Payung

PAYUNG

A story by mintulli

Lee Jooheon (MONSTA X), Naline (OC)

AU, Fluff, Slice of life

Vignette | PG-13

 Payung dan rahasianya

 

Satu teori tentang payung. Yang Naline tahu, payung itu tempat berlindung. Tempat dimana orang akan terjaga dari teriknya panas, basahnya hujan, kuatnya badai, dan yang lainnya. Payung juga sesuatu yang digunakan untuk menampung rasa rindu. Yang Naline tahu juga, setiap tetes rintik hujan yang turun  hari itu, adalah wujud dari sebesar apa rindu itu ada. Lalu payung akan menjadi wadahnya.

Dari situlah Naline menyadari satu hal. Bahwa dia merindukan Jooheon. Baru tiga hari yang lalu memang mereka bersua. Jooheon yang mengajak Naline untuk makan bersama dan membuat candaan hangat bersama. Tapi kesibukannya dan segala tetek bengek seputar tugas sungguh merenggut memori manisnya bersama Jooheon kala itu. Ia lupa bagaimana rasanya berjalan berdampingan. Lupa bagaimana Jooheon menawarkan sederet menu menggiurkan. Ia bahkan tidak ingat lagi bagaimana debaran jantungnya bereaksi ketika Jooheon mengatakan bahwa dia akan menciumnya jika dia masih saja mengatakan omong kosong.

Naline malu sekali waktu itu. Benar memang jika dia pernah berdelusi tentang segala sesuatu bersama Jooheon. Dia tahu benar Jooheon itu teman dekat kakaknya, namun hubungan mereka yang bisa dikatakan sangat akrab, membuat otak Naline tanpa malu-malu berpikir jauh tentang apa-apa saja yang ingin Jooheon lakukan padanya.

Tak tahu juga mengapa Naline menuliskan nama Jooheon dengan gamblang. Bahkan gadis bersurai hitam kecoklatan itu ingat persis bagaimana sudut bibirnya terangkat setiap bayangannya mulai melambung dan seolah-olah nyata. Naline sungguh masih merutuki dirinya yang dengan sembarangan meletakkan buku itu di meja sampai Jooheon menemukannya.

Dari situlah lalu Naline saat ini merindukan Jooheon. Ia sudah jarang menghubungi lelaki itu meski via telepon dengan basa-basi menghiburnya dengan aegyo nya. Jooheon memang dengan senang hati akan membantu. Tapi Naline tahu diri. Jooheon bukanlah kakaknya yang ‘akan’ selalu ada untuknya. Ia pasti punya kesibukan sendiri. Menuruti permintaan Naline bukankah sesuatu yang berlebihan?  Jadi meski berat, sebisa mungkin Naline menghibur dirinya sendiri.

Sama seperti sekarang. Ia melangkahkan tungkainya sembari rintik hujan yang terus memukul kepala Naline. Tidak deras memang, masih bisa dikategorikan gerimis yang kata ibunya, itu cukup membuat kepalamu jadi pusing. Sekali ini saja Naline tak menghiraukan perkataan ibunya dan memilih untuk membiarkan air hujan itu membasahi badannya. Mungkin saja itu bisa melunturkan mood nya yang buruk. Tak ada salahnya mencoba.

Tapi air hujan itu turun seakan-akan memberi gambaran tentang ukuran rindunya pada Jooheon. Semakin ia rindu, semakin air itu menghujam kepalanya. Semakin ia memikirkan Jooheon, tingkat moodnya pun menurun. Agaknya itu membuat Naline sediki sebal sebab semuanya jadi terdengar menyedihkan.

Lantas ia rubah jalan pikirannya. Ketika setetes air menghujam kepalanya untuk yang ke sekian kali, ia berdoa dalam hatinya agar Jooheon datang. Ya, ia pernah dengar juga seputar hujan yang membawa sejuta kebaikan. Bahkan jika berdoa saat itu, maka apa yang diinginkan akan benar terjadi. Sepanjang dia berjalan ke rumahnya, ia terus mendoakan Jooheon agar ia baik-baik saja, sampai berharap bahwa mereka akan bertemu.

