THE CLAN Pt.1 LOST (C ver)

THE CLAN

Pt. 1 LOST (C ver)

 

A story by mintulli

Hyungwon, Minhyuk, Shownu, Jooheon, Wonho, Changkyun (MONSTA X)

Evelyn (OC)

AU, Fantasy, Slice of life, Friendship, Family

Ficlet| General

[another story inspired from All In music video]

 

 

 

Baginya, mati dalam ketenangan jauh lebih membahagiakan daripada hidup dalam kesengsaraan

 

 

 

Sejak masih belia, Evelyn hidup sebagai seorang gadis yang tidak normal. Bukan dalam artian fisik, melainkan batin dan kehidupannya. Evelyn tidak tahu menahu perihal kematian ibunya. Ia pikir itu terjadi secara alamiah dan tentulah membuat luka di hati gadis yang kira-kira berumur lima tahun pada watu itu. Evelyn tahu, ketika ia lahir dan membuka matanya di dunia, ia belum pernah merasakan kasih sayang ibunya. Benar jika ia dirawat oleh seorang wanita, tapi itu bukanlah ibunya. Singkatnya, ibu Evelyn meninggal saat melahirkan gadis cantik ini. Merelakan nyawanya untuk ditukar dengan Evelyn agar bisa merasakan nikmatnya dunia seperti ibunya dulu.

Semua tentu terpukul, termasuk ayah Evelyn. Tapi sesuatu yang lebih menyakitkan menimpa dirinya. Setiap Evelyn menanyakan bagaimana ibunya bisa ibunya meninggal? Atau setiap Evelyn mengatakan mungkinkah ibu kembali? kepada ayahnya, Evelyn akan mendapatkan sesuatu yang sungguh bagi anak kecil seusia Evelyn tidaklah pantas mendapat perlakuan seperti itu. Evelyn disiksa habis-habisan, dipukul dengan benda berat, bahkan diumpati dengan segala macam perkataan kotor dari seorang ayah kepada anak kandungnya.

Anggap sajalah sejak saat itu ayah Evelyn yang begitu mencintai ibu Evelyn setengah mati, lebih memilih menyiksa putri kandungnya atas kenyataan bahwa istrinya sudah tiada. Menganggap bahwa kematian sang istri bukanlah takdir Tuhan, tapi sebab bayi yang terlahir telah merebut paksa nyawa sang ibu. Tidak masuk akal? Diluar batas nalar? Ya memang. Begitulah sikap ayah Evelyn yang keras. Yang menginginkan anak keduanya haruslah seorang putra dan percaya bahwa memiliki seorang gadis dalam keluarga adalah aib dan membawa malapetaka nantinya. Bahkan dia juga berharap jika itu adalah anak laki-laki, nantinya ia akan mendidik putranya dan melanjutkan seperti apa yang ia lakukan untuk mengabdi pada Klan, tidak seperti anak sulungnya.

Jadi disinilah Evelyn sekarang. Dikurung di kamar yang tidak terlalu luas selama lima belas tahun disisa hidupnya. Alasannya mudah saja. Seperti yang sudah disebutkan diawal, bahwa ayah Evelyn menganggap putrinya sebagai sesuatu yang mendatangkan malapetaka. Lantas ia tak ingin banyak orang mengetahui keberadaan anaknya. Evelyn tentulah harus menanganggung beban batin yang mendalam. Diasingkan di rumahnya sendiri, bahkan ayahnya hampir tidak pernah mengajak putrinya itu untuk berbicara. Evelyn bagaikan gambaran seorang anak durhaka yang harus menerima hukuman atas apa yang sudah diperbuatnya dengan kenyataan yang sesungguhnya bahwa dia tak pernah menyakiti siapapun.

