AAAHHHH YA AMPUNNN SO SWEET BANGET..
    DAN BUKU DIARY TENTANG JUHON ITU KAN EMANG ADA YAA?? WKWK 😂😂😂 KAMU GAK APA KAN HABIS DI WINK E MATA SIPITNYA JUHON YANG MENGGODA ITU YA AMPUNNN 😂😂😂
    TRUS SEMANGAT YA NULIS NALINE JUHONNYAA.. AKU SUKA 😳😳

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s