Gadis itu melangkah dengan batinnya yang berbicara sembari menutup matanya. Ia yakin jalanan sudah sepi dan ia tahu betul dimana posisi rumhanya. Yang ia yakini, jarak rumahnya masih sangat jauh.  Entah bagaimana. kepalanya tak merasakan basah lagi. Tapi ia masih mendengar suara rintik hujan itu turun. Naline berniat memastikan suasana yang ada. begitu perlahan matanya terbuka…

Jooheon sudah ada di sampingnya. Berjalan beriringan dengannya sembari membawa payung untuk melindungi dia dan Jooheon dari hujan yang semakin deras. Naline tentu terkejut. Maniknya membulat, seakan-akan tak percaya bahwa dia memang bertemu dengan lelaki yang dirindukannya.

“Kau ini bandel atau bagaimana sih?  Sudah tahu hujan, masih saja pulang.”

“Jika menunggu hujan reda, mana bisa aku pulang. Langitnya putih sekali, hujannya pasti awet.”

“Coba lihat ponselmu.”

Tanpa banyak bertanya, Naline turuti saja permintaan Jooheon. Ia raih ponselnya dan membuka pesan dari Jooheon

Tunggu sebentar, aku akan menjemputmu.

 

“Biasakan melihat ponsel jika dalam keadaan darurat, Naline. Mungkin saja kan ada orang baik seperti ku yang menolongmu.”

Naline meringis. Kebiasaannya memang yang suka malas melihat ponsel. Ia bahkan berkali-kali bertengkar dengan kakaknya, hanya karena Naline tak mengecek ponselnya bahwa ketika itu kakaknya sudah menunggunya berjam-jam di tempat makan biasa, tapi Naline tidak tahu sebab tak melihat pesan kakaknya -yang sudah sejuta mungkin, meminta Naline cepat datang.

“Syukurlah jika orang baik itu segera menemukanku sebelum aku sampai rumah. Benar?”

Jooheon diam saja. Sorot matanya lurus mengarah pada Naline. Tak tahu sejak kapan, tapi ada raut khawatir pada wajah lelaki itu.

“Hujan seperti ini itu justru lebih mudah membuatmu sakit. Kau tahu ‘kan?”

“Aku tidak akan sakit tenang saja.”

“Bagaimana aku bisa percaya?”

“Ya… percaya saja padaku. Sungguh, aku tak mudah sakit.”

Jooheon mendesah sebentar.

“Demam sedikit saja kau bisa berhari-hari.”

Dahi Naline mengerut. Bereskpresi seolah-olah mengatakan ‘memangnya kau tahu dari mana?’

“Kakakmu yang menceritakan padaku jika kau pernah masuk rumah sakit dua kali.”

Gadis itu tertawa renyah menenggelamkan sedikit suara rintik hujan ditelinga Jooheon. Sedang Jooheon menatap Naline dengan kikuk. Tak ada yang lucu kan dengan ucapannya.

“Itu kan dulu, saat aku masih kecil. Oh, ayolah Jooheon… aku sudah sebesar ini. Daya tahanku kuat  kok.”

“Ya tapi tetap saja. Apalagi sekarang musim orang sakit.”

“Lalu?”

“Tentu saja aku tak ingin melihatmu sakit, Naline.”

Gelak tawa Naline terdengar lagi. Sebenarnya dia senang dengan kondisi seperti ini. Ingatannya kembali tentang bagaimana ia berjalan berdampingan bersama Jooheon. Ditambah, sekarang hujan deras dan rasa rindunya terbalaskan. Tawa Naline hanya representasi dari rasa senangnya saja.

“Kau mengkhawatirkanku?”

“Aku tidak munafik. Jikalau kau pun mengatakan padaku ‘tak usah khawatir’, kuberitahu kau… itu tak akan bekerja.”

“Jika dipikir-pikir, bagus juga kalau aku sakit.”