Tapi Tuhan masih menyayangi gadis dengan kulit pucat dan surai berwarna coklat gelap ini. Beruntunglah ia mempunyai kakak seperti Hyungwon yang membenci peraturan rumah dan selalu mengabaikan apa saja yang dikatakan sang ayah. Sedikitpun ia tak memedulikan ucapan sang ayah yang selalu melarangnya bertemu sang adik, mendekat di kamarnya saja tidak boleh. Hyungwon pun tertekan dengan tingkah polah ayah kandungnya yang memperlakukan Evelyn sama seperti binatang. Lantas ia bertahan, ia berusaha sekuat tenaga untuk selalu ada di dekat sang adik. Paling tidak untuk sekedar mengantarkan makanan enak dan memeluknya, meski itu larangan keras dari sang ayah.

 

“Bagaimana jika ayah tau, kak?”

 

“Ayah tidak akan tahu.” ujar Hyungwon ketika suatu hari Hyungwon tak tahan melihat sang adik yang semakin kurus bukan karena makanan, tapi karena psikis nya yang semakin buruk. Ia lalu mengajak sang adik untuk keluar dari kurungannya dan menikmati seindah apa rumah sederhana mereka.

 

“Ayah sedang tidak ada di rumah. Kau bisa berjalan-jalan sebentar di dalam. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” Hyungwon melempar senyumnya pada Evelyn yang tentu saja ia merasa senang.

 

“Aku pergi sebentar ya?” pamit Hyungwon begitu hatinya merasa tenang dengan gelagat Evelyn yang mulai terbiasa dengan lingkungan rumahnya.

 

“Kemana kak?”

 

“Bertemu dengan teman-teman. Kau disini saja. Jika ayah pulang, segeralah kembali ke kamarmu.”

 

“Apa akan sangat lama?”

 

Hyungwon menggeleng lemah lalu memeluk adiknya sebentar.

 

“Cepat pulang ya?” Kepala mungil pemuda Chae itu mengangguk sembari mengelus pelan rambut sang adik dengan sayang.

 

“Aku janji akan membawakanmu sesuatu jika aku pulang.”

 

Hyungwon lalu menghilang dibalik pintu begitu melihat Evelyn melambaikan tangannya. Tanda jika ia mengizinkan kakaknya pergi meningglakan sendirian dirumah. Hyungwon pun sebenarnya enggan pergi. Dibanding bertemu dengan teman, tentulah ia lebih memilih untuk bercengkrama dengan adiknya. Tapi ini demi pedesaannya. Demi Klan nya yang sudah dimasuki oleh kaum-kaum asing. Askar-askar perusak yang entah sejak kapan seenakanya merubah peraturan awal di daerahnya.

 

Shownu dan Jooheon memintanya untuk membantu beberapa sesepuh desa yang dengan sengaja diperlakukan secara tidak sopan pada Askar berbaju hitam lengkap dengan pistolnya. Mereka semena-mena merampas barang dagangan para sesepuh lalu menodongkan pistol tepat dikepala mereka. Jika Hyungwon, Shownu , dan Jooheon tidak cepat sedikit saja, mungkin sudah terjadi penembakan beruntun disana tanpa alasan jelas.

Berbeda dengan Shownu dan  Jooheon yang langsung melawan dengan celotehan ringan yang menyinggung, Hyungwon lebih memilih diam dan mengusir para Askar dengan cara yang cerdas. Ia letakkan bunga Delphinium berwaran biru tepat di saku seragam askar-askar itu sembari melempar senyum merendahkan ala Chae Hyungwon. Siapa yang tak mengenal bunga itu? Bunga Delphinium yang diyakini sebagai sebuah toxic untuk mereka yang lemah. Juga sebagai racun pembunuh yang paling mujarab untuk mereka yang diharapkan mati.

Sederhana saja. Hyungwon menginginkan agar para Askar itu berhenti, atau mereka akan mati dengan racun dari bunga itu. Ia tahu para Askar pasti bisa membaca maksudnya jika mereka memang tidak bodoh. Jadi begitulah askar-askar berseragam hitam itu meninggalkan tempat dengan suasana hati yang geram karena sakit hati dan kalah langkah dengan ketiga pemuda tadi. Penyelamatan yang heroik dengan cara sederhana untuk para sesepuh desa.

Setelah selesai, Hyungwon bersama Shownu dan Jooheon lantas bertemu dengan rekan-rekan mereka. Seperti hari-hari yang lain, mereka suka sekali membuat forum kecil dan bermain-main sebentar sembari menghilangkan rasa stress, selayaknya anak muda yang berkumpul dengan teman-temannya. Jooheon sempat menceritakan kejadian sebelumnya. Mencibir para Askar dengan perkataan yang singkat tapi tentu itu bisa dikatakan tidak sopan. Lalu dari sana, topik mereka berubah.

Mereka mulai memikirkan bagaimana mulanya para Askar itu bisa datang, dan pemimpin desa berubah menjadi orang asing yang mana seharusnya dari asli penduduk dalamlah yang berhak memimpin. Semua saling mencurahkan pemikiran-pemikiran mereka yang dirasa mungkin atas apa yang sudah terjadi. Sampai akhirnya oborlan mereka terdengar oleh para golongan putih kaum penguasa. Atau katakan saja mereka adalah orang-orang dalam yang mendukung datangnya penguasa dan merubah sistem wilayah mereka. Salah satu dari mereka adalah ayah Hyungwon.

 

Tepat saat Hyungwon menceritakan atas apa yang beberapa jam yang lalu ia lakukan pada askar-askar itu, ayah Hyungwon datang menghardiknya. Obsidiannya menatap tajam kearah putranya sembari menyiratkan kemarahan yang amat sangat.

 

“Beraninya kau melakukan itu!”

 

“Aku hanya mengancamnya tanpa berkata sepatah kata pun, ayah.”

 

“Tapi kau tahu itu tidak sopan! Pembangkang!”

 

“Untuk apa bersikap sopan kepada mereka yang tak punya etika pada yang lebih tua sekalipun?”

 

“Sudah ayah katakan berulang kali untuk tidak bertemu dengan anak-anak kotor seperti mereka! lihat bagaimana kelakuanmu, Hyungwon!”

 

“Ini tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan mereka, ayah.”

 

“Tapi kau putra ayah! Kau harus mengikuti peraturan ayah!”

 

Hyungwon menghela napas sejenak. Jika bisa dikatakan, Hyungwon sudah lelah mendengar sang ayah selalu berujar seperti itu ditengah-tengah perdebatan mereka.

 

“Bagaimana jika peraturan ayah justru membawaku kepada keburukan?”

 

 

Plak.

 

Layangan tangan tuan Chae mendarat tepat di pipi putranya. Semua pasang mata rekan-rekannya mengarah pada Hyungwon. Satu pun dari mereka tak ada yang pernah tahu bahwa Hyungwon memiliki hubungan yang tak baik dengan ayahnya. Bahkan mereka baru sadar jika rupanya Hyungwon sering berseteru dengan ayahnya. Pemuda Chae ini memang bukan tipikal teman yang suka menceritakan masalah pribadinya pada yang lain. Bagi Hyungwon, bertemu dengan rekan-rekannya adalah satu-satunya cara agar bisa membuat dirinya kembali terhibur atas semua persoalan yang ia hadapi dengan sang ayah. Tapi itu justru menyakiti hati rekan-rekan Hyungwon, terutama Minhyuk. Teman yang paling dekat dengan Hyungwon.

 

“Cepat pulang dan selesaikan ini dirumah.” Bisik sang ayah setelah itu. Ia meninggalkan Hyungwon dengan kawanannya. Berlalu sembari ditatap dengan aura menusuk oleh rekan-rekan Hyungwon yang lain.

 

“Aku akan kembali.”  Kata lelaki bersurai hitam itu sembari meninggalkan tempat. Tak menghiraukan sedikitpun panggilan teman-temannya. Bahkan berpura-pura tuli dari tawaran yang lain untuk membantu dirinya.

Sebelum Hyungwon benar-benar berlalu, Jooheon melesat cepat mendahului temannya itu. berhadapan dengannya sembari menyodorkan satu botol kecil berisikan air berwarna biru kental serupa sari bunga Delphinium. Hyungwon menatap Jooheon sebentar. Mereka tak melakukan konversasi apapun. Hanya siratan mata Jooheon yang berujar

‘Ambillah, ini untukmu.’