Jooheon mengerutkan keningnya.  Bahkan ia berhenti berjalan.
“Kau jadi ada alasan untuk berkunjung ke rumahku, dan aku akan sering melihtamu.”

Pemuda Lee itu masih saja diam. Menunggu penjelasan Naline yang terdengar aneh, tapi sedikit membuat Jooheon senang tentu saja.

“Sepertinya mantra mu agar membuatku jadi merindukanmu manjur juga.”

Sekarang giliran Jooheon yang menenggelamkan suara rintik hujan dengan gelak tawanya.

“Jadi kau merindukanku?”

“Kedengarannya begitu.” Senyum Naline mengembang. Ia ambil ganggang payung dari tangan Jooheon lantas meninggalkannya di belakang.

Tapi sedetik kemudian ada yang aneh. Naline pun Jooheon tak mendengar suara riuh rintik hujan lagi. Bahkan langit seketika menjadi cukup cerah meski awan mendung masih ada disana .

“Hey! Sudah tak hujan lagi.” Pekik Naline pada pria yang berdiri mematung dengan kepala menengadah keatas. Jooheon yang sadar akan hal itu lantas menarik kedua sudut bibirnya, lalu berjalan cepat kearah Naline.

“Kau tahu tidak kenapa?”

“Karena ada aku?”  Naline meletakkan kedua tangannya didagunya dengan posisi terbuka. Melakukan tingkah yang sedikit menggelikan. Sebut saja aegyo.

 

Jooheon kembali tertawa . sejurus kemudian ia menggeleng sembari melingkarkan tangannya di pundak Naline. Ia tatap obsidian Naline yang sungguh memikat hatinya sejak pertama kali bertemu. Bahkan debaran jantungnya selalu sama setiap waktu. Tak beraturan. Lantas hal yang sama juga terjadi pada Naline begitu mendengar Jooheon berujar,

“Karena rinduku dari setiap tetes hujan, sudah tersampaikan padamu.”

Gadis itu tersentuh mendengar ungkapan kata puitis dari Jooheon. Sedikit menggelikkan ditelinganya memang, tapi lucu saja melihat Jooheon berkata seperti itu. jemari Naline lalu dengan sigap menyentuh gemas lesung pipi Jooheon yang sudah terbentuk sempurna dengan lengkungan matanya yang melengkung. Sedang sang lelaki membalasnya dengan menyentil hidung Naline yang kecil.

Seperti itulah mereka. Kembali berjalan dengan posisi saling merangkul diiringi perasaan mereka yang kegirangan. Sebab mereka percaya akan satu hal…

Bahwa setelah hujan selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi

 

-fin-

HELLOOOO OUH SO SORRY YAA AKU JARANG UPDATE

ini untuk menebus rasa bersalahku karena jarang update sebab tugas kampus yang no joke sekali hehehehe. komentarnya ditungguuuu

Advertisements

Author: mintulmint

perempuan, lucu, dan baik :) have a big eyes, big smile, and big laugh! and also full of surprised!

6 thoughts on “Payung”

  1. Akhirnya setelah sekian lama ku tak membaca fanfic masih saja bisa dibuat degdegan lewat kata demi kata yang indah macem ini XD sukses thor♡ keep writing, 사랑해♡♡

    Like

  2. Wah manisnya membayangkan jalan cinta antara mereka, yg meski tak ada kata cinta dalam dialog mereka, tapi benar2 menggambarkan perasaan mencintai >,<

    Like

  3. Seriously–this is so freakin cute 😦 aku udah imagine gimana jadinya senyum dan mata melengkung Jooheon. Gosh i love how they way you write your story, then what i always say to author is ‘good luck’ and release another story please 🙂

    Like

    1. oh really? aduuh makasi banget ya cintaa uda dibaca dikomen dan kamu sukaak heehhe. maafkan jarang update disini :”( tapi kamu bisa baca story terbarunya mereka kok uda aku posting di sini heehhehehe dibaca ya makasi ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s