 

 

-0-

 

Ayah Hyungwon geram betul. Sudah berkali-kali tangannya melayang untuk menampar atau memukul badan Hyungwon dengan alat yang berat dan keras. Tentu Hyungwon diam saja. Ia sebenarnya sudah biasa diperlakukan seperti ini, sejak ia kecil. Semakin ayahnya merasa marah, ia pukul kepala Hyungwon sampai badan kurus pemuda itu terhuyung ke belakang. Ayahnya mendekat lagi lalu kembali menampar dan menendang Hyungwon secara terus menerus. Hyungwon sama sekali tak mengelak. Ia biarkan hati ayahnya puas menyiksanya jika itu dirasa membuat ayahnya senang.

Lalu sang ayah berhenti. Ia biarkan Hyungwon yang sudah berlumuran darah di sekitar wajahnya untuk mengambil napas sejenak. Tuan Chae berjalan mengambil gelas yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia teguk segelas air sembari menenangkan dadanya yang terasa sesak. Hyungwon hendak menanyakan mengapa ayahnya berhenti memukulinya sebelum samar-samar maniknya melihat beberapa askar yang masuk ke dalam rumahnya tanpa mengetuk pintu. Mereka lalu membuat barisan lantas menghadap sang ayah yang masih membelakanginya.

 

“Kami sudah disini, pak.” Ujar salah satu dari mereka. Ayah Hyungwon terdengar menghela napas panjang. Lega dengan kedatangan mereka sekaligus merasa bersalah dengan cara yang tersirat. Tuan Chae membalikkan badannya setelah itu. Menarik sudut bibirnya sekilas sembari meletakkan kembali gelas kaca diatas meja disamping kanannya.

 

“Habisi dia! Sebagai hutangku atas kebiadaban tingkah anakku.”

 

Para Askar itu mengangguk menyanggupi perintah Tuan Chae yang setelahnya berlalu meninggalkan rumah tanpa menatap putranya, Hyungwon. Hyungwon yang tentu saja terkejut mencoba menenangkan diri. Ia kumpulkan sisa-sisa tenaganya yang sudah mulai berkurang dengan berdiri tegap, dan kembali menerima hantaman yang lebih menyakitkan daripada pukulan ayahnya. Satu persatu para Askar itu meladeni Hyungwon dengan pukulan yang bertubi-tubi, digilir seperti seorang narapidana yang harus dihabisi akibat perbuatannya. Hyungwon tak bisa sepenuhnya melawan. Badannya terhuyung kesana-kemari sampai ruang keluarganya sudah hancur berantakan akibat ulah para askar yang melempari badan Hyungwon dengan sembarang benda yang ada.

 

Evelyn melihat itu. Gadis itu sengaja tak benar-benar kembali ke kamarnya dan justru bersembunyi diantara dinding rumah yang memang sangat strategis untuk mengawasi sang kakak tanpa ketahuan. Ia menahan tangisannya melihat Hyungwon harus disiksa tanpa alasan yang jelas. Evelyn juga dengan jelas mendengar rintihan sang kakak yang meminta ampun, tapi justru mendapat pukulan yang lebih sadis. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tak terdengar. Seumur hidup Evelyn, ia tak pernah melihat Hyungwon diperlakukan seperti itu oleh ayahnya. Sekujur tubuhnya sempat melemas. Bahkan ia rasa dinding yang disandarnya menjadi satu-satunya benda yang mampu membuat dirinya bertahan untuk tidak terkulai di lantai.

Jauh di dasar hati Evelyn kian sakit setiap mendengar rintihan kakaknya dengan suara bedebum badan yang jatuh ke lantai lalu dilempar ke kanan dan ke kiri. Ia mencoba menjernihkan pikiran sembari menahan tangisannya untuk membantu sang kakak. Tidak mungkin jika Evelyn keluar dan melawan. Bukan karena ia tidak ingin terluka, hanya saja ia tidak ingin kakaknya khawatir bahwa ia sedang melihat dirinya. Lantas sekuat hati Evelyn berlari menuju dapur dan kabur dari pintu belakang untuk mencari pertolongan.

 

Evelyn terus mempercepat larinya. Ia tak hiraukan tatapan beberapa orang yang terkejut dengan keadannya yang kacau sebab menangis sejadi-jadinya. Evelyn terus saja berlari untuk mencari teman kakaknya. Siapapun dia, ia harus memintanya untuk membantu sang kakak yang sudah tak berdaya lagi di rumah. Setelah beberapa menit Evelyn berlari dan terus mencari, ia akhirnya berhenti tepat dihadapan Minhyuk –teman dekat Hyungwon. Ketika itu Minhyuk memang sedang ingin mendatangi kediaman Hyungwon, lalu terhenti begitu melihat Evelyn yang berlari kearahnya.

 

“Apa yang terjadi?” Minhyuk bertanya dulu. Evelyn berusaha menjawab. Tapi napasnya yang tersenggal ditambah batinnya yang terasa sakit pun menghambat laju bibir Evelyn untuk sekedar menjawab.

 

“Dimana kakakmu?” Minhyuk menggoyangkan pundak Evelyn dengan kedua tangannya. Obsidiannya tajam mengarah pada Evelyn. Menanti bahkan berdoa jika tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada teman dekatnya itu. Evelyn membeku. Bukan karena tatapan Minhyuk yang begitu menusuk. Sebab gadis itu mulai teringat bagaimana kakaknya diperlakukan seperti binatang yang membunuh seseorang. Evelyn mulai meloloskan air di pelupuk matanya, dan dengan sekuat tenaga berujar,

 

“Temui kakakku di rumah. Sekarang!”

 

Dengan itu, Minhyuk menyegerakan diri untuk berlari ke rumah Hyungwon setelah menyuruh Evelyn untuk berlindung di rumahnya sementara waktu. Sesampainya Minhyuk disana, ia disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang berhasil membuat batinnya mendesir. Di dalam rumah Hyungwon sangatlah kacau. Penuh pecahan kaca dan beberapa perabotan rumah yang hancur berantakan tanpa sisa. Sedang Hyungwon duduk disana, melamun dengan topeng kain berwarna putih.

Hyungwon tahu itu Minhyuk jadi dia sengaja tak menyapa karibnya itu dan membiarkan Minhyuk kembali hanyut dalam amarah di batinnya dengan pemandangan yang semakin ia masuk ke dalam ruangan, semakin jelaslah di benak Minhyuk atas apa yang terjadi pada teman dekatnya itu.

“Apa yang askar-askar sialan itu lakukan padamu?” Hyungwon tak bergeming. Ia acuhkan pandangannya dari tatapan Minhyuk yang sudah duduk di hadapannya lima menit yang lalu.

 

“Apa mereka melakukan itu karena perintah ayahmu?” Tak ada jawaban. Hyungwon masih betah dengan kesunyian pun dia ingin menenangkan dirinya sebentar.

 

Minhyuk lalu berusaha membuka topeng kain yang dikenakan di wajah Hyungwon. Tetapi Hyungwon mengelak. Ia tangkis tangan Minhyuk yang hendak membuka topeng itu tanpa izinnya. Minhyuk lakukan lagi, dan Hyungwon  kembali menangkis tangan Minhyuk. Begitu seterusnya sampai akhirnya Hyungwon pasrah. Ia biarkan tangan Minhyuk perlahan meraih topeng itu dari wajahnya. Membukanya, dan melihat dengan jelas bagaimana keadaan karibnya itu.

 

“Apakah perbuatanmu itu sebuah dosa?”

 

Hyungwon diam lagi. Ia kembali mengalihkan pandangannya tanpa balas menatap Minhyuk.

 

“Aku bisa melakukan yang lebih dari ini, Hyungwon.” Suara Minhyuk rendah tapi penuh dengan amrah yang tersirat disana. Lantas Hyungwon akhirnya balas menatap obsidian Minhyuk. Ia tahu karibnya itu sedang marah. Tapi inilah sisi baik seorang Chae Hyungwon, ia tak ingin siapapun terluka untuknya.

“Jangan lakukan itu.”

 

“Itu harus kulakukan.”

 

“Tak perlu. Kau tak perlu melakukan itu.”

 

“Tapi kau diintimidasi! Tak ada alasan untuk tak melakukan yang lebih buruk.”

 

“Tak usah balas dendam. Biarkan saja.”

Minhyuk mengernyitkan dahinya hingga alisnya terlihat semakin menyatu. Pembicaraan mereka mendadak menjadi sebuah perdebatan yang sebenarnya diantara keduanya pun tak ingin terdengar seperti beradu argumen. Tapi sekali lagi, Hyungwon tak ingin ada orang lain yang terluka.

 

“Aku mencoba membantu mu, Hyungwon.”

 

“Tapi itu sama sekali tak membantu.”

 

“Kau berpikir begitu?”

 

“Seburuk apapun yang kau lakukan nanti, justru itu akan menambah penderitaanku.”

 

“Bagaimana bisa begitu?”

 

“Karena kau bukan siapa-siapa.”

 

“Ku kira kau temanku, Hyungwon.”

 

Hyungwon kembali menghela napasnya dengan berat. Ia menutup matanya sebentar, lalu kembali menatap manik Minhyuk yang sedari tadi sama sekali tak berpindah dari wajahnya.

 

“Minhyuk, ini masalahku.”

 

“Masalahmu berarti masalahku juga.”

 

Dengan berakhirnya perseteruan mereka, Minhyuk pergi meninggalkan rumah Hyungwon dan mengatur siasat untuk rencana balas dendam dengan bantuan yang lain.

 

 

Tepat sore itu, dimana akhirnya Minhyuk menyusun rencana bersama Wonho dan Changkyun untuk membantu dirinya membalaskan dendam pada Hyungwon. Minhyuk bersama kedua rekannya itu berjalan menyusuri desa menuju sebuah bangunan yang cukup tinggi tempat dimana mereka yakini bahwa itu adalah sarang para askar dengan ayah Hyungwon yang memang ada di dalamnya. Minhyuk diam sebentar, mengatur napasnya sembari mengumpulkan kembali amarahnya perihal kelakuan buruk yang sudah mereka lakukan pada teman dekatnya –Hyungwon.

Changkyun mendahului mereka dengan membawa kuas dinding yang sudah dicelupkan dengan cat warna merah, lalu melukiskan bentuk ‘X’ tepat di pintu depan. Disusul Minhyuk dengan Wonho yang menyiram sekeliling bangunan itu dengan minyak tanah dan sejenisnya. Setelah selesai, Wonho dan Changkyun mundur sembari melepas topeng kain mereka lalu berdiri tepat dibelakang Minhyuk lantas memberi tanda untuk menyilahkan temannya itu melempar korek api dan langsung membakar bangunan dan sesisinya.

Ketiga pemuda itu berbalik arah dan berjalan dengan santai untuk menjauhi bangunan. Sejauh lima meter, mereka kembali berbalik dan menikmati pemandangan yang setimpal dengan perlakuan mereka pada Hyungwon. Ketiga pemuda itu menikmati kepanikan, ketakutan, jeritan disana-sini yang tentu saja meminta pertolongan. Mereka diam saja. Membiarkan si jago merah itu melahap bangunan itu dan berharap banyak korban yang berjatuhan.

Minhyuk dengan jelas melihat ayah Hyungwon keluar dari sana, tertatih sambil berusaha menghirup oksigen tanpa asap, berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya dengan dituntun dua askar di kanan dan kirinya. Askar yang lain juga berusaha menyelamatkan diri, berlari keluar dari sana dengan kondisi yang lemah sebab asap kebakaran yang kuat dan menyulitkan mereka untuk bernapas. Bahkan tak sedikit yang terjatuh, dan terjebak api di dalam. Kawanan askar itu mencari pertolongan dan pergi ke tempat yang lebih aman bersama ayah Hyungwon.

Malam itu, bangunan yang sudah mereka bakar akan menjadi saksi sejarah bagaimana kuatnya pertemanan mereka dengan Hyungwon. Membalaskan rasa sakit hati pada mereka yang kuat untuk membela Hyungwon, demi teman baiknya.

 

 

-0-

 

 

Esok harinya, Evelyn yang entah memiliki kontak batin dengan sang kakak merasakan sesuatu yang janggal. Semalam, Evelyn sama sekali tak bisa tidur. Bukan karena gelisah harus melakukan apa sebab Evelyn kabur dari rumah. Persetan dengan apa yang dilakukan ayahnya nanti padanya, yang ada di benaknya hanyalah bagaimana keadaan Hyungwon sekarang?

Gadis itu lalu pergi dari rumah Minhyuk. Ia tak tahu apa Minhyuk berada di dalam rumah atau bagaimana, ia pergi saja. Berjalan dengan sangat lemas menuju rumahnya. Ia kembali tak menggubris pandangan orang atas dirinya, bahkan perutnya yang lapar pun sama sekali tak diperhatikan. Evelyn hanya ingin bertemu dengan kakaknya, itu saja.

Tungkai Evelyn terus saja melangkah, berjalan, bahkan seperti tahu kemana empunya akan pergi, tungkai Evelyn seperti penunjuk jalan untuk bertemu dengan kakaknya. Ya, seperti itulah sampai ia sendiri tidak sadar bagaimana ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang tak terawat, melewati banyak koridor rumah tua yang tak berpenghuni. Sampai maniknya lalu menangkap bayangan seorang pria tua yang sedang menenggelamkan sesuatu ke dalam bathub.

Tubuh Evelyn bergetar secara tiba-tiba. Ia urungkan niatnya untuk terus berjalan dan bersembunyi dibalik dinding yang cukup untuk menyembunyikan keberadaannya. Dengan seksama Evelyn memerhatikan siapa pria tua itu, sampai lima detik setelahnya ia sadar bahwa itu adalah ayahnya sendiri. Evelyn tak mendengar apapun begitu ayahnya menegakkan punggungnya, lalu berjalan keluar dari sana di pintu lain. Tapi seratus persen ia yakin, bahwa ayahnya telah melakukan sesuatu pada seseorang.

Evelyn kembali mengumpulkan keberaniannya untuk berjalan mendekat ke tempat ayahnya tadi. Manikny lalu melihat sepasang kaki yang menggantung di bathub dengan sepatu di kedua kakinya yang Evelyn sangat mengenal itu milik siapa. Perlahan tapi pasti ia mendekat, lalu Evelyn diperlihatkan sebuah skema yang mengerikkan. Bahkan ia sama sekali tak mengeluarkan suara untuk berteriak atau menangis. Otaknya cukup normal untuk menyimpulkan bahwa kakaknya –Hyungwon, sudah tak bernyawa dan itu sebab perlakuan ayahnya.

Gadis itu dengan lunglai dan pikiran yang kacau keluar dari sana, lantas bertemu dengan Minhyuk tanpa sengaja. Minhyuk kembali menatapnya dan menggenggam pundak Evelyn untuk menyiratkan pertanyaan ‘apa yang telah terjadi.’

 

“Apa yang kau lakukan pada kakakku?” Minhyuk tak menjawab. Perasaannya kalut, sama seperti Evelyn. Tapi dari garis wajah Evelyn, ia tahu, hal buruk baru saja terjadi.

“Harusnya kau dengarkan apa yang kakakku katakan padamu.” Singkat tapi sarat makna. Evelyn sengaja tak berbicara terlalu banyak dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah. Ia tak kuasa mengatakan apa yang terjadi pada kakaknya, jadi gadis itu membiarkan Minhyuk melihat sendiri tanpa perlu banyak penjelasan.

 

Minhyuk melihat Hyungwon di bawah genangan air. Dia melihat rekannya itu sudah tak bergerak barang sedetik saja. Minhyuk tahu betul bahwa Hyungwon sudah pergi meninggalkannya dan menyadari itu, justru membuatnya menjadi semakin buruk. Minhyuk tentu menyesali apa yang sudah ia lakukan. Benar, seharusnya ia biarkan saja apa yang dilakukan ayah Hyungwon tanpa melakukan balasan apapun. Karena dirinya, Hyungwon sendirilah yang kembali menanggung kesalahan Minhyuk.

Dengan itu, ia satukan cairan kental sari bunga Delphinium ke genangan air di bathub sembari berdoa agar itu bisa mengembalikan temannya meski ia tahu risikonya sangat besar. Minhyuk menenggelamkan dirinya juga bersama Hyungwon. Berharap jika memang Hyungwon tak kembali, setidaknya Minhyuk tetap bersama teman dekatnya itu sampai nanti.

Sementara itu, Evelyn yang sudah sampai di dalam rumahnya masih memandang kosong  ruangan yang masih berantakan sebab kejadian kemarin. Maniknya lurus menghadap ke satu arah. Entah sejak kapan, tapi sorot manik Evelyn menemukan sesuatu yang bercahaya karena silau matahari yang masuk dari jendela rumahnya. Ia berjalan mendekat dan menemukan botol kecil berisi cairan biru yang ia tidak tahu itu apa.

Evelyn meraih itu, duduk bersandar pada dinding, dan membuka tutupnya. Ia pikir cairan sari bungan Delphinium itu adalah sesuatu yang beracun, jadi dia meminum itu dengan harapan bisa bertemu dengan kakaknya. Baginya, mati dalam ketenangan jauh lebih membahagiakan daripada hidup dalam kesengsaraan. Lalu sekali teguk, Evelyn menghabiskan cairan itu dan langsung membuang botolnya asal.

Gadis itu merasakan sesuatu yang mencengkram kepalanya dan mencekik lehernya. Untuk beberapa saat dia mencoba untuk bernapas dan mencari air untuk diminum. Tapi tak bisa.

 

Perlahan, Evelyn tersungkur disana lalu kelopak matanya menutup dengan sempurna.

 

Tbc

 

HAIII GUYS. LONG TIME NO SEE.  OH MY GOD COLLAGE LIFE IS SO RUDEEEEE. Aku mencoba akan terus aktif dan produktif bikin story ini ya gaeess. Jujur juga kmaren-kmaren sih emang masih penilitian /? Teori MV dulu dan merenung mau dibawa kemana cerita ini. jadi untuk spoilernya, nanti bakal ada 4 cerita prolog yang based on All In music video (A Ver, B ver, C ver, D ver) ditunggu aja D ver nya yaaa. Untuk awal mula cerita bakal dimulai setelah D ver. Ditunggu aja yaaa. Jangan jadi sider dan komennya jangan lupa mwaaah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: mintulmint

perempuan, lucu, dan baik :) have a big eyes, big smile, and big laugh! and also full of surprised!

2 thoughts on “THE CLAN Pt.1 LOST (C ver)”

  1. Wah halo
    Saya baru disini haha
    Waktu baca dan tau ini settingnya sama kayak di MV, agak kaget pas nemu Evelyn di cerita. Haha.
    Karena dulu itu MV muncul pas lagi musimnya LGB* thing, jadi saya menyimpulkan clan X itu artinya clan yang terbuang karena mereka “beda” wkwk
    Berkat cerita ini saya jadi beda jalan pemikiran haha
    Seru!
    Tapi karena udah tau gimana alur cerita, banyak yang saya skip 😆✌
    Mungkin kalau ada setting tambahan dan di penggal lagi bakal lebih seru
    Sudut pandangnya kalau sudut pandang Evelyn mungkin bakal lebih tragis :”)
    Anywaaay
    Semangat bercerita! Hoho

    Like

    1. hai sayaaanggg aduhh makasi banget yaa uda dibacaaa heheeh
      big noouuu ! itu bukan sesuatu hal yang seperti itu, karena setelah aku berkelana mencari teori dan berpikir lama lama (bertapa) itu bukan lgb* itu pure friendship feels. iyaa itu emang based on mv, cuma biar lebih ngalir ajasih jadi nggak terlalu fokus di evelyn nya. THANKYOU SO MUCH SARANNYA SAYAAAANGGG ditunggu update an nya yaaa. dan baca ceritaku yang lain yaaa mwaaahhhhh :*